
Rey segera menyimpan cerminnya dan berubah lagi menjadi kunang-kunang. Lalu keduanya muncul di tepi tebing.
Sinar bulan sangat terang. Rey merasa ada sedikit gejolak di dalam tubuhnya. Namun ia tak menghiraukannya, menganggap itu karena perasaan tegang karena aura menakutkan milik penyihir tadi yang dipanggil " Yang Mulia " .
Sementara Odex heran merasakan sekarang tidak ada aura sihir di sekitar hutan Mazox. Padahal tadi sempat merasakan 3 aura penyihir dan 1 yang sedikit besar. Namun kemana mereka semua ?
Apakah tadi yang beraura besar adalah si Gadis Takdir..... ? Oh bukan, tidak mungkin Gadis Takdir berkomplot dengan penyihir hitam. Tadi pasti si nenek sihir yang berwajah muda karena ritual awet muda. Odex menyeringai. Ia sangat yakin malam ini si nenek muda itu akan melakukan ritual dengan anak-anak yang dicuri darinya. Odex berniat akan mengacaukan prosesnya. Lihat saja nanti.....
Ia terbang ke sana kemari mencari keberadaan si nenek muda. Waktu terus berlalu. Odex menjelajah hingga ke ujung hutan. Dengan kesal ia kembali masuk hutan dan membantai seekor babi hutan. Lalu memanggangnya. Setelah kenyang Odex duduk bersandar dibawah pohon. Dan........tertidur. Bulan semakin bulat dan terang.
Menjelang tengah malam perasaan Rey semakin berdebar-debar. Seperti ada perasaan akan mendapat sesuatu yang besar. Ia berhenti di udara sambil memegang dadanya. Tubuhnya kembali menjadi semula ( manusia ).
" Ada apa Nona ? "
" A... aku merasa ada yang bergejolak dalam tubuhku. Rasanya aku ingin terbang tinggi ke atas "
Rey menengadah. Kebetulan pandangannya mengarah ke arah bulan. Ia terpaku menatapnya .
" Nona......... Nona............ "
Rey bahkan tidak merespon panggilan Zigaz. Zigaz melihat ke arah bulan.
( " Apakah Nona terpengaruh cahaya bulan ? " ) pikir Zigaz. Ia teringat cerita leluhur tentang Ratu Cronos yang menerima kekuatan dari bulan purnama suci. Itu terjadi seribu tahun sekali.
Zigaz melihat titik cahaya di dahi Rey bersinar terang. ( " Sebentar lagi puncak bulan purnama. Mungkinkah hal itu juga terjadi pada Nona. Apakah ia akan menerima kekuatan Cahaya Suci ? Apa yang harus aku lakukan ? " ) Zigaz bingung.
Perlahan tubuh Rey melayang ke atas. Rey masih menatap ke arah bulan purnama. Zigaz terpaksa terbang mengikutinya. Ia berubah wujud menjadi seorang kakek.
Pada ketinggian 1000 langkah Rey berhenti. Matanya terpejam dan tangannya teracung ke atas. Zigaz menatap bulan yang terlihat dekat dan besar.
" Zigaz..... ! "
" Eh........ ? My Lord ? "
Zigaz terkejut karena Kendrick berada sepuluh langkah dibawahnya. Ia segera turun mendekatinya.
__ADS_1
" Aku akan membuat perisai awan ( air campur udara ). Kau bantu aku menyebarkannya agar Rey tidak terlihat oleh siapapun di bawah. Cepat...... ! "
Kendrick mengucap mantra dan tangannya bergerak-gerak mencampur udara dan air sehingga terbentuk awan buatan yang semakin lama semakin banyak. Zigaz membantu menyebarkannya dengan cepat. Selama 30 hitungan awan tipis itu sudah seluas 500 langkah. Daratan dibawahnya kembali remang-remang karena cahaya bulan tertutup awan tipis.
Kendrick masih terus membuat awan di sekitar bawah kaki Rey sehingga tampak lebih pekat seluas 15 langkah.
" Zigaz, kemari..... "
Zigaz mendekat. Kendrick meniup mantra ke arah Zigaz. Zigaz jadi tak terlihat.
" Berjagalah di bawah. Jangan lakukan apapun. Jika ada penyihir yang beraura lebih besar darimu, panggil saja aku "
Zigaz segera berteleportasi ke bawah. Ia memantau udara di sekelilingnya. Sementara Kendrick melapisi perisai awan dengan elemen petir berkekuatan tinggi.
Zigaz melihat ke atas. Awan buatan itu cukup luas menutupi langit. Tapi aura suci sedikit terasa menguar. Zigaz khawatir para penyihir akan segera menyadari hal ini.
Tak lama Kendrick berdiri disampingnya dalam kondisi tak terlihat ( transparan ). Aura suci sudah dihilangkan. Ia bicara dalam telepati.
( " My Lord, biar saya saja yang berjaga disini " ) kata Zigaz bermaksud agar Lord Kendrick tetap berada di samping Nona Rey.
Mulut Zigaz tercengang lebar mendengar keterangan Lord Kendrick. Tidak disangka, ledakan aura bisa membunuh, bahkan Penguasa Abadi saja tak mau mengambil resiko.
( " Tutup mulutmu agar nyamuk tidak bersarang disitu... " ) tegur Kendrick tersenyum geli.
Zigaz langsung menutup mulut dengan satu tangan.
Satu Aura gelap mendekat. Zigaz langsung waspada. Satu iblis muncul dan berhenti di dekat mereka. Tapi dalam 2 hitungan tubuhnya sudah terurai musnah. Zigaz hanya bisa menggembungkan pipinya tanpa berani berkomentar, ia sudah tahu pasti siapa pelakunya.
Beberapa waktu kemudian datang 3 penyihir tingkat tinggi. Zigaz mengenalinya sebagai bawahan penyihir lain yang dipanggil " Yang Mulia " . Zigaz melirik Lord Kendrick yang diam tidak melakukan apapun.
Para penyihir itu mentap ke atas. Mereka bicara berbisik-bisik, namun cukup jelas terdengar Zigaz dan Lord Kendrick.
" Bukankah tadi langit bersih. Kenapa sekarang agak mendung ? "
" Aku juga tidak merasa ada angin ? "
" Awan itu menutupi bulan purnama. Tapi bentuknya tidak seperti awan biasa ya ? Apa kita harus memberitahu Yang Mulia ? "
__ADS_1
" Tidak.... ! Lebih baik kita periksa dulu "
Merekapun melayang naik ke arah awan buatan. Zigaz hendak mencegah, tapi Lord Kendrick bicara
( Tenang dan lihatlah...... " )
Zigaz menatap ke atas. Para penyihir itu sudah hampir sampai. Ketika salah satu mengulurkan tangan untuk menyentuh awan itu......
" Aaaarrrgh.......... ! "
Ia tersengat petir berkekuatan tinggi. Tubuhnya mengejang hebat selama beberapa saat lalu melayang jatuh.
Dua penyihir lain segera berusaha meraih tangan penyihir yang jatuh.
" Aaaaaah......... " penyihir kedua terkejut merasakan sengatan kuat menjalar ke tangan dan tubuhnya. Mereka berdua terhempas jatuh ke bumi.
" Oouughh..... ! "
Penyihir kedua retak kepalanya karena jatuh dengan kepala lebih dulu. Darah kehitaman ( mengandung racun bawaan ) segera merembes keluar.
Penyihir yang ketiga mendarat dan segera memeriksa keadaan teman-temannya.
" Ada apa..... ? "
Ia bermaksud menolong penyihir kedua tapi ternyata sengatan petir itu juga merambat padanya.
" Aaaaaah......... "
Tubuhnya mengejang hebat. Matanya melotot sebelum akhirnya tergeletak diam.
Kendrick menyeringai kecil. Zigaz kembali tercengang melihat semua itu. Lalu mengangguk-angguk. Ia kagum dengan kekuatan petir milik Penguasa Abadi. Sungguh kejam, bahkan masih bisa membunuh lewat korban lanjutan.
Zigaz dan Kendrick sama-sama melirik ke kiri. Ada aura setengah gelap yang sedang mendekat.........
Ternyata itu Odex. Ia berhenti sejauh 20 langkah. Matanya melihat 3 penyihir yang tergeletak di tanah dengan alis berkerut. Odex menghilangkan auranya. Lalu melangkah mendekat.
Ia mengamati satu-persatu mayat itu. Dua diantaranya tidak terluka sama sekali. Sedang yang satu tampak darah menggenang dibawah kepala. ( " Apakah mereka saling bertarung sendiri ? atau ada penyihir lain yang membunuhnya ? " )
__ADS_1