
Tiba-tiba seorang laki-laki datang menyerang pertapa dari belakang. Ia membawa belati dan menusuk punggung si pertapa.
" Aaah.... ! "
Pertapa itu menghempaskannya. Diperhatikannya wajah laki-laki itu, ternyata itu Richard suami wanita yang kerasukan iblis. Tapi kondisi Richard juga tak normal. Ia mendesis dan menggeram. Di lehernya ada bekas sayatan. Rey dan Asgar saling melirik. Melihat Nonanya tak berniat membantu pertapa itu, Asgar pun diam saja.
Orang-orang kembali heboh saat suami-istri itu terus menyerang bergantian. Jubah putih si pertapa tua mulai bersimbah darah. Dan juga ia sudah benar-benar hilang sabar menghadapi 2 iblis yang merasuki sepasang suami-istri ini. Dengan kasar ia menendang dada Richard dan menusuk perut istri Richard yang tadi menancap di bahunya.
" Haahh.... ! "
Semua yang melihat itu terkesiap. Mereka tidak menyangka pertapa tua itu tega melakukan itu. Mereka juga heran mengapa wanita itu tidak merasa kesakitan sama sekali. Namun Rey dan Asgar tahu bahwa wanita itu sudah tidak bernyawa dari tadi. Hanya tubuhnya saja yang masih bergerak karena dipakai oleh iblis.
Richard terjengkang dengan memuntahkan darah. Kebetulan sekali jatuhnya ke dekat Rey. Rey menatapnya tanpa ekspresi. Tapi Richard terbelalak menatapnya. Mulutnya bergerak-gerak namun tak ada suara yang keluar. Pada akhirnya tangannya terulur kaku ke arah Rey. Asgar hampir menepis namun Rey memegang tangan Asgar dan mengarahkannya untuk menerima uluran tangan Richard.
Asgar menurut saja menyentuh tangan Richard. Sebuah cahaya berpendar di telapak tangan. Richard memejamkan mata sambil menggeram. Kepulan asap hitam keluar dari kepalanya membentuk sesuatu. Itu iblis....
Banyak orang langsung menutup mulutnya agar tak berteriak. Perlahan mereka menyingkir lebih jauh setelah melihat apa yang keluar dari kepala Richard. Setelah iblis itu keluar sepenuhnya, Rey membaca mantra lalu menarik mundur tangan Asgar. Richard seketika jatuh tergeletak di tanah.
(" Kurung iblis itu ") perintahnya.
Asgar segera membentuk bola kaca dari angin mengurung iblis itu. Tangan Rey terjulur memegang bola berisi iblis. Seketika bola iblis itu menghilang masuk dimensi. Rey cepat menghilangkan jejak sihirnya dan Asgar. Asgar mengangkat Richard ke tepi. Namun Rey membawa Asgar dan Richard ke dalam dimensi.
Sementara Pertapa tua dan istri Richard masih saling serang hingga tak menyadari apa yang dilakukan Rey dan Asgar. Orang-orang mulai mencela pertapa tua itu karena ia bukannya menolong wanita yang kerasukan iblis itu tapi malah melukai dan menusuk berkali-kali.
" Apa yang dilakukan pertapa itu ? Seharusnya ia mengeluarkan iblis itu bukan ? Kenapa ia malah melukai wanita itu ? "
" Jangan-jangan dia pertapa palsu "
" Lihatlah, aku yakin wanita itu akan mati kehabisan darah sekalipun iblis meninggalkannya "
Mereka mengangguk-angguk sedih.
Benar saja, pada akhirnya iblis keluar dari kepala wanita itu. Penampakannya seperti asap hitam pekat dengan mata merah diantaranya. Orang-orang cepat menyingkir bersembunyi. Mereka tidak mau kerasukan iblis.
Pertapa tua itu membaca mantra. Tangannya memancarkan api. Ia melayang terbang menerjang iblis. Iblis bergerak menghindar terus. Karena kesal, pertapa itu kembali membaca mantra dan menuding iblis dengan apinya.
" Rroooaaaaaaarrr..... ! "
Iblis itu meraung marah. Ia meluncur ke arah dada pertapa dengan cepat.
" Buuzzz...... ! "
__ADS_1
" Aaah...... ! "
Mereka sama-sama terpental. Pertapa tua itu kembali muntah darah. Tapi ia segera menembakkan api besar ke arah iblis itu. Akhirnya iblis itu terbakar.
" Rroooaaaaaaarrrgghh..... ! "
Raungan itu terdengar begitu memekakkan telinga. Pertapa tua itu hanya berdiri diam berjaga-jaga dengan nafas yang terengah-engah. Tenaganya sudah melemah. Ia menunggu sampai iblis itu benar-benar habis terbakar.
Ia menghela nafas dan menatap sekelilingnya. Tampak orang-orang mengintip dari persembunyiannya masing-masing. Pertapa tua itu berjongkok memeriksa istri Richard. Ia sudah mati. Pertapa tua itu barulah teringat pada Richard. Bukankah Richard tadi juga kerasukan iblis dan ikut-ikutan menyerangnya ? Lalu dimana dia ? Pertapa tua menatap sekeliling dengan waspada mencari Richard.
Tiba-tiba beberapa batu terlempar ke arahnya.
" Eh... ! "
Untung tidak kena.
" Glutuk ! "
" Glutuk ! "
" Glutuk ! "
" Glutuk ! "
" Kamu jahat ! "
" Kamu pertapa palsu ! "
" Seharusnya kamu bisa mengusir iblis itu darinya, tapi kamu malah membunuhnya ! "
" Apa bedanya kamu sama iblis itu ? "
Pertapa tua itu tercengang dengan reaksi orang-orang atas pertolongannya. Tahu begitu tadi ia biarkan saja wanita iblis itu mengamuk di sini.
" Kalian sungguh tidak tahu terima kasih ! Aku sudah mencoba menolongnya tapi ia malah melukaiku ! "
" Bilang saja kamu tidak mampu mengusir iblis itu. Kamu hanya pandai membunuh "
" Jangan-jangan kamu bukan pertapa, tapi penyihir ! "
" Ya, kamu penyihir. Pura-pura menolong tapi malah membunuh "
__ADS_1
" Bagaimana dengan nasib Richard ? Kamu juga tadi berusaha membunuhnya kan ? "
" Untung ada yang menolongnya "
" Ya, dimana dia "
" Dia ditolong sepasang kakek-nenek tadi "
" Sepertinya dibawa pergi untuk diobati "
" Ha..ha..ha..ha.... Bagaimana mungkin kalian percaya pada kakek-nenek. Siapa yang tahu mereka bukan penyihir atau iblis yang menyamar ? "
" Tapi mereka terbukti mengeluarkan iblis itu dari tubuh Tuan Richard "
" Ya, aku melihatnya sendiri "
" Kami yakin mereka akan menyembuhkan Richard. Dan membawanya kembali ke sini atau ke rumahnya "
" Kamu pergilah saja, kamu jahat ! "
" Ya, pergi saja ! "
" Pergi... ! "
Mereka kembali melempari batu ke arah pertapa tua itu. Pertapa tua itu menghindari lemparan batu dan pergi (melayang) dengan kesal.
" Jangan kembali lagi ke sini " teriak seseorang agak kencang.
Setelah kepergian pertapa itu, para warga saling bantu mengurus mayat nyonya Richard dan menguburkannya dengan layak. Kemudian mereka memutuskan berkumpul di rumah Tuan Richard untuk menunggunya kembali. Mereka yakin kakek-nenek itu akan datang membawa Richard pulang.
Sementara di dunia dimensi Rey menempelkan kedua tangannya di bola kaca berisi iblis itu. Ia membakarnya di dalam.
" Rroooaaaaaaarrr..... ! "
Terdengar teriakan kencang iblis itu saat api membakar wujudnya hingga habis. Rey melemparkan bola kaca itu ke arah danau. Rey menunggu hingga bola kaca itu melumer perlahan dan hilang.
Asgar membaringkan Richard di rerumputan, di bawah pohon apel. Ia mengambil kalungnya dan menggenggamkannya di tangan Richard. Lalu duduk bersila menunggu selama 30 hitungan. Rey datang mendekatinya. Ia berlutut di samping Asgar dan meletakkan tangannya di kepala Richard. Tangan Rey bercahaya cukup lama.
" Nona, mengapa ia belum sadar juga ? Bukankah lukanya tidak terlalu parah ? "
" Hmmm.... Ia sedikit merasa bersalah pada istrinya. Sikapnya kurang baik sehingga istrinya mengalami keguguran. Lalu kerasukan iblis dan menyerang pelayan. Ia sendiri mengalami pikiran kacau karena keadaan istrinya. Karenanya ia juga mudah dirasuki iblis "
__ADS_1