
Pagi ini aura terasa berbeda. Di penginapan orang-orang sudah ramai ingin lekas pergi ke toko senjata WACKO. Padahal pemilik toko dan si tua Brandon malah ketiduran saat membahas rancangan senjata. Akibatnya pintu tokonya digedor-gedor dari luar ketika mereka sampai di tokonya yang masih tutup.
Pemilik toko terkejut dan bangun, ia melihat banyak orang diluar tokonya. Segera dibangunkannya pak tua Brandon.
" Brandon.....Brandooon....... cepat bangun ! Lihatlah diluar banyak orang " pemilik toko menggoyang-goyangkan bahu pak tua Brandon. Pak tua Brandon membuka matanya dan juga terkejut melihat keluar. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya sambil berjalan ke pintu, lalu membuka kuncinya.
Orang-orang itu berebut masuk dan saling berteriak mendahului.
" Aku mau kapak perak "
" Aku juga "
" Aku pedang saja "
" Tidak, lebih baik tombak saja, itu bisa dilempar dari jauh "
" Bagaimana dengan panah dan busur ? Apakah harganya terlalu mahal ? "
" Tuan-tuan, tolong tenang.... Saya Waldo, penerus toko senjata ini. Katakan ada apa ini ? " tanya pemilik toko.
" Kami mendengar seseorang berhasil melawan iblis menggunakan senjata perak. Kami juga ingin mendapatkannya. Berapa harganya ? " ujar seseorang.
" Ah ya, dia tuan Asgar. Dialah yang menyarankan agar kami membuat dan menjual senjata dari perak. Akan saya jelaskan. Mengenai harga, itu tergantung dari berapa banyak bahan perak yang diperlukan. senjata tidak bisa perak murni, jadi harus dicampur dengan bahan lain agar keras. Dan tentang lama waktu pembuatan, itu tergantung dari model senjata apa yang tuan-tuan pesan. Jadi, pikirkan dahulu senjata apa yang sesuai dengan kemampuan anda masing-masing "
Mereka mulai bergumam.
" Jika tuan-tuan sudah yakin akan memesan senjata apa, silahkan berbicara pada tuan Brandon " kata pemilik toko melanjutkan.
Segera orang-orang mulai berbaris mengantre.
Tentu saja keributan itu memancing perhatian orang-orang yang lewat, membuat mereka tertarik dan masuk. Toko itu jadi terasa gerah...
* * * * *
__ADS_1
Asgar dan Rey berjalan melewati pertokoan. Mereka tersenyum kecil melihat toko senjata yang penuh orang. Rey menatap kipasnya sejenak. Tiba-tiba seorang berjubah hitam menabrak Rey dari belakang. Untung saja Asgar menahan lengannya sehingga tidak sampai terjatuh. Tapi ternyata bukan cuma seorang yang berjubah hitam. Mereka adalah sekelompok orang berjubah hitam yang berjalan tergesa-gesa. Kira-kira berjumlah tiga puluhan.
Rey menatap Asgar. Asgar mengangguk mengerti. Tapi sebelum Asgar melangkah, Rey mengubah baju mereka menjadi jubah hitam juga. Asgar dan Rey sama-sama menyeringai. Lalu mengikuti mereka paling belakang. Kelompok ini memasuki lorong diantara rumah-rumah dan masuk ke sebuah bekas gudang. Ruangan tampak gelap, tidak ada penerangan apapun. Pada akhirnya mata mereka dapat menyesuaikan penglihatan dalam gelap.
Asgar melirik Rey dan terkejut. Cepat tangannya yang besar menutup dahi Rey.
" Nona, dahi anda bersinar, tutupilah dengan saputangan atau apapun " Asgar berbisik pelan sekali.
Rey terbelalak kaget. Cepat-cepat diambilnya sapu tangan dari saku gaunnya. Namun tetap ada pendar yang tertahan. Untungnya mereka berada paling belakang. Rey menarik tudungnya menutupi dahi dan terus menunduk. Asgar memperhatikan ke depan.
Lalu berbisik pada Rey " Nona, lebih baik anda pergi saja, biar aku yang tetap disini "
Rey mengangguk dan mundur lagi ke belakang, lalu menghilang (teleportasi).
" Siapa itu ?! " terdengar suara menggelegar. Satu sosok berjubah hitam melesat cepat melewati mereka semua. Ia berdiri di bekas tempat Rey terakhir menghilang. Asgar menahan nafas sejenak. Penyihir itu memandangi mereka satu-persatu. Lalu menatap kearah arah luar gudang. Terdengar bisik-bisik beberapa orang.
" Maaf ketua, apa yang anda cari ? " tanya salah satu dari mereka.
" Bodoh, apa kalian tidak tahu ada penyusup diantara kalian ?! " bentaknya dengan marah.
Namun ia diam masih memikirkan yang baru saja terjadi. Apakah itu hanya penyihir lain ? Ataukah gadis takdir ?
" Ketua ......... ? " seseorang memberanikan diri bertanya.
" Katakan padaku bagaimana keadaan di istana " jawabnya gusar.
" Penguasa kegelapan masih belum keluar dari ruangannya. Kami tidak tahu apa yang sedang dilakukannya " kata seseorang.
" Apa belum ada kabar tentang Gadis Takdir ? " tanya ketua penyihir lagi.
" Belum ada, ketua. Namun kemarin ada kejadian iblis dikalahkan sepasang suami istri dari desa. Katanya mereka menginap di penginapan kota. " ujar yang lainnya.
" Apa mereka juga penyihir ? " tanyanya antusias.
" Tidak ketua, mereka hanya orang biasa saja yang kebetulan melakukan perjalanan. Sepertinya iblis itu terbakar karena terlalu lama berada dibawah sinar matahari " sahut yang lain lagi.
__ADS_1
" Iblis bodoh ! " katanya sambil menyeringai lebar.
Tiba-tiba bekas keranjang kayu yang ada disekitar gudang berjatuhan, lalu melayang kesana kemari. Membentur siapapun yang tidak sempat menghindar. Kepanikan terjadi
" Aaah.......! "
" Awaaass ........! "
" Cepat minggir ......! "
" Aduh ...! "
Asgar cepat membuka pintu dan berlari keluar, yang lain segera berebut mengikutinya. Tampak beberapa dari mereka berdarah mengalami luka di kepala atau tangan. Dan itu mengundang kehadiran maut. Mereka tak menyadari kedatangan asap hitam di sekitar mereka.
Asgar melihat ada tiga kumpulan asap hitam yang masih samar-samar. Asgar segera menepi, menyelinap pergi dengan hati-hati. Sementara asap hitam tampak mulai jelas. Ketua kelompok itu ternganga melihat tiga kumpulan asap hitam.
Ia menunjuk namun mulutnya terasa kelu " A.... A........... "
Yang lain melihat ke arah yang ditunjuk.
" Aaaaaaah.......... itu ibliiiiisss....... awaaass........ "
Terlambat..... !
Iblis itu menyerang para penyihir dengan brutal. Mereka mencoba mengisap darah yang keluar dari luka-luka penyihir. Namun tentu saja para penyihir itu tidak membiarkan iblis menyerap darah mereka. Mereka melawan dengan mantra-mantra. Sementara mereka berjuang melawan iblis asap, penyihir yang mereka sebut sebagai ketua ternyata adalah seorang pengecut yang egois. Ia berlindung diantara yang lain tanpa mau membantu.
Asgar berlari cepat diantara lorong rumah. Ia berhenti sebentar dan segera melepas jubah hitam itu. Kemudian menyembunyikannya diantara tumpukan barang-barang di samping rumah seseorang. Dan berjalan dengan tenang keluar dari lorong.
Sementara Rey menunggu Asgar di kedai roti, menikmati teh dan cemilan. Rey sudah mengirim telepati pada Asgar untuk menemuinya di kedai roti. Seorang tua berjubah putih yang duduk dimeja lain, memandang Rey dari tadi. Ia merasakan aura yang tak biasa pada Rey. Dicobanya mengirim angin kecil pada Rey
" Wuuuss..... "
Angin itu mengacak rambut Rey sehingga berantakan. Rey segera menyisir rambutnya dengan tangan, ia pura-pura tidak tahu tentang angin itu dan melanjutkan makan cemilan.
Kakek tua itu penasaran. Ia mencoba memikirkan cara lain lagi. Matanya melihat lukisan kecil yang tergantung di dinding samping Rey. Tangannya menggerakkan angin sedemikian rupa agar lukisan itu jatuh menimpa Rey.
__ADS_1
" Syut ...! "