
Nyonya Tomson maju mencoba mengangkat kantong koin itu, tapi tak berhasil. Ia menatap kesal pada Rey.
" Ambillah sesuai harga gaunmu " kata Rey.
Nyonya Tomson mendengus. Ia mengambil 40 koin perak dan tetap tidak bisa mengangkatnya. Orang-orang yang melihat itu mulai berbisik-bisik. Nyonya Tomson dengan kesal mengembalikan 10 koin ke dalam kantong dan menggengam 30 koin perak ditangannya.
Ia hampir tersungkur karena tangan yang memegang koin tidak bisa diangkat sementara pantatnya sudah menungging.
" Hi..hi..hi..hi.... " orang-orang tertawa diam-diam.
Tuan Tomson mengerutkan alisnya. Ia pun menebak harga gaun istrinya kira-kira 30 keping perak. Tapi mengapa koin itu masih tetap tidak bisa diambil ? Apakah gadis ini ingin mempermalukan istrinya ? Atau..... Tuan Tomson tertegun ketika mengingat sesuatu. Gadis ini ....... pasti keturunan penyihir !
Nyonya Tomson melirik sekelilingnya. Ia merasa geram dalam hati karena kesal.
" Kenapa berhenti.... ? Tidakkah nyonya menginginkan ganti rugi atas gaun nyonya ? " tanya Rey tenang.
" Ya, berapa harganya ? " tanya Zigaz.
Nyonya Tomson melirik Zigaz dengan kesal. Ia mengembalikan lagi 5 keping ke dalam kantong koin. Tapi tangannya tetap tak bisa diangkat. Ia menatap pada putranya. Tomaz mengerti. Ia pun mendekat dan membantu mengangkat, tapi tetap tidak bisa. Tomaz memgembalikan lagi 5 keping, dan 5 keping lagi. Itu berarti harga gaun Nyonya Tomson cuma 15 keping ? Padahal gaun Nyonya Tomson cukup bagus. Orang-orang saling memandang.
Tomaz menyerah. Ia kembali berdiri di sisi ayahnya. Tinggal nyonya Tomson yang masih menggenggam 15 koin. Rey yakin sekarang Nyonya Tomson menyadari sesuatu tentang gaun yang dipakainya. Ia menyeringai kecil.
" Bagaimana Nyonya ? silahkan ambil sesuai harga gaunmu " Rey terus mendesak sambil tersenyum semanis gula kapas.
Dada Nyonya Tomson naik turun menahan kemarahannya. Ia mengurangi satu-persatu koin ditangannya sambil diam-diam berusaha mengangkatnya. Begitu terus hingga tak sadar koin ditangannya habis.
Seketika suasana menjadi hening.
" Jadi, apakah gaunmu sama sekali tidak berharga ? " tanya Rey tersenyum kecil.
" Jangan-jangan dia mencurinya dari toko ? " celetuk seseorang.
" Jangan sembarangan bicara. Aku tidak mencurinya ! " Nyonya Tomson berdiri dan menyalak.
Zigaz mendekat lalu memasukkan 14 koin perak itu ke kantong koin. Namun ia menarik tangan Nyonya Tomson dan meletakkan satu koin perak ditelapak tangannya. Seketika Nyonya Tomson tersungkur berlutut.
" Lihat..... bahkan satu perak pun kamu tidak berhak. Jadi dengan cara apa kamu memperoleh gaun itu ? " tanya Zigaz.
Orang-orang kembali berbisik. Tuan Tomson maju mendekatinya.
" Darimana kamu mendapat gaun itu ? "
" Aku.... aku membelinya di toko Gowniz di kota kita "
__ADS_1
" Jika benar kamu membelinya, pastilah ada harganya, sedang kamu bahkan tidak mendapat satu pun koin perak darinya " kata Tuan Tomson menunjuk pada Rey
Nyonya Tomson menatap sengit pada Rey.
" Dia penyihir jahat..... ia sengaja menyihir uang itu sehingga aku tidak bisa mengangkatnya "
" Hmmm....... Zigaz, bagikan koin itu masing-masing 1 perak pada orang-orang. Hanya orang berkelakuan baik yang dapat menerimanya " jawab Rey.
Zigaz segera melakukan perintah Rey, bahkan memberikan satu keping pada Tuan Tomson. Orang-orang menimang-nimang dengan senang. Tuan Tomson sendiri menatap koin itu dengan tangan yang masih terbuka. Lalu memberikannya pada putranya. Namun Tomaz juga tersungkur karena merasa begitu berat sehingga koin itu menggelinding ke dekat kaki anak kecil yang tadi ditampar Nyonya Tomson.
Anak kecil itu segera mengambilnya sambil berteriak senang.
" Aku dapat koin....... Aku dapat koin perak...... ! "
Mengertilah orang-orang bahwa Rey penyihir bijak. Dan Nyonya Tomson telah melakukan sesuatu yang tidak baik terkait dengan gaunnya. Tuan Tomson menghela nafas. Ia kecewa karena istri dan putranya ternyata berkelakuan buruk.
" Engkau dan anakmu mempunyai mulut yang tidak jujur, bahkan berani memfitnah orang untuk mendapatkan sesuatu. Hukuman yang kuberikan, akan hilang dengan sendirinya jika kalian berubah " ujar Rey menuding pada Nyonya Tomson dan Tomaz. Pada saat ini Tomaz masih belum ingat bahwa Rey adalah gadis yang telah menamparnya beberapa bulan lalu.
Nyonya Tomson membuka mulutnya untuk memaki Rey, tapi yang keluar cairan hitam berbau busuk.
" Byuuurr........ ! "
" ............. "
Nyonya Tomson merasa marah dan tersinggung. Ia kembali hendak memaki orang-orang, namun kembali memuntahkan cairan busuk.
" Byuuurr........ ! "
" Hiiiii........ "
" Bu.... ! berhentilah memaki. Tutup mulutmu ! " tegur Tuan Tomson.
Nyonya Tomson seketika cemberut. Ia ingin mengomel tapi tidak jadi karena takut akan mengeluarkan cairan bau busuk itu. Ia hanya bisa melotot pada orang-orang yang masih menatapnya. Tuan Tomson menggandengnya pergi ke tempat lain.
" Bu, seharusnya kau lebih menjaga sikapmu. Jika saja kau tak menyinggung penyihir itu. Anak kita pasti tertolong. Apa kau lupa tujuan kita datang ke kota ini ? "
" Bukankah Tomaz sudah ditolong oleh dua penyihir tadi ? "
" Tapi belum terbukti. Sedang ia menghukummu saja langsung terbukti. Jangan berbohong atau memfitnah lagi. Mulutmu busuk.... ! "
" Kau..... ! "
Tuan Tomson bergegas kembali ke penginapan. Ia sudah tak berminat melihat acara malam ini. Perasaannya malu dan kesal karena istrinya telah membuat masalah.
Gadis penyihir itu telah menyadarkannya tentang sifat istri dan putranya. Jadi bekas tamparan di pipi putranya membuktikan bahwa putranya telah melakukan kesalahan dan tidak akan hilang jika tidak berubah lebih baik. Begitupun dengan istrinya. Akan selamanya mengeluarkan cairan busuk jika tidak menjaga mulutnya (caci-maki, fitnah). Ia menghela nafas panjang.
__ADS_1
Nyonya Tomson dan Tomaz berjalan tertinggal dibelakangnya dengan sedikit menunduk. Rey dan Zigaz melihat dari jauh.
" Zigaz..... berubahlah jadi nenek tua, ujilah mereka "
Zigaz langsung merubah diri dan tiba-tiba muncul menabrak Nyonya Tomson hingga terjengkang.
" Kau..... ! " Nyonya Tomson menuding nenek tua itu, nafasnya tersengal menahan kemarahannya agar tidak mengumpat.
Tomaz sedikit enggan membantu nenek tua itu berdiri.
" Terima kasih anak muda.... "
Tomaz tersenyum kaku. Nyonya Tomson menepis tangan nenek itu dari Tomaz.
" Jangan sentuh anakku ! Tua bangka bau.... ! "
" Byurr..... ! " cairan busuk tumpah ke tanah mengenai kaki Tomaz.
" Ah, ibu..... jangan memaki.... ! Ingat kata penyihir itu "
Nyonya Tomson tertegun. Ia menelan ludahnya yang pahit karena cairan busuk itu.
" Ehm........ mmm........ maafkan saya..... " katanya sambil menunduk.
Nenek tua itu tersenyum.
" Tidak apa..... lihatlah, wajah putramu sedikit segar.... "
Nyonya Tomson seketika menoleh pada Tomaz. Benar........ ! warna merah kehitaman bekas tamparan itu berubah sedikit cerah. Ia tercengang. Lalu kembali menatap pada nenek itu.
" Apa..... maksudmu..... jika anakku menolong orang bekas tamparan itu akan hilang ? " ia bertanya hati-hati untuk meyakinkan dirinya.
" Tentu saja..... ' Berbuat baik ' selamanya. Jika tidak, hukuman kalian tak akan berakhir "
" A... apakah kau juga penyihir ? " tanya Tomaz.
Nenek tua itu terkekeh pelan.
" Gadis yang menghukum kalian itu Gadis Takdir. Pendamping Lord Astraco "
" Haahhh...... ! "
Nyonya Tomson dan Tomaz terperangah namun segera menutup mulutnya. Mereka saling menatap ngeri. Beruntung mereka tidak kehilangan nyawa atau hal lain yang mengerikan.
Mereka menatap kepergian nenek tua itu sebelum kembali menyusul Tuan Tomson.
__ADS_1