GADIS TAKDIR

GADIS TAKDIR
123. Masalah Di Pesta (2)


__ADS_3

Raja Greg melirik sinis pada Sheila.


" Apa kamu mencari kematian... ? Mulutmu benar-benar tajam dan busuk. Apa kau tidak menyelidiki dulu siapa orang yang kau maksud ? " tanya Raja Greg pelan.


" ........ ? " Sheila hanya menatap Raja Greg tak mengerti.


" Dia adalah Hakim Agung Trexodia, Pangeran Axel, putra pertama Raja dan Ratu Trexodia " jelas Raja Greg.


Sheila seketika menutup mulutnya. Wajahnya memucat, tubuhnya mulai gemetar. Ia telah berlaku sangat berani, menuduh Ratu berselingkuh dengan pemuda tampan yang ternyata adalah putranya sendiri, Pangeran Trexodia. Oh tidak..... Sheila gemetar membayangkan hukuman yang akan diterimanya.


Rey hanya tersenyum menyeringai melihat Sheila yang gemetar. Ia duduk santai menunggu hukuman yang akan diterima gadis bodoh itu.


" Ayah, ada burung beo berkicau mencari rotan " kata Axel ( Xenia )


" Ya sayangku, seseorang mengatakan aku sudah tua dan menuduhku tidak setia padamu " Ratu Elena pura-pura merajuk.


" Ia bahkan mengira ayah tidak bisa memberikan kepuasan pada ibu " Axel menampakkan muka kecewa.


Raja Alexander mendengar pengaduan Ratu dan putranya. Wajahnya memerah menahan marah. Orang-orang menunggu dengan tegang. Mereka mencemooh kebodohan putri Baron Carlos yang berani menyinggung keluarga Raja Trexodia.


" Katakan padaku siapa orang bodoh yang berani menyinggung kita ? " tanya Raja Alexander.


Secara bersamaan, dagu Ratu dan Pangeran Axel menunjuk pada Sheila. Raja Alexander menatap gadis bergaun merah itu.


" Raja Greg.... bagaimana aku menghukum warga negaramu yang bermulut sangat mahal ini ? " tanya Raja Alexander.


Raja Greg menarik nafas...


" Sebagai Raja Higresia, aku mengusirnya karena ia telah mempermalukan tamu undanganku yang berstatus Raja. Dan sebagai permohonan maaf, maka aku mempersilahkan Raja Alexander membawanya dan menghukum sendiri di negara Trexodia " jawab Raja Greg.


" Ja.. jangan Yang Mulia. Mohon ampuni saya.... " Sheila berlutut dihadapan Raja Greg.


Pangeran Axel maju dan berbisik pada Greg. Greg mengangguk.


" Ada 2 pilihan hukuman untuk seseorang yang mengusik keluarga istana dengan mulutnya. Hukuman cambuk 100 kali atau bekerja di istana Trexodia selama 1 tahun tanpa dibayar " kata Axel pada Sheila.


Sheila tertegun. Keduanya adalah hukuman yang tidak diinginkannya. Ia menunduk semakin dalam dan memohon.


" Pangeran... Ampuni saya... mohon hukuman diperingan...... "


" Baiklah, kami akan membebaskanmu setelah bertarung dengan serigala "


Sheila dan orang-orang melotot. Pangeran Axel sangat kejam. Greg hanya mencibir. Nona Sheila ini sudah sering mencela siapapun terutama perempuan. Seolah merasa dirinya yang paling cantik dan benar. Telinganya sudah jenuh mendengar pengaduan para anak menteri yang lain.


" Tidak Pangeran, ampuni saya.... Saya menerima bekerja di istana saja " Sheila menangis.


" Hmmm.... " Axel memegang bahunya dan mereka menghilang.


Kedua Raja dan Ratu berlalu dari situ. Rey masih duduk sambil tersenyum tipis. Ia menunggu Xenia ( Axel ) kembali.

__ADS_1


Para gadis melirik ke arah Rey. Beberapa dari mereka yang tahu Rey datang bersama Pangeran Axel tidak berani mengganggu.


Tapi gadis-gadis lain yang tidak " belajar " dari Sheila mendekat malu-malu.


" Tuan.... apakah anda ingin ditemani ? " tanya salah satu.


Rey hanya menaikkan kedua alisnya dan tersenyum tipis.


" Apa aku mengenal kalian ? " tanyanya santai.


" Ehmm..... namaku Teresa "


" Saya Viena "


" Saya Celine "


" ........ " Rey tak berminat. Ia bertopang dagu.


( " Xenia, kembalilah ke sini dalam wujud Xenia 30 hitungan lagi. Aku pastikan gadis-gadis murahan ini mabuk anggur saat kau datang " )



" Bisakah kalian membawakan anggur untukku ? "


" Biar aku saja, tuan " jawab Celine cepat. Ia mengambilnya dari meja terdekat. Kemudian kembali dengan jalan seanggun mungkin.


Rey menjulurkan lidahnya sedikit.


" Gluk...gluk.... "


" Pergilah ke meja lain, carikan anggur yang enak untukku " perintah Rey pada Teresa.


Teresa mengangguk dan pergi. Tak lama ia kembali membawa segelas anggur merah. Rey mengerutkan alisnya.


" Apa kamu mencicipinya lebih dulu ? " tanya Rey.


" Ya tuan, rasanya manis dan enak " Teresa tersenyum bangga.


" Kalau begitu habiskan, aku tak mau minum bekasmu. Lalu pergilah ambilkan aku yang baru " kata Rey. Teresa terpaksa meminumnya sebelum pergi. Ia kembali membawa segelas anggur merah yang baru.


Rey menerimanya dan menempelkan bibirnya ke gelas ( berpura-pura minum sedikit ).


" Ini baru enak, cobalah. Lain kali kau harus memilih yang seperti ini " Rey menyodorkan anggur merah pada Celine. Celine terpaksa meminum lagi.


" Habiskan, aku tidak mau meminum bekasmu. Teresa, ambilkan lagi untukku " perintah Rey.


Setelah Teresa pergi, Rey menatap Viena yang berdiri diam.


" Mengapa kau hanya diam saja ? Pergilah ambil anggur 2, temani aku minum " perintah Rey sambil mengedipkan mata. Viena mengangguk senang, menyangka Rey tertarik padanya.

__ADS_1


Rey menjawil dagu Celine, membuat Celine tersipu malu. Teresa datang membawa segelas anggur.


" Mengapa hanya satu, apa kau tak ingin menemaniku minum ? "


" Oh, aku akan mengambil lagi " Teresa cepat-cepat pergi. Viena datang membawa 2 gelas anggur merah dan memberikan satu pada Rey.


" Duduk dan minumlah " katanya pada Viena. Ia membelai rambut Viena.


Rey menyodorkan gelasnya pada Viena " Kau menyukainya kan ? Minum lagi... "


Teresa datang. Rey menyuruh Teresa minum lagi sementara ia berpura-pura menyesap sedikit anggurnya. Ketika Rey menaruh gelasnya tak sengaja terguling ( memang disengaja ).


" Ouw.... ! "


" Aku akan ambilkan lagi, tuan " kata Viena.


" Celine, pergilah juga ambil anggur yang banyak, aku ingin menikmatinya sampai malam " Rey menjawil dagu Celine, membuatnya tersenyum malu. Lalu pergi untuk mengambilkan anggur.


Celine yang mulai mabuk, melangkah berat. Kepalanya agak pening. Seorang pria yang melihat keadaannya tersenyum menyeringai. Ia mengikuti Celine ke meja minuman. Dipeluknya Celine dari belakang dan dipaksanya minum segelas anggur. Celine bertambah mabuk dan oleng. Pria itu lalu membopongnya pergi.


" Tuaaaan.... siapa nama anda ? " Teresa membelai lengan Rey. Viena datang membawa 2 gelas anggur. Rey mengambilnya satu dan memberikannya pada Teresa.


" Apa kamu sudah punya kekasih ? " tanya Rey lembut.


Teresa meminumnya separuh " Belum tuan "


" Tadi aku lihat kau merayu Ksatria Zacko ? "


" Tu... tuan mungkin salah lihat. Itu... " Teresa menatap pada Viena, tapi Viena memelototinya.


" Benar kan ? " tanya Rey mengedipkan mata.


" Bukan aku... itu Celine "


" Memang Celine, kamu dan Viena "


Teresa dan Viena saling menatap. Mereka tak tahu harus berkata apa.


" Sudahlah.... lupakan itu. Minum anggurnya "


Mengira Rey tidak mempersoalkan itu Teresa dan Viena menghabiskan anggurnya.


" Kalian tetap disini, aku akan mengambil minuman lagi " Rey mengambil 2 gelas yang kosong dan beranjak pergi.


Setelah menaruhnya dimeja terdekat, Rey pergi mencari Xenia yang berada di pinggir meja kue.


" Bagaimana.... ? " tanya Xenia.


" Mereka sudah mulai mabuk. Seorang yang bernama Celine tak kembali " jawab Rey.

__ADS_1


" Mungkin disambar pria idaman ? " Xenia menyeringai.


" Hmmm.... mari kita lihat sisanya.


__ADS_2