GADIS TAKDIR

GADIS TAKDIR
Asgar Melawan Iblis Bermata Tiga


__ADS_3

Zigaz mengeluarkan api besar dari mulutnya. Ia menggerakkan api itu hinggap sebentar di setiap gubuk untuk membakar.



Sebentar saja desa penyihir mulai terlalap api disana-sini. Suasana terasa panas menyesakkan. Tapi Zigaz tidak terpengaruh apapun karena berelemen api. Iblis itu terpaksa keluar ketika gubuk tempatnya bersembunyi juga terbakar. Ia melihat kesana-kemari tak ada tempat berlindung.


Ia mundur terus dan punggungnya menyentuh dinding yang tak terlihat. Dirabanya sambil melesat di sepanjang dinding untuk mencari celah. Tapi sampai ke ujung selatan desa pun tetap tak bercelah.


" Hhhhhhhhhh....... ! " ia menggeram marah. Lalu menatap ke atas, ia menyeringai. Harapannya kembali ada. Sementara Zigaz tetap tenang menatap dari jauh.


Iblis itu segera melesat ke atas.


" Jdeeerrrr..... !! Aaaaaah................ "


Iblis itu jatuh ke tanah. Kemudian memegangi kepalanya yang teramat sakit. Ada lelehan darah hitam mengalir.


" Uuuuh............ itu pasti amat sakit.......... " Asgar meringis dan memicingkan sebelah matanya seolah ikut merasakan terbentur. Ia masih melihat lewat cermin.


" Heh...heh...heh...heeeh........... " Zigaz terkekeh. Ia tahu iblis itu pasti akan mencoba segala cara untuk kabur. Mulutnya menguap lebar seolah-olah sudah bosan bermain. Tapi masih ada satu cara terakhir yang ia tunggu.


Iblis itu mengelap lelehan darah hitam di dahinya. Ia mengernyitkan hidungnya karena bau busuk yang menyengat. Ya...... memang darah iblis atau penyihir hitam selalu berbau busuk karena mengandung racun.


Ia menatap naga Cronos di sana. Kemudian menoleh ke kanan dan ke kiri. Semua gubuk sedang terbakar. Desa ini terkurung dinding yang tak terlihat, bahkan sampai ke atas. Jadi..... tak ada jalan lain selain...... ke bawah ?


Iblis itu melihat ke tanah. Bibirnya menyeringai senang. Ia akan mengebor sejauh-jauhnya ke dalam bumi. Dan muncul di tempat lain. Ia yakin naga Cronos tak akan mampu menangkapnya kali ini karena tanah tidak tembus pandang. Ia menoleh sebentar ke arah Zigaz dan.......


" Bruuussss........... ! " cepat iblis itu masuk ke dalam tanah.


Zigaz turun ke tanah. Ia memejamkan mata untuk merasakan keberadaan iblis dalam tanah. Ketika sudah diketahui berada di mana, Zigaz memadatkan tanah di sekitarnya menjadi keras seperti batu sehingga iblis mata tiga terjebak di dalamnya.


( " Heh...heh...heh...heeeh........... Nona, aku sudah mengurungnya dalam tanah yang mengeras. Apa yang anda ingin aku lakukan pada iblis itu sekarang ? " ) tanya Zigaz lewat telepati.


( " Hmm........... ? Tanah yang mengeras akan melunak jika terkena air hujan. Daripada terlepas dan mencari korban baru, lebih baik keluarkan dia dan musnahkan " ) sahut Rey, ia tak ingin berurusan dengan iblis mata tiga karena hal yang menjijikkan tadi.


( " Baik Nona " )


( " Tunggu Zigaz..... ! Beri aku kesempatan untuk menghabisinya " ) Asgar memohon pada Zigaz.


( " Baik, keluarlah...... " )


Zigaz menarik Asgar keluar. Asgar berdiri di sisi dekat kaki depan Zigaz. Ia mengagumi wujud naga Zigaz. Ia membelai sisiknya dan menepuk-nepuk pelan seolah mengukur ketebalannya. Zigaz hanya tersenyum kecil.

__ADS_1


Zigaz memindahkan tubuh iblis ke udara ( teleportasi ). Namun ia mengunci elemen cair ( darah ) di tubuh iblis itu sehingga tak bisa bergerak.


" Waaaaahh....... Zigaz ! sekarang kau sangat hebat ! " puji Asgar.


" Itu semua karena Nona. Ia telah memberiku kekuatan cahaya suci sehingga kekuatanku meningkat dan wujudku yang asli bisa tercapai " jawab Zigaz merendah.


Asgar mengangguk-angguk tersenyum. Ia maju berhadapan dengan iblis bermata tiga. Zigaz membuat kubah perisai kedua seluas 100 langkah sampai ke dalam tanah 5 langkah. Ini untuk menghindari iblis itu melarikan diri lagi. Lalu Zigaz melepaskan kendali atas tubuh si iblis. Ia sendiri berada di luar kubah perisai yang mengurung Asgar dan iblis mata tiga.


Zigaz menggelung badannya sambil menonton pertarungan Asgar. Bagaimanapun Zigaz akan tetap mengawasi karena iblis itu jahat dan licik.


" Rrrrooaaaarrrgh................. !! "


Iblis itu berteriak marah setelah terlepas dari kendali Zigaz. Ya ia tadi terjepit dalam tanah dan tak bisa bergerak sama sekali. Meski tak bisa bernafas,iblis tak bisa mati. Ia hanya bisa di bakar atau dimusnahkan. Ketika tubuhnya muncul di udara, ia masih tetap tidak bisa bergerak.


Sekarang setelah ia merasakan kebebasan, ia melampiaskan kemarahannya pada Asgar. Cakarnya disabetkan pada Asgar.


" Wuuuss.... ! "


" Eiitt..... " Asgar berkelit. Ia berpindah di belakang iblis itu dan memukul keras.


" Buukkk.... ! "


" Hhhkk.... ! "


Iblis itu berbalik dan melemparkan bola racun pada Asgar.


" Blass..... ! "


Bola racun pecah menabrak perisai Asgar.


Mengertilah sekarang iblis itu tentang dinding tak terlihat yang berkali-kali ditabraknya tadi. Dengan geram ia mencakar perisai Asgar.


" Krriiieeett........ !! "


Asgar meringis ( telinganya sakit ) mendengar bunyi gesekan cakar iblis itu. Ia mengirim serangan petir pada si iblis.


" Blaaarr..... ! "


" Uuuuh......... ! " iblis itu terjatuh dengan tubuh sedikit kram.


Asgar mengacungkan tangannya pada si iblis.

__ADS_1


" Aaaaaarrgh.... ! " satu bola mata iblis itu telah lepas dan melayang di udara. Iblis itu cepat-cepat meraih dan memasukkan kembali ke rongga matanya. Namun Asgar menariknya keluar lagi.


" Aaaaaaarrgh......... ! "


Iblis itu memelototi Asgar dengan satu mata. Ia sangat marah karena Asgar mempermainkannya.


" Bukankah kau tadi memakan mata manusia tanpa rasa segan ? sekarang bagaimana rasanya jika matamu hancur ? " Asgar mengejek. Ia membuat mata iblis itu meledak.


" Rrrrooaaaarrrgh................. !! " iblis itu meraung marah. Ia melesat maju menyerang Asgar. Tapi......


" Jdeeerrrr........ " iblis itu terhuyung-huyung ke belakang. Asgar menyeringai. Iblis itu kembali menyerang dengan dua tangan bersatu memukul perisai.


" Praangg...... ! "


Lalu satu cakaran berhasil mengenai dada Asgar.


" Aaarrgh...... ! "


Asgar langsung berpindah agak jauh. Iblis itu mengejarnya. Asgar kembali berpindah. Tapi kali ini Asgar menghilang sesaat.


" Haahh...... ?! " iblis itu menoleh kesana kemari.


" Aaaaaaarrgh....... ! " kedua tangannya menutupi matanya. Ya, Asgar mencabut satu lagi matanya dan langsung memusnahkan.


" Rrrrooaaaarrrgh................. ! " iblis itu meraung dan mengamuk tak karuan. Cakarnya ia sabetkan kemana saja. Ia kemudian diam dan agak menunduk. Asgar mengamati heran.


" Sssstt...... ! "


" Aaarrgh...... ! "


Asgar segera mundur jauh sambil memegangi dadanya. Rupanya iblis itu menggunakan mata ketiganya. Ia berhasil merobek dadanya. Darah mengalir deras agak kehitaman. Kalung Asgar bercahaya redup.


Asgar membaca mantra dan menghilang. Ia tak bisa bermain-main lagi. Luka di dadanya terasa perih menyakitkan dan gatal sekali. Sedikit mengganggu konsentrasi.


Asgar mengurung iblis itu dalam bola perisai kecil. Kemudian menempelkan kedua tangannya pada dinding perisai dan memulai proses penguraian. Iblis itu mengamuk dan membentur-benturkan badannya dengan marah.


" Jduukk..... jduukk..... jduukk...... Rrrrooaaaarrrgh................. ! "


" Uhuk...... uhuk........ " Asgar batuk berdarah. Racun iblis itu sangat cepat merusak tubuhnya. Asgar segera mempercepat proses penguraian. Keringat banyak muncul di dahinya. Lima hitungan kemudian.......


" Byaarrr......... " pada akhirnya tubuh iblis itu terurai habis.

__ADS_1


Asgar terduduk lemas sambil memegangi dadanya yang terasa sakit.


__ADS_2