GADIS TAKDIR

GADIS TAKDIR
Axel Terpesona Rey


__ADS_3

Tiba-tiba Ratu Elena menghilang. Penjaga terkejut sesaat, tapi tidak heran karena sudah tahu bahwa Ratu keturunan penyihir kerajaan Astraco. Kemudian penjaga itu melihat Ratu berada di udara terbuka ( langit ).


Ratu Elena sedang menelusuri jejak sihir di udara. Ia seketika tenang ketika mengetahui itu sisa aura penyihir putih. Sepertinya mereka lebih dari satu orang. Tapi..... ada sedikit campuran aura agung di sana. Siapa gerangan yang berkunjung ke Trexodia ? Apakah ini ada kaitannya dengan putranya, Pangeran Axel ? Mungkinkah itu Lord Kendrick ?


Ratu Elena menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia mencoba mengenyahkan dugaan-dugaan buruk yang akan terjadi. Lebih baik ia menemui suaminya saja.


Tapi ternyata Raja Alexander sedang rapat militer. Ratu akhirnya pergi ke kamar anaknya. Ia mengetuk pintu kamar sebelum masuk. Namun tak ada jawaban. Ia menatap pengawal dan pelayan yang berdiri di sisi pintu.


" Apa dia pergi ? " tanya Ratu.


" Mohon ampun Ratu, Pangeran belum keluar. Sedari tadi kami berdiri di sini " jawab pengawal.


Ratu mengerutkan alisnya. Ia membuka pintu dan melihat kamar kosong tak ada siapapun. Kamar mandi juga kosong. Tapi jendela terbuka. Ada bekas aura Axel di udara. Ratu yakin Axel mengetahui kejadian elang raksasa yang mengitari istana. Ia menghela nafas.


Setelah pulih kesehatannya, Axel terasa semakin jauh dengannya. Tak pernah lagi duduk mengobrol. Mereka juga jarang makan bersama. Ia selalu pergi diam-diam entah kemana.


" Maaf Ratu, apakah ada yang harus kami lakukan ? " tanya pelayan.


" Yah......... jika ia sudah kembali, beritahu aku "


" Baik Ratu "


Ratu Elena segera berlalu. Ketika melewati lorong sepi, Ratu menyamar jadi seorang pelayan. Lalu pergi keluar istana dengan mudah dan berubah lagi menjadi orang biasa. Ia berusaha mencari jejak Axel.


Sementara Rey berempat sedang sarapan di rumah makan kecil yang baru buka. Mereka menikmati sarapan dan kue-kue kecil wilayah Trexodia. Tak menyadari kepanikan di istana akibat penampakan elang raksasa.


" Zigaz..... nanti tolong temani nenek Wilma mencari saudaranya ya..... ? " kata Rey.


" Baik Nona " jawab Zigaz.


" Asgar, cari tahu siapa saja keturunan penyihir di kota ini selain keluarga istana. Kau bisa bertanya pada orang-orang yang sudah tua " kata Rey.


" Baik Nona "


Rey mengucap mantra merubah sedikit wajah Asgar agar tak ada yang mengenalinya. Ia juga memberikan kantong koin pada Asgar. Asgar menyimpannya pada cincinnya ( Fungsi cincin Asgar yang semula adalah pedang dan perisai, sudah dirubah Kendrick menjadi cincin penyimpanan segala macam ).


Mereka berpisah. Rey ingin berjalan-jalan di sekitar kota ini. Ia berjalan perlahan di pinggiran toko dengan gembira. Ia tak menyadari seorang lelaki tampan terpesona dan memperhatikannya dari seberang jalan.

__ADS_1


" Bungaaaa........... Bungaaaa............ Bungaaaaaaaaa............ !


 Ada mawar, anggrek, gardenia, aster dan lain-lain.......... Silahkan pilih untuk diberikan pada yang terpilih, terkasih, atau yang perlu penghiburan ( sakit / ditinggal mati ). Lima tangkai 1 perak.


  Silahkan dipilih, dibeli, dibawaaaaa....... Dijamin anda akan mendapatkan senyuman atau ciuman kebahagiaan.......


  Yo....yo.....yooooo......... " teriak penjual bunga penuh semangat di depan pasar.



Rey terus melangkah sambil melihat sekelilingnya. Banyak orang berlalu-lalang sambil membawa barang.


Tiba-tiba seorang pria tampan menarik tangan kanannya dan memberikan 5 tangkai mawar merah padanya. Lalu langsung mencium pipinya sekilas sebelum pergi.


" Cup.... ! "


" Ah...... ! "


Rey seketika tertegun. Lalu segera menghapus bekas kecupan pria tadi. Ia menoleh mencari pria tadi, tapi tak terlihat dimana pun. Rey kebingungan. Siapa...... ? Dia bukan Kendrick. Rey yakin itu. Ia mengenal bentuk tubuh dan baunya.


Rey menatap ke-5 mawar itu. Hatinya sama sekali tidak gembira karena ia tidak mengenal siapa pria tadi. Lagipula ia tidak suka diperlakukan seperti itu. Ia tak mungkin membuang mawar-mawar itu begitu saja. Bagaimanapun, mawar itu tidak bersalah.


Di kejauhan....... pria tampan tadi tersenyum lebar melihat Rey membagi-bagikan mawarnya pada 5 orang tua. Ia mengira Rey menyukai mawarnya sehingga membagi-bagikannya pada yang lain. Ia jadi tidak menyadari ada seorang wanita tua yang sedang mengamati dirinya.


Ketika pria itu hendak menoleh ke belakang, wanita tua itu menghilang. Pria itu seperti orang linglung. Ia kembali menatap ke depan, namun Rey sudah menghilang.


Lalu seorang gadis cantik menyapanya dengan suara yang dibuat semerdu mungkin dan tersenyum termanis.


" Pangeran Axel ..... ? "


Pria itu menoleh. Ia mendecak kesal ketika mengenali gadis itu.


" Tccck...... ! Thalia, jangan memanggilku Pangeran. Aku sedang menyamar " katanya sambil berjalan cepat ke depan.


Thalia setengah berlari menjajarinya.


" Pange, eh....... Axel, kau mau kemana ? "

__ADS_1


" Bukan urusanmu... ! "


Axel menghilang dan muncul di tempat lain. Thalia menghentakkan kakinya dengan kesal. Ia menoleh kesana-kemari dengan teliti. Akhirnya ia melihat Axel di kejauhan, kira-kira 100 langkah orang dewasa. Thalia segera menyusul.


Sedang Axel masih mencari keberadaan Rey. Dua orang wanita penghibur melihat kebingungan Axel. Mereka saling berbisik sebelum datang menggoda Axel.


" Hei....... Tuan muda...... Anda sendirian ? Kami bisa menemani dan menghibur anda. Tak perlu membayar, yang penting sama-sama puas....... " kata salah satu dengan suara mendayu-dayu. Axel hanya melirik mereka berdua dari atas sampai bawah.


Tiba-tiba Thalia menampar dan mendorong wanita yang merayu Axel.


" Plaaakkk...... ! "


" Aiiih...... ! " wanita penghibur itu terdorong mundur 2 langkah.


" Eh.... ! Apa-apaan kamu memukul dia ? " teman si wanita penghibur maju membela.


" Dia tunanganku. Jangan berani-berani menggoda dia, atau kalian aku cincang habis nanti ! " Thalia mengancam.


" Cizzz....... ! siapa takut ?! memangnya dia mencintaimu ? Lihat..... dia malah meninggalkanmu " tunjuk wanita penghibur itu ke arah belakang Thalia.


Thalia menoleh. Ternyata Axel tidak ada di situ. " Tccck...... ! "


Thalia segera pergi menyusul Axel lagi. Ia berlari sambil menjinjing gaunnya.


" Axeeel........ Axeeeeeell............. ah... ! "


" Bruuukk...... !! "


Thalia tersungkur ke depan. Kakinya tak sengaja menginjak gaunnya sendiri.


" Aiiih...... Kau tak apa-apa ? " tanya seseorang menolongnya bangun. Kedua telapak tangannya lecet karena menahan tubuhnya saat terjatuh. Thalia membersihkan kedua tangannya lalu meniup-niup agar rasa perihnya hilang.


Thalia menatap kagum gadis yang menolongnya. Sungguh..... wajahnya cantik dan cerah.


" Kau tak apa-apa ? " orang itu mengulangi lagi pertanyaannya


" Sayang..... Kau disini ? " Satu suara pria mengagetkan dua gadis itu.

__ADS_1


" Kau...... ?! " Rey terbelalak. Ia kembali gusar mengingat kejadian tadi. Pria inilah yang tadi berani mencium pipinya.


" Axel.... ? Kau mengenalnya ? " tanya Thalia gusar. Ia memandang bergantian Pangeran Axel dan nona yang menolongnya berdiri. Kalo tak salah dengar, tadi Axel memanggilnya dengan kata " sayang " ?! perasaan Thalia mulai mendidih.


__ADS_2