
Sepuluh hitungan berlalu...
" Martin .......... ? masuklah... "
" Eh......... ? Ya My Lord "
Martin masuk dan berdiri di depan meja Lord Kendrick.
" Apakah kau sudah lama menungguku ? "
Martin mengangguk. Namun tiba-tiba Lord Kendrick menarik tubuhnya ke pelukannya sambil berbisik.
( " Diam dan tetap tenang " ) kata Kendrick .
Martin mendengar suara langkah kaki mendekat.
" My Lord..... " terdengar suara seseorang menyapa dan memberi hormat.
Lord Kendrick melepaskan pelukannya, namun masih menggenggam tangan kirinya. Martin menatap seseorang itu dan terkejut. Tapi Lord Kendrick memberi isyarat kecil melalui genggaman tangan. Martin menoleh dan tersenyum tanda mengerti.
Kendrick melepaskan tangannya dan mendudukkan Martin di kursinya. Diam-diam Martin sempat menutup sebelah matanya untuk mengetahui siapa yang berani menyamar sebagai ayahnya. Tangannya mencengkeram meja kuat-kuat. ( Odex tidak mengenali siapapun wajah anak-anak yang pernah diculiknya. Biasanya ia langsung memasukkan saja setiap korban ke dalam guci penyimpanan )
" Tetua Outter, bagaimana keadaan di luar ? " tanya Kendrick.
" Masih ada banyak penyihir yang berkeliaran, My Lord. Bahkan seorang nenek sihir berhasil meningkatkan kekuatannya melalui ritual bulan purnama "
" Mengapa kau tak mencegahnya ? " tanya Kendrick mengerutkan alisnya.
" Hamba sedang terluka My Lord , kekuatan hamba berada dibawahnya "
" Siapa yang melukaimu ? "
" Ehmm..... beberapa penyihir hitam dan iblisnya "
" Lalu dimana Gadis Takdir ? "
" Mohon maaf My Lord, hamba tidak mengetahui dimana keberadaannya "
" ................... "
" Jika My Lord berkenan, mohon ijinkan hamba beristirahat selama beberapa hari di sini "
" Hmmm......... " Kendrick hanya mengangguk. Tetua Outter segera keluar.
Martin menatap Lord Kendrick yang melirik kepergian Tetua Outter. Kendrick mencabut sehelai rambutnya dan mengucapkan mantra. Rambut itu berubah tembus pandang dan melesat pergi mengikuti Tetua Outter.
" My Lord....... ? "
( " Hmmm......... ? " ) Kendrick menjawab lewat telepati. Martin mengerti.
( " Mengapa ia menyamar sebagai ayahku ? " )
Kendrick menghela nafasnya berat.
( " Kemungkinan........... ia sudah membunuh ayahmu agar bisa menyusup masuk ke Asraco. Dan ada sesuatu yang ia inginkan atau ia cari di sini " )
Martin tertegun mendengar itu. Matanya seketika berkaca-kaca. Inikah sebabnya ayahnya tak pernah menemuinya lagi ? Jadi Odex telah membunuh ayahnya ? Ia sendiri diculik Odex saat bermain dan dibawa ke kota Malto. Untunglah ia bisa keluar dari guci penyimpanan milik Odex dan bertemu Dewi Rey dan Tuan Asgar. Ia juga tak tahu dimana ibunya.
__ADS_1
Lord Kendrick mengusap airmata di pipi Martin. Ia memeluk dan membelai kepalanya.
( " Kuatkan hatimu. Aku akan memgawasinya. Selama ia disini, jangan mendekatinya. Kau belum cukup kuat untuk menghadapinya. Jangan sampai dia tahu kamu adalah putra Outter. Atau lebih baik kau selalu berada di dekatku. Kau mengerti " )
Martin mengangguk masih menangis pilu.
Alice datang mengetuk pintu yang masih terbuka.
" Tok...Tok...Tok...... My Lord ? "
Kendrick menengok ke arah pintu.
" My Lord ingin disediakan makan pagi dimana ? " tanya Kepala Pelayan.
" Tolong bawa ke taman belakang saja. Juga camilan untuk Martin "
" Baik My Lord, segera saya siapkan "
Kendrick menggandeng Martin ke taman belakang.
Di penginapan Rey bangun setelah mendengar panggilan makan pagi. Ia pun segera mandi. Tapi ia merasakan tarikan gaib. Tubuhnya menghilang dan muncul di pelukan Kendrick di taman belakang.
" Ah..... K.. Kendrick....... " pipi Rey merona merah.
" Dewi..... ! " teriakan kecil bocah laki-laki datang ikut memeluk Rey.
" Hei..... ! Kau mau merebut milikku ?! Lawan aku dulu... ! " kata Kendrick dengan muka diseram-seramkan.
" Ha..Ha..Ha..Ha..... " Rey dan Martin tertawa.
" Bagaimana kabarmu, penyihir kecil ? "
" Aku baik-baik saja Nona. My Lord mengajarku banyak ilmu baru. Aku juga belajar bertarung bersama para prajurit "
" Bagus...... jadilah kuat dan hebat ! "
" Tentu. Dewi, dimana Tuan Asgar ? "
Seketika Rey agak murung.
" Asgar masih sakit. Ia berada di ruang dimensi "
" Apa yang terjadi pada Tuan Asgar ? "
" Seorang penyihir jahat memukulnya "
" Aah..... Bawa aku masuk, aku ingin menengoknya "
" Ayo...... "
Rey menggandeng Martin dan juga Kendrick.
Mereka muncul tepat di atas danau jiwa. Rey membawa mereka turun ke dasar danau. Kendrick tersenyum merasakan air ajaib seolah menyegarkan jiwanya.
Mereka berdiri di depan Asgar yang terbaring diam. Martin langsung memegang tangan Asgar.
( " Tuan Asgar...... Ini aku, Martin...... Cepatlah sembuh. Aku sudah lebih kuat lagi sekarang..... Cepatlah bangun. Kita akan bertarung lagi nanti " )
__ADS_1
Rey tersenyum. Kendrick mendekat dan menyentuh dada Asgar. Ia memejamkan matanya sebentar.
( " Tulang yang remuk sudah pulih, tapi belum cukup kuat untuk dipakai bertarung. Biarkan dia beberapa hari lagi " )
Mereka bertiga melayang naik ke permukaan danau dan mendarat di rerumputan. Zigaz sudah menunggu sambil mengumpulkan beberapa apel merah.
" Tuan Zigaaaaaaz........... ! "
Martin melemparkan banyak pisau angin pada Zigaz. Zigaz berlompatan menghindar kesana-kemari lalu mendarat sambil bergaya.
" Uiiih.... ! si penyihir jagoan sudah naik tingkat " Zigaz memuji untuk memberi semangat.
Martin terkekeh bangga.
Zigaz memberi hormat pada Kendrick.
" My Lord.... "
" Hmmm..... aku merasa masih ada yang lain di sini "
" Ya, ia seorang ibu yang kehilangan anaknya. Aku sengaja mengurungnya disini sementara. Waktu itu jiwanya sedikit terguncang. Ia memaksa untuk mencari penyihir di hutan Mazox "
Lalu mereka duduk bersama, makan apel sambel bercanda. Kendrick mengambil camilan yang tadi ada di meja taman belakang Astraco. Sedang mereka menikmati kebersamaan, seseorang menatap dari jauh.
Ia mengamati kumpulan itu dengan teliti. Lalu matanya terbelalak lebar saat mengenali seorang anak kecil yang sedang memakan buah apel. Wanita itu setengah berlari mendekat. Seekor tupai ikut berlari di belakangnya.
" Anakku..... Itu anakku..... "
Rey dan Kendrick melihat kedatangan wanita itu. Zigaz berdiri hendak menghalanginya, Namun Rey menahannya. Ia ingin tahu apa yang akan dilakukan wanita itu pada Martin.
" Bruukk..... ! "
Wanita itu duduk berlutut di samping Martin. Airmatanya mengalir keluar. Martin terkejut menoleh. Apel yang dipegangnya seketika terjatuh saat ia bersitatap dengan wanita itu. Matanya berkaca-kaca.
" Ibu........ "
Suaranya tersendat bercampur isak tangis. Wanita itu langsung memeluknya erat.
" Anakku...... Huu..... Huu............. Huu..... Huu.............. "
Wanita itu menangis cukup keras. Martin juga.
Hal itu membuat Rey, Kendrick dan Zigaz saling pandang. Mereka menduga-duga kemungkinan yang ada, sehingga tetap diam menunggu sebuah penjelasan.
Cukup lama juga mereka menunggu. Hinga bunyi tupai menyadarkan semuanya.
" Cericiiittt....... "
Seketika wanita itu melepaskan pelukannya. Ia menatap Martin dan mengusap airmatanya sendiri, lalu mengusap airmata Martin.
" Apakah kamu baik-baik saja nak.... ? "
Martin mengangguk. Ia tersenyum. Wanita itu menatap pada ketiga orang dewasa yang sedang menunggu penjelasan.
" Maafkan saya, eh... kami. Dia..... dia adalah anakku yang diculik penyihir jahat. Aku sudah mencarinya di tiap kota sampai aku dengar kabar Gadis Takdir telah menemukan anak-anak yang hilang dan mengembalikan mereka di rumah pak walikota Malto.
__ADS_1