GADIS TAKDIR

GADIS TAKDIR
178. Alegro Xidaceo


__ADS_3

Rey melayang masuk ke danau jiwa. Zigaz segera mengikuti tanpa bertanya. Rey merasakan ada pergolakan di dalam danau. Mungkinkah Asgar sudah sadar ?


Terlihat di bawah Asgar sedang berlatih dengan air. Rey menahan Zigaz. Rey merasakan air untuk memeriksa keadaan fisik Asgar, dia sudah baik-baik saja.


Rey saling melirik dengan Zigaz dan menyeringai. Rey berubah menjadi belut penyengat ( belut listrik ), sedang Zigaz menjadi ikan ganas besar ( hiu ). Mereka melesat ke arah berbeda namun tujuan sama, menguji Asgar.


Seekor ikan besar bergigi tajam mengelilingi Asgar. Asgar melirik waspada. Ia sedikit heran mengapa Nona Rey memelihara ikan buas di sini. Lalu ia teringat kasus Terra. Mungkin ikan ini berfungsi sebagai penjaga danau. Jika begitu, maka Asgar tak boleh melukainya.


Ikan itu membuka mulutnya lebar-lebar dan bermaksud menggigit kaki Asgar. Asgar menghindar sambil menendang sisi ikan itu. Ikan itu terpental agak jauh. Asgar sendiri juga terdorong ke belakang. Seekor belut melintas santai.


Ekornya melambai memancing Asgar untuk menangkapnya.


" Bzzzt.... ! "


( " Aah..... ! " ) Asgar terkejut karena tangannya tersengat. Ia memelototi ikan belut itu. Sungguh Nona Rey menaruh para penjaga yang kejam. Samar-samar Asgar melihat belut itu seperti tersenyum ? Atau memang mulutnya lebar..... ?


" Buukkk.... ! "


Asgar terhuyung-huyung ke depan. Ikan besar itu menabrak punggungnya. Dan lagi, Asgar juga melihat mulut ikan itu seperti tersenyum....



( " Ha..ha..ha..ha..... " )


Matanya terbelalak heran melihat kedua hewan air itu tertawa bersama. Sekejap kemudian mereka berubah menjadi Rey dan Zigaz....


( " Ah...... Nona Rey , kakek Zigaz..... " )


( " Kakek gundulmu.... ! " ) Zigaz memukul ringan kepala Asgar.


( " He..he..he..he...... " ) Asgar memeluk Zigaz dengan senang. Zigazpun menepuk-nepuk bahu Asgar.


( " Bagaimana keadaanmu ? " )


( " Baik.... bagaimana dunia luar ? " )


( " Banyak yang kau lewatkan.... Ayo naik " )

__ADS_1


Mereka bertiga berenang ke atas. Lalu turun ke daratan dan makan apel bersama. Seekor tupai berlari terburu-buru ke arah mereka. Asgar menangkap tupai kecil itu sebelum menabrak Rey yang duduk makan apel.


Tupai itu mencicit pada Rey. Rey tersenyum. Ia membelai tupai itu.


" Ibu itu sudah bertemu dengan anaknya. Jika kau kesepian, aku akan mencarikanmu teman, atau kau ingin bebas di luar ? "


Tupai itu diam. Ia berpikir di luar banyak bahaya. Sedang disini hidup aman dan banyak apel. Ia mencericit lagi, memohon tetap tinggal disini dan minta teman.


" Baik.... Aku akan mencarikan beberapa hewan untuk mengisi dunia jiwaku " kata Rey.


Tupai itu senang mendengarnya. Ia mengambil apel di rumput dan menggigitnya.


" Nona, waktu itu penyihir itu juga menyerang Nona, bukan ? " tanya Asgar.


" Ya petirnya menyambar punggungku. Tapi itu bertepatan saat aku masuk ke dimensi. Jadi aku selamat. Aku menunggu dia pergi sebelum menyelamatkanmu "


" Yah..... dia punya elemen api, petir, angin ..... "


" Dia penyihir putih, tapi berbeda dengan Odex " sela Zigaz.


" Kekuatannya sedikit dibawah Lord Kendrick. Tapi sebelumnya, ia berada di atas kekuatan Nona Rey. Namun karena ledakan aura Kekuatan Cahaya Suci mengenai inti kekuatannya. Lord Kendrick bilang itu akan cacat selamanya " jelas Zigaz.


" Kekuatan Cahaya Suci ? apa itu ? " Asgar bertanya serius.


" Kekuatan cahaya yang berasal dari bulan purnama suci setiap 1000 tahun sekali "


" Oh............. "


Rey mengubah Zigaz menjadi lebih muda.


" Ayo kita ke pesta muda-mudi " ajak Rey.


" Yuuuuuukk........... "


Mereka muncul di dekat kediaman walikota karena kebetulan tempat itu yang terakhir diingat Rey. Hari sudah gelap. Terdengar suara musik di lapangan kota.


Kedatangan dua cowok tampan dan satu gadis cantik mengundang perhatian banyak orang. Rey berdiri dekat memperhatikan para gadis menari sesuai irama. Seorang gadis yang melihat Rey segera menariknya masuk ke antara mereka. Para pemuda mengiringi dengan musik, tepuk-tangan dan menyanyi.

__ADS_1


Semua itu tak luput dari pandangan Alegro dan para pengawal walikota. Ia mengenakan jubah bertudung hitam. Menahan diri untuk tidak mengacaukan tarian tradisional malam ke tujuh.


Ditatapnya Rey yang tersenyum gembira bersama para gadis. Seharusnya ia ikut bergabung dengan para muda-mudi. Namun rambutnya yang terbakar separuh membuatnya enggan menampakkan diri. Ia tahu pasti yang lain akan mencemoohkannya. Atau yang lebih buruk, tidak terpilih mendapatkan pasangan menari. Jadi lebih baik ia menunggu muda-mudi itu selesai.


Lalu selanjutnya akan digantikan orang dewasa yang membawa pasangannya masing-masing. Diiringi pria duda sebagai pemain musik dan janda wanita sebagai penyanyi. Ini adalah tradisi keakraban turun-temurun kota Porton. Sebab malam hari-hari biasa tidak ada kegiatan.


Ketika tarian selesai, para muda-mudi segera menepi. Mengobrol sebentar atau berjalan-jalan dengan pilihan masing-masing. Beberapa pemuda meminta Rey untuk berkencan, tapi Asgar langsung menggandeng lengan Rey dan membawanya pergi. Zigaz menyusul di sebelah kiri Rey.


( " Nona, masuklah ke ruang dimensi. Alegro membawa beberapa pengawal " ) Zigaz memperingatkan.


Rey memegang kedua lengan para pengawalnya ( Asgar dan Zigaz ). Mereka menghilang tepat saat Alegro melesat ke arah mereka.


" Hhhhhh....... ! "


Alegro mengepalkan tangan dengan kesal. Ia tak suka digagalkan. Sedari kecil ia terbiasa mendapatkan keinginannya. Bahkan ayah angkatnya ( walikota) selalu mendukungnya. Apalagi setelah tahu bahwa Alegro bisa sihir. Alegro sering membantu pekerjaan ayah angkatnya.


" Cari dia, bunuh dua laki-laki yang bersamanya. Aku akan membuat dia menyesal telah menolakku " perintah Alegro. Nafasnya naik turun merasakan kemarahan di hatinya.


Rey, Asgar dan Zigaz muncul di tempat lain. Rey memutuskan merubah penampilan mereka menjadi nenek dan kakek. Ia duduk di kursi yang tersedia di pinggir lapangan.


" Asgar..... aku lapar...... "


Asgar segera pergi membelikan beberapa makanan dan minuman. Zigaz membantu membawakannya. Mereka duduk bersama yang lain. Beberapa pengawal walikota lewat seperti mencari seseorang. Tak lama Alegro juga lewat.


Asgar dan Zigaz saling melirik. Rey tak perduli dan terus mengunyah daging panggangnya dengan santai. Ia tak sadar justru hal itu membuat Alegro menatap curiga. Mana mungkin ada nenek-nenek makan daging panggang ? Bukankah giginya sudah pasti goyah ?


Rey hampir tersedak saat Alegro tiba-tiba berdiri di hadapannya. Zigaz hanya melirik, tapi Asgar langsung berdiri mendorongnya mundur.


" Anak muda, apa maksudmu berdiri menatap istriku yang sedang makan. Bukankah itu tidak sopan ? " Asgar menegur dengan suara layaknya kakek-kakek.


Alegro tersenyum mendengus.


" Kalian tidak bisa menipuku " katanya berusaha menyingkirkan Asgar. Tapi kenyataannya Asgar tidak bergeming sedikitpun. Ia adalah mantan Ksatria Higresia. Berdiri kokoh adalah prinsip wajib kemiliteran.


Alegro menatap kesal pada Asgar. Ia langsung mengarahkan tangannya ke dada Asgar. Asgar tidak menghindar, tapi memasang perisai angin tepat di depan dadanya.


" Braakkk..... ! "

__ADS_1


__ADS_2