
Terlihat bagian tubuh (asap) iblis itu mulai merenggang. Pergerakannya juga mulai lambat. Mulutnya terbuka lebar karena terus menerus meraung. Asgar semakin semangat berusaha menguraikan tubuh iblis.
Mencapai hitungan ke 10, semua asap itu terpecah memenuhi bola kaca. Asgar tetap berjaga-jaga agar pecahan asap itu tidak menyatu kembali. Rey menghapus bola kaca itu dan ganti membungkus pecahan asap hitam itu. Ia menempelkan kedua tangannya di bola kaca berisi asap itu dan membaca mantra.
Muncul api kecil yang lama-lama membakar asap itu hingga habis tak bersisa. Lalu menghapus bola kaca itu. Rey menghela nafas dan duduk bersimpuh di lantai. Hari ini ia sudah keluar tenaga banyak sekali. Tubuhnya terasa agak lelah.
" Nona eh, nek..... apakah anda baik-baik saja ? " tanya Asgar. Rey mengangguk. Ia memberi isyarat agar Asgar mengurus Ramona.
Asgar segera menyuruh kepala pelayan membuka rantai yang mengikat Ramona. Asgar memeriksa pergelangan tangan dan kakinya yang berdarah. Lalu memasangkan kalungnya pada Ramona agar cepat pulih. Kepala pelayan memerintahkan pelayan wanita itu untuk membersihkan dan mengganti baju Ramona.
Asgar membantu Rey berdiri. Mereka kembali ke ruang tamu. Kepala pelayan memberikan air minum untuk Asgar dan Rey. Tak lama pelayan wanita datang memapah Ramona.
Ramona menangis mengucapkan terima kasih. Rey menenangkannya dengan menepuk punggungnya. Orang-orang bergumam gembira. Mereka tak sangka kakek-nenek ini ternyata mampu menolong dan mengusir iblis.
Rey menyentuh kalung Asgar yang masih dipakai Ramona. Seketika kalung itu sudah terpasang di leher Asgar. Ia berpesan kepada semua orang agar selalu menyalakan obor di depan rumah saat malam untuk menghindari iblis atau penyihir. Orang-orang mengangguk dan mengucapkan terima kasih.
Rey dan Asgar segera berpamitan. Mereka kembali ke penginapan untuk beristirahat. Rey dan Asgar ikut makan malam bersama dengan penghuni penginapan yang lain.
Di tempat lain, seorang anak laki-laki kecil keluar dari sebuah rumah kecil di deretan rumah kumuh. Ia bermaksud mencari makan malam. Ia berjalan menuju bagian belakang sebuah rumah makan. Ia biasa meminta sisa makanan pada pelayan rumah makan itu. Seorang pelayan memberikan satu kantong plastik makanan sisa padanya.
Setelah mengucapkan terima kasih, anak kecil kembali pulang. Di lorong yang agak gelap ia berhenti. Ia memperhatikan sesuatu yang berdiri di kejauhan. Ia mendesah dan memejamkan matanya sebentar. Ia menggigit bibirnya mencoba menahan tangisnya.
Ia tahu itu apa. Itu adalah iblis. Sesuatu yang sudah menghabisi keluarganya. Ayah, ibu, dan adik perempuannya sudah mati satu-persatu. Iblis ini tidak menyerang secara brutal. Tapi menghisap darah pelan-pelan sampai habis. Ia hanya akan datang pada waktu membutuhkan darah.
Ayahnya sudah mengorbankan diri untuk melindungi istri dan anak-anaknya. Satu purnama kemudian ia kembali meminta darah. Kali ini ganti ibunya yang harus berkorban. Ibunya sudah berpesan agar dia pergi jauh-jauh membawa adiknya.
Namun ia terpaksa kembali karena adiknya terus menangis merindukan ayah dan ibunya. Mayat ayah dan ibunya memang masih ada di rumah itu. Kondisinya mengering kehabisan darah namun tidak membusuk. Hanya tinggal kulit dan tulang. Adik perempuannya terus memeluk dan menangisi ibunya.
Minggu ketiga, ketika ia pergi mencari makanan, iblis itu datang menerkam adiknya. Anak laki-laki itu menangis menjerit pedih. Ia sudah tidak punya semangat hidup. Selama dua hari ia menangis dan menunggu iblis itu datang menghabisinya. Akhirnya ia keluar mencari makan karena lapar. Ini sudah hampir satu mingu.
Pada akhirnya iblis itu muncul dilorong, menunggunya. Jujur saja ia merasa gentar. Ia menepi duduk di teras yang disinari bulan. Kantong plastik makanan ia taruh di tanah. Ia mencoba menahan tangisnya dan takutnya.
__ADS_1
Tak ada gunanya ia menghindar atau berlari. Iblis itu jelas lebih kuat dan cepat. Tiba-tiba ia teringat dengan cerita orang tentang Gadis Takdir yang pernah mengalahkan iblis di ibukota HIGRESIA. Ia mengambil nafas dan bergumam pelan sambil memejamkan mata.
" Gadis Takdir..... jika benar engkau ada..... tolonglah saya..... "
Saat itu Rey yang berada di kamar sudah kembali ke wujud aslinya. Ia sudah berganti gaun tidur dan sedang menyisir rambutnya. Tiba-tiba Rey melepas sisirnya dan berdiri, lalu menghilang.
Rey muncul di lorong perumahan kumuh. Ia melihat sekeliling dan mendapati seorang anak kecil sedang duduk memejamkan mata dan bergumam memanggilnya. Rey tersenyum.
" Anak kecil.... aku sudah datang " kata Rey menyadarkannya.
Anak kecil itu membuka mata. Ia tercengang menatap seorang gadis cantik berpakaian gaun tidur berdiri di hadapannya. Ia cepat-cepat berdiri dan langsung menangis memeluk Rey. Rey membelai kepalanya.
" Ada apa... ? Siapa namamu... ? " tanya Rey.
Anak kecil itu semakin menyembunyikan wajahnya di perut Rey. Tapi tangannya menunjuk ke lorong gelap. Rey mengikuti arah tangan anak kecil itu. Ia mengerutkan alis menatap sesuatu disana. Itu iblis.
" Anak kecil.... tenanglah. Aku akan melindungimu " Rey menatap matanya. Anak kecil itu hanya mengangguk. Rey memasukkannya ke ruang dimensi. Kemudian ia diam menatap iblis itu.
" Zzzzt..... ! "
Sebenarnya iblis ini tingkat rendah karena belum bisa merasuki tubuh manusia tapi mengisap darah hewan atau manusia. Rey tersenyum miring. Titik di dahinya bercahaya sejenak. Diam-diam Rey membaca mantra.
Iblis itu menyabetkan tangannya.
" Zzzzt..... ! " sebuah aliran petir menyengatnya.
Ia terkejut mundur tapi segera maju lagi memukul dengan tangan satunya. Namun kali ini Rey mengeluarkan elemen petir nya lebih besar.
" Zzzzttt..... ! "
__ADS_1
" Rrrrooooaaaarrrgh...... " ia meraung marah.
Rey mengeluarkan sebuah tali putih tebal. Ia memutar-mutarnya sebentar sebelum memukulkan ke iblis itu layaknya sebuah pecut.
" Zzzzt..... ! "
" Rrroooaaarrgh.... ! "
" Zzzzt..... ! "
" Rrroooaaarrgh.... ! "
" Zzzzt..... ! "
" Rrrrooooaaaarrrgh...... "
Iblis itu meraung sangat nyaring. Sengatan petir yang dilakukan Rey melalui tali itu menghanguskan tubuhnya yang dari asap. Menyobek beberapa bagian. Akibatnya iblis itu tampak seperti kain rombeng warna hitam.
Dengan penuh kemarahan, iblis itu memperbesar wujudnya. Lalu mencoba menyergap Rey dengan cara membungkusnya. Dengan cara itu Rey akan mati terkena asap beracun. Setelah 5 hitungan iblis itu membuka kurungannya.
Ia terbelalak kebingungan karena Rey tidak ada di situ. Ternyata Rey malah duduk bertopang dagu di teras sebuah rumah. Menonton kelakuan si iblis.
" .... ??? "
Iblis itu tercengang melihat Rey disana. Tangannya melemparkan bola asap beracun. Rey terkekeh sebelum meniup angin ke arah bola asap. Tentu saja bola asap itu ambyar kemana-mana.
" Hhhhhh.... ! "
Rey menolakkan kedua tangannya ke depan. Muncul api besar membakar iblis itu.
" Rrrrooooaaaarrrgh...... "
__ADS_1
Tubuh iblis itu meliuk-liuk terbakar. Raungannya mengagetkan orang-orang yang berada di sekitar tempat itu. Tangannya terjulur mencoba keluar dari api. Rey menunggu sampai api itu membakar habis iblis itu.