
Nenek mengetuk pintu kamar Rey.
" Nona...... bangunlah..... Ini sudah waktunya makan siang "
Rey menggeliat pelan. Ia segera bangun dan membuka pintu. Nenek dan Angel masuk. Tapi Rey kembali menghempaskan diri di kasur. Nenek terkejut dan menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum. Angel pun lalu melompat ke kasur. Ia memeluk dan menciumi Rey. Membuat Rey tertawa geli.
Nenek menata makanan yang dibelinya ke atas meja. Ia keluar lagi untuk meminjam peralatan makan dari penginapan. Rey segera mandi dan makan bersama.
" Nona , setelah ini saya akan membersihkan rumah baru dan membeli barang-barang "
" Kita akan pergi bersama, nek. Hari ini aku tidak ada urusan. Aku juga tidak ingin lagi bermalam di sini "
" Ya..... A..Angel .... takut .... "
Rey membelai kepala Angel.
" Bersiaplah "
Nenek segera membereskan meja . Rey keluar mencari Asgar. Ia mendapati Asgar duduk di kursi teras penginapan. Mereka berbicara sebentar lalu Asgar pergi menyiapkan kuda.
__ADS_1
Asgar berkuda dengan Angel duduk di depan. Sedang Rey berkuda dengan nenek. Mereka mampir ke pasar untuk membeli barang-barang dan meminta pelayan mengantarnya ke rumah baru nenek.
Rey dan Angel bekerja sama membersihkan dan menata barang. Asgar mengerjakan pekerjaan berat . Nenek mulai memasak setelah kayu bakar datang.
Menjelang matahari terbenam, pekerjaan sudah selesai. Satu-persatu bergantian mandi dan bersiap makan malam bersama.
Setelah makan malam mereka kembali duduk bersama sambil bercakap-cakap. Tak jarang Angel bersenda gurau dengan Asgar. Angel memanggil Asgar dengan sebutan paman. Asgar merasa terharu seperti memiliki sebuah keluarga ( ia adalah anak yatim-piatu ) .
Menjelang malam, satu cahaya (sosok) datang mendekati rumah itu. Kemudian tampak Kendrick berdiri dan menggerak-gerakkan tangannya. Ia memantrai rumah itu supaya tak tampak di mata para penyihir. Lalu segera menghilang.
Asgar beranajak keluar. Ia merasa ada seseorang yang datang. Ia berkeliling sebentar mengamati sekeliling dan memastikan pintu dan jendela terkunci rapat. Karena tak ada sesuatu yang mencurigakan, Asgar masuk ke rumah. Malam ini mereka semua tidur nyenyak karena tidak ada gangguan apapun.
Selama perjalanan, mereka bercakap-cakap.
" Nona .... kita akan kemana ? "
" Kita akan terus melewati kota-kota sampai aku mendapatkan mahkotaku kembali. Apakah kau lelah "
" Tidak Nona, saya hanya ingin tahu saja. Saya sangat senang mengikuti My Lord dan Nona "
__ADS_1
" Tidakkah kau takut bahaya ? "
" Jika serangan manusia, saya sudah biasa . Tapi jika tentang sihir, jujur saya tak punya kemampuan melawan mereka "
" Ya, aku pun takut. Tapi sudah takdirku harus berhadapan dengan mereka "
" Apakah mereka punya kelemahan ? "
" Ya, mereka lemah terhadap cahaya atau api, itu sebabnya mereka keluar dimalam hari "
Asgar membulatkan mulutnya mendengar keterangan itu. Jadi ia harus melawan mereka dengan sesuatu yang bercahaya. Asgar tampak berpikir. Ia akan membuat senjata yang menggunakan cahaya atau api. Tiba-tiba ia teringat akan Raja Higo yang masih terkurung dalam bola sihir.
" Ehm, Nona ..... bagaimana dengan Raja Higo ? "
" Ia tidak akan hidup lebih lama "
" Berapa lama ia akan berada dalam bola sihir itu ? "
" Hanya tiga hari, bola sihir itu akan menguap sendiri " (Rey membuatnya dengan sihir air ( ada juga bola sihir dari cahaya atau api, tanah)).
__ADS_1
Mereka terus bercakap-cakap hingga tak terasa sudah masuk ke kota berikutnya.