
Axel kembali lagi ke kamarnya. Ia kembali merasa sedikit pusing. Benar kata tabib itu, ia harus beristirahat penuh.
" Tccck.... ! "
Axel terus berjalan tapi mulai limbung. Akhirnya ia terpaksa meraih tangan seorang pelayan yang berpapasan dengannya.
" Eh.... ! Pangeran...... ? Pangeran kenapa ? "
Axel tidak menjawab, ia bahkan ambruk menimpa pelayan itu.
" Eeeh........... Pangeran.... ! Tolooooong.............. Pengawaaaaal............. ? "
Dua orang pengawal segera datang menolong. Mereka mengangkat Axel dan membawanya ke kamarnya. Salah satu segera memanggil tabib.
Tabib menghela nafas melihat Pangeran pingsan lagi. Sudah diperingatkan agar beristirahat penuh, malah jalan-jalan lagi. Apa perlu kaki Pangeran diikat di tempat tidur ?
Baru saja tabib keluar dan menutup pintu, Ratu menegurnya.
" Tabib..... ? "
" Eh copot-copot-copot-copot........... Yang Mulia Ratu..... " tabib membungkuk hormat.
" Kenapa lagi dengan Axel ? Apakah tambah parah ? " Ratu terlihat panik.
" Bukan Yang Mulia Ratu, Pangeran kemana-mana, padahal kesehatannya belum pulih karena berkali-kali muntah darah. Jadi ia baru saja pingsan. Apakah perlu saya menambahkan obat tidur dalam ramuannya ? "
" Mmm..... yah..... itu usul yang tepat. Lakukan saja. Aku akan mengikat kakinya di tempat tidur dengan sihir "
Tabib mengangguk-angguk dan bergegas ke dapur istana. Ia harus segera merebus dan memberikannya pada Pangeran sebelum ia bangun.
Ratu Elena masuk dan memeriksa keadaan Axel. Ia mengucapkan mantra pengikat kaki, sehingga Axel takkan kemana-mana. Ratu sedikit bersedih.
Tabib mengetuk pintu sebelum masuk. Ia meminta bantuan Ratu untuk meminumkan obatnya. Kemudian Ratu menugaskan seorang pelayan wanita dan pengawal untuk berjaga di depan kamar Axel, jika Axel sewaktu-waktu membutuhkan bantuan.
Ratu membicarakan kondisi Axel pada Raja.
" Bagaimana keadaan Axel ? " tanya Raja.
" Ia tidak mau diam di kamar. Tadi ia pingsan setelah berjalan-jalan kemana-mana. Tak tahu kenapa tidak menyuruh pelayan saja jika ingin menemui seseorang " jawab Ratu cemberut.
" Ia sudah terbiasa melakukan apapun sendiri. Ia tidak memahami fisiknya yang tidak bisa diajak kerjasama "
__ADS_1
" Aku terpaksa mengikat kakinya dengan sihir dan tabib mencampurkan obat tidur dalam ramuannya "
Raja mengangguk-angguk.
" Apa ia tidak mengatakan penyebab luka dalamnya ? "
" Ia bilang hanya kelelahan karena berkeliling terlalu jauh "
" Aku tidak percaya. Seseorang akan mengalami muntah darah jika ia terkena tusukan di dada, perut dan punggung yang menembus dada bagian dalam. Luka dalam hanya dialami jika ia kena serangan sihir "
" Jadi..... maksud Raja..... Axel kalah bertarung ? "
" Belum tentu.... tapi terluka dalam. Cobalah periksa pakaian yang dipakai saat itu atau kamarnya. Siapa tahu ada petunjuk "
" Baik "
Ratu undur diri. Ia langsung menuju kamar Axel. Masuk ke kamar mandi dan memeriksa pakaian kotor. Tentu saja hanya ada pakaian hari ini karena pelayan selalu mencuci setiap hari. Dan pakaian hari ini terkena muntahan darah lagi.
Ratu keluar dan memeriksa setiap laci atau tempat-tempat tertentu. Karena masih curiga, akhirnya Ratu mengerahkan mata sihir untuk memindai ruangan. Ia menemukan ada satu buku berada di laci bawah tempat tidur. Diambilnya pelan-pelan dan dibacanya sebentar. Lalu diletakkan kembali ke sana.
Ratu keluar dan termangu sebentar di luar pintu kamar. Kemudian berlalu tanpa kata. Ia pergi menemui penasehat kerajaan. Tapi penasehat sedang berada di perpustakaan istana. Ratu segera menyusul.
Orang tua itu menoleh dan melepas kacamata bacanya ( model jaman dulu ).
" Yang Mulia Ratu, ada hal apa menemui saya ? "
Ratu menghela nafas lalu mengambil kursi duduk.
" Pak Tobby...... apakah putraku beberapa waktu terakhir pernah membahas tentang kekuatan.... ? "
Sejenak Pak Tua itu mengerutkan alisnya.
" Pangeran sudah lama tidak bercakap-cakap dengan saya, tapi beberapa bulan lalu ia saya lihat membaca kitab-kitab kuno " katanya sambil menunjuk deretan rak buku terjauh.
Ratu menatap ke arah rak yang ditunjuk penasehat. Ia bangkit dan membaca judul-judul buku yang ada di rak itu. Beberapa tentang kerajaan, tradisi kuno, sihir beserta setiap elemennya dan ritual sihir. Untuk buku-buku mantra itu disegel dan harus ada ijin Ratu.
" Ada apa Ratu..... ? " tanya penasehat.
Ratu menghela nafas sebelum menjawab.
" Ada satu buku yang diambil Axel. Itu tentang kekuatan tertinggi. Seharusnya itu berkaitan dengan Penguasa Tertinggi dan Calon Ratu. Dan juga punya darah kebangsawanan leluhur cahaya. Untuk apa dia mengambil buku itu ? "
__ADS_1
" Mungkinkah Pangeran menginginkan kekuatan itu ? " tanya penasehat hati-hati.
" ........... Itu....... seharusnya itu bukan untuknya. Yang saya tahu hanya keturunan leluhur cahaya yang mampu menerima kekuatan tak terbatas. Karena untuk tubuh penyihir biasa seperti kami, mungkin tidak akan sanggup menahan ledakan aura kekuatan suci. Bahkan meski itu para tetua sekalipun " Ratu menatap penasehat.
" Apakah.......... Ratu berpikir Pangeran memaksakan diri untuk menerima kekuatan suci ? "
Ratu menghela nafas panjang. Ia tak tahu harus berkata apa.
" Maaf, Ratu..... Apakah Penguasa Abadi akan menghukumnya ? "
" Entahlah......... "
" Mmm....... Jika begitu....... Tidakkah sebaiknya Ratu memohon pengampunan sebelum Penguasa menghukumnya ? "
" Masalahnya aku tak yakin tentang kebenarannya. Axel tidak mau menceritakan apapun selain hanya 'berkeliling' " jawab Ratu ragu.
Ia kembali duduk termenung di kursi. Penasehat hanya diam mengerutkan alisnya. Setelah melewati 10 hitungan, penasehat menarik nafas panjang.
" Ratu...... Lebih baik semua buku tentang sihir anda segel saja. Dengan begitu tidak akan jatuh ke tangan yang salah. Maksud saya, tidak disalahgunakan "
" Yah.......... "
Ratu bangkit mendekati rak buku sihir dan mengucapkan mantra. Ia menyegel dengan setetes darahnya. Kemudian pamit pada penasehat. Penasehat tetap duduk berpikir. Pangeran Axel memang sulit dipahami. Tidak banyak bicara, jarang tertawa, setiap keputusan yang diambil tidak perduli penolakan pihak lain.
Ada banyak gadis-gadis putri menteri yang menyukainya, tapi ia tak pernah menjauhinya. Selalu menghindari pertemuan atau acara perayaan kerajaan. Umurnya sudah 30 tahun, terpaut 10 tahun dengan adiknya, Putri Xenia.
Dulu ia selalu kemanapun bersama Xenia. Bahkan membawa Xenia ke barak militer, berlatih pedang bersama. Mereka tumbuh menjadi petarung yang tangguh. Dan.... tentu saja menjauhi putra-putri kalangan bangsawan yang ( biasanya ) sombong dan bodoh.
Hingga suatu saat Pangeran tak sengaja membunuh prajurit saat berlatih di hutan Greyken. Ia tak mengira jika prajurit itu terkena sihir seorang penyihir hitam. Sejak itu Pangeran melepaskan jabatannya dan belajar pengadilan. Sementara Xenia menggantikan posisinya di kemiliteran.
Di gedung peradilan ia serius belajar pada hakim tua Yozak. Lalu menggantikan posisi Hakim Agung setelah hakim Yozak meninggal. Beberapa kali menghukum para pejabat kota atau anak-anak bangsawan dengan tegas. Sehingga dia disegani semua orang.
Ia sungguh tak membeda-bedakan status siapapun. Bahkan Putri Xenia saja ditegur sampai menangis jika melakukan kesalahan.
Tapi memang benar sejak Putri Xenia bertugas di kemiliteran, Pangeran Axel jarang bersama keluarganya lagi. Ia lebih sering duduk di perpustakaan gedung peradilan saat ada waktu luang.
( Ini gambar Pangeran Axel ya, waktu pesta pengesahan Raja Greg, Xenia menyamar sebagai kakaknya, Axel )
" Cakep kaaaan....... ? "
__ADS_1