GADIS TAKDIR

GADIS TAKDIR
101. Orang-orang Tuan Manjoy


__ADS_3

Asgar menyuruh pria tua itu dan para pengawalnya keluar dari sini.


" Tunggu...... ! " Mikha berteriak. Lalu berlutut dihadapan Rey.


" Nona, Tuan Manjoy sangat jahat. Bukan hanya merusak gadis-gadis di kota ini. Ia juga melakukan banyak kejahatan yang lain melalui perintahnya dan perbuatan. Mohon jangan membiarkannya bebas begitu saja "


" Kau ingin dia diapakan ? " tanya Rey menghela nafas pelan.


Mikha menatap bingung pada Tuan Manjoy.


" Jika tangannya lumpuh, ia masih bisa memberi perintah, jika mulutnya bisu, ia juga masih bisa membunuh orang .... " kata Mikha.


" Begini saja. Ia sudah mendapatkan hukuman yang pantas disitu. Aku akan menambahkan mantra sakit berlebihan saat dia berniat jahat pada siapapun. Bagaimana ? "


" Yah.... itu lebih baik "


Lalu Rey menunjukkan tangannya pada Tuan Manjoy sambil mengucap mantra.


Tuan Manjoy duduk melotot pada Rey.


" Kau ga.... Aaaaaaaaaahhhhh........... !! " ia memegangi sesuatu diantara pahanya seperti kesakitan.


" Jagalah mulutmu tua bangka genit... ! " ucap Rey.


" Ooouuucch....... ! " ia mengeluh sakit.


Dua pengawalnya segera memapahnya bangun dan menyeretnya cepat-cepat pergi. Ia berteriak dan mengeluh sepanjang jalan


Mikha berlari memeluk kekasihnya. Pemilik restoran dan para pelayan mendekati mereka.


" Nona..... saya juga mengucapkan terima kasih karena sudah menghukum Tuan Manjoy. Dengan begitu ia tidak akan berbuat semena-mena lagi. Sekarang putriku akan aman "


Rey tersenyum. Zigaz terbang ke lengan pemilik toko dan mematuk-matuk telapak tangannya.


" Oooh..... kau lapar ? pelayan, berikan biji-bijian untuk burung ini. Nona dan Tuan sudilah duduk dahulu. Kami akan sediakan makanan sebagai ucapan terima kasih " ucap pemilik toko sambil menarik kursi untuk Rey, Asgar dan dua muda-mudi itu. Sementara Zigaz dibawa pelayannya ke dapur.


" Nona dan Tuan, terima kasih sudah menolong kami berdua " ucap Mikha dan pemuda itu.


" Jangan dipikirkan " jawab Asgar bersamaan dengan Rey.


" Tuan dan Nona bukan warga kota ini ? " tanya Mikha.


Rey tersenyum menggeleng.


" Kami hanya sedang lewat. Tapi karena hari sudah hampir gelap, kami akan menginap di kota ini " jawab Rey.


" Bagaimana jika anda berdua menginap di rumah saya saja Nona, Tuan ? Rumah ayah ada beberapa kamar kosong " kata si pemuda.


" Apakah itu tidak merepotkan ? " tanya Asgar.


" Saya yakin tidak tuan " jawabnya pasti.


Selesai makan mereka langsung pergi ke rumah pemuda itu. Seorang lelaki tua menyambut mereka. Asgar terbelalak menatapnya lama.


" Penasihat Bidoff......?! "

__ADS_1


" A... Asgar ?! "


Asgar dan Penasihat Bidoff berpelukan sebentar. Lalu Bidoff menatap pada Rey.


" No...Nona Gadis Takdir ? "


" Panggil aku Rey saja Tuan Bidoff "


" Mari masuklah.... "


Rey dan Asgar masuk, sementara pemuda itu mengantarkan Mikha pulang ke rumahnya.


" Aku mengira anda sudah meninggal oleh iblis-iblis itu " kata Asgar.


" Tidak Asgar, aku kembali ke kota ini setelah Raja Higo mati. Aku merasa akan ada kekacauan saat memilih raja baru. Namun ternyata yang menguasai istana malahan kelompok iblis dan penyihir "


" Tapi bukankah anda tidak punya keluarga, maksudku anak dan istri ? "


" Memang. Ini adalah rumah keluarga Markus. Mereka menerimaku disini karena aku sudah sendirian. Itu tadi adalah cucu keponakan, namanya Marko. Ayahnya sudah lama meninggal. Ia sebentar lagi akan menikah dengan Mikha "


Hening sejenak...


" Kalian sebenarnya hendak kemana ? Bukankah Nona Takdir seharusnya berada di Negeri Cahaya ? " tanya Bidoff.


" Kami akan pergi ke arah barat. Masih ada tugas yang belum diselesaikan " jawab Asgar.


" Apakah kalian sudah makan ? "


" Sudah Tuan Bidoff "


Lalu Tuan Bidoff menunjukkan kedua kamar itu pada mereka.


" Aku akan menunggu Marko kembali " kata Bidoff menuju ruang tamu.


" Biar saya temani, Tuan Bidoff " Asgar mengikutinya. Mereka duduk mengobrol tentang kerajaan Higresia masa lalu dan sekarang.


* * * * *


Esoknya mereka makan bersama sambil mengobrol ringan. Tiba-tiba terdengar keributan diluar. Lalu seorang pelayan perempuan masuk sambil berteriak.


" Tuan.... orang-orang Tuan Manjoy merusak gerbang, mereka marah-marah meminta Tuan Marko keluar ! " katanya ketakutan.


Marko bangkit berdiri hampir melangkah keluar.


" Tunggu.... ada apa ini ? " tanya Bidoff


" Paman di dalam saja, aku akan menjelaskannya nanti " kata Marko sambil bergegas keluar.


Asgar mengikutinya.


( " Zigaz... berubahlah jadi serigala yang besar, usir mereka jika perlu " ) perintah Rey. Lalu Rey mengarahkan tangannya ke depan, sengaja membuka pintu gerbang.


Ada sekitar lima orang membawa pemukul. Mereka melangkah dengan sombong ke halaman.


" Hei Marko.... kau harus membayar kerugian yang diderita Tuan Manjoy. Ia sedang kesakitan dan menjalani perawatan serius sekarang. Jika kau tidak mau mengganti biayanya, maka kami akan mengambil barang-barangmu sebagai gantinya "

__ADS_1


" Oh..... mengapa kalian tidak melapor pada keamanan saja ? Biar mereka menyelidiki tentang masalah ini ! "


" Kau menantang kami ?! "


Mereka maju semua sambil menyeringai. Masing-masing membawa kayu pemukul.


Asgar menarik Marko mundur sambil tersenyum menyeringai. Menampakkan makhluk berbulu putih keabuan yang menggeram keras.


" Ggrraauuuufh.............. !! "


Seketika para perusuh itu saling bertabrakan dan terjengkang. Mereka menatap ngeri dan mulai gemetar. Sejak kapan dirumah Marko ada serigala ?


" Mm... Marko.... a... anu........ "


" Ggrraaaaaaauuuufh.............. !! "


" Aaaaaaahhh....... !! "


Mereka meringkuk ketakutan. Lalu satu persatu beringsut mundur dan berlari keluar sekencang-kencangnya.


Asgar segera menarik Zigaz masuk lagi ke rumah. Ia tak ingin warga lain melihatnya. Marko juga masuk dengan sedikit gemetar.


Di dalam Zigaz berubah menjadi rubah kecil. Para pelayan yang melihat itu mengelus dada menenangkan diri masing-masing. Bidoff sendiri juga tercengang. Ia jadi teringat pertarungan Raja Higo dan Gadis Takdir. Seperti inilah sihir, membuatnya terkejut-kejut.


He..he..he..he....


" Ehm....... Marko, duduk dan jelaskan mengapa mereka kemari " kata Bidoff.


Marko segera menjelaskan kejadian kemarin di rumah makan. Kemungkinan anak buah Tuan Manjoy tadi bermaksud menuntut balas atau ganti rugi. Bidoff menarik nafas panjang.


" Jika mendengar ceritamu, seharusnya Tuan Manjoy sudah tidak berani memberi perintah atau tindakan yang tidak benar. Tapi mengapa orang-orangnya kembali mencari masalah denganmu ? " tanya Bidoff


" Apa mungkin mereka bertindak sendiri ? " Tanya Marko.


" Bisa jadi begitu, mereka memanfaatkan nama Tuan Manjoy untuk mencari keuntungan sendiri " kata Asgar.


" Haiiish, dipukul satu, tumbuh seribu " sahut Rey


" Tak heran mereka begitu karena anjing belajar dari tuannya " kata Bidoff.


" Apakah kota ini penuh dengan orang jahat ? " tanya Rey


" Tidak Nona. Namun orang-orang Tuan Manjoy ada sekitar 30 orang " jawab Marko.


" Waaoow...... banyak sekali ? " sahut Asgar


" Ya, hasil kekayaannya dari merampas dan menipu " Marko menjawab sendu.


" Mmmm....... apakah ada sarang tawon disekitar sini ? " tanya Rey.


" Eh.... ? sarang tawon ? " Marko dan Bidoff saling menatap.


" Ada tuan, eh Nona..... ada di atap lantai atas, agak dipojok " jawab salah satu pelayan.


" Bawa aku kesana " Rey bangkit berdiri dan diantar pelayan ke atas.

__ADS_1


Marko, Asgar dan Bidoff mengikuti, ingin tahu apa yang akan dilakukan Rey.


__ADS_2