GADIS TAKDIR

GADIS TAKDIR
91. Bermalam Di Ogara


__ADS_3

" Itu benar nek, tidak ada penghuni istana yang selamat. Penyihir hitam menghisap darahnya. Sedang iblis merasuki tubuhnya untuk dipakai sebagai wadah. Warga kota juga banyak yang menjadi korban, terutama bayi dan gelandangan "


Nenek itu menangis tanpa suara. Rey mengusap-usap punggungnya.


" Apakah iblis itu berwujud seperti asap hitam ? "


" Apa nenek pernah melihatnya ? "


" Ya, di pinggir hutan Blackburn. Waktu itu aku sedang mengumpulkan ranting untuk kayu bakar. Aku terpaksa membakar ranting-ranting itu sampai seorang pemburu menolongku mengusir iblis itu "


" Bagaimana nenek tahu cara mencegah iblis itu mendekati nenek ? " tanya Rey ingin tahu.


" Aku tadinya mengira itu bunyi serigala. Jadi aku menyalakan api "


Rey saling menatap dengan Asgar. Mengapa Destraco tidak langsung menyerang nenek ini ? Bukankah kemarin ia bisa menerobos api saat di istana ?


Kemudian nenek itu bangkit keluar menyalakan obor di luar pintu. Ia melihat kuda-kuda beristirahat dengan tenang (Rey sudah memberi mantra pelindung ), lalu masuk lagi dan menutup pintu.


" Kalian sebenarnya mau kemana ? " tanyanya.


Rey melihat pada Asgar.


" Kami sedang mencari saudara kami di negeri tetangga. Sudah setahun ia tak kembali " Asgar menjawab.


" Kalian mungkin tidak akan selamat jika melewati hutan itu " nenek itu khawatir.


" Tapi itu jalan satu-satunya " kata Rey.


Nenek itu menggeleng sedih. Lalu ia berdiri.


" Aku akan menangkapkan beberapa kunang-kunang untuk kalian. Setidaknya itu bisa menerangi jalan kalian "


" Tidak perlu, nek "


Rey ikut berdiri menahannya. Lalu ia mengulurkan tangannya yang terkepal seperti menggenggam sesuatu. Nenek mengerutkan alisnya. Ia membukanya pelan-pelan. Tampaklah bola kecil bercahaya menyilaukan matanya. Nenek itu terperangah dan mundur selangkah, lalu menyadari ruangannya seterang siang hari.


" Waaaah.....! "


Nenek itu kemudian menatap Rey hendak bertanya, namun ia lebih terkejut saat melihat dahi Rey juga bercahaya.

__ADS_1


" Kau..........Gadis Takdir ? " tanyanya tak percaya.


Rey mengangguk tersenyum.


Segera si nenek bersujud didepan Rey. Rey menariknya agar kembali berdiri.


" Maafkan saya yang tidak menyadari siapa anda " ucap nenek memohon maaf.


" Nenek tidak punya salah apapun. Bangunlah. Anggaplah aku seperti orang biasa "


Lalu Rey memberikan bola cahaya itu pada Asgar dan menyuruhnya menyalakan setiap obor di depan rumah warga. Ia sendiri keluar untuk memasukkan kuda-kuda ke dalam cincin ruang .


Malam ini mereka tidur tenang. Tapi tidak dengan Destraco di tengah hutan Blackburn. Ia merasakan ada aura penyihir sekilas. Segera dicarinya di seluruh hutan. Ia harus mendapatkannya untuk mempercepat pemulihannya. Selama di istana ia selalu mendapat sumber kekuatan dari penyihir lain. Mereka mau tidak mau secara bergiliran harus membawakan darah bayi atau menyumbang kekuatan untuknya. Namun karena Rey telah membakar para penyihir itu, sekarang ia harus mencarinya sendiri.


Karena tidak menemukan yang dicari, Destraco melayang keluar hutan, mendekati desa Ogara. Namun ia terpana melihat desa itu diterangi obor.


" Ada apa ini, mengapa mereka menyalakan obor ? " ia menggeram marah.


Dengan nekat ia mendekat dari sisi belakang rumah-rumah warga. Ia mengintip setiap bagian dalam rumah mereka yang selalu diterangi lilin. Terdengar suara tangisan anak-anak yang merasa takut. Namun mereka tetap aman selama ada cahaya atau api.


Rey merasakan aura gelap mendekat. Ia sudah menghilangkan auranya dari saat makan malam bersama, namun tetap waspada. Separuh rambutnya ia tutupkan ke pipi. Matanya pura-pura terpejam. Ia khawatir Destraco mengenalinya disini, akan membahayakan si nenek. Begitupun ia bertelepati pada Asgar agar menutupi wajahnya .


Kira-kira pada hitungan ke 20, Destraco berlalu. Rey bernafas lega. Sepertinya kekuatan Destraco masih belum pulih total.


Pagi datang, para warga membicarakan tentang obor yang menyala di depan setiap rumah. Mereka tidak tahu siapa yang telah menyalakannya semalam. Nenek yang keluar menjelaskannya. Mereka tercengang dan sedikit tidak percaya, malah menyangka nenek ngelantur karena kesepian.


Nenek tidak perduli mereka percaya atau tidak. Ia pergi ke kebun belakang mengambil sayuran untuk dimasak sarapan pagi.


Rey dan Asgar bangun ketika mencium bau harum masakan. Rey ke belakang bermaksud mencuci muka. Tiba-tiba Asgar menyerobotnya.


" Eeeh Asgaaaar........ ! aku duluaaaan....... "


Rey menggedor-gedor pintunya.


" Maaf Nona....... kau terlambat...... aku duluan..... "


" iiiish....... kau kan laki-laki, harusnya mengalaaaah......... " Rey menggaruk-garuk pintu dengan kesal.


" Perempuan kalo mandi lama, lebih baik aku duluan " lalu terdengar siraman air.

__ADS_1


" iiiiiihhh....... ! Mulut Rey monyong seperti terompet kecil. Nenek terkekeh melihat keributan itu dari dapur.


Rey duduk di depan meja dapur. Nenek memberinya toples kue kering. Baru makan satu, tangan Asgar menjewer kupingnya.


" Mandi dulu Nona cantiiiiik....... "


" Aaaaaaah....... Asgaaaar..........! "


" He..he..he...he..... " Asgar melepaskan tangannya.


Rey semakin monyong, namun pergi juga ke kamar mandi.


Nenek dan Asgar mengobrol sambil menunggu Rey selesai mandi dan bergabung. Di sela makan, nenek menanyakan lagi tentang tujuan mereka. Rey segera teringat perkataan pak tua yang pernah menemui mereka.


" Nenek.... apa nenek tahu kapan gerhana matahari ? " tanya Rey.


" Uhuk-uhuk.... ! "


Seketika nenek tersedak minum. Rey menepuk punggungnya. Nenek mengambil nafas panjang.


" Kalau tak salah, seminggu lalu ada seorang pertapa mengatakan jika posisi bulan kesiangan berada di tengah atas maka itu pertanda akan ada gerhana matahari. Kami diharuskan segera menyalakan obor dan bersembunyi di rumah jika ingin selamat. Sebab pada saat itu segala macam iblis dan roh jahat amat kuat.


Beberapa hari ini memang bulan terlihat kesiangan. Namun belum mencapai titik atas "


Rey menatap Asgar. Mereka harus cepat menemukan Destraco. Rey menggigit bibirnya. Bagaimanapun ia merasa sedikit cemas. Asgar menarik nafas.


" Kita pasti bisa, Nona. Percayalah pada harapan semua orang. Mereka nafas hidup kita "


Rey mengangguk-angguk dan tersenyum. Nenek menumpangkan tangannya pada Rey dan Asgar.


" Saya percaya kalian akan kembali dengan selamat "


Mereka tersenyum bersama.


Lalu Rey dan Asgar bersiap berangkat. Nenek membawakan kue pie untuk bekal. Rey menyimpannya di ruang cincin dan mengeluarkan kuda-kuda. Kemudian melambaikan tangan.


Ketika mencapai tepi hutan, suasana sangat sepi. Tak ada kicau burung. Namun Rey mendengar langkah-langkah mendekat. Ia tak dapat memastikan karena tidak terasa auranya. Tangannya memegang lengan Asgar sehingga Asgar dapat merasakan ketegangannya.


Kira-kira pada hitungan ke 10, tampak sesuatu mendekat. Itu bukan manusia, terlihat seperti merayap, moncongnya panjang. Rey mengamati lebih teliti. Mungkinkah itu...

__ADS_1


" Serigala.... ! " Asgar mendesis.


Tangannya segera mengeluarkan pedang perak. Ia menarik Rey agak ke belakang.


__ADS_2