
Rey menarik nafas panjang. Ia memejamkan mata untuk merasakan apakah ada lagi iblis di sekitar sini. Namun ia cepat-cepat masuk ke dimensi saat merasakan kedatangan si pertapa tua. Ya, Rey mengenali aura penyihir tersebut.
Ternyata pertapa tua itu belum pergi dari kota Malto. Kedatangannya kesini karena tertarik dengan keberadaan iblis tadi. Ia bermaksud menjadikannya sebagai pelayan. Ia menengok ke kanan dan ke kiri dengan heran. Kemana iblis itu ? Apakah ia iblis tingkat tinggi hingga bisa mengetahui kedatangannya dan menghilang dengan cepat ?
Pertapa tua itu memperhatikan sekitarnya. Ada kantong plastik makanan yang tergeletak di teras rumah depannya. Ia memeriksanya. Ada bekas jejak anak kecil.
Oh..... jadi iblis itu memangsa anak kecil ini dan lari menghindarinya ? Pertapa tua itu tersenyum miring. Ia akan mencarinya sampai ketemu dan menjadikannya pelayan.
Sementara Rey melayang di dalam ruang dimensi mencari anak kecil itu. Ia melihatnya sedang duduk memakan apel-apel yang berjatuhan. Anak kecil itu berlari menyongsong dan segera memeluknya saat Rey mendarat. Rey tersenyum membelai kepalanya.
" Siapa namamu, nak ? " tanya Rey
" Alto " jawabnya mendongakkan kepalanya.
" Ceritakan padaku apa yang terjadi padamu " kata Rey.
Alto menarik tangan Rey ke arah pohon apel. Mereka duduk sambil makan apel. Alto menceritakan tentang iblis itu dan keluarganya. Rey merasa sedih karena terlambat mengetahuinya. Ia menghela nafas menahan air matanya.
" Aku akan membawamu ke rumah nenek. Disana ada Angel. Kamu akan tinggal bersama mereka. Jadilah anak baik, hmmm ? " kata Rey. Alto mengangguk.
Rey bangkit memunguti apel-apel itu. Ia menaruhnya di gaunnya seperti kantong. Alto tertawa dan membantu memunguti apel-apel itu. Lalu Rey memegang bahu Alto dan membawanya keluar dari dimensi.
Mereka muncul di depan rumah nenek. Ini sudah larut malam. Rey mengetuk pintu dan memanggil nenek.
" Tok...tok...tok....... Nenek.... ini aku, Rey "
Terdengar suara anjing menggonggong di dalam rumah.
" Tok...tok...tok....... Nenek.... ini aku, Rey "
Terdengar suara langkah seseorang. Ia membuka pintu dan mengintip. Anjing itu ikut mengintip sambil menggoyang-goyangkan ekornya. Rey meringis kecil. Nenek terbelalak gembira.
" Rey.... Oh sayang..... apa kabar.... ? " nenek memeluknya sebentar lalu menengok ke bawah karena ada yang mengganjal.
__ADS_1
" Astaga.... Ha..ha..ha..ha... " mereka tertawa bersama. Nenek membantu memegangi gaun Rey sambil menariknya masuk. Alto mengikuti dan menutup pintu. Anjing kecil itu berputar-putar gembira dan kadang menciumi kaki Rey dan Alto.
Mereka duduk bersama di karpet ruang tengah. Nenek ke dapur untuk mengambil keranjang buah. Rey membimbing Alto ke kamar mandi untuk cuci muka tangan dan kaki. Ia sudah menyihir baju Alto menjadi bersih. Mereka kembali ke ruang tengah. Nenek sudah memasukkan semua apel ke dalam keranjang.
" Nenek, ini namanya Alto. Ayah, ibu dan adiknya dibunuh oleh iblis. Ia akan tinggal bersama nenek dan Angel di sini " kata Rey.
Nenek tersenyum lebar dan membentangkan kedua tangannya. Alto mengerti maksudnya. ia bangkit dan memeluknya. Nenek memangkunya sambil membelai kepalanya.
" Jadi mulai hari ini kamu akan jadi cucu nenek. Kamu akan punya adik perempuan bernama Angel di sini. Jangan bersedih lagi ya... ? " hibur nenek.
Alto mengangguk dan menyembunyikan mukanya di dada nenek. Nenek mengusap-usap punggungnya.
Rey membaca mantra di tangannya lalu memegang kepala Alto. Seketika Alto mengantuk. Untuk sementara ia akan lupa dengan keluarganya agar tidak bersedih. Suatu saat ingatannya akan kembali sendiri jika ia sudah kuat.
" Nenek..... aku tak bisa berlama-lama di sini. Masih banyak iblis yang harus ku urus. Jaga diri dan anak-anak ya... " Rey mencium dahi nenek sebelum menghilang.
Nenek menghela nafasnya. Sebenarnya ia masih rindu pada Rey, apalagi Angel. Tapi ia tahu bahwa tugas Gadis Takdir amat banyak dan berat. Tak apalah, yang penting Rey selalu selamat dan baik-baik saja.
Nenek bangkit menggendong Alto yang tertidur. Ia membawanya ke kamar di sebelah kamar Angel dan membaringkannya pelan-pelan. Lalu mengecup keningnya dan menutup pintu. Besok pasti akan sedikit ramai karena ada 2 anak kecil dan anjing kecil di rumah ini. Nenek berencana membuat pie apel untuk mereka.
Saat makan pagi Rey mengajak Asgar berkemas. Mereka masih berpenampakan sebagai kakek nenek. Hari ini akan melanjutkan perjalanan ke kota berikutnya, Moxard.
" Kek, hari ini kita akan berangkat ke kota berikutnya " kata Rey pelan.
" ...... ? apakah keadaan sudah aman ? " tanya Asgar (maksud Asgar adalah apakah sudah tidak ada iblis lagi di kota ini untuk ditangani).
" Ada yang membawa mereka jalan-jalan ke kota lain " jawab Rey.
" Uhuk...uhuk..... " Asgar tersedak supnya. Rey menepuk-nepuk punggungnya.
" Pelan-pelan kek.... Kau sudah tua, tak usah buru-buru.... " Rey tersenyum geli. Asgar melirik sambil menghela nafas.
Setelah makan mereka segera berangkat. Kira-kira 90 hitungan waktu mereka sudah memasuki kota Moxard. Banyak orang berlalu-lalang. Hiasan dari kertas dan bunga bergantungan di tali yang menyilang kesana-kemari.
__ADS_1
" Ada apa ini.... ? seperti ada perayaan " kata Asgar.
" Baiknya kita mampir ke kedai untuk mencari tahu " jawab Rey.
Rey dan Asgar memilih masuk ke kedai yang ramai pengunjung. Banyak orang mengobrol sambil makan cemilan.
Rey dan Asgar duduk bergabung sambil mendengarkan pembicaraan.
" Ada acara apa sih nanti malam ? "
" Pernikahan putri walikota dengan orang kepercayaannya sendiri "
" Oh, ku kira dengan pengusaha kaya "
" Tidak ada yang mau, nona Katty sifatnya buruk, suka merendahkan orang dan menghambur-hamburkan uang "
" Dengar-dengar dia sudah punya kekasih di ibukota ? "
" Bukan begitu.... Dia menyukai seorang pria yang kebetulan lewat di kota ini sebulan lalu. Setelah diselidiki ternyata dia adalah Ksatria Asgar yang sedang mengawal Gadis Takdir. Walikota tidak berani dan memaksa putrinya menikah dengan Diego saja "
Rey melotot lucu pada Asgar, sementara Asgar hanya meringis lucu sambil menggaruk kepalanya.
" Bayangkan, pasti Nona Katty akan cemberut saja selama proses pernikahan "
" Ha..ha..ha..ha.... itu pasti "
" Jangan pedulikan itu. Yang penting kita nikmati pestanya "
" Ya, kita semua diundang datang. Walikota akan menyediakan cemilan dan minuman untuk umum "
Rey mengangguk pada Asgar. Mereka bangkit dan membayar. Kembali berkeliling sambil melihat keadaan.
" Apa menurutmu pertapa itu ada di kota ini ? " tanya Rey.
__ADS_1
" Saya tak yakin Nona, Tapi bisa jadi iya jika ada iblis sebagai anak buahnya atau gadis-gadis bodoh seperti di kota Blazein. Bukankah ia masih butuh kekuatan dan dukungan untuk melawan anda ? " jawab Asgar.
Rey teringat tadi malam pertapa tua itu berburu iblis di pinggiran kota Malto. Kali ini apa rencananya, Rey tidak bisa menebaknya. Ia berjalan tanpa tujuan.