GADIS TAKDIR

GADIS TAKDIR
175. Keluarga Tomson II


__ADS_3

Mereka semua menghela nafas. Mau tidak mau, Tomaz harus patuh jika ingin menghilangkan bekas tamparan itu.


" Baiklah ..... "


" Jika begitu...... saya harus pergi untuk menolong yang lain " kata pak Tua sambil melirik Medison.


Tuan Tomson segera mengambil sekantong koin untuk Pak Tua. Pak Tua itu mengangguk pada Medison dan segera keluar dari kamar. Mereka masuk ke lorong sepi dan segera membagi 2 koin-koin tersebut.


" Kita harus cepat-cepat pergi dari kota ini untuk sementara waktu "


" Bagaimana jika kita ke kota Beamor. Siapa tahu disana kita beruntung lagi ? "


" Ya, kita harus membeli kuda untuk perjalanan kesana "


" Ayo..... "


Begitulah, bukan pertolongan yang diperoleh keluarga Tomson, malah jadi korban penipuan.


Rey keluar dan duduk di teras penginapan. Zigaz datang menemaninya.


" Nona, kedua penipu itu lari ke kota Beamor "


" Hmmm ....... biarkan saja. Aku melihat ibu dan anak itu tidak ada perubahan sikap. Suatu saat mereka pasti akan menerima hukuman "


Rey dan Zigaz berjalan ke arah pertokoan. Ada seorang gadis muda yang tangannya terikat dan menangis disamping seorang pria. Mereka masuk ke toko baju. Rey dan Zigaz mengamati dari luar kaca.


Tak berapa lama kemudian mereka keluar dari toko. Tampak gadis muda itu sudah berganti baju yang lebih menggoda. Zigaz menghadang pria itu, sedang Rey memegang tangan gadis muda itu yang sudah tidak terikat.


" Hei.... apa ini, siapa kalian ? " pria itu berusaha menarik gadis itu namun Zigaz menghalanginya.


" Nona, siapa namamu ? katakan padaku apa hubunganmu dengan pria ini ? " tanya Rey lembut.


" Saya Leowi. Dia pamanku, Mizuno " jawabnya pelan.


" Ada masalah apa dengan kalian ? "


Gadis itu hanya diam menunduk. Rey menghela nafas. Ia menarik Zigaz untuk menjaga gadis itu. Lalu menatap pria itu.


" Tuan Mizuno, mengapa kau membelikan baju yang terbuka pada gadis ini ? tidakkah itu tidak pantas untuknya ? "


" Tcck..... ! Bukan urusanmu ! "


" Baik, aku akan membiarkan petir menyambarmu berkali-kali jika kau punya niat jahat pada keponakanmu sendiri "

__ADS_1


Pria itu mencibir pada Rey. Lalu menarik Leowi dari balik Zigaz. Baru 3 langkah mereka berlalu.


" Blaarr .... ! "


Satu petir menyambar tanah di depan Mizuno sehingga terkejut mundur. Gadis itu pun sama terkejut. Orang-orang di sekitar menatap heran dan melihat langit. Bagaimana mungkin ada petir padahal cuaca sangat cerah ?


Mizuno saling menatap dengan Leowi, lalu kembali menarik tangannya dengan kasar. Baru beberapa langkah petir menyambar lagi.


" Blaarr .... ! "


" Aaah ....... ! "


Kali ini petir itu mengenai ujung kakinya. Walaupun mengenakan sepatu, tapi tetap terasa tersengat. Akibatnya ia terhuyung-huyung karena kakinya pincang. Ia terpaksa berpegangan pada tiang toko. Matanya melihat sekeliling mencari Rey. Tapi Rey dan Zigaz sudah masuk ke dalam toko baju, sehingga pria itu tidak melihatnya. Akhirnya Mizuno memutuskan untuk membawa Leoni pulang saja.


Rey tak khawatir lagi pada gadis itu karena sudah mengucap kutukan pada pria itu ( paman gadis itu ). Dan selamanya kutukan itu akan berlaku padanya.


Orang-orang mulai berbisik membicarakannya. Hal ini terdengar oleh Tuan Tomson yang kebetulan berada di dekat situ . Ia bertanya apakah penyihir yang mengutuk pria itu sama dengan dua orang tua yang tadi menolong putranya. Ternyata tidak. Ia jadi bertanya-tanya manakah yang penyihir asli ? Ia kembali ke penginapan dan menceritakan hal itu.


" Harusnya kau bertanya lebih banyak lagi.... " nyonya Tomson mengomel.


Tuan Tomson hanya duduk diam.


Saat keluar dari toko, terdengar teriakan pengumuman dari pegawai walikota yang berkeliling naik kuda memberitahu bahwa setiap malam ke-tujuh ( hari sabtu ) di lapangan kota ada bazar barang-barang, makan dan minuman murah. Siapapun diperbolehkan berjualan. Dan setiap warga diharapkan hadir. Juga ada tarian pertemuan muda-mudi agar saling mengenal. Siapa tahu menemukan pasangan hidup.


Rey senang makan kue apapun. Ia mencoba semua yang belum pernah ia makan. Sementara Zigaz sebagai mesin pembayar. Zigaz lebih suka makan ayam bakar atau sate sapi.


Tak sengaja Rey menabrak seseorang.


" Aiiih...... m... maaf...... " Rey menunduk hormat karena salah. Tapi pria yang tertabrak diam menatap Rey begitu lekat, kemudian berlalu tanpa kata. Ia diikuti oleh 2 orang pengawal.


Rey menoleh pada Zigaz dan mengangkat bahu tak perduli. Toh ia sudah meminta maaf.


Rey membeli minuman sirup campur potongan roti dan buah-buahan. ( Zaman itu tidak ada es batu ). Ketika ia sedang duduk menikmati minumannya, lewatlah keluarga Tomson.


Seorang anak kecil berlari menabrak nyonya Tomson. Kebetulan ia membawa makanan roti selai coklat hias. Tentu saja itu mengotori gaun Nyonya Tomson. Ia terbelalak menatap gaunnya.


" Anak bodoh..... !"


" Plakk...... ! "


Anak kecil itu terpelanting dan menangis.


" Astaga.... ! "

__ADS_1



Rey dan beberapa orang yang melihat kejadian itu terkejut. Zigaz segera menolong anak kecil itu berdiri dan berusaha menenangkannya. Rey menyimpan minumannya di cincin ruang. Lalu mendekati Nyonya Tomson.


" Hanya karena gaun kotor, mengapa harus menampar anak yang masih kecil ? "


" Apa kamu ibunya ? kalau begitu kamu harus membayar 50 keping perak untuk mengganti gaunku "


Rey tertawa pelan.


" Bagaimana jika aku sanggup membersihkan gaunmu tanpa noda. Apa kau akan ganti membelikan banyak kue untuknya ? "


" Enak saja.... ! Kau harus membayar 50 keping perak padaku. Jika tidak, aku akan laporkan pada petugas keamanan kota "


Rey mengangguk-angguk. Ia mengeluarkan kantong koin dan melemparkannya pada Nyonya Tomson. Nyonya Tomson menangkapnya dengan mata berbinar. Namun ia jatuh tersungkur seolah kantong koin itu begitu berat.


" Bruukk..... ! "


" Ibu.... ! "


" Istriku.... ! "


Putra dan Tuan Tomson membantu wanita itu bangkit. Lalu Tomaz ( putra Tomson ) mengambil kantong koin itu.


Tampak ia membungkuk terus karena tak kuat mengangkat kantong koin itu. Ia mengira kantong itu begitu penuh dengan koin sehingga terlalu berat diterima tangan ibunya.


" Mengapa kau ingin mengambil semuanya ? Bukankah ibumu hanya meminta ganti seharga gaunnya ? "


Tomaz menatap ibunya, ia ingat tadi ibunya meminta 50 koin perak sebagai gantinya. Maka ia membuka kantong itu dan mengeluarkan 50 keping koin perak ditanah. Lalu memasukkan kembali ke dalam kantong dan bermaksud mengangkatnya.


Tapi sekali lagi Tomaz tidak kuat mengangkat kantong koin itu. Ia mengerutkan alisnya sedikit kesal dan menatap tajam pada Rey.


" Nona, apa yang kau lakukan pada koin-koin ini ? "


" Ibumu hanya meminta koin seharga gaunnya yang kotor. Jadi tanyakan harga yang sebenarnya padanya "


" Ibu...... berapa harga gaunmu ? "


" 50 koin perak ! "


" Ini ada 50 koin perak, tapi aku tidak kuat mengangkatnya. Cobalah sendiri.... "


" ........... ? "

__ADS_1


__ADS_2