GADIS TAKDIR

GADIS TAKDIR
110. Mulai Bertarung


__ADS_3

Jadi sebenarnya kau mencintai ayahku ? " satu suara yang sarat kemarahan mengagetkan Terra yang melamun. Terra mendongak dan mendapati laki-laki yang berdiri dihadapannya adalah Destraco. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri.


" Kau bahkan benar-benar mencarinya " Destraco tersenyum sinis.


" Jadi selama ini kau menipuku ? Lalu apa maksudmu menyuruhku membunuh Astraco ? "


" Des..... Destraco.......... "


" Kau menjanjikanku akan menjadi yang terkuat ? Atau sebenarnya kau sendiri yang ingin menjadi penguasa ? "


" Destraco, jangan salah paham. Aku menyayangimu "


" Bohong.... ! Kau hanya mencintai ayahanda. Kau meracuni ibunda. Kau menyuruhku membunuh Astraco. Jangan-jangan kau juga menginginkan kematianku...... " tatap Destraco tajam.


" Tidak, Destraco.... aku.... "


" Kau bahkan rela tidur dengan tetua itu "


Mata Destraco begitu sinis menatap Terra. Terra terbelalak mendengarnya.


" Da... darimana kau tahu ? "


" Hhhhh...... ****** menjijikkan ! "


" Syukurlah jika kandunganmu rusak "


" Apa..... ? Jadi kau yang membunuh anakku ? Kau sungguh jahat Destraco.... ! " Terra terisak.


" Bukankah kau yang mengajariku jadi jahat ? Apa kau menyesalinya ? "


" Kau.... "


" Bagaimana jika aku menuang darahnya di altar itu ? "


" Darah..... ? Darah siapa maksudmu ? "


" Kau tahu yang kumaksud. Aku akan jadikan dia boneka hidup untuk melawanmu "


" Tidak, Destraco..... jangan..... tolong lepaskan dia "


" Dia siapa ? Aku punya beberapa tawanan yang berarti untuk dijadikan boneka ? Kau pilih yang mana ? "


" Destraco, aku mohon. Lepaskan Outter. Ia berguna bagi kita "

__ADS_1


" Tentu saja, ia adalah mata-mata kerajaan selama ini. Di dalam ia seorang tetua, tapi diluar ia adalah pemuas nafsumu "


" Dengarkan aku, Destraco. Outter akan mengambilkan gelang cahaya untukmu. Itu sama dengan kekuatan tak terbatas milik gadis takdir, sabarlah sedikit "


" Ha..ha..ha..ha....... gelang cahaya ibunda ? Benda itu bahkan memilih tuannya sendiri. Ayahanda saja tak dapat menyentuhnya, apalagi anjing ja**ng milikmu "


" Apa...... ? "


Terra menatap tubuh Destraco yang berubah menjadi samar-samar dan hilang.


" Tunggu Destraco, jangan pergi.... ! "


Suasana hening. Terra kebingungan menatap sekitarnya. Ada sesuatu yang terasa aneh dengan udara di sini.


( " Asgar.... Berusahalah untuk menahan udara di sekitar Terra. Lakukan dengan amat perlahan dan hati-hati. Dan ingat, jangan bergerak atau bersuara " )


( " Baik, Nona " )


( " Zigaz.... bisakah kamu menyelam ke dalam danau jiwaku ? berjagalah disana " )


( " Baik, Nona " ) tubuh Zigaz masuk kedalam ruang dimensi. Ia melompat ke dalam danau jiwa dan berubah menjadi ikan.


Butiran cahaya muncul didepan Terra, berjarak 10 langkah. Terra menyipitkan matanya untuk memastikan apa yang akan muncul. Tapi Rey sengaja memperlambat kemunculannya untuk memancing emosi Terra. Tadi Rey sudah mengacau perasaan Terra sekaligus mencari tahu tentang siapa Terra dengan mantra halusinasi. Ternyata ia mempunyai hubungan dengan tetua Outter.


Sebenarnya Rey sedikit was-was berhadapan dengan Terra secara langsung. Terra sudah menjadi licik selama ribuan tahun. Mampukah Rey menyelamatkan jiwanya demi takdirnya ?


( " Nona, percayalah anda akan baik-baik saja " )


Aah.... suara bijak terdengar dikepalanya. Membuatnya tersenyum semangat.


Perlahan bentuk tubuhnya terlihat. Gaun putih dengan kep cantik berhias bintang-bintang perak.


" Gadis Takdir.... ! " Terra mendesis. Hatinya sakit melihat gadis cantik dihadapannya. Seandainya ia berhasil mendapatkan darah gadis-gadis, pastilah ia lebih cantik mempesona. Matanya tak sengaja menatap gelang ditangan Rey. Mulutnya terbuka lebar.


" Kau.... kau mencuri gelang itu ?! " Terra menunjuk pada tangan Rey.


" Kembalikan padaku, itu milikku... ! " teriak Terra.


Rey tertawa halus.


" Ambillah, jika kau bisa "


Terra melesat ke arah Rey. Rey bergeser tepat saat Terra hampir menabraknya. Terra kebablasan 3 langkah. Ia berbalik hendak menjambak rambut Rey, namun sekali lagi Rey menghindar.

__ADS_1


Terra berdiri marah. Dari tubuhnya keluar kabut kematian ( siapapun yang menghisap kabut ini akan sekarat tanpa kematian, hidupnya tergantung/koma panjang ).


Asgar yang melihat itu menguraikan kabut dengan cepat, memisahkan partikel udara sehingga racunnya jatuh ke tanah. Ia tidak terlihat karena sihir Rey.


( " Terima kasih Asgar... " )


Terra memukul Rey dengan petir. Rey menangkap ujung petir itu dan mengembalikan sengatan ke tangan Terra.


" Aaah.... ! " Terra mundur. Tangannya terasa panas. Terra mengeluarkan cambuk jiwa. Ia mengarahkannya ke tangan Rey yang terdapat Gelang Cahaya.


Rey tersenyum. Dibiarkannya cambuk itu mengambil gelangnya. Terra cepat-cepat menangkapnya dan memasangnya di tangan kanan.


" Ha..ha..ha..ha.... akhirnya aku menjadi yang terkuat. Ha..ha..ha..ha.... "


Terra tertawa bangga. Hatinya girang bukan main.


Namun sebentar untuk kemudian ia terdiam. Pergelangan tangannya terasa seperti digigit. Ia menatap gelang itu, masih bercahaya. Tidak ada yang aneh Tapi......


" Aaah..... ! " Rey menyerangnya. Tubuhnya tertusuk banyak jarum angin. Jarum angin itu segera kembali jadi udara setelah mengenai sasaran.


Terra menyentuh gelang cahaya. Ia mengucapkan mantra. Kemudian kedua tangannya mengeluarkan bola cahaya. Bola cahaya itu terpecah dan mengenai dirinya sendiri.


" Aouch...... ! Si***an.... ! "


Terra mengira ia salah membaca mantra. Dicobanya lagi membuat serangan cahaya. Kali ini cahaya itu seperti cakram. Dilemparkan ke arah Rey. Rey hanya berdiri santai. Cakram cahaya itu hanya melingkarinya dan kembali kepada Terra.


" iisshh.... ! " Terra terkejut dan kembali melemparnya. Namun cakram itu memang tidak mau menyentuh Rey.


" Ini kenapa sih...... ! " Terra melemparkan cakram ke tanah. Ia menatap Rey yang masih berdiri tenang. Kembali dirasakan sengatan di pergelangan tangannya.


Terra menatap gelang cahaya itu, ia curiga gelang itu menyerangnya. Ditatapnya Rey yang tersenyum miring. Terra membalas tersenyum miring. Gelang ini pasti sudah diberi tanda darah oleh gadis takdir. Jadi karena sekarang Terra yang memakainya, maka ia haruslah memberi tanda kepemilikan.


Cepat digigitnya ujung jari tengahnya dan menggoreskan darah ke gelang cahaya. Seketika cahayanya menyala terang dan berubah menjadi api.


" Aaaah.......... Apiiii........... Toloooong......... "


Terra menepuk-nepuk api itu supaya padam. Namun tentu saja sia-sia. Susah payah Terra menarik lepas gelang itu dan melemparnya ke arah Rey dengan maksud membakar gaun Rey.


Tapi gelang itu berhenti sejenak dan masuk ke pergelangan tangan kiri Rey. Apinya lenyap berubah menjadi cahaya kebiruan.


Terra sangat marah karenanya. Tangannya terasa panas dan perih. Bagian pergelangan tangannya melepuh terkena api. Benar seperti yang dikatakan Destraco, gelang itu memilih sendiri tuannya. Ia menatap Rey penuh kebencian dan iri hati. Aura hitam menguar dari tubuhnya. Baunya sedikit busuk.


Terra melesat cepat menyerang Rey. Ia mengarahkan cakar iblis ke dada Rey. Rey menghindar. Cakar Terra menyerempet lengannya, merobek baju dan kulitnya. Terra menyeringai remeh. Cakar iblis sama dengan cakar kematian, mengandung racun dahsyat.

__ADS_1


Rey juga sama-sama menyeringai. Gelang cahaya memendarkan cahaya kebiruan. Menyembuhkan lukanya diam-diam.


__ADS_2