GADIS TAKDIR

GADIS TAKDIR
22. Asgar Mengikut Rey


__ADS_3

Alice mengetuk pelan pintu kamar Rey. Karena tidak ada jawaban, akhirnya ia masuk sambil memanggil Rey.


" Nona Rey .... ? "


" Ya, aku sedang mandi, tolong siapkan gaun yang sederhana saja. Aku akan keluar hari ini "


" Baik, Nona "


* * * * *


Setelah sarapan Rey meminta ijin untuk keluar. Ia segera berteleportasi ke pasar terdekat. Pasar tampak ramai seperti biasanya.


Rey berkeliling sambil sesekali membeli kue atau apapun yang menarik perhatiannya. Ia tak menyadari seseorang memperhatikan sambil mengikutinya agak jauh. Orang itu sudah lama menanti kehadirannya kembali.


Seorang anak kecil memeluknya tiba-tiba. Rey mengenalinya.


" Ah ..... adik kecil, apa kabar ? "


Anak kecil itu tersenyum sambil menepuk-nepuk perutnya. Lalu menunjuk kantong kue yang dipegang Rey.


" Oh..... kau lapar ? Ayo, kita makan bersama "


Rey menarik tangan anak itu menepi di lorong. Mereka duduk bersama memakan kue. Tiba-tiba seseorang datang berjongkok didepan mereka. Rey terkejut, mengenali siapa pria dihadapannya. Segera dipeluknya anak kecil itu dan berdiri.

__ADS_1


Pria itu tak lain Ksatria Asgar. Tapi Ksatria Asgar tetap berjongkok dan menundukkan kepalanya.



" Aku datang meminta maaf telah menyebabkan nenekmu terluka. Aku bersedia dihukum karena tak menyadari siapa dirimu "


" Maksudmu, aku siapa ? "


" Anda adalah Gadis Takdir milik Penguasa Abadi "


" ............ , pergilah. Aku tak berhak menghukummu "


" Saya akan tetap mengikuti anda , Yang Mulia. Apapun perintah anda akan saya lakukan, tapi saya takkan pergi (maksudnya setia menjadi bawahan) "


" Baiklah, tapi jangan panggil aku "Yang Mulia" . Aku hanya orang biasa "


" Baik, Yang..... mm.... ... Putri "


" NONA saja "


" Baik, Nona "


" Bangunlah "

__ADS_1


Ksatria Asgar bangun tapi tetap menunduk, ia tak berani lagi memandang wajah Rey begitu saja. Rey mengulurkan kue kepada Asgar.


" Tidak Nona, saya tak pantas menerimanya "


Tapi Rey tetap mengulurkan tangannya tanpa berkata apapun, membuat Asgar takut dan menerimanya.


Anak kecil itu memberi isyarat Asgar agar segera memakan kuenya. Kemudian menunjuk buli-buli air yang tergantung di pinggang Asgar. Asgar menggeleng karena itu bukan air minum biasa, tapi arak.


Rey membuka telapak tangannya, seberkas cahaya keluar dan mengarah pada buli-buli air Asgar. Asgar hampir melompat karena terkejut. Rey meminta buli-buli air itu dan memberikan pada anak kecil itu. Segera anak itu meminumnya dengan rakus. Lalu mengembalikannya kepada Asgar. Asgar memandang sebentar buli-buli itu dan menenggak airnya. Ia heran karena airnya terasa enak dan menyegarkan, bukan seperti arak yang biasa ia bawa.


Kemudian anak itu memeluk Rey sebentar dan pamit pulang. Rey juga segera keluar dari lorong diikuti Asgar.


" Asgar, apa kau membawa kuda ? "


" Ya, Nona. Apa anda membutuhkannya, saya akan mencarikan untuk anda "


" Tidak, aku sudah punya. Panggil kudamu "


Asgar bersuit dengan nada tertentu. Tak lama terdengar derap kaki kuda. Seekor kuda berwarna kelabu datang mendekat. Ia mendesis sedikit disamping Asgar. Kemudian menundukkan kepala dan menekuk satu kakinya didepan Rey. Tentu saja Asgar heran, bagaimana bisa kudanya bersikap hormat pada Nona Rey ? apakah hewan dapat mengetahui siapa orang dihadapannya ?


Rey hanya tersenyum dan menepuk kepala kuda itu. Lalu Rey memandang ke arah hutan sambil bergumam. Segera terdengar derap kaki kuda mendekat. Seekor kuda putih bersurai panjang yang tidak terlalu tinggi. Rey segera menaikinya dengan mudah. Asgar pun segera menaiki kudanya. Mereka bergerak ke arah barat.


* * * * *

__ADS_1


__ADS_2