
Proses itu berlangsung selama satu putaran jam pasir. Setelah selesai Rey bersandar di bahu Asgar untuk tidur. Ia tak perduli lagi siapa dan mahkluk apa saja yang muncul mengintai mereka malam itu. Asgar kadang-kadang membuka mata jika merasakan kehadiran sesuatu. Namun ia diam saja agar tidak menggangu tidur Nonanya. Lagipula mereka terlindungi kubah petir.
Ketika matahari sudah muncul, Zigaz datang membawa teh hangat untuk Rey. Sedang Asgar diberikan arak manis.
( " Kek..... darimana kau dapatkan arak manis ini ? " ) tanya Asgar heran.
( " Aku menyimpan sisanya di kalung dimensiku setiap makan di restoran. Ada terkumpul 3 guci penuh " )
Asgar dan Rey melongo. Zigaz meringis lucu.
( " Kalian ingin makan apa ? Aku akan berusaha mencarinya di hutan " ) tanya Zigaz.
( " Terserah, tapi pangganglah di dalam ruang dimensi agar baunya tidak menggoda hidung mereka " ) jawab Rey sambil menghilangkan kubah pelindung dan menghapus jejak aura.
Zigaz merubah dirinya menjadi burung dan segera pergi berburu. Hampir satu putaran jam pasir kemudian Zigaz kembali. Rey kembali membuat kubah pelindung agar bau rusa panggang tidak menyebar kemana-mana. Ia menyamarkan kubah itu sehingga terlihat seperti kumpulan semak-semak.
Selesai makan Zigaz masuk ke gubuk dan berpura-pura sibuk dengan tanaman obat yang akan dijemur. Beberapa penduduk wanita mulai keluar melakukan kegiatan.
Zigaz menggelar kulit binatang untuk menjemur beberapa tanamannya. Ia menajamkan pendengarannya untuk mendengarkan sekelilingnya. Kemudian ia duduk bersandar sambil mengamati sekelilingnya. Zigaz sedikit heran dari kemarin ia tak melihat anak-anak kecil atau orang tua ? Apakah mereka di dalam saja ?
Ketika matahari sudah agak tinggi, Cretta datang. Ia menatap nenek Wilma tanpa senyum.
" Mana mereka ? "
Nenek Wilma enggan menjawab, hanya menunjuk ke arah belakang gubuknya. Cretta masuk dan membuka pintu belakang gubuk. Ia hanya sekilas melihat keadaan Rey dan Asgar. Lalu langsung pergi tanpa pamit pada nenek Wilma.
Entah mengapa Zigaz ( nenek Wilma ) terus kepikiran tentang anak-anak dan orang tua. Ia bangkit dan menemui Rey. Ia berpura-pura mengurusi tanaman sayur sambil berkomunikasi dengan Rey.
( " Nona, bisakah Nona membuat kembaran diri Asgar ? " ) tanya Zigaz.
( " ........... ? Ada apa ? " )
( " Saya dari kemarin tidak melihat anak-anak dan orang tua. Utuslah Asgar memeriksa tiap gubuk mereka. Siapa tahu ada yang........... " ) Zigaz tak berani meneruskan tebakannya.
__ADS_1
( " Terlalu berbahaya untuk Asgar. Biar aku sendiri yang akan menyamar jadi tawon kayu. Ambilkan aku buah labu air itu " ) pinta Rey.
Zigaz segera membawakannya satu. Rey mengucapkan mantra. Berkas cahaya menyelimuti labu air itu. Perlahan buah itu membesar dan berubah bentuk serupa Rey. Rey mendudukkannya disamping Asgar.
( " Asgar..... tetaplah bersikap lesu seperti sakit parah. Aku akan mencari tahu keadaan setiap gubuk. Zigaz bilang tak terlihat anak-anak dan orang tua di desa ini. Aku akan menambahkan bau busuk lebih banyak agar mereka tak berani mendekat " )
Rey mengambil dua lembar daun dan memantrainya. Kemudian meletakkan di dekat Asgar dan Rey palsu.
( " Uih..... ! Nona........... bau sekali.... ! " ) Asgar menutup hidungnya.
Rey terkekeh dan menyentuh ujung hidung Asgar sambil mengucap mantra. Sekarang Asgar tak mencium bau busuk itu lagi. Lalu Rey mengucap mantra sekali lagi dan berubah menjadi tawon kayu. Kemudian pergi ke gubuk sebelah. Zigaz segera kembali masuk ke gubuknya dan menutup pintu.
Rey masuk ke bagian dapur. Ia hinggap dan mengamati sekitar. Lalu terbang sedikit mengintai ruang-ruang lain. Setelah dirasa tidak ada yang aneh, Rey terbang ke gubuk sebelahnya lagi. Begitu terus hingga sampai ke gubuk ke 5.
Di ruang depan sedang berkumpul para lelaki. Mereka masing-masing memangku kapak, tombak, busur dan lain-lain. Sepertinya mereka akan pergi berburu. Rey hampir meneruskan pengintaiannya pergi ke gubuk ke enam ketika terdengar mereka bicara tapi berbisik-bisik.
" Bagaimana ini Broma, para istri sudah tak mau lagi punya anak. Mereka selalu minum ramuan pengering rahim "
" Wilma bilang ia tidak pernah membuat ramuan itu. Itu rahasia para wanita desa ini dari zaman nenek leluhur "
" Tccck..... ! Ini semua gara-gara Izabel. Dia meminum darah anak-anak untuk menambah kekuatannya sendiri "
" Bukan hanya dia. Cretta dan Tiffa juga "
" Bunuhlah kalau kau berani lawan mereka "
" Iiissh...... Aku tak mungkin memang lawan mereka sendirian. Kalian bantu laaahh...... "
Mereka semua menggeleng-geleng tanpa daya. Lalu termangu diam berpikir masing-masing.
" Bagaimana mana kalau kita minta Wilma beri racun pada ramuan obatnya ? "
__ADS_1
" Ketua minum obat apa ? "
" Aku dengar ketua sakit tenggorokan. Kalian dengar kan suaranya seperti burung gagak ? "
" Ya.... sangat serak "
" Kawan, Wilma tak kan berani beri racun pada ketua. Dia juga takut mati.... ! "
" Begini saja, kita suruh istri kita masuk sana jika mereka sedang keluar "
" Lalu racunnya dari mana, apa kau tahu racun ? "
" Racun akar putih. Leluhur kita dulu pakai itu untuk membunuh ular sanca besar di hutan "
" Ya..... Itu benar. Gunakan itu saja. Istri kita pasti mau bantu. Mereka juga diam-diam membenci Izabel "
" Ya sudah, kita pergi berburu sekarang. Jika tidak nanti istri-istri akan menghukum kita "
Mereka bergegas bangkit dan bersama-sama pergi berburu. Rey menatap kepergian mereka dengan senyum misterius. Jadi...... jawaban tentang anak-anak dia sudah tahu. Dan tentang rencana mereka, sepertinya Rey akan sedikit ikut campur agar terjadi konflik. Dengan begitu ia hanya menyelesaikan bagian akhir saja.
Rey terbang melewati beberapa gubuk untuk mendekati gubuk terbesar milik ketua. Ia hanya memindai pergerakan udara di dalam gubuk besar. Memang agak sulit dan lama. Tapi Rey memang harus menghindari kewaspadaan lawan, terutama ketua desa penyihir. Kekuatannya bercampur dengan aura gelap iblis pemangsa. Itu sebabnya ketua selalu minum darah.
" Tiffaaaa........... ! Pergi ambil ramuan obatku pada Wilma. Minta lebih banyak ! " teriak Izabel.
Tiffa segera pergi ke gubuk nenek Wilma. Tampak nenek Wilma sedang membalik-balik tanaman dan akar-akaran di depan gubuknya. Gubuk nenek Wilma memang tepat berhadapan dengan arah matahari terbit. Jadi waktu penjemuran adalah pagi hingga siang saja.
" Wilma..... ! ketua minta obat lebih banyak "
Nenek Wilma menatap Tiffa.
" Tak boleh banyak-banyak..... Nanti ketua jadi mengantuk ..... "
" Jangan membantah ! Buatkan sekarang ! " bentak Tiffa, matanya melotot marah.
__ADS_1
Nenek Wilma mendengus sambil bangkit. Ia ke dapur dan menuang botol berisi cairan keunguan ke dalam cawan besar dan menambahkan air panas sedikit. Lalu memberikannya pada Tiffa.
Tiffa segera berlalu membawa cawan obat. Nenek Wilma tersenyum dalam hati dan kembali duduk dekat jemuran tanamannya. Tiffa memberikan cawan besar itu pada Izabel. Izabel meminumnya sampai habis.