GADIS TAKDIR

GADIS TAKDIR
154. Menjalankan Rencana Pembebasan


__ADS_3


Sementara di hutan Mazox, terlihat penyihir Odex mendekati bola kaca itu. Ia mendengar teriakan-teriakan dari dalam. Odex mencoba menyiram air pada apinya. Hanya sebentar api yang tersiram air padam, namun api dari bagian sisinya segera saling bertaut menutupi lagi.


Odex kembali lagi mencoba menyiram air lebih banyak. Sempat terlihat satu iblis pemangsa yang menyeramkan. Namun lagi-lagi api menutupi bola kaca.


Odex terheran dengan api itu, mengapa tidak bisa dipadamkan olehnya. Ia tertarik dengan iblis pemangsa di dalam. Kekuatannya setara dengan 3x penyihir biasa. Tadi saja ia kesulitan mengalahkan nenek sihir itu.


Odex menjulurkan tangannya ke atas. Tak lama terkumpul bola air sebesar ember kecil. Odex membaca mantra dan menyelimuti bola api dengan bola es. Ia tersenyum membayangkan api itu akan membeku.


Namun senyumnya menghilang saat bola esnya meleleh.


" Tccck..... ! "


Odex memandang kesal. Api itu sungguh kuat. Penyihir mana yang membuatnya ?


" Hei.... Nenek tua ? siapa penyihir yang mengurungmu ? " teriak Odex.


Namun nenek tua itu tidak bisa mendengarnya. Ia sedang sibuk berteriak karena kepanasan di dalam. Ia berusaha supaya tetap melayang walau kulitnya sudah banyak yang melepuh karena bersenggolan dengan bola kaca yang panas. Sementara iblis didalamnya juga mulai melemah.


Odex mencoba melempar batu besar untuk memecahkan bola kaca.


" Braakkk..... "


Nenek sihir dan iblis pemangsa terkejut. Mereka menduga ada seseorang yang sedang mencoba memecahkan bola kaca. Tentu saja mereka gembira. Nenek juga memukul bagian yang tadi dipukul batu dari luar. Namun seketika melepuh karena begitu panas.


" Aaarrgh..... ! sialan..... ! Aku akan mencabik-cabik siapa yang telah berani mengurungku. Aku akan menyiksanya sampai ia memohon kematiannya. Lihat saja nanti " omelnya.


" Braaakkk...... ! "


" Eh sialan, sialan, sialaaaan....... . . "


Kali ini batu gunung agak besar yang membentur sisi bola kaca. Membuat bola kaca berguncang sedikit. Namun bola kaca itu tak sedikitpun mengalami retak. Sungguh ciptaan yang hebat. Nenek itu harus menjaga keseimbangan agar tak menyenggol dinding bola kaca yang panas. Ia tidak dapat melihat keluar atau mendengar suara apapun dari luar.


Odex menghela nafasnya. Sungguh bola kaca yang kuat. Ia yakin kekuatan penyihir yang membuatnya sedikit dibawahnya. Senyumnya miring membayangkan jika ia bisa meminum darah penyihir tersebut. Pasti kekuatannya luar biasa.


Odex menatap ke langit. Matahari mulai muncul. Odex yakin penyihir itu pasti akan kembali untuk mengecek bola kaca itu. Ia ingin tahu alasan mengapa nenek tua itu dikurung, bukannya dibunuh saja ya ?


Di ruang dimensi, Martin kembali memakan 2 apel untuk mengembalikan energinya yang berkurang karena latihan membuat bola pelindung besar.

__ADS_1


Ada 5 kali bola pelindungnya pecah diserang (di uji coba ) cakram angin Asgar. Roy tersenyum melihat kegigihannya.


" Apa kau sudah siap ? " tanya Roy.


" Siap Dew, ehm.... Bro " jawab Martin mantap.


" Aku tahu kamu belum sempurna, tapi aku yakin kamu akan berusaha yang terbaik menolong anak-anak itu. Kita tidak punya banyak waktu. Yang terpenting adalah "pintar" dan tenang. Orang pintar selalu punya cara untuk mengalahkan orang kuat " kata Roy sambil berdiri.


Asgar dan Martin juga berdiri.


Rey mengubah Asgar menjadi kakek tua membawa keranjang berisi tali di punggung. Dan mengubah Martin tampak lusuh. Lalu menghilangkan aura sihir mereka.


Lalu Rey berubah menjadi tupai kecil dan naik ke atas bahu Martin. Kemudian mereka keluar dari ruang dimensi. Mereka berada di pinggir hutan Mazox.


Asgar menghela nafasnya dan menggandeng tangan Martin. Mereka saling mengangguk dan mulai berjalan. Martin bergumam menyanyikan lagu anak-anak. Sementara telinga Asgar mendengarkan pergerakan udara disekitarnya. Bagaimanapun ia tetap waspada walaupun sedang menyamar. Sesekali Asgar memungut ranting atau cabang pohon kering dan menaruhnya di keranjang.


Sampai di tengah hutan mereka melihat sebuah bola api besar melayang setinggi kepala. Di dalamnya terdengar suara-suara orang dan suara geraman.


Martin mendekat ingin tahu. Ia mengambil batu kecil dan melemparnya ke arah bola api itu. Si tupai (Rey) melompat turun berpura-pura mencari biji pohon cemara.


" Ting.... ! "


" Jangan dekat-dekat.... nanti terbakar.... " teriak Asgar, suaranya seperti kakek sungguhan. Ia duduk melepas lelah sambil bersandar di sebuah pohon.


Martin mengambil beberapa batu kecil dan kembali melemparnya.


" Ting.... ! Ting.... ! Ting.... ! Ting.... ! "


" Berisiiiiikk......... ! " terdengar teriakan nenek-nenek dari dalam bola kaca/api.


" Grooaaarrrr....... "


Martin tertegun. Asgar juga menatap seksama. Ia berteriak pada Martin.


" Kemari nak.... itu ada iblisnya ! "


Martin berhenti melempar batu. Ia berjalan kembali pada Asgar. Tiba-tiba sekelebat bayangan menyambar Martin.


" Ah.... ? "

__ADS_1


" Eeeeh....... Cucuku... ? Cucukuuuu............ ! " Asgar berteriak. Ia berlari kesana kemari. Lalu menuju arah hilangnya Martin. Asgar terus berteriak memanggil Martin.


Tupai kecil naik ke atas pohon. Ia membaca mantra untuk membuka bola kaca/api. Lalu teleportasi ke tempat Asgar dan merubah Asgar menjadi kelelawar.


( " Maaf ada sedikit perubahan, Asgar. Naiklah ke atas pohon " ) kata Rey. Asgar segera terbang dan hinggap di dahan pohon.


Nenek tua itu jatuh terduduk di tanah. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri ingin tahu siapa yang membebaskannya dari bola sialan itu.


Iblis pemangsa yang terbebas melesat pergi sambil tertawa keras.


" Eh.... ! Kembali kemari kau iblis sialan "


Nenek tua itu cepat bangkit mengejarnya.


Sementara Martin di dibawa Odex lebih masuk ke dalam hutan. Ia berpura-pura menangis.


" Huuu huuu........ Kakeeek....... Huuu huuu........ "


" Diam.... ! " bentak Odex.


Ia menarik tangan Martin dan menggigit salah satu jarinya. Namun mulutnya terasa tersengat sesuatu. Odex terkejut dan menjauhkan jari Martin. Martin mencoba menarik tangannya agar lepas.


" Lepaskan..... kamu orang jahat..... huuu huuu........ Kakeeek....... " Martin terus menangis.


Odex mencoba lagi menghisap jari Martin. Namun kembali dirasakan sesuatu menyengat mulutnya. Ia menatap Martin dengan rasa curiga.


" Kembali kau iblis sialan..... ! Kau masih terikat perjanjian denganku. Enak saja mau kabur.... ! " teriakan nenek tua terdengar Odex.


Odex cepat-cepat memasukkan Martin ke dalam gucinya ( ruang penyimpanan milik odex ). Lalu bergerak cepat menghadang iblis pemangsa yang melintas.


Tangannya terulur hampir menangkap iblis itu. Namun sebuah bola asap hitam kecil melesat ke arah tangannya. Odex terpaksa menarik tangannya.


" Enak saja.... dia milikku.... ! " sergah nenek tua itu dengan mata melotot marah.


" Kalo dia terlepas darimu, itu berarti dia sudah bebas "


" Tidak bisa, dia masih terikat perjanjian denganku "


" Ha..ha..ha..ha.... nenek bodoh. Apa kau tak lihat dia bahkan bisa menyerangmu ? " perkataan Odex membuat iblis itu menyeringai. Ia menatap nenek itu dan mulai menyerangnya. Odex tertawa tanpa suara. Ia akan menonton pertarungan mereka sebelum melakukan hal lebih lanjut.

__ADS_1


__ADS_2