
Quidro yang masih memeluk Mirza menangis terharu. Ia tak menyangka putrinya masih bisa diselamatkan dengan cara yang ajaib. Rey dan Sarah masih terus memeras sari buah basil sampai gelas ke delapan.
Sekarang Mirza sudah baik-baik saja walaupun masih lemah. Rey meminta Quidro membaringkan Mirza. Rey duduk di pembaringan sambil menggenggam tangannya untuk memberi kesembuhan penuh.
" Ceritakan pada kami apa yang kau alami tadi pagi " kata Rey. Quidro dan Sarah berdiri disamping pembaringan.
" Tadi pagi saya mengambil air di sumur. Tidak ada siapapun disana. Tapi waktu saya akan mengambil yang ketiga kalinya, ada seorang nenek tua berdiri disamping sumur. Saya tidak mengenalnya. Saya tanya dia siapa dan ada perlu apa. Katanya dia haus, ingin minum. Saya menimba air untuk mengambilkannya. Tiba-tiba dia memelukku dan menggigit leherku. Tangannya mencekik leherku sehingga saya tak bisa berteriak. Tapi saya tidak sengaja menabrak gentong air hingga pecah. Meskipun saya jatuh, nenek itu masih terus menggigit leherku " cerita Mirza.
" Saya mendengar bunyi gentong pecah segera ke sumur untuk melihat apa yang terjadi. Tapi yang saya lihat adalah seekor kelelawar besar menggigit leher Mirza. Saya berusaha melepaskannya sambil memukul tapi tidak bisa. Saya berteriak memanggil suami saya. Ia datang dan kami berdua berusaha menariknya. Akhirnya suami saya terpaksa menusuk punggung kelelawar itu " sambung Sarah.
Rey mengambil nafas dan mengangguk-angguk.
" Quidro, katakan pada semua warga. Mulai sekarang jika pergi ke tempat gelap baik pagi ataupun malam haruslah membawa obor. Kelelawar itu adalah iblis atau penyihir yang menyamar. Siapapun atau hewan yang meminum darah manusia pastilah iblis atau penyihir yang menganut ilmu hitam. Waspadalah..... ! "
" Saya mengerti, tabib " jawab Quidro segera keluar.
" Sarah..... berikan Mirza air buah basil setiap hari 3 gelas selama satu minggu ini. Ia sudah tidak apa-apa. Tapi ia butuh banyak istirahat " kata Rey mengusap mata Mirza supaya tidur.
" Terima kasih sudah menyelamatkan anakku, tabib " Sarah berlutut di hadapan Rey. Rey menariknya bangkit sambil tersenyum.
Mereka keluar dan menutup pintu kamar. Ketika keluar rumah, sudah banyak warga berlutut menunggu Rey.
" Bangunlah semuanya, aku tidak pantas menerima kehormatan ini " kata Rey.
" Kami semua berterima kasih atas pertolongan tabib pada putri Quidro. Semoga tabib diberkati banyak hal baik dan kebahagiaan " ucap para warga.
Rey, Asgar dan Zigaz melambaikan tangan, kemudian melangkah pergi.
Para warga berebut ingin melihat keadaan Mirza. Quidro mengingatkan agar bergantian dan jangan berisik. Sarah menceritakan tentang pengobatan dengan buah basil yang dilakukan oleh tabib. Beberapa pemuda menawarkan diri untuk membantu mencarinya. Sarah menerima bantuan itu dengan senang hati.
Di pinggir desa Rey berhenti. Ia mengamati hutan yang ada di depannya dengan merasakan pergerakan udara. Asgar juga melakukan hal yang sama. Zigaz sudah berubah menjadi serigala. Ia hanya menggeram pelan. Mereka berbicara dengan telepati.
( " Ia dalam keadaan terluka. Quidro bilang ia menusuk punggungnya dengan belati " ) kata Rey pada Asgar.
__ADS_1
( " Apa kita akan menyerangnya sekarang, Nona ? " ) tanya Asgar.
( " Mungkin tidak Asgar. Kita akan menginap disini untuk perkenalan. Jangan menunjukkan kekuatan kita lebih dulu " ) jawab Rey.
( " Apa kita akan makan rusa panggang ? " ) kata Zigaz dengan moncong mengendus udara.
Rey dan Asgar tertawa mengangguk. Zigaz segera melesat ke arah hutan sebelah kanan. Seperti biasa Rey memasang perisai pelindung dan Asgar menyiapkan pembakaran. Mereka menikmati rusa panggang sambil bicara dengan tenang.
" Setelah ini kita akan bermalam di dekat reruntuhan. Kita harus menyamar jadi binatang malam. Aku akan menjadi burung hantu " kata Rey.
" Bagaimana jika aku menjadi kelelawar ? " tanya Asgar.
" Memangnya kau bisa melihat dengan mata terbalik saat bergantung di pohon ? " tanya Zigaz melirik sinis.
Asgar membulatkan mulutnya. Ia melupakan kebiasaan kelelawar.
" Kelelawar tidak ada di hutan cemara, Asgar. Dia biasanya di perkebunan atau pemukiman " jelas Rey.
" Tidak...! itu aku " sergah Zigaz kesal.
" Lalu aku jadi apaaaaa...... ? " Asgar merajuk.
" Kukaaang........ " jawab Rey dan Zigaz bersamaan. Mereka berdua menyeringai geli.
" Tidaaaak...... aku tidak ingin memeluk pohon sepanjang malam....... " Asgar menampakkan wajah memelas.
" Terimalah nasibmu.... " Zigaz meledek.
" Hiiiissshh........ kakek egois..... penuh bulu ! " Asgar mencibir.
" Jangan memanggilku kakek, anak kecil.... ! " Zigaz melempar tulang kecil rusa ke arah Asgar.
" Eiiit..... " Asgar mengelak sambil meleletkan lidah.
__ADS_1
Mereka terus makan sambil meledek. Rey tak perduli, ia menikmati makanannya sampai habis. Kemudian membersihkan tangannya dengan pasir.
Lalu Rey berdiri membaca mantra sambil menyentuh lapisan pelindung. Terlihat lapisan itu agak menggelap warnanya. Keadaan dalam lapisan pelindung terasa amat teduh. Kemudian tangan Rey bergerak-gerak seperti menata udara. Dan Rey naik ke atas udara yang ditatanya untuk merebahkan diri.
Ooo.... ternyata Rey membentuk kasur angin....
" Cepatlah tidur. Nanti malam kita akan bergadang " kata Rey sebelum menguap lebar.
Asgar dan Zigaz berhenti berdebat. Asgar meniru cara Rey membuat kasur angin. Sedangkan Zigaz berubah menjadi serigala dan bergelung di bawah kasur Rey.
Mereka beristirahat tanpa gangguan. Rey sudah membuat lapisan pelindung beserta isinya tak terlihat dari luar. Sekalipun kupu-kupu melintas tak kan menyadari keberadaan 3 makhluk itu.
Menjelang gelap mereka bangun dan bersiap-siap. Rey mengubah Asgar jadi Kukang dan memasukkan dalam kalung dimensi. Zigaz mengubah dirinya sendiri menjadi tupai. Rey juga memasukkan Zigaz dalam ruang dimensi. Kemudian Rey merubah dirinya menjadi burung hantu sebelum membereskan lapisan pelindung dan menghapus aura sihirnya. Ia tampak seperti benar-benar burung hantu biasa.
Rey terbang menuju reruntuhan kuno. Terkadang berhenti sejenak untuk merasakan udara sekitarnya. Tepat saat gelap ia sudah bertengger di salah satu pohon menghadap reruntuhan kuno.
Kemudian Rey mengeluarkan Asgar dan Zigaz. Asgar segera merayap ke dahan yang agak besar. Dan Zigaz melompat ke pohon lain. Rey juga pindah ke pohon lainnya.
( " Ingat, usahakan jangan menampakkan aura sihir kalian saat dia muncul atau mendekat. Tetaplah berlaku seperti binatang yang seharusnya " ) kata Rey pada Asgar dan Zigaz.
Waktu berlalu. Ketiga hewan sihir itu tetap diam diposisi masing-masing dengan tenang. Merasakan pergerakan di reruntuhan kuno melalui elemen udara.
" Hu...huuu........ Hu...huuuu......... " Rey berbunyi selayaknya burung hantu.
Asgar dan Zigaz melirik ke arah reruntuhan. Tampak meja altar bergeser dengan penopangnya ke arah belakang.
" Greeeeeeekkk........... "
Sunyi. Terlihat ada tangga menurun. Pada hitungan ke 10 perlahan tampak sosok berjubah hitam menaiki tangga. Ketika sudah keluar sepenuhnya, ia menginjak tonjolan batu kecil.
" Greeeeeeekkk........... "
Altar batu itu bergeser kembali menutup lubang tangga. Rey melihat sesuatu di punggung sosok itu lebih teliti.
__ADS_1