
Hari ini warga kota akan mulai pembangunan. Ada banyak bangsawan dan pedagang yang menjadi donatur. Asgar juga menyerahkan 5 kantong emas untuk pembiayaan materi dan tenaga kerja.
Banyak warga yang mengira Rey adalah tunangan Asgar karena selalu bersama. Mereka memuji keanggunan dan kecantikan Rey. Sedang para wanita memuji kegagahan Asgar. Mereka juga menyukai Greg yang agak pendiam tapi ramah dan suka menolong. Mereka tidak begitu suka Zacko karena penampilannya agak seram.
Menjelang siang datang beberapa ibu yang menanyakan tentang anak atau suami mereka yang tidak pulang dari semalam pada Asgar.
" Tuan, apakah semalam tuan memberi tugas pada suamiku ? " tanya seorang wanita muda.
" Maaf nyonya, tidak ada seorangpun yang kami tugaskan di sini untuk berjaga malam. Semua orang sudah pulang sebelum gelap "
" Lalu bagaimana dengan anakku, ia juga tidak pulang " tanya seorang ibu tua.
" Mungkin dia pergi ke suatu tempat, apakah ia tidak berpamitan ? "
" Ia bilang akan bekerja, katanya bersama teman-temannya "
" Kalau begitu ibu tanyakan pada yang lain, mungkin ada yang tahu "
Rey memanggil Zacko dan Greg.
" Zacko, Greg........saya dan Asgar akan mencari tahu dimana tempat keluarnya lorong rahasia itu. Kalian tetap disini mengawasi pembangunan "
" Apakah perlu penjagaan di sekitar pintu masuk, Nona ? "
" Ya, satu orang saja untuk mengawasi. Namun jika ada yang tetap ingin masuk, biarkan menanggung resikonya sendiri "
__ADS_1
Kemudian Rey dan Asgar turun tangga. Sebelum lewat perisai api Rey memegang bahu Asgar. Di dalam Rey membuat bola api untuk menerangi lorong dan mengusir binatang yang ada di dalam ( ular dan tikus ) . Rey membakar mayat orang yang terkena racun ular.
Mereka berjalan terus hingga di persimpangan. Rey berbelok ke kiri. Lorong disitu sempit. Rey merembet dengan posisi miring. Asgar mengikuti. Kira-kira sepuluh langkah ada ruangan kosong kecil. Rey mengamati dinding berukir di hadapannya. Bergambar pemandangan gunung, danau dan burung di udara.
Ia meraba ukiran gunung dan menekannya sedikit. Lalu menekan ukiran danau. Tetap tidak ada reaksi. Pandangannya tertuju pada ukiran burung di atas. Asgar mengerti, ia segera mendekat dan menekan ukiran burung. Terdengar suara berat gesekan batu. Tampak ada ruangan di sebelah kiri. Di dalam ada 5 peti kayu besar dan kecil. Rey membuka salah satu. Seketika Asgar dan Rey tercengang melihatnya, itu penuh berisi batu-batu permata warna-warni.
Asgar lalu membuka kotak disampingnya, isinya koin emas. Ditutupnya lagi lalu membuka yang kecil. Itu berisi gulungan surat dan dua mahkota ( Raja dan Ratu ) . Ia memberikan gulungan surat itu pada Rey.
Rey membukanya dan membacanya, isinya tentang pengesahan seorang Raja dan Ratu. Ia mengembalikan gulungan surat itu kembali ke dalam kotak kayu. Dua kotak lain berisi sama ( permata dan koin emas ) .
" Kemungkinan ini dipersiapkan untuk Raja dan Ratu yang baru. Dan harta ini bisa digunakan untuk membayar pembiayaan pembangunan atau pegawai-pegawai istana nanti "
Rey beranjak keluar lorong sempit. Ia memasang perisai sihir dengan mantra " Hanya seorang bijak yang pantas menjadi Raja baru "
Kemudian Rey dan Asgar melanjutkan penyusuran. Mereka sampai diujung lorong. Asgar melongok ke jurang sebentar. Kemudian meniti jalan setapak ke kiri. Rey mengikuti. 100 langkah kemudian ada jalan menurun jauh sampai ke sungai.
Asgar tidak tahu ini sungai apa dan dimana. Akhirnya Rey melayang ke atas untuk melihat sekelilingnya. Asgar juga ikut melayang. Mereka melihat ada perkampungan agak jauh dari sungai dan menuju kesana. Namun mereka turun sebelum masuk ke desa itu.
Asgar bertanya pada seseorang yang bertemu di jalan. Desa ini bernama Ogara . Desa kecil yang berada disisi belakang kerajaan Higresia. Mereka bahkan tidak tahu apa yang terjadi di ibukota.
" Baiklah..... tidak ada lagi yang perlu kita cari. Mari kembali ke kota " . Rey melayang dan melesat kembali ke ibukota bersama Asgar. Rey tidak menggunakan teleportasi karena ingin melihat-lihat pemandangan.
Dari antara pohon-pohon yang tinggi di hutan perbatasan ( jauh di sisi barat ), sosok Destraco mengamati mereka diam-diam. Ia menggeram kesal mengetahui Gadis Takdir yang diincarnya ternyata memang punya kekuatan tak terbatas. Bahkan pengawalnya juga punya kekuatan untuk terbang ? Sedang dirinya sekarang hanya berupa asap dengan kekuatan yang berkurang. Dilihatnya rusa besar yang sudah mati dibawah. Darah binatang tidak bisa memulihkannya dengan cepat. Ia harus mencari darah manusia yang masih suci ( bayi ). Atau bisa juga menyerap kekuatan dari iblis atau penyihir lain. Namun kebanyakan mereka takkan merelakannya.
__ADS_1
Rey dan Asgar turun agak jauh dari istana. Mereka mengamati orang-orang dari jauh. Kemudian Asgar bergabung dengan para warga sedang Rey pergi menemui pemilik toko senjata. Ia meminta dicarikan 300 orang pekerja untuk membantu pembangunan istana lebih cepat. Pembayaran gaji pekerja akan diurus oleh Greg. Pemilik senjata menyanggupi. Rey memberikan 30 keping emas padanya, namun pemilik toko hanya mengambil 10 keping untuknya dan 10 keping untuk pak tua Brandon. Sisanya dibagikan pada pekerja senjata di belakang.
Kemudian Rey kembali ke penginapan. Ia teringat keadaan desa dan kota yang pernah dilewatinya. Kemungkinan masih ada iblis atau penyihir di sana. Ia berniat memeriksanya satu-persatu sambil mencari jejak Destraco.
Esoknya pagi-pagi Rey menemui Asgar di markas. Ia mengajak Asgar ke desa sebelumnya.
" Asgar.... bisakah kau menemaniku ke desa sebelah ? " tanya Rey.
" Tentu saja, Nona. Itu adalah tugas saya mengawal anda pergi kemanapun. Tapi ada apa di desa Zebbel ? " tanya Zacko.
" Aku merasa masih ada iblis dan penyihir disana. Aku harus memeriksanya " jelas Rey.
" Oh, saya mengerti " Asgar segera mencari Zacko.
" Zacko, kami akan memeriksa desa sebelah. Kau awasi pembangunan istana bersama Greg. Bawa separuh anggota kesana. Sisanya tetap di markas untuk mengurus Divisi Pengawalan Barang dan Pedagang " perintah Asgar pada Zacko dan Greg.
" Siap, tuan Asgar " jawab mereka berdua.
Asgar menyiapkan dua kuda yang biasa mereka pakai. Ia memakai jubah peraknya. Rey juga mengenakannya sebelum naik ke atas kuda. Mereka akan melewati hutan sebelum masuk ke desa Zebbel.
Melewati hutan yang sepi ( tak terdengar suara burung berkicau, padahal ini belum terlalu siang ). Rey mengeluarkan kipasnya. Ia merasa ada beberapa iblis rendahan mengawasi agak jauh.
Makin masuk hutan pohon-pohon mulai rapat dan rindang. Kuda Asgar gelisah. Asgar tahu bahaya mendekat. Namun ia sudah tidak terlalu takut lagi pada iblis atau penyihir. Ditepuk-tepuknya kuda kesayangan agar tetap tenang.
" Asgar...... berhentilah sebentar " ucap Rey.
__ADS_1