GADIS TAKDIR

GADIS TAKDIR
108. Mengamati TERRA


__ADS_3

Itu belati sihir... ! Bagaimana bisa Quidro mempunyai belati sihir ? Lalu mengapa belati itu tidak dicabut ? Tak mungkin tangannya tidak sampai ke punggung untuk mencabutnya. Rey menyimpan banyak pertanyaannya dalam hati.



Sosok itu menurunkan tudung jubahnya dan membalikkan tubuhnya. Wajahnya sedikit rusak. Kulitnya keriput. Mungkin ia kurang darah ( bukan anemia lho.... ). Itulah penampakan wajah penyihir Terra. Ia menatap Rey.


" Hu...huuuu........ Hu...uuuuu......... " Rey berbunyi seperti burung hantu.


Terra berjalan cepat. Sepertinya ia hendak mencari mangsa. Rey heran mengapa ia tidak terbang seperti penyihir umumnya ? Ia diam merasakan pergerakan Terra di dalam hutan.


( " Zigaz.... bisakah kau mengikutinya agak jauh ? Jangan menghalangi apapun yang dia lakukan. Lihat saja " ) perintah Rey.


( " Baik, Nona " ) Zigaz melompat dari pohon ke pohon.


( " Asgar, pantau gerakan dan posisi Terra lewat udara. Aku akan masuk ke dalam altar " ) kata Rey.


( " Baik, Nona. Hati-hati.... " ) jawab Asgar.


Rey merubah dirinya jadi tak terlihat. Ia segera masuk lewat celah di meja altar. Menuruni 10 anak tangga ada ruangan kecil Ia mengaktifkan cahaya didahinya. Dilihatnya sekeliling ruangan itu. Hanya ada pembaringan dan meja kecil.


Rey melihat ada bekas darah di pembaringan. Di meja sebuah buku sihir bersampul hitam dengan tulisan kuno warna merah yang berarti " DARK MAGIC " . Rey membuka halaman pertama berisi daftar :


- Kejayaan


- Awet muda


- Keabadian

__ADS_1


Rey membalik setiap halaman dengan cepat. Buku itu berisi cara-cara licik dan mantra jahat. Ia tersenyum kecil. Rey memegang buku itu dan mengucap mantra peniru. Ia mengisi setiap lembarnya dengan tulisan tak berguna. Lalu diambilnya cermin pembakar dan diarahkannya ke buku asli sambil membaca mantra. Buku sihir itu tersedot masuk kedalam cermin dan terbakar habis.


Sementara Zigaz masih mengamati Penyihir Terra yang menuju desa TROWE. Zigaz heran karena dari tadi terlihat Terra hanya berjalan cepat, bukan terbang. Bukankah semua penyihir bisa terbang ?


Penyihir Terra berhenti di pinggir desa TROWE. Ia menggeram marah melihat seluruh desa itu terang bahkan sampai bagian belakang. Padahal ia bermaksud membantai laki-laki yang sudah menusuk punggungnya dengan belati sihir.


Belati itu membuat ia tidak dapat menggunakan sihirnya dengan sepenuhnya karena ia menyerap sebagian kekuatannya. Bahkan untuk mencabutnya saja Terra tidak kuat.


Terra berjalan di belakang setiap rumah menghindari obor. Ia mencoba mendengar percakapan yang ada. Namun kebanyakan penghuninya masing-masing sudah beristirahat.


Dengan kesal ia kembali ke hutan. Zigaz diam bersembunyi diantara daun.


( " Nona, Terra kembali " ) kata Zigaz dan Asgar bersamaan.


Rey yang mendengar telepati mereka segera keluar dari reruntuhan lalu terbang ke pohon disisi tebing. Tak lama Terra kembali dan berteriak penuh kemarahan di dekat reruntuhan kuno. Ia duduk di altar berusaha menarik belati dipunggungnya dengan susah payah. Cukup lama ia berjuang sambil berteriak keras. Pada akhirnya belati itu tercabut dari punggungnya dengan meninggalkan luka yang semakin panjang.


( " Apa kau mengenalinya, Zigaz ? " ) tanya Rey.


( " Ya, Nona. Mungkin ia salah satu keturunan Gazan " ) jawab Zigaz mengambil belati dan menyimpannya dalam kalung CRONOS.


Lalu ia segera berlari ke pohon. Namun sesuatu menyergapnya begitu cepat, sampai Zigaz tak sempat berteriak. Ia sudah berada di dalam ruang dimensi bersama Asgar dan Rey.


Rey cepat merenggut kalung Zigaz dan melemparkannya ke danau di ruang dimensi. Asgar dan Zigaz melongo. Rey mengacungkan tangannya ke arah danau sambil menggumamkan mantra.


Tak lama kalung Zigaz dan belati itu melayang ke arah Zigaz. Zigaz menerimanya dengan bingung. Rey memberi isyarat telunjuk di bibir, kemudian mengeluarkan cermin pelihat. Ia menyentuh mata Asgar dan Zigaz.


Mereka sama-sama melihat cermin. Tampak sekitar reruntuhan diselimuti kabut hitam ( beracun ). Rupanya Terra menyadari pergerakan Zigaz sehingga mengirim serangan kabut racun dari hutan. Rey tak sempat mengingatkan Zigaz. Ia melesat cepat menyelamatkan Zigaz dan Asgar lalu bersembunyi di ruang dimensi. Kalung Zigaz yang berisi belati bekas darah Terra ia lemparkan ke dalam Danau Jiwa untuk " dibersihkan ".

__ADS_1


" Lain kali bersihkan dulu darahnya sebelum menyimpan senjata " tegur Rey sambil memberikannya pada Zigaz.


" Maafkan saya, Putri "


" Hmmm..... istirahatlah. Biarkan Terra menikmati kesialannya. Kita terpaksa menginap dalam ruang dimensi "


Rey merebahkan diri di rerumputan. Asgar dan Zigaz pun ikut merebahkan diri.


Sementara Terra meraung marah karena tidak dapat menangkap siapa yang mengambil belati itu. Ia juga tidak dapat melacak jejak darahnya yang ada di belati sihir. ia melesat kesana kemari tanpa hasil. Ia yakin musuhnya kabur dengan menggunakan teleportasi.


Hutan terasa sunyi menyeramkan. Terra kembali ke hutan mengambil buruannya. Ia mencabik-cabik rusa itu dengan penuh emosi. Darah rusa itu tidak terlalu disukainya. Ia lebih suka darah gadis muda atau bayi merah. Selain lebih lezat dan murni, bisa meningkatkan kekuatannya.


Hari ini dia sudah kehilangan separuh kekuatannya karena tertusuk belati. Dan juga kehilangan darah karena terluka. Terra menggeram. Sia-sia saja ia mendapatkan darah seorang gadis jika akhirnya terluka dan separuh kekuatannya terserap belati.


Terra terpaksa mencari satu rusa lagi untuk diambil darahnya. Besok ia akan mencoba mencari mangsa gadis muda atau anak kecil.


Menjelang pagi seorang laki-laki warga TROWE pergi ke kebunnya. Ia hendak mengambil beberapa sayur sesuai pesanan istrinya. Ia membawa keranjang pikul dan obor. Tak sengaja kakinya tersandung akar pohon dan ia terjatuh. Obornya terlempar agak jauh dan segera padam. Namun matanya masih bisa melihat jalan setapak. Ia memanggul kembali keranjangnya dan meneruskan berjalan.


Sekelebat bayangan berhenti didepannya. Seorang nenek dengan wajah rusak menyeringai padanya. Lalu tangannya terulur merenggutnya, menggigit lehernya.


" Aaaah.......... " Laki-laki itu hanya bisa mengerang pelan tak berdaya. Ia teringat dengan apa yang terjadi pada putri Quidro kemarin pagi. Rasa takutnya membuat ia tak berani melawan.


Kira-kira 15 hitungan Terra melepaskannya. Laki-laki itu ambruk tanpa daya. Terra tersenyum sinis. Ia melesat pergi. Laki-laki itu hanya bisa melirik kepergiannya. Ia menyesali kebodohannya, ketakutannya, kehidupannya. Sekarang ia hanya bisa menikmati waktu yang tersisa. Tidak yakin masih adakah harapan hidup baginya.


Hari mulai terang. Seorang wanita berada di dapur sambil mengomel.


" Xenjo kemana sih kok lama sekali. Hanya mengambil asparagus dan abalon saja kok belum kembali. Apa jangan-jangan ia ketiduran ? " wanita itu mengelap piring-piring yang sudah dicuci.

__ADS_1


__ADS_2