GADIS TAKDIR

GADIS TAKDIR
Iblis Bermata Tiga


__ADS_3

Nenek Wilma mengoleskan minyak daun mint ke ujung hidung Rey. Rey menghirupnya dengan senang. Mualnya segera reda. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.


" Apa yang terjadi, nak..... ? "


" Hiiiii......... menjijikkan ! Iblis itu............. "


Rey kembali bergidik. Ia tak sanggup menceritakan kembali yang dia lihat. Nenek Wilma hanya terkekeh...... ia membelai-belai punggung Rey.


Di luar ruang dimensi, Asgar melotot lebar melihat iblis itu memakan jantung, hati, dan menghisap darahnya dengan santai, kemudian mencabut kedua bola mata Waxsa dan mengunyahnya juga. menarik otaknya dan dengan sengaja mengulurnya sambil makan ( seperti kita makan mie panjang ).


Sungguh.......... menjijikkan..............


Asgar pun menampakkan tanda-tanda muntah. Melihat itu Zigaz meraih dan melemparkan Asgar ke dalam ruang dimensi Nona Rey.


" Wuuusss........ Bruuukk......... ! "


Asgar tersungkur didekat Rey. Tubuhnya otomatis kembali jadi manusia.


" Astaga, nak Asgaaar......... "


Nenek Wilma segera meninggalkan Rey dan menolong Asgar duduk. Wajah Asgar pucat dan ekspresinya amat jelek. Ya.... ia sedang menahan diri agar tidak muntah. Kepalanya digeleng-gelengkan untuk menghilangkan bayangan kejadian tadi. Nenek Wilma sadar Asgar pasti sama dengan Nona Rey. Ia juga mengoleskan sedikit minyak daun mint ke ujung hidung Asgar. Asgar segera menghirup nafas panjang. Lalu tergeletak lemas.


" Ada apa dengan kalian ? Tadi Nona cantik muntah........ Sekarang kau pun hampir begitu. Ceritakan padaku apa yang terjadi ? "


" Iblis itu menjijikkan nek....... Hiiiiiiiii........ ! Ia makan jantung, hati mata, dan..... hiiiiii....... otaknya.......... ia juga minum darahnya........ "


" Hmmmm.......... "


Nenek Wilma mengangguk-angguk. Ia sudah sering melihat itu selama tinggal di kampung penyihir. Siapapun yang tersesat ke hutan itu akan bernasib tragis. Ia sendiri selamat karena sudah tua dan jelek.


Sementara di luar Zigaz sendirian di atap gubuk Garet. Ia tetap diam mengamati perilaku iblis bermata tiga. Hanya alisnya yang berkerut dalam.


Iblis itu sungguh-sunguh menikmati makanannya. Ia tahu tapi tidak perduli sedang diawasi Zigaz. Sebenarnya ia menganggap remeh Zigaz. Ia tahu Zigaz adalah penyihir yang berubah jadi tawon kayu. Dipikirnya Zigaz adalah penyihir rendahan. Tapi ia tak tahu bahwa sebenarnya Zigaz adalah serigala Cronos.


Ketika sudah puas dengan korbannya, iblis itu mengelap mulutnya yang belepotan darah, semakin belepotan. Lalu perlahan membalikkan tubuhnya dan menatap tepat ke arah Zigaz. Ia tak tahu kemana yang dua pergi ( Rey dan Asgar ). Dia pikir mungkin mereka ketakutan melihatnya memangsa manusia. Iblis itu menyeringai bangga.


Zigaz diam saja menatap iblis itu. Ia baru menyadari bahwa iblis itu tampak seperti sudah tua.

__ADS_1


" Turunlah....... ! "


Satu suara serak menyadarkan Zigaz. Ia melayang turun dan berubah menjadi manusia. Kebetulan kalungnya terlihat. Iblis itu ternganga melihat lambang serigala Cronos.


" Kamu Tetua Cronos.... ?! " tanya iblis itu tak percaya.


" Hmmm....... " Zigaz malas menjawab.


" Tunjukkan wujudmu...... ! "


" He...he...he...he...... " Zigaz terkekeh mengejek. " Kau sungguh ingin melihatnya ? "


" Jangan hanya bicara ! Cepat tunjukkan ! " teriak iblis itu marah.


Zigaz mengambil nafas panjang. Lalu tubuhnya mulai bercahaya menyilaukan. Ketika cahaya itu hilang, tampaklah seekor naga kecil berwarna kuning dan merah yang meliuk-liuk. Tubuhnya terus membesar melebihi satu gubuk.



" Wooaaah............ Zigaz memang hebaaaatt......... ! Aku harus memanggilnya KAKEK NAGA dari sekarang......... " kata Asgar dengan rasa takjub. Ia memang mengintip lewat cermin pelihat. Sedang Rey melihat lewat cermin nenek Wilma.


" Ngawur.......... Kau ingin dipanggang pantatmu ? " cibir Rey.


" He...he...he...he...... "


Memang iblis tetaplah iblis. Punya sifat jahat dan licik. Iblis itu menghilang dan muncul di belakang punggung Zigaz. Lalu menyerang dengan bola asap beracun.


" Buuff...... ! "


Bola racun itu menghantam punggung Zigaz. Tapi kulit naga yang bersisik keras ternyata kebal. Bola asap racun itu menguap ke udara.


Zigaz menggerakkan ekornya menyabet iblis itu. Sedang pucuk ekor Zigaz berapi, sudah pasti apinya memercik ke badan si iblis.


" Plaaakkk...... ! "


" Aaah..... panas, panas, panas......... "


Iblis itu terlihat seperti menari lucu.

__ADS_1


Zigaz menoleh sambil menyemburkan api dari mulutnya.


" Buuuzzzz........... ! "


" Aaaaaaaah.................. !!! "


Iblis itu pergi sambil berteriak. Sebagian tubuhnya melepuh terkena api. Zigaz menyeringai sebentar dan bergerak mengejarnya.


" Ha..ha..ha..ha..ha...... " Asgar tertawa keras melihat iblis itu lari. Tadi saja bergaya menakuti mereka dengan memakan semua isi tubuh Waxsa. Sekarang tahu rasa disembur api oleh Zigaz.


Rey melihat Zigaz berkejaran dengan iblis itu. Ia ingat, kampung penyihir cukup luas juga. Jika terus berkelit, maka akan kelamaan. Melihat Rey mengerutkan alisnya, nenek Wilma meraih cermin yang dipegang Rey.


" Nona....... jangan dipikirkan........ Biarkan sisanya diurus nak Zigaz. Saya yakin tuan Zigaz mampu menyelesaikannya. Nona bersantailah, mungkin berendam akan membuat pikiran lebih segar " kata nenek Wilma menunjuk ke air danau. Rey menatap ke sana sejenak. Ia tersenyum dan segera berlari kearah danau lalu melompat......


" Byuurrr................. " Rey menyelam dan menyembul seperti lumba-lumba. Ia juga menyemburkan air danau ke udara.


Nenek Wilma terkekeh....... Ia masuk ke gubuknya. Ia berniat memanggang pie apel. Dikeluarkannya wadah, tepung, apel dan apapun yang diperlukan dari kantong ajaibnya.


Zigaz lama-lama kesal mengejar iblis bermata tiga. Ia membuka mulutnya dan mengeluarkan bola api sedang. Ia memejamkan mata dan mencari pergerakan iblis itu. Bola api bergerak sesuai pikiran Zigaz.


Iblis bermata tiga mengira Zigaz lelah. Ia menyeringai senang dan bersembunyi di salah satu gubuk. Dengan santai ia tiduran di ranjang bambu.


Tak lama tercium bau sesuatu terbakar. Iblis bermata tiga mengira itu bau kulitnya yang tadi melepuh karena terkena api ekor naga Cronos. Namun mengapa udara terasa panas dan pengap ?


Iblis itu menatap langit-langit gubuk yang terbuat dari kumpulan daun kelapa kering. Sesaat kemudian dia bangun tiba-tiba dan berlari ke depan. Tapi terhenti di pintu penghubung karena bagian depan gubuk terbakar api.


" Waahhh..... ! "


Iblis bermata tiga keluar lewat belakang. Terus melesat ke arah barat ( alam liar ).


" Jdeeerrrr.......... !!! "


Iblis mata tiga terjengkang. Begitu kerasnya benturan itu hingga mata ketiganya seperti juling. Sekeliling matanya juga membengkak.


" Ha..ha..ha..ha..ha...... Ha..ha..ha..ha..ha.......... "


Asgar terpingkal-pingkal melihat itu. Tangannya menepuk-nepuk rumput dekat dia duduk.

__ADS_1


" Hhhhhh...... ! Dasar iblis bodoh ! Dia pikir bisa kabur begitu saja meninggalkanku ?! " Zigaz tersenyum miring. Ia memang sedang menunggu iblis itu keluar dari gubuk.


Iblis itu cepat-cepat bangkit dan melesat ke kanan. Agak jauh ia masuk lagi ke salah satu gubuk. Kali ini ia bersembunyi di bawah kolong ranjang bambu.


__ADS_2