GADIS TAKDIR

GADIS TAKDIR
138. Penyelesaian 13 Penyihir


__ADS_3

Rey melepas topengnya dan menyimpannya. Xibo memasang kalungnya lalu berdiri. Ia menyentuh liontin pedang.


" Zaapp... ! " sekarang ditangannya tergenggam pedang berapi.



Xibo menyabetkannya ke udara dengan tertawa lebar. Lalu melompat ke udara dan pedangnya memukul sebuah batu besar. Batu itu terbelah. Xibo berbalik dan mengacungkan pedangnya ke arah pohon. Api meluncur menabrak pohon dan mulai membakar. Xibo mengulurkan tangan kirinya menarik api dari pohon. Pohon itu tidak jadi terbakar.


Xibo berlari memeluk (menubruk) Rey hingga terguling jatuh berdua.


" Terima kasih Tuan Putri, terima kasih.... "


Rey tertawa menepuk bahu Xibo.


Sementara Zacko dan Axie berlindung dibalik perisai tanah, 3 cakram angin Axie membelah bola-bola racun yang berterbangan dan terus menyabet tubuh para penyihir. Mereka saling menghindar, tapi Axie kembali mengirim 2 cakram angin. Ia memejamkan mata untuk merasakan pergerakan para penyihir dan mengendalikan semua cakramnya.


" Bzzztt...... Bzzztt...... Bzzztt....... ! "


" Aaaah.... Awaass.... Aduh... ! "


Mereka saling bertabrakan karena mencoba menghindari kelima cakram yang berputar disekitar mereka. Akhirnya ada yang terpotong tangannya, tersayat pinggangnya atau bahunya. Begitu terus hingga tubuh ketujuh penyihir itu luka-luka parah dan berjatuhan ke tanah. Darah mereka kehitaman terciprat ke udara. Zacko meringis ngeri melihat keganasan cakram angin milik Axie.


Setelah para penyihir itu tumbang, Axie berkonsentrasi untuk mengurai tubuh mereka satu persatu agar tidak bersisa. Zacko tercengang menatap semua itu. Xenia datang membantu membakar tubuh para penyihir yang tersisa.


Lalu mereka mencari Xibo yang ternyata sedang bergulingan di tanah dengan Putri Rey. Axie dan Xenia mengulurkan tangan untuk membantu mereka berdiri. Rey dan Xibo menengadah untuk melihat siapa, ternyata Axie dan Xenia. Mereka segera menyambutnya dengan senyum.


" Apa yang membuatmu tega menggulingkan Putri Rey, Xibo ? " tanya Xenia.


" Ah.... Nona, Tuan Putri memberiku sebuah pedang " kata Xibo sambil menyentuh liontin kalungnya. Muncul pedang berapi di tangan Xibo.


" Wooo...... hati-hati Xibo, kau bisa membakar jubah baruku " kata Zacko menyingkir.


" He..he..he... " Xibo terkekeh.


" Putri, kami sudah selesai bermain-main. Bagaimana dengan pertapa tua itu ? " tanya Axie.


Rey menaruh telunjuknya di bibir sambil matanya melirik ke arah utara.

__ADS_1


(" Kita kembali ke kota, aku akan ceritakan nanti ") katanya pada mereka bertiga.


Mereka segera teleportasi ke kota Blazein, lebih tepatnya di lapangan tempat kejadian tadi malam. Rey menyentuh Axie kembali menjadi Asgar.


Lapangan terlihat sepi. Hanya ada beberapa orang yang berangkat menuju pasar sepertinya. Matahari sudah di ufuk timur. Rey dan teman-teman mencari kedai teh yang buka pagi.


" Selamat pagi tuan dan nona, silahkan duduk " ujar seorang pria tua. Istrinya segera menyiapkan minuman dan cemilan.


Rey dan teman-teman berbincang sambil makan kue.


" Putri, apa dia sudah mati ? " tanya Xenia.


" Belum... tadi aku hanya sedikit menghajarnya. Ia bernama Odex, dari Cronos. Ia menyamar jadi Tetua Outter. Aku tak tahu apakah Tetua Outter yang asli masih hidup atau sudah mati. Dan sudah berapa lama ia menjadi Tetua Outter " kata Rey.


Mereka semua tercengang mendengarnya.


" Ia dari Cronos... ? " Xibo bertanya tak percaya.


Rey melepaskan gelangnya dan meletakkannya di meja. Rey menarik piring kecil tempat tatakan gelas dan menuang tehnya sedikit. Lalu merendam gelang itu Tampak gelang itu bercahaya dan mengeluarkan seperti asap berwarna putih keunguan. Ini menandakan ia benar berasal dari Cronos, namun kekuatannya sudah bercampur dengan ilmu hitam. Mereka saling berpandangan.


" Baik Putri Rey, berhati-hatilah " jawab mereka bertiga. Lalu mereka beranjak keluar sebelum menghilang.


" Selamat datang tuan-tuan, silahkan duduk... " sambut pak tua. Rey dan Asgar menoleh. Ternyata Kendrick dan Zigaz yang datang. Kendrick mencium kepala Rey sebelum duduk.


" My Lord... " Asgar menyapa Kendrick lalu mengucapkan salam tinju dengan Zigaz.



" Bagaimana di Astraco ? " tanya Rey setelah Kendrick meminum tehnya.


" Belum ada titik terang. Bagaimana denganmu ? "


" Kami berseteru dengan seorang pertapa tua. Ia mengaku bernama Odex dari Cronos. Namun ia menyamar sebagai Tetua Outter entah sudah berapa lama. Aku tidak tahu apakah Tetua Outter yang asli masih hidup atau mati " kata Rey.


Kendrick diam mengerutkan alisnya. Ia menarik nafas panjang. Lalu mengeluarkan saputangan terlipat rapi dan mengulurkannya pada Asgar.


" Titipan dari Alice "

__ADS_1


" Terima kasih My Lord " Asgar tersenyum menerimanya.


" Suiit.... suiiiiitttt....... " Zigaz memonyongkan bibirnya sepanjang mungkin. Asgar mengibaskan saputangan itu ke muka Zigaz.


Rey dan Kendrick terkekeh.


" Kendrick... Apa benar Ratu Cronos menitipkan barang-barang yang berkaitan dengan Gadis Takdir ? " tanya Rey.


" Ya, beberapa sudah kau pakai, cincin, gelang, dan kalung. Hanya satu yang belum kau dapatkan : Mahkota Kehidupan. Tapi ada juga yang menyebutnya Mahkota Waktu. Itu akan kau dapatkan sendiri pada waktunya. Aku tidak tahu seperti apa bentuk dan rupanya karena ia selalu menyesuaikan diri dengan pemiliknya yang baru. Sama seperti cincin dan kalung yang kau pakai. Untuk gelang, ia bisa dipakai untuk menyegel kekuatan atau jiwa. Jadi barang-barang itu itu tidak bisa dipakai atau dimiliki oleh orang lain. Bisa mengakibatkan celaka atau kematian atau kutukan seumur hidup " jelas Kendrick.


" Jadi aku tak perlu khawatir tentang barang-barang itu... " kata Rey.


" Hmmm.... Aku akan mencari tahu tentang Tetua Outter atau siapapun yang terkait dengannya di Astraco. Ayo, Zigaz... "


Kendrick dan Zigaz berlalu.


Rey menyelesaikan pembayaran dan Asgar keluar lebih dulu menyiapkan kuda-kuda. Mereka melewati pertokoan dan rumah-rumah penduduk dengan santai.


Untuk sementara, para gadis yang selamat tak berani keluar. Tapi gadis-gadis yang tidak ikut atau ditolak masih terlihat berkeliaran. Seorang gadis bergaun kuning mendekati Asgar.


" Tuan mau kemana ? " tanyanya dengan suara dilembutkan.


" Apa aku mengenalmu ? " Asgar bertanya balik. Rey terkejut mengangkat alisnya. Ia memalingkan muka menahan senyumnya.


" Eh... aku Teana. Kita kemarin bertemu di... di.... mmm.... maaf, saya lupa " katanya malu-malu.


" Benarkah... ? Kalau tidak salah kamu adalah gadis yang dikeroyok beberapa gadis lain kemarin sore bukan ? " Kata Asgar.


Seketika merahlah muka Teana.


" Sebenarnya itu bukan salahku tuan... Mereka menghina gaunku dan bermaksud merobek gaunku... " elaknya.


" Oh.... Kamu juga termasuk gadis yang ditolak pertapa itu karena dianggap tidak suci kan ? " kali ini Rey angkat bicara.


Teana menutup mulutnya. Ia sungguh tak menyangka pagi ini adalah hari buruknya. Maksud hati ingin merayu tuan tampan, tapi malah dirinya dipermalukan...


Dengan kesal ia berbalik meninggalkan Asgar dan Rey. Rey tertawa tanpa suara.

__ADS_1


__ADS_2