
" Namun ternyata anakku tidak ada disana. Aku menyangka ia termasuk anak-anak yang sudah mati. Jadi aku pergi mencarinya di hutan Mazox. Meski kemungkinan itu kecil, setidaknya aku masih bisa melihat mayatnya. Namun ternyata anakku.... ma.... masih hidup "
Wanita itu kembali menangis. Martin kembali memeluknya. Rey tersenyum. Ternyata ada berkahnya juga ia memasukkan wanita itu ke ruang dimensinya. Tak disangka ia adalah ibu Martin. Ia menepuk-nepuk punggung wanita itu. Setelah reda tangisnya. Kendrick bertanya :
" Jadi anda adalah istri Tetua Outter ? "
" Benar Tuan.... "
" Ibu, beliau adalah Lord Kendrick, Penguasa Astraco " tegur Martin.
" Oh..... ! Maafkan hamba yang tidak mengetahui Yang Mulia. Hamba mohon ampun "
Ibu Martin bersujud menundukkan kepalanya hampir menyentuh rumput.
" Sudahlah...... Tidak perlu begitu...... "
Kendrick menyentuh kepala ibu Martin sekejap.
" Siapa namamu.... ? "
" Hamba Mareta Yang Mulia..... hamba mengucapkan terima kasih Yang Mulia sudah menyelamatkan putra hamba "
" Bukan aku...... tapi Rey "
Ibu Rey sedikit bingung.
" Ibu..... yang menyelamatkan aku adalah Dewi Rey dan Tuan Asgar. Dewi Rey adalah Gadis Takdir, calon Ratu Kerajaan Astraco " kata Martin.
Ibu Martin segera menatap Rey.
" Nona.... eh, Yang Mulia Putri....... hamba mengucapkan terima kasih atas pertolongannya "
" Aku senang ternyata Martin adalah putramu dan Tetua Outter. Ia anak yang hebat "
" Tuan.... saya juga mengucapkan terima kasih " kata ibu Martin pada Zigaz.
" Oh tidak, ibu Martin. Aku bukan Tuan Asgar. Aku Zigaz, Panglima Serigala Cronos "
Ibu Martin dan Martin tercengang mendengar itu. Rey dan Kendrick saling menatap sambil tersenyum geli. Kelihatan sekali jika Zigaz sedang menyombongkan diri.
" Asgar masih sakit. Ia sedang proses memulihkan diri " jelas Rey.
" Ooh...... semoga Tuan Asgar segera sembuh "
" Karena Martin sekarang tinggal di Astraco, apakah anda bersedia ikut tinggal di sana ? " tanya Kendrick.
__ADS_1
Mareta menatap Martin. Martin menatap penuh harap padanya. Mareta menatap Rey dan Kendrick.
" Apakah hamba, orang biasa boleh tinggal di sana ? "
" Tentu saja boleh, hidupmu terkait dengan Martin dan Tetua Outter. Selain aman, Martin akan lebih konsentrasi belajar sihir " jelas Kendrick.
" Te...terima kasih Yang Mulia " Mareta kembali menundukkan kepalanya memberi hormat.
" Hanya saja..... Untuk saat ini, kau tidak boleh mengatakan identitasmu pada siapapun disana. Cukup katakan kau ibunya Martin yang diselamatkan Gadis Takdir. Sebab ada alasan yang beresiko pada keselamatan kalian berdua "
" Hamba mengerti Yang Mulia "
( " Martin..... jangan katakan tentang ayahmu sekarang. Tunggulah beberapa hari lagi. Biarkan ibumu lebih tenang dan damai " ) Kendrick menatap Martin. Martin mengangguk.
Rey menggandeng Mareta dan Martin keluar dimensi. Zigaz menyentuh jubah Kendrick lalu keluar dimensi. ( Zigaz punya akses keluar masuk dimensi Rey )
( " Alice...... temui saya ditaman belakang " ) perintah Kendrick.
Tak lama Alice datang. Ia melihat dari jauh ada Nonanya dan wanita lain di situ. Segera ia berlari dan menubruk Rey.
" Nonaaaaaa........... saya rindu pada Nona....... "
Rey tertawa di pelukan Alice. Mereka saling menepuk punggung. Kendrick dan Zigaz tersenyum. Mareta tercengang melihat seorang gadis pelayan berani memeluk Tuan Putri pendamping Lord Astraco.
Tak lama, Rey melepaskan pelukan Alice.
" Baik My Lord "
Martin memeluk ibunya sebentar.
" Ibu, aku akan sering-sering menengokmu nanti "
" Jangan khawatirkan ibu nak, ibu baik-baik saja "
Lalu Alice dan Mareta undur diri.
Rey duduk di samping Kendrick ditepi kolam. Ia ingin menikmati waktu sebentar bersama Kendrick. Martin segera mengajak Zigaz bertarung di udara.
" Tuan Zigaz..... ayo bertarung denganku..... "
" Hmmm....... Apa yang akan kau hadiahkan padaku ? "
" Aku akan memberikan 5 permen energi simpananku untukmu " ( anak-anak sihir selalu mendapat hadiah permen energi saat berlatih ). Tapi jika tuan Zigaz kalah, tuan harus menggendongku berkeliling dalam wujud serigala besar "
" Baiklah..... tapi berikan aku satu permen energi jika aku kalah "
__ADS_1
" Tentu..... "
Mereka bersiap-siap bertarung agak jauh sedikit dari tempat Rey dan Kendrick.
Sementara Alice dan Mareta berjalan menuju ruang kepala pelayan. Mereka akan berpapasan dengan Odex yang menyamar jadi Tetua Outter. Mareta menatap penuh rindu pada Tetua Outter. Tapi Alice menariknya ke tepi dan menunduk hormat. Mareta terpaksa mengikuti cara Alice. Ia ingat pesan Lord Kendrick untuk merahasiakan siapa dirinya. Mareta sedikit heran mengapa suaminya tidak menatapnya sama sekali, bahkan seperti tidak mengenalinya ?
Setelah Tetua Outter berlalu, Alice kembali menggamit lengan Mareta untuk menemui kepala pelayan. Mereka mengetuk pintu sebelum masuk.
" Tuan Hevan...... perkenalkan ini Mareta, ibu penyihir kecil Martin. My Lord meminta tolong diberikan tempat tinggal dan pekerjaan yang cocok untuknya "
" Aah tentu...... Ibu Mareta, apakah kau ingin memilih sendiri pekerjaanmu atau seadanya di sini ? "
" Jika boleh memilih..... saya bisa menjahit dan memasak, tuan "
" Aah....menjahit....... ! Tentu saja ! Ibu Stevia lebih membutuhkanmu daripada memasak. Ia harus selalu menjahit baju seragam para petarung yang robek setiap hari. Empat orang masih belum cukup untuk membantu pekerjaannya. Alice bisa mengantarmu menemuinya "
" Baik Tuan Hevan, kami permisi " Alice dan Mareta undur diri.
Tuan Hevan duduk diam berpikir. Tadi Tetua Outter datang menemuinya untuk menanyakan perihal tempat tinggal sementara ( kamar ). Bukankah setiap Tetua akan tinggal di komplek peristirahatan bersama Raja, tabib, pengawal khusus dan pelayan pribadi ? ( ada komplek untuk petarung, ada komplek untuk para pelayan ). Kecuali mereka sudah menikah, maka akan tinggal diluar istana ( rumah sendiri ). Apakah Tetua Outter lupa tentang hal ini ? ini aneh......
Sementara Alice dan Mareta menuju ruang jahit. Tampak 4 penjahit sedang menjahit baju petarung. Alice masuk sambil menyapa mereka satu-persatu.
" Mareta...... ? "
" Eh........ ? "
" Ibu penjahit....... Aku datang bersama Mareta, ibu Martin. Dia membutuhkan pekerjaan "
" Tentu, aku memang membutuhkannya. Terima kasih sudah mengantarkannya "
Setelah Alice pergi ibu Stevia menggandeng Mareta ke ruang kerjanya. Ia menutup pintu.
" Bibi...... "
" Apa yang terjadi denganmu, bukankah dulu kau bilang tak ingin tinggal disini ? "
" Itu benar bibi. Tapi penyihir jahat menculik anak-anak untuk ritual kekuatan. Aku mencari anakku hingga ke kota Malto. Aku sudah putus asa saat dia tidak ada diantara anak-anak yang diselamatkan Gadis Takdir. Saat aku ingin mengadu nyawa dengan penyihir di hutan Mazox, Gadis Takdir mengurungku di ruang dimensinya. Ternyata ia lebih dulu menyelamatkan putraku dan membawanya ke Astraco "
" Aaah...... syukurlah...... "
" Tapi bibi........ tadi aku bertemu dengan Outter, mengapa ia tak menyapaku ? bahkan seperti tak kenal ? "
" .............. ? Kau juga tidak menyapanya ? "
" Aku sedang bersama nona Alice "
__ADS_1
" Mungkin ada sesuatu yang tak kamu ketahui ? Coba tanyakan pada Lord Kendrick secara langsung "
Mareta termenung.