
Keributan di gubuk Garet terdengar sekitarnya. Bahkan teriakan istrinya begitu menyayat ......... seperti terjadi sesuatu padanya. Beberapa wanita yang mendengarnya segera mendatangi gubuk Garet.
Mereka langsung masuk sambil bertanya,
" Garet, ada ap aaaaaaaah............... " mereka berebut keluar secepatnya. Garet hanya melotot marah melihat mereka keluar.
" Garet membunuh istrinyaaaaaaa............. ,
Garet membunuh istrinyaaaaaaa............. ! " seorang dari wanita itu berlari sambil berteriak keras ke gubuk besar.
Ia langsung mendorong pintu sambil berteriak.
" Ketuaaaa............. ! Garet membunuh istrinya........... Garet membunuh istrinyaaaaaaa............. " lalu wanita itu terduduk lemas di depan Tiffa. Tiffa hanya menatapnya sambil mengerutkan alisnya. Semalam ia sudah tak bisa tidur karena harus mengurus Cretta yang terus mengigau dengan badan panas. Dan sekarang, apa lagi.... ?
" Ada apa.... ?! " Izabel membentak wanita itu dari belakang Tiffa.
" Ga.... Garet membunuh istrinya............. " jawabnya dengan nada lemah.
Izabel tertegun. Namun ia cepat melangkah keluar sambil menarik tangan Tiffa. Mereka berjalan cepat menuju gubuk Garet. Namun ternyata sudah banyak orang yang datang kesana. Dan Garet tampak sedang mengacung-acungkan goloknya.
Beberapa lelaki berusaha menegurnya.
" Garet...... ! taruhlah golokmu. Tolong dulu istrimu. Nanti keburu mati "
" Biar saja dia mati. Dia sudah berani melawan aku ! "
" Iiissh....... Kau sudah tak waras.... ! "
" Apaaa ...... ?! Berani kau bilang aku tak waras ?! Apa kau juga ingin mati ?! "
" Wuuusss....... Plaaakkk !! "
Garet terpelanting saat Izabel muncul dihadapannya dan langsung menamparnya. Semua terdiam terkejut. Kekuatan ketua sungguh hebat. Hanya menampar saja sudah membuat Garet terhempas.
Garet bangun dan menatap garang pada Izabel. Ia maju ke depan Izabel seolah mengukur tinggi badan, lalu mundur dua langkah sambil menyeringai.
Tiba-tiba ia melompat sambil menebaskan goloknya. Izabel menghindar dan menghindar lagi sebelum kakinya menendang bahu Garet.
__ADS_1
" Kau berani melawanku, Garet ?! " dada Izabel naik turun menahan marah.
" Ha..ha..ha..ha.... siapa takut padamu ? Kau hanya perempuan tak berguna di desa ini. Kerjamu hanya bisa berteriak dan menyuruh kami ini itu. Bagaimana mungkin kau jadi pemimpin kami kalau bukan karena kakekmu yang memilih ?
Seandainya kamu laki-laki, mana hasil buruanmu...... ? Lalu sebagai perempuan, mana hasil tanganmu ( menenun kain adat ) selama ini....... ?
Hhhhhh, tidak ada kan ? " kata Garet panjang lebar.
Semua yang hadir mengangguk-angguk. Mereka mulai sadar bahwa Izabel tak ada apa-apanya sebagai pemimpin. Mereka saling berbisik-bisik tidak puas. Mereka lupa bahwa Izabel terpilih karena menguasai ilmu hitam ( sihir campur ) warisan leluhurnya.
" Garet benar....... Ketua bisa apa ? Bahkan ketika sakit pun dia minta obat pada nenek Wilma " ucap Karel.
" Ya, bukankah leluhur mengerti semua ramuan ? Apa jangan-jangan ia begitu bodohnya hingga tak tahu ? "
" Aku tidak bodoh..... ! " Izabel mulai emosi.
" Hhhhhh....... ! Lalu apa keahlianmu ? " tanya Barze sinis.
" ............... "
Semua orang menatap Izabel yang menatap marah.
Tiffa maju menendang Garet dari samping. Garet terhuyung ke samping sedikit.
" Tiffa.... ! " Karel yang melihat itu berteriak marah dan maju menyerang Tiffa.
Yang lain ikut maju menyerang. Jadilah Izabel dan Tiffa melawan orang-orangnya sendiri. Mereka semua sudah terpengaruh asap pemancing kemarahan yang menyebar sedari tadi sehingga tidak ada rasa takut lagi.
Broma dan Denma mendengar keributan itu. Mereka diam-diam mengintip dari celah dinding gubuk.
" Apa yang terjadi ? mereka berani melawan ketua "
" Apa ketua salah menuduh ? "
Broma dan Denma saling pandang, tak tahu harus bagaimana. Mereka memang pelakunya, tapi mereka juga tak tega membiarkan seseorang tertimpa kesalahannya.
" Kita harus membantu mereka. Kau bilang semua lelaki tak suka pada ketua " kata Denma
" Ya..... tapi kau tahu ketua punya iblis di tubuhnya. tak mungkin memang melawan dia "
__ADS_1
" Kita serang bersama ! "
Broma menatap Denma ragu. Denma ke dapur mengambil senjata dan memberikannya pada Broma. Lalu menggandengnya keluar. Mereka segera bergabung dengan yang lain.
Rey, Asgar dan Zigaz segera meluncur mendengar bunyi pertarungan. Mereka melihat Izabel dan Tiffa bertarung melawan semua penduduk desa yang laki-laki. Sementara yang wanita mengelilingi arena pertarungan.
( " Zigaz.... Pergilah ke gubuk ketua, bunuh Cretta. Hati-hati dengan iblis ditubuhnya. Biarkan iblis itu menyusul ke sini dan membantai yang lain supaya kita tidak terlalu keluar tenaga untuk membersihkannya nanti " )
( " Baik Nona " )
Zigaz melayang menuju gubuk besar. Ia masuk mencari Cretta. Dilihatnya Cretta sedang mengigau tak karuan. Zigaz hinggap di kayu tulang gubuk ( bagian atap ).
Ia meletakkan kedua tangannya di bola pelindung, merasakan pergerakan udara di sekitarnya. Ketika sudah tahu posisi tubuh Cretta, Zigaz berpikir dulu, bagian mana yang mudah tapi langsung membunuh. Jika bagian kepala, itu akan menyebabkan Cretta tersadar dan membuat kehebohan. Belum lagi masalah iblisnya.
Akhirnya Zigaz memilih bagian jantung. Ia lebih konsentrasi meraba letak jantung ( dengan "tangan" udara, Zigaz memegang tubuh Cretta untuk merasakan pergerakan darah ke jantung ). Ini memang hal sulit. Itu sebabnya Rey menugaskan Zigaz. Jika Rey yang disini, Asgar atau Zigaz mungkin masih akan mengganggu konsentrasinya dengan pertanyaan jika ada kesulitan di tempat lain ( pertarungan ).
Zigaz menemukan posisi jantung. Ia mengambil nafas sambil menatap Cretta dan tersenyum kecil. Dipejamkannya matanya agar lebih konsentrasi membunuh jantung Cretta. Ia akan menghancurkan bagian jantung dalam 5 hitungan.
10, 9, 8, 7, 6, ....... mata Cretta terbelalak lebar. Ia merasa sesuatu terjadi pada jantungnya. Namun itu hanya sekejap. Belum sempat ia melawan, ia sudah tak bernyawa. Matanya masih terbelalak tak percaya.
Zigaz tetap menatap waspada ke arah Cretta. Pandangan mata Cretta sudah kosong. Tapi ada sesuatu dalam tubuh Cretta yang terbangun ( iblis ).
Mula-mula jari tangannya, kemudian kaki. Lalu Cretta mulai duduk dan berdiri. Pergerakan Cretta layaknya mayat hidup yang dikuasai iblis ( zombie ). Cretta berjalan terpatah-patah dan akhirnya berlari keluar.
( " Nona, Cretta sudah jadi mayat hidup " )
( " Hmmm........ kemarilah....... kita menonton hiburan " ) sahut Rey. Mereka berada di atas atap gubuk Garet.
Cretta berlari ke arah pertarungan. Ia langsung memukuli dan menendang para wanita yang berada di belakang.
" Plakk.... ! Aah.... ! "
" Buukkk..... ! Aduh..... ! "
" Duukkk..... ! Aaah..... ! "
Wanita-wanita yang melihat Cretta mengamuk segera balas mengeroyoknya. Karena tubuh Cretta dikuasai iblis, maka tenaganya melebihi mereka meski dikeroyok. Ia tidak merasakan sakit pada tubuhnya. Jadi ia terus memukul dan menendang siapa saja, bahkan juga menggigit tanpa ilmu hitam. ( Ini berbeda dengan manusia setengah iblis, yang masih hidup ).
Zigaz melayang hati-hati ke arah atap gubuk Garet. Ia mengamati pertarungan dengan seksama. Izabel dan Tiffa sangat tangguh, apalagi di bawah pengaruh asap pemancing kemarahan, semakin garang. Namun orang-orang juga semakin buas, sehingga tak perduli lagi keadaan tubuh yang banyak luka, terus saja bertarung.
__ADS_1