GADIS TAKDIR

GADIS TAKDIR
70. Dua Penyihir


__ADS_3

Sepasang tangan kokoh milik Asgar menangkap lukisan yang hampir mengenai kepala Rey. Rey tersenyum simpul. Ia tahu kedatangan Asgar jadi ia hanya memanipulasi angin serangan penyihir tua itu untuk memperlambat jatuhnya lukisan.


Asgar memberikan lukisan yang jatuh itu pada pelayan kedai. Penyihir tua itu menggertakkan giginya karena kesal. Asgar yang tidak tahu langsung menyapa Rey sebelum duduk. Ia ingin melaporkan apa yang terjadi pada kelompok penyihir tadi. Namun Rey memberi isyarat dengan matanya dan menjelaskan lewat telepati.


( " Orang tua yang berjubah putih itu seorang penyihir. Dia bukan orang baik, mungkin penyihir level menengah. Elemennya angin. Siap-siaplah bertarung dengannya " ) kata Rey lewat telepati.


Asgar mengangguk samar. Kemudian meminum araknya.


Penyihir tua itu memperhatikan Asgar dan Rey. Mereka memang tampak seperti suami istri. Tapi dia sudah tua dan pengalaman. Tahu cara membedakan suami istri sungguhan atau pura-pura. Dan ia yakin mereka bukan suami istri.


Penyihir tua itu memang mendengar kejadian kemarin. Ia segera datang ke kota ini untuk melihat siapa mereka. Namun ia ragu apakah mereka bisa sihir atau tidak. Ia heran mengapa aura gadis itu berbeda dengan orang-orang biasa. Untuk Asgar, penyihir tua itu merasakan aura pembunuh, ini biasa didapati pada prajurit kerajaan atau seorang pemburu.


Ia berpikir mungkinkah Rey adalah Gadis Takdir dan Asgar adalah penjaganya ? Terlihat bibirnya menyeringai. Ia harus memisahkan Asgar untuk mendapatkan darah gadis itu. Sesedikit apapun itu, cukuplah untuk menambah kekuatannya. Apalagi jika ia meminum habis darah Gadis Takdir, pastilah kekuatannya tak tertandingi, menjadi penguasa abadi.


Asgar melirik orang tua itu. Dilihatnya orang tua itu menyeringai terlalu lebar mirip serigala. Asgar menjentikkan jarinya sambil kembali bersender ke kursi. Mulutnya ikut menyeringai namun " dilebarkan " sekali sehingga tampak lucu. Rey menunduk menahan tawa.


Penyihir tua itu melihat Asgar yang seolah-olah mengejeknya. Dengan marah ia menghentakkan gelas ke atas meja. Untunglah tidak pecah. Penyihir tua itu meletakkan 1 keping perak sebelum melangkah keluar kedai.


Asgar dan Rey tersenyum. Setelah penyihir tua itu keluar, Asgar membenahi duduknya dan menceritakan apa yang terjadi di gudang tadi.


" Itu berarti mereka kelompok penyihir pemberontak. Mereka bekerja di istana tapi tidak mendukung penguasa kegelapan. Siapa yang menjadi ketua mereka ? " ujar Rey.


" Saya tidak tahu, nona. Tidak ada yang menyebut namanya " jawab Asgar.


Mereka diam sejenak.


" Nona, bagaimana dengan penyihir tadi, mengapa ia tidak berjubah hitam " tanya Asgar.


" Ada dua kemungkinan. Dia orang biasa yang punya kemampuan khusus menguasai sihir atau leluhurnya keturunan penyihir baik-baik. Tapi sepertinya sekarang ia tidak baik-baik saja " Rey menjelaskan.


" Oh.... mungkin ia mendengar tentang ramalan itu sehingga punya tujuan yang sama dengan penguasa kegelapan " ujar Asgar.

__ADS_1


Rey menaikkan alisnya mendengar pendapat Asgar.


" Aiiisssh.... musuhku bertambah satu lagi ? " Rey menggembungkan pipinya dengan kesal.


Asgar mengerutkan keningnya. Lalu setengah gembira, ia menggebrak meja hingga Rey terkejut.


Braakk .... !


" Bagaimana jika kita mengadu domba mereka " usul Asgar.


" Siapa ?! " Rey bingung.


" Penyihir tua itu dengan ketua penyihir pemberontak " Asgar berbisik pelan.


Rey terperangah langsung menutup mulutnya sendiri. Ia mengangguk-angguk setuju. Ia mendengarkan rencana Asgar.


Rey meletakkan 2 keping perak di atas meja lalu pergi ke kamar mandi. Ia kembali ke penginapan dengan teleportasi. Asgar beranjak keluar dan berjalan tergesa-gesa masuk lorong perumahan. Waktu sudah hampir gelap. Tak lama ia merasa ada yang mengikutinya. Asgar tersenyum simpul.


Tiba-tiba seseorang menghadang jalannya. Ternyata itu si penyihir tua. Asgar lari berbalik arah, namun penyihir tua itu terbang melewatinya dan kembali menghadangnya.


" Dimana Gadis Takdir itu ? " tanya penyihir itu.


" Apa urusanmu dengannya ? " Asgar curiga.


" Bukan urusanmu, mana dia ? " penyihir itu mendekat. Ia menyiapkan pisau-pisau angin. Asgar ketakutan.


" Katakan dimana dia, atau aku akan mencincangmu ....! " ancam si penyihir.


" Ketua.... ketua penyihir membawanya ke gudang... untuk dijadikan sebagai korban darah pada malam bulan purnama " Asgar menjawab terbata-bata.


" Apa .......?! dimana itu, bawa aku kesana ! " penyihir itu mencengkeram kerah baju Asgar, mengangkatnya ke atas.

__ADS_1


Asgar pura-pura ketakutan, ia hanya menunjuk ke arah gudang. Penyihir itu melempar tubuh Asgar ke belakang dan menuju ke arah yang ditunjuk Asgar.


" Aaaaaaah .......... " Asgar melayang turun perlahan dengan tersenyum menyeringai. Ia membalikkan beberapa barang di sekitarnya seolah-olah ia menabrak semua itu. Lalu segera pergi dari sana, kembali ke penginapan.


" Nona, saya sudah menggiring penyihir tua itu ke gudang " lapor Asgar.


" Bagus.... kau makanlah dahulu, lalu berjagalah di depan kamarku. Jangan ijinkan siapapun menggangguku " perintahnya pada Asgar.


Lalu Rey menangkap seekor nyamuk dan memantrainya lebih dulu sebelum mengirimnya ke gudang dengan cara teleportasi. Kemudian Rey duduk memejamkan mata. Ia meminjam mata nyamuk dan mengendalikannya agar tetap berada ditempat aman sambil mengawasi kedua penyihir itu.


Sementara penyihir tua itu masuk ke gudang yang gelap itu. Matanya berusaha menyesuaikan dengan kegelapan. Dilihatnya ada sosok berjubah hitam duduk di atas altar dari kayu.


" Siapa kamu ? " tanya penyihir hitam.


" Aku kesini untuk mengambil hakku " jawab penyihir tua.


" Hak ...? apa maksudmu ? " penyihir hitam bangkit dari duduknya.


" Gadis Takdir itu. Dimana dia ? " tanya penyihir tua.


" Ha..ha..ha.... ternyata hanya tikus got ! mau apa kamu dengan Gadis Takdir itu ? kau tidak pantas memilikinya " ejek penyihir hitam.


" Tutup mulutmu itu ! kaulah yang tidak pantas memilikinya. Umurku sudah 300 tahun. Jelas lebih kuat darimu. Berikan padaku, dan aku akan mengampuni nyawamu " kata penyihir tua.


" Ha..ha..ha... baru seumur jagung sudah sombong. Mari kita buktikan diluar ! " penyihir hitam melesat keluar. Menuju tempat sepi yang lapang. Penyihir tua terbang mengikuti. Rey juga segera mengikuti melalui nyamuknya. Namun ia menjaga jarak sejauh mungkin agar tidak terkena efek serangan.


Mereka berhenti di tanah lapang dekat kuburan. Keduanya berdiri berhadapan kira-kira 10 meter. Saling menatap dengan ekspresi kejam dan niat membunuh.



Penyihir hitam mengangkat tongkatnya dan menghujamkan pada tanah. Sesuatu bergerak dibawah tanah ke arah Penyihir tua dan meledak ke atas, melemparkan si penyihir tua.

__ADS_1


Tapi ternyata penyihir tua melayang turun tanpa luka. Mulutnya mengucap mantra dan tangannya bergerak-gerak menciptakan puluhan tombak angin yang mengejar penyihir hitam. Penyihir hitam terbang berusaha menghindar. Namun tombak-tombak angin itu terus mengejarnya, seolah mempunyai mata. Beberapa merobek jubahnya saat berbelok. Dengan marah dikebutkannya jubahnya memukul tombak-tombak itu sehingga terhempas hancur di udara.


" Ha..ha..ha..ha..... Kamu terlihat sedikit menggoda sekarang. Perlukah aku memanggilkan wanita penghibur untukmu ? " ejek penyihir tua itu.


__ADS_2