
Axel sangat penasaran dengan nenek tua itu. Ia tidak dapat mengukur seberapa tinggi kekuatan sihir kedua orang tua itu. Namun aura agung mereka yang samar-samar itu membuatnya teringat akan kehadiran elang raksasa di atas istana.
Mungkinkah mereka ada kaitannya dengan elang raksasa itu. Jika begitu mereka adalah penyihir putih. Axel teringat ibunya. Ibunya berasal dari Kerajaan Astraco. Dan umurnya sekitar dua ratus tahun lebih....
Ia ingat, ibunya pernah menguji seseorang dengan mengirim tenaga berupa binatang. Axel membaca mantra. Ia mengingat-ingat bentuk nyamuk dan membentuknya di telapak tangannya. Lalu mengirimnya ke arah nenek tua itu.
" Ngiiiiiiinnngg.................. "
Nyamuk itu hinggap di punggung tangan Rey. Bersiap menancapkan alat hisapnya. Rey menatapnya sebentar, sedikit tersenyum miring, lalu menghalaunya. Nyamuk itu terbang pergi, namun berputar kembali hinggap di punggung tangan Rey.
Rey menghela nafas dan kembali menghalaunya. Zigaz mengerutkan alisnya. Ia mengarahkan kedua tangannya ingin memukul nyamuk itu.
( " Jangan pukul, Zigaz. Itu kirimannya. Axel ingin tahu kekuatanku " )
" Pergilah membayar makanan kita " kata Rey.
Zigaz tercengang sesaat tapi langsung bangkit menuju kasir.
Rey masih duduk menunggu. Dan nyamuk itu datang lagi, lalu cepat-cepat menusukkan alat hisapnya. Rey kesal karena itu berarti dia bermaksud mengambil darahnya . ( kekuatan ) walau sedikit. Dengan keras Rey menepuk nyamuk itu dan melindas sampai hancur.
Tampak Axel muntah darah dan meringis nyeri. Ia bahkan belum sempat mengetahui kekuatan ( mengisap darah ) nenek tua itu. Tapi dirinya sudah terpukul balik. Tubuhnya terasa dipukul keras dan dihancurkan selama dua hitungan. Sedang Rey hanya tersenyum miring melangkah keluar bersama Zigaz.
Axel mengelap darah yang keluar dari mulutnya. Ia segera membayar ( padahal belum sempat makan-minum ) dan teleportasi kembali ke istana. Kebetulan ada ibunya yang baru saja masuk ke kamarnya.
" Axel....... "
Ratu Elena melihat bekas darah di lengan baju Axel. Axel masuk lewat jendela dan duduk beristirahat di ranjang. Ratu Elena memegang bahunya dan mengerutkan alisnya.
" Siapa yang melukaimu ? Ada masalah apa ? " tanya Ratu tidak suka.
" Seorang nenek tua. Aku hanya bermaksud menguji Kekuatannya " jawab Axel tenang.
" .............., apakah dia ada di kota ini ? " tanya Ratu ingin tahu.
" Ya, sejak kemarin. Aku mengira dia ada hubungannya dengan elang raksasa yang pernah mengitari istana ini "
__ADS_1
Ratu menatap Axel cermat.
" Bisakah kau menunjukkan padaku dimana dia sekarang ? "
" Ibu cari saja sendiri, dia berkeliaran di pasar atau pertokoan "
" Apa yang dia cari ? " Ratu setengah bergumam.
Axel hanya mengangkat bahu. Ia merebahkan dirinya karena masih merasa pegal-pegal badannya. Ratu memegang bahu Axel untuk menyalurkan tenaga penyembuhan.
" Istirahatlah...... " Ratu segera keluar dan menutup pintu kamar. Ia merubah penampilannya dan menghilang. Lalu muncul di pasar kota. Matanya melirik ke kanan dan ke kiri, mencari penampakan nenek tua. Ia memeriksa aura sihir disekitarnya. Namun tidak menemukannya.
( " Axel..... Kau tadi bertemu nenek itu di mana ? " ) tanya Ratu.
( " Di kedai roti Robin " )
Ratu Elena mencari kedai roti Robin. Ia masuk berpura-pura membeli roti namun memeriksa jejak aura. Ia keluar dengan tidak mendapati sisa jejak aura. Hatinya mulai tidak tenang.
( Mungkinkah dia utusan dari kerajaan Astraco ? Tapi mengapa tidak menemuinya di istana ? Lagipula tetua Astraco semua adalah laki-laki, sedang yang dikatakan Axel adalah seorang nenek tua. Siapa.... ? )
Ratu Elena terus berjalan sambil mengamati orang-orang tua di sekitarnya. Ia benar-benar tidak menemukan jejak aura sihir di sekitarnya. Akhirnya ia duduk di bangku pinggir toko pakaian.
Sementara Rey berada tak jauh dari situ. Zigaz sedang berjongkok menyembuhkan laki-laki tua yang jatuh tersandung. Karena sudah tua, maka bagian lututnya retak terbentur trotoar keras ( paving jaman jadul terbuat dari pecahan batu yang ditata rapi )
" Terima kasih tuan...... " ucap orang tua itu setengah membungkuk. Zigaz dan Rey sama-sama mengangguk.
Orang tua itu melanjutkan berjalan hingga melewati Ratu Elena. Ratu Elena terkejut karena ada jejak aura agung di lutut orang tua yang baru saja lewat. Ratu berdiri hendak mengejarnya.
" Eh..... ! "
Ratu segera berbalik ke arah sebaliknya untuk mencaritahu siapa penyihir beraura agung yang telah menyembuhkan orang tua tadi. Ia berjalan tergesa-gesa melewati orang-orang. Dilihatnya sepasang kakek nenek berjalan santai di depan.
Ia terus mengikuti mereka sambil mengamati. Hanya saja Ratu tidak dapat melihat wajah mereka karena ia berada dibelakang menjaga jarak. Kedua orang itu memang samar-samar beraura agung ( sengaja ditekan habis ).
( " Nona, sepertinya ada yang mengikuti kita " ) kata Zigaz dalam telepati.
( " Hmmm....... tidak berbahaya. Tapi lebih baik kita berhenti sebentar untuk menanyakan maksudnya " ) jawab Rey.
__ADS_1
Rey dan Zigaz berhenti lalu menengok ke belakang. Rey mengenali penyamaran Ratu.
Ratu terkejut melihat mereka membalikkan badan dan menatapnya. Ia tertegun karena merasa mereka sudah tahu ia menguntitnya. Ratu akhirnya melangkah maju dan berhenti di hadapan mereka. Ia tersenyum mengangguk.
" Ehm..... Maaf saya mengikuti kalian diam-diam. Saya tidak bermaksud buruk. Saya hanya ingin tahu anda berdua siapa ? " tanya Ratu sopan.
" Kami berasal dari Cronos. Kami hanya ingin berjalan-jalan ke Trexodia " jawab Rey.
" Oh..... Apakah kakek dan nenek ada hubungannya dengan elang raksasa yang kemarin melintasi istana ? "
" Ya, Ratu benar. Saya hanya ingin mengintip keindahan istana saat terbang. Sayangnya ada perisai pelindung yang menutupinya "
" Oh..... maafkan saya. Jika kakek dan nenek berkenan, silahkan berkunjung ke istana bersama saya " Ratu mengundang mereka.
" Oh jangan repot-repot. Kami hanya pengunjung biasa, tak perlu menyusahkan " tolak Rey.
" Tidak apa nek, datanglah jika ada waktu. Saya sendiri yang akan mengantar kakek dan nenek berkeliling istana "
" Terima kasih, lain kali saja " tolak Zigaz.
" Baiklah, sampai jumpa....... " Ratu kemudian menghilang.
Ratu lega karena mereka bukan penyihir jahat. Ternyata mereka lah yang membawa elang raksasa dari Cronos. Ia segera kembali ke istana, muncul di Balairung istana. Seorang pengawal menegurnya.
" Hei.... Sedang apa kau disini ? Kau siapa ? "
" Oh..... "
Ratu segera kembali ke wujudnya. Pengawal terkejut dan segera membungkuk.
" Ampuni hamba karena tidak mengenali Yang Mulia Ratu "
" Tidak apa, dimana Raja ? " tanya Ratu.
" Yang Mulia Raja pergi ke ruang perpustakaan bersama penasehat " jawab pengawal.
Ratu segera melangkah ke ruang perpustakaan. Ia mengetuk pintu sebelum masuk.
__ADS_1
" Salam Raja, penashat " ucap Ratu.
" Salam Ratu " penasehat memberi hormat.