
" Ceritakan padaku dengan jelas " Carxen menatap Pedro.
" Tuan Devano terpesona pada seorang gadis cantik yang ternyata adalah Gadis Takdir. Dan menantang Lord Kendrick, Penguasa Negeri Astraco. Lord Astraco sama sekali tidak melukai tuan Devano, meskipun tuan Devano berkali-kali mennyerangnya. Tapi kedua pengawalnya yang marah dan memukul tuan Devano "
Tuan Carxen terdiam mendengar cerita itu. Ia sudah mendengar tentang campur tangan Astraco atas hal yang dialami kerajaan HIGRESIA belakangan ini. Pikirannya seketika campur aduk. Bagaimana mungkin anaknya berani melawan Penguasa Abadi ? Menginginkan si Gadis Takdir, seorang gadis dengan kekuatan cahaya yang berhasil mengalahkan para iblis dan penyihir.
Ia ingat beberapa bulan lalu Raja Higo juga mati tersiksa dalam bola sihir karena menginginkan Gadis Takdir. Tuan Carxen memegang kepalanya dengan gemetar. Sekarang anaknya mengalami kelumpuhan karena hal yang sama. Ia yakin itu hukuman yang tidak ringan. Kemungkinan, kelumpuhan itu tidak akan bisa disembuhkan. Kecuali memohon pengampunan pada sang Penguasa secara langsung. Tapi....
" Tuan... " Pedro memanggil pelan.
" Ada apa lagi.... " tanya Carxen lesu.
" A... anu..... nona Delisa juga terlibat masalah. Tangannya dikutuk karena sudah menyiram, menampar, menjambak, juga....mencakar penjaga Gadis Takdir " lapornya.
" Aaah......... apa alasannya ? " Carxen mendesah sambil memegang dahinya.
" Ia menyukai tuan Asgar, pengawal Lord Astraco " jawab Pedro takut-takut.
Carxen mengusap wajahnya dengan gusar, tak tahu harus bagaimana. Kedua anaknya terlibat masalah dengan orang-orang Astraco. Ia tak punya muka untuk meminta maaf, apalagi memohon kesembuhan untuk Devano.
Lalu bagaimana dengan masa depan Devano ? Carxen sudah mendidiknya untuk menjadi penerus usahanya. Tapi sekarang Devano tergeletak tak berdaya. Bagaimana mungkin Devano akan memimpin usahanya. Yang ada malah mengalami kerugian karena orang-orang licik.
Apa yang harus ia lakukan sekarang ? Tidak mungkin ia menyerahkan usahanya pada Delisa. Putri kesayangan istrinya itu hanya bisa berdandan saja ( istrinya sudah lama meninggal ).
Carxen menghela nafas dan berdiri, namun merasa linglung.
" Tuan akan ke mana ? " tanya Pedro.
" Aku... harus menemui mereka kan ? Kalau perlu aku akan bersujud dihadapan banyak orang untuk Devano "
" Tapi tuan..... " Pedro ragu, ia tahu harga diri tuannya sangat tinggi.
" Memang memalukan, tapi ini demi Devano " jawab Carxen yakin.
" Bagaimana denganku, penyihir itu mengutuk tanganku " Delisa muncul menghadang di pintu.
" Minggir.... itu urusanmu sendiri " Carxen menyingkirkan Delisa dan berlalu bersama Pedro.
__ADS_1
" Ayah tidak adil.... ! " teriak Delisa.
Carxen tidak memperdulikan Delisa.
Delisa berteriak-teriak dan menangis. Ia kecewa karena ayahnya tak perduli padanya. Lalu Delisa teringat Devano. Segera ia berlari ke kamar Devano.
Di sana Delisa mengamuk dan melempari Devano dengan benda apapun di ruangan itu. Devano hanya bisa mengerang kesakitan ketika salah satu guci antik terlempar ke arahnya dan pecah berserakan di kasur. Bahkan Delisa memukul kepala Devano dengan peti kecil di meja. Ia tertawa melihat darah mengalir dari dahi Devano.
Para pelayan yang mendengar keributan itu berusaha menyeret Delisa keluar. Mereka terpaksa mengikat Delisa di tiang rumah. Salah satu pelayan segera pergi memanggil tabib, pelayan lain mencari tuan Carxen, sementara yang lain membereskan kamar Devano dan mengurus keadaannya.
Di pesta, Raja Alexander berbincang dengan Kendrick dan Asgar tentang keprajuritan. Rey pergi ke meja kue diikuti Zigaz. Ia sangat menyukai macam-macam kue. Rey kebingungan memilih macam-macam kue.
Saat itulah Carxen melihat seorang gadis cantik nan lembut sedang memilih kue. Carxen menyukai gadis-gadis berwajah lembut. Biasanya ia akan melumpuhkannya ( membuatnya setengah sadar ) dan membawanya paksa ke tempat tidur. Suara penolakan bercampur dengan ******* membuatnya bergairah tingkat tinggi. Dalam semalam ia bisa 5 kali menyetubuhi gadis-gadis lembut itu. Kadang menyekapnya berhari-hari sampai bosan. Ooooh.... Carxen mendesah pelan membayangkannya. Ia merasakan senjata keperkasaannya menegang.
Cepat ia mengeluarkan botol kecil (berisi cairan pelumpuh + perangsang ) dari sakunya dan mengoleskannya pada jari-jari tangannya. Kemudian ia mendekati Rey dan menggenggam kue yang akan diambil Rey.
" Oh.... maaf nona cantik, aku tidak menyangka selera kita berdua sama " katanya tersenyum pada Rey.
Jari-jarinya dengan ahli mengoles bagian permukaan kue itu sebelum mengulurkannya pada Rey.
" Silahkan.... "
" Ini Nona.... "
" Hei, pak tua. Tahu malu lah.... Kau sudah tua. Tak pantas menggoda gadis ini. Nona cantik... silahkan " Carxen menarik tangan Rey dan menaruh kuenya di telapak tangan Rey.
Zigaz segera mengambil sapu tangan dari sakunya. Ia mengambil kue Rey dan membuangnya ke bawah. Lalu mengelap tangan Rey hingga bersih sebelum mengelap tangannya sendiri.
Carxen yang melihat tindakan Zigaz marah dan mendorong keras.
" Pak tua... ! Kau sungguh tak tahu malu, pergilah " usir Carxen. Ia tak ingin kehilangan mangsanya. Dipikirnya pria tua itu juga menginginkan Rey.
Zigaz menarik Rey menjauhi Carxen.
" Kau siapa ? " tanya Zigaz tenang. Ia sudah tak heran lagi jika ada yang terpesona pada Nonanya.
" Aku Baron Carxen " katanya bangga.
__ADS_1
Zigaz dan Rey saling menatap. Mereka ingat Delisa Carxen. Apalagi Zigaz. Bukankah ia tadi yang menghajar pemuda bernama Devano Carxen ? Rey mengedip pada Zigaz sambil tersenyum. Carxen yang melihat Rey tersenyum mengedip pada Zigaz jadi gemas. Ingin segera menggendongnya dan menindas di tempat tidur.
" Nona, dia sudah tua, miliknya pasti sudah loyo dan keriput. Ikutlah bersamaku, aku akan memuaskanmu sepanjang malam " kata Carxen memainkan matanya.
" Tuan Carxen..... anda sudah salah sangka terhadapku. Saya adalah penjaga Nona " Zigaz berusaha sopan.
Seketika Carxen menatap remeh pada Zigaz.
" Oh... ! A... Kalau begitu cepat ambilkan anggur untuk nonamu. Kami akan mengobrol sebentar "
" Saya adalah penjaga Nona Rey. Jika anda butuh minuman, silahkan suruh pelayan anda sendiri " sahut Zigaz.
" Kamu.... ! " Carxen melotot marah. Ia akan kesulitan mendapatkan Rey jika tidak menyingkirkan si tua ini.
Ia menoleh pada Pedro. Pedro sudah tahu harus apa. Ia mendekati Zigaz.
" Tuan, mari kita menepi, biarkan anak-anak muda bercengkrama " ajaknya.
" Pergilah menepi. Aku akan tetap disini mengawasi tuanmu. Jika sedikit saja ia melakukan hal yang tak pantas pada Nonaku, aku akan membuatnya lumpuh, sama seperti putranya "
Kata-kata Zigaz seketika mengejutkan Carxen dan Pedro. Mereka menatap Zigaz.
" Apa maksudmu ? " tanya Carxen.
" Buah jatuh memang tak jauh dari pohonnya. Ternyata kelakuan Devano tak beda jauh dengan anda tuan Carxen " sindir Rey sambil berlalu.
" Kalian ayah dan anak sama-sama menginginkan apa yang bukan haknya " kata Zigaz pergi menyusul Rey.
Carxen diam berusaha mencerna semuanya.
" Pedro, katamu Devano di pukul oleh pengawal Lord Astraco, apakah si tua itu "
" Kurang yakin tuan. Tadi dia bilang, dia penjaga nona itu, bukan pengawal Lord Astraco "
Carxen mencibirkan bibirnya.
__ADS_1
" Hanya mengaku-ngaku saja. Singkirkan dia. Aku mau gadis itu "