
Rey tahu seseorang mendekatinya dari belakang. Bukan cuma seorang malahan, lebih tepatnya 3 orang. Salah satunya datang berdiri menjajarinya.
" Apa yang terjadi disini, Nona " tanya Asgar menatap kekacauan yang terjadi.
Dilihatnya dua orang tergeletak dengan mulut mengeluarkan darah. Kondisi mereka sekarat. Dua orang dibelakang Asgar mengintip, mereka tercengang melihat kondisi orang-orang tersebut. Mereka menebak orang-orang yang bertarung itu luka dalam. Sebenarnya bukan cuma luka dalam saja, namun ada racun asap dalam bola energi mereka sehingga menyebabkan sekarat ( kematian lambat namun menyakitkan ) .
" Mereka berebut hal yang tak perlu " jawab Rey santai. Asgar menyeringai miring.
" Mengapa kamu kesini Asgar " tanya Rey.
" Sebenarnya kami mau membeli barang-barang yang diperlukan, Nona. Tapi kami mendengar ledakan saat lewat dekat sini. Jadi kami hanya ingin tahu " jawab Asgar.
" Oh... lihatlah....... sekarang banyak orang yang datang. Ayo pergi ! " Rey melangkah diikuti 2 orang. Asgar berada disisinya.
" Asgar... dimana mereka tinggal ? " tanya Rey.
" Kebetulan mereka membeli bekas markas saya, Nona. Rencananya mereka akan membuka Biro Pengawal Perjalanan " jawab Asgar.
" Baguslah.... " Rey mengangguk-angguk.
Lalu mereka berpisah satu-satu sesuai tugas belanja masing-masing dan Rey kembali ke penginapan ( sambil memikirkan sesuatu ). Ia berniat akan berlatih mengumpulkan energinya sambil menunggu Asgar kembali.
Di dalam kamar, Rey duduk termenung. Ia memikirkan rencananya membakar istana. Ia harus pastikan penyihir dan iblis itu tidak ada yang lolos dari sana. Jika ia mengurungnya dengan bola cahaya, maka itu butuh kekuatan yang sangat besar. Ia tak mungkin melibatkan Kendrick secara langsung. Destraco pasti akan mengincarnya.
Haruskah ia meminta tolong para tetua Astraco ? Jika ia meminta tolong pada mereka, lalu bagaimana dengan Astraco sendiri ? Apakah ada cara lainnya ? Sepanjang waktu ia memikirkan cara yang lain sampai tidak sadar tertidur di kursi dengan kepala di atas meja.
Sementara Asgar dan para perampok sibuk mengerjakan tugas yang diperintahkan Rey. Mereka membuat banyak obor dan peledak besar atau kecil. Mengikatkan peledak-peledak kecil di ujung panah. Asgar membelikan mereka makanan dan minuman berlimpah. Ia melarang mereka untuk sementara tidak mempekerjakan pekerja rumah tangga sampai proyek ini selesai. Masing-masing sudah disumpah untuk menyimpan rahasia agar tidak menyebabkan kepanikan rakyat dan kaburnya penyihir atau iblis. Asgar juga memesan senjata dari perak dan jubah perak sederhana untuk mereka masing-masing.
Malam ini mereka istirahat dengan tenang. Dua orang menjaga obor agar jangan sampai mati atau mengenai bahan peledak. Dan dua lagi berjaga di sekitar senjata rakitan. Asgar duduk bersila di pojok ruangan. Seperti biasa pada malam hari selalu ada suara aneh atau gemuruh tanda penyihir dan iblis berkeliaran di luar.
Dari Astraco, Kendrick menghilangkan auranya dahulu sebelum mengunjungi Rey. Dilihatnya Rey tertidur dengan kepala dimeja. Diangkatnya dan dibaringkannya di kasur. Namun Rey terbangun.
__ADS_1
" Kendrick... "
" Hmmm..... "
Rey duduk bersandar di tempat tidur. Kendrick menarik kursi mendekat.
" Apa yang sedang kau pikirkan " tanya Kendrick.
" Aku berniat membakar istana sebelum gerhana matahari.. Namun bagaimana caranya agar mereka tidak kabur ( terbang ) saat hal itu kami lakukan. Energiku tidak akan cukup membuat bola cahaya yang besar. Dan aku tidak bisa membagi perhatian jika Destraco tiba-tiba menyerang.
Apakah... apakah para tetua bisa membantuku ? " tanya Rey hati-hati.
" Mereka bisa saja membantumu membuat bola cahaya itu. Namun tenaga mereka juga diperlukan untuk melindungi Astraco. Bagaimana jika kau menyuruh orang-orang Asgar menggunakan perisai-perisai perak yang diarahkan pada penyihir yang kabur. Jangan risaukan yang terlanjur lolos. Mereka bisa diatasi lain hari. Fokusmu adalah membakar istana, jangan sampai tertangkap Destraco. Ia bisa menyamar jadi apa saja.
Cobalah membuat dirimu tidak terlihat atau menyatu dengan sesuatu, itu bisa mengelabui mata dan hidung Destraco. Jangan lupa setelah menyatu kamu harus segera menghilangkan auramu. Hati-hatilah, pada saat itu kekuatanmu berada di titik nol. Jangan membuat kesalahan " jelas Kendrick.
" Bagaimana caranya ? ajari aku " Rey menatap penuh harap.
" Berdirilah di samping meja sambil memejamkan mata, cobalah memahami seluruh tubuhmu. Lalu ingat-ingatlah bentuk meja ini keseluruhannya. Jika sudah, tanamkan di pikiranmu bahwa keadaanmu sekarang seperti udara kosong. Bayangkanlah tangan dan kakimu menjadi tiang meja ini, sementara badanmu menjadi mejanya.
Jangan lupa pikiranmu harus tetap tenang dan fokus saat merasakan perubahan. Jika sudah selesai segera hilangkan auramu, namun tetap waspada dan belajarlah mengumpulkan energi secara cepat dan tiba-tiba untuk kembali menjadi dirimu sendiri jika penyamaranmu ketahuan " Kendrick membimbing pelan-pelan.
Sepanjang malam Rey melatih perubahan dan kecepatannya hingga menjelang pagi. Karena lelah, Rey tertidur di pelukan Kendrick. Kendrick mengangkatnya lalu membaringkannya di tempat tidur.
Ia menunggu hingga hari terang. Lalu ia pergi menemui Asgar dengan berjalan kaki sebagai orang biasa. Kendrick melihat sudah ada plang dengan tulisan yang ditutupi. Ia bertanya pada 2 orang yang berjaga di gedung itu.
" Apa Asgar ada di dalam ? Aku ingin bertemu dengannya " ucap Kendrick.
" Kau siapa ? " tanya salah satu curiga.
__ADS_1
" Namaku Kendrick " jawabnya santai. Segera salah satu masuk memanggil sementara satunya mengawasi Kendrick.
" Tuan Asgar... diluar ada seseorang mencarimu. Namanya Kendrick " lapornya.
Asgar tertegun sejenak, lalu seketika bangkit setengah berlari keluar. Beberapa yang lain terkejut dan ikut berlari dibelakangnya. Sampai di teras Asgar segera berlutut di hadapan Kendrick.
" My Lord "
Tentu saja para perampok yang berlari dibelakangnya berhenti tiba-tiba dan saling jatuh menimpa.
" E...eh.....! "
" Awas.....! "
" Aiyaaah....! "
Kendrick tertawa melihat mereka menumpuk seperti karung beras. Ia mengulurkan tangan menolong salah satu. Asgar dan satu penjaga juga ikut menolong. Mereka segera berlutut bersama.
" Bangunlah " ujar Kendrick.
" Silahkan masuk, My Lord " kata Asgar. Kendrick berjalan berdampingan dengan Asgar. Ia melihat-lihat pembuatan peledak, panah dan lain-lainnya. Kemudian duduk di bangku kecil.
" T...tuan Asgar, dia siapa ? " bisik seorang perampok disampingnya. Yang lain menyendengkan telinganya menunggu jawaban. Asgar tersenyum kecil.
" Beliau adalah Penguasa Abadi, Yang Mulia Kendrick Astraco " jawab Asgar tenang.
" A...Apa.......?! " seketika mereka terperangah, tak sadar saling berpegangan. Tampak terkejut dan gemetar. Tentu saja mereka mengetahui tentang cerita Kerajaan Abadi. Negeri cahaya yang tak pernah terlihat mata biasa. Penduduknya semua bisa sihir sekalipun seorang pelayan. Jadi ternyata itu adalah kebenaran ?
Raja Alexander adalah seorang yang dipilih oleh Kerajaan Abadi untuk memimpin negara TREXODIA, negara asal mereka. Dikatakan istrinya adalah seseorang yang berasal dari sana dan menguasai sihir petir.
Jadi bagaimana tentang Asgar ? Apakah dia juga bisa sihir ? Bukankah ia adalah mantan Ksatria HIGRESIA ? Para perampok itu menatap Asgar dan bertanya-tanya dalam hati.
__ADS_1
Asgar terkekeh geli. Ia tahu apa yang mereka pikirkan, namun ia sengaja pura-pura tidak tahu. Membiarkan mereka penasaran sendiri.