
" Asgar, pergilah mencari anak-buahmu sekitar 30 orang. Rey membutuhkan mereka untuk membantunya. Pastikan mereka berjiwa pemberani dan cerdik. Aku akan menggantikanmu disini sampai kau kembali " perintah Kendrick sambil memberikan sekantong koin emas.
" Baik, My Lord " Asgar mendekat untuk menerimanya. Jari telunjuk Kendrick menyentuh kalungnya sehingga bercahaya sekejap.
" Kau bisa melakukan teleportasi dan telepati dengan memegangnya. Namun kau harus selalu mengingat seberapa besar kekuatan yang ada padamu " jelas Kendrick.
" Saya mengerti, My Lord " Asgar menunduk sebelum pergi.
Perampok dan anak buahnya melongo menyaksikan interaksi Penguasa Abadi dan Asgar. Bukankah itu... luar biasa ? ...... Kendrick tersenyum melihat reaksi mereka.
" Apa kalian semua sudah makan pagi ? " tanyanya.
" Be... belum, My Lord " jawab seseorang. Namun ia disikut temannya.
" Yang Mulia, panggil Yang Mulia... " bisik temannya. " Eh...iya....Yang Mulia " ulangnya.
Kendrick tersenyum. Ia menyuruh orang itu mendekat. Memberikan sekantong uang perak.
" Belilah makanan dan minuman secukupnya " kata Kendrick.
" Asyiiiikk......eh, maaf.... iya My Lord, eh....Yang Mulia " jawabnya sambil menampar mulutnya sendiri saking gugupnya. Temannya segera menjitak kepalanya. Mereka pergi bersama.
" Siapa ketua kalian ? " tanya Kendrick.
" Hamba, Yang Mulia " seorang yang berbadan besar datang mendekat.
" Panggil aku seperti Asgar memanggilku. Siapa namamu ? " Kendrick mengulurkan tangannya.
" Zacko, Yang M.... My Lord " jawabnya menunduk. Entah mengapa Zacko merasa tak sanggup menatap Penguasa Abadi. Tangannya gemetar ketika dipegang Kendrick. Ia terkejut melihat ada pendar cahaya ditangannya.
" Apakah kamu tahu siapa leluhurmu ? " tanya Kendrick.
__ADS_1
" Hamba tidak tahu My Lord. Orang tua hamba membuang hamba sejak bayi " jawabnya menunduk.
" Sebenarnya mereka tidak membuangmu. Ayahmu berasal dari Astraco. Ia menikah dengan perempuan biasa dari Trexodia. Ayahmu terbunuh iblis saat melindungi ibumu yang akan melahirkanmu. Dan ibumu juga terluka oleh iblis, hanya bisa bertahan satu bulan setelah kelahiranmu. Seseorang kakek tua memeliharamu sampai berumur 5 tahun. Setelah itu kau terpaksa hidup sendiri tanpa mengetahui semua itu " Kendrick menceritakan riwayat hidup Zacko.
Zacko seketika menggigit bibirnya, mencoba menahan tangis saat mendengarnya. Ternyata ia telah berprasangka buruk pada orang tuanya selama ini, menuduh mereka membuangnya.
" Kamu beruntung bisa bertahan hidup sampai sekarang. Sayang sekali kamu tidak ingat masa kecilmu. Kamu sering menyerang kakek yang memeliharamu saat kamu nakal " kata Kendrick.
" M...maksud Yang M... My Lord ? " Zacko bertanya bingung.
" Kamu punya elemen tanah. Pergilah ke halaman belakang. Cobalah belajar mengontrol tanah dengan menggunakan energi dan pikiranmu " suruh Kendrick.
Zacko melongo menatap Kendrick. Ia tak percaya mengetahui dirinya punya elemen tanah ? anak buahnya mendekat dan memberi semangat.
" Ketua....cobalah....."
" Ya..... Kami ingin melihatnya " Mereka bersorak, mendorongnya menuju halaman belakang. Mereka meninggalkan pekerjaannya ingin menyaksikan kemampuan ketua mereka.
Zacko memejamkan matanya. Ia mencoba membentuk bola tanah. Dibukanya matanya, ia terbelalak. Ditutupnya lagi matanya, ia membentuk kotak. Anak buahnya bersorak. Zacko melihat tanah berbentuk kotak kecil ditangannya.
Ia berjongkok mengumpulkan banyak tanah, lalu membentuk pedang ditangannya. Ia melompat kegirangan. Semua bertepuk tangan. Kendrick tersenyum.
( Pusatkan tenagamu pada pedang agar tidak terpecah saat bertarung ) kata Kendrick dengan telepati. Zacko melotot saat mendengar suara seseorang diotaknya. Ia menoleh ke arah Kendrick yang tersenyum dan mengangguk.
Digerak-gerakkannya pedang pasir itu. Seorang anak buahnya berinisiatif melawannya. Itu Greg, ia memegang pedang baja. Zacko sungguh harus berkonsentrasi penuh untuk yang pertama kali menggunakan pedang tanah. Kendrick membantunya diam-diam.
Mereka bertarung cukup lama sampai Zacko menyerah. Nafasnya tersengal-sengal, namun ia tertawa senang. Semua orang bertepuk tangan. Mereka berebut menepuk bahu Zacko.
Kebetulan dua orang yang disuruh membeli makanan dan minuman datang. Mereka segera membagikannya dan makan bersama di halaman. Mereka sangat gembira mempunyai ketua keturunan penyihir.
Setelah makan mereka kembali meneruskan tugasnya di ruang senjata. Sementara Kendrick terus melatih Zacko di halaman belakang. Tekad kuat dan rasa gembira Zacko membuatnya mudah dilatih.
__ADS_1
Menjelang sore Kendrick berpamitan kembali ke Astraco. Ia mengingatkan Zacko agar tetap waspada dan selau menyalakan obor di tiap lorong. Zacko memanggil 2 anak buahnya, ia menyuruh membeli makanan dan camilan untuk malam nanti. Uang yang diberi Lord Astraco masih cukup banyak.
Mereka juga diwajibkan mandi sebelum makan malam agar tidak bau badan. Asgar sudah membelikan masing-masing 15 pasang baju dan celana. Juga keperluan lain. Tak satupun dari mereka berani menolak, lagipula tak ada alasan. Hidup mereka sudah pasti terjamin. Bahkan mereka tidak ada yang berani mencuri tumpukan kantong emas diatas meja Asgar. Bagi mereka sekarang, harga diri lebih tinggi dari emas.
Zacko memastikan tidak ada lagi anak-buahnya yang berada diluar. Lalu mereka menutup gerbang dan pintu. Kemudian mulai menyalakan setiap obor. Setelah itu mereka duduk bersama sambil menunggu saat makan malam. Mereka masih membicarakan tentang kekuatan baru ketua mereka.
Di penginapan, Rey mengisi waktu dengan terus berlatih. Hari ini ia malas keluar. Kendrick sudah menyuruh orang untuk mengantarkan makanan Rey sepanjang hari ini.
Sementara Asgar berhasil menemukan 2 mantan anak buahnya di toko pakaian. Mereka barusaja mengantar kiriman kain. Dari mereka Asgar tahu dimana saja mantan anak buahnya tersebar. Mereka menawarkan diri untuk membantu menemukan teman-teman mereka dan meminta Asgar kembali saja, menunggu di markas lama. Asgar berterima kasih.
Hari sudah hampir gelap saat Asgar sampai di markas lama. Namun karena gerbang sudah ditutup, ia memacu kudanya cepat-cepat kembali ke penginapan. Tepat saat sampai di penginapan, pintu hampir saja ditutup.
Asgar segera berteriak " Tungguuuu.....! "
Petugas penginapan melihatnya dan membantu menyimpan kuda ke kandang. Asgar meminta makanan pada petugas penginapan karena ia tak sempat membeli makanan. Sedangkan hari sudah gelap. Lalu ia makan bersama beberapa orang disitu sambil berbincang ringan.
" Harga mantel sekarang mahal ya, dan pembuatannya lama, padahal aku harus segera melanjutkan perjalanan " kata seorang pedagang.
" Ya.... senjata yang kupesan juga lumayan mahal. Tapi memang aku memesan yang agak rumit sih... " ujar seorang pemburu rusa.
" Hei... janganlah menggerutu. Itu semua sebanding dengan keselamatan kita. Bagaimana jika kita tidak selamat hanya karena tidak bisa melindungi diri kita sendiri ? Siapa yang mau dimangsa iblis ? " kata seorang tua.
" Ya..... tapi bagaimana dengan kata peramal itu ? " tanya seseorang.
" Peramal yang mana ? " tanya lain lagi.
" Peramal yang bilang tentang Gadis Takdir ? " tanya si pemburu rusa.
" Bukan ...... tentang gerhana matahari " sahut si pedagang.
" Jangan khawatir, aku yakin Gadis Takdir akan menyelamatkan kita. Yang penting kita juga tetap menjaga diri sendiri dan keluarga. Selama masih ada iblis dan penyihir hitam, sebaiknya jangan keluar malam " saran Asgar.
__ADS_1