
Malam ini mereka hanya makan sisa roti bekal tadi siang. Mereka begitu sibuk hari ini hingga terlupa memesan makan malam. Namun mereka senang karena perjuangan hari ini tak sia-sia. Esok pasti kehidupan akan berjalan dengan normal lagi. Itulah harapan mereka. Mereka semua tidur dengan senyum lebar dan harapan hidup baru.
Tengah malam, Rey membuka matanya. Dilihatnya ada 2 lilin menerangi kamar. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi.
Oh.... ia terbelalak mengingat sosok yang menyerangnya kemarin, bukan... tadi siang. Itulah Destraco. Begitu cepatnya ia melesat sampai hampir tak terlihat. Untunglah Rey waspada walaupun tenaganya terfokus untuk membakar istana. Ia seketika menggunakan cahaya untuk membentuk perisai. Namun karena dadakan, perisai itu tidak sepenuhnya melindungi. Serangan Destraco separuh menghantam dadanya.
Jika Asgar tidak segera menjauhkannya dari jangkauan Destraco, mungkin Destraco takkan pergi.
Rey melirik ke pintu, terlihat Asgar dan Alice duduk bersandar tertidur. Berarti ini sudah larut. Rey memanggil Asgar melalui telepati ( Asgar..... bangunlah, tolong siapkan alas tidur untuk Alice. Biarkan ia tidur di kamar bersamaku ).
Asgar terbangun dan segera melakukan perintah Rey. Ia membopong Alice pelan-pelan agar tidak terbangun. Lalu Asgar menutup pintu dan bergabung dengan yang lain tidur di aula.
Sementara diluar suasana terang dan sunyi. Tak ada gangguan apapun. Hanya terdengar bunyi jangkrik saja.
Pagi datang, burung-burung bernyanyi riang, saling bersahutan. Jezko dan Cleo duduk berjemur di bangku tanah halaman belakang. Para penghuni markas masih tidur menikmati kedamaian. Namun Alice ada di dapur merebus ramuan obat untuk Rey. Ia berjongkok mengatur kayu bakar agar panasnya kecil merata.
" Nona.... " panggil Jezko.
" Eh copot-copet abu kopet .... ! aiyaaah ........... Kau siapa ?! mengapa mengagetkanku ? " sembur Alice mengacungkan kayu bakar kecil.
" A...anu.....maaf membuatmu kaget. Saya mau copet eh, bukan.......! ma... maksudku, saya mau tanya apakah.... apakah nona sedang membuat teh herbal ? " tanyanya gugup.
" Itu dimeja sebelah sana " tunjuk Alice.
Jezko mengambil cangkir dan menuang teh. Lalu bersiap keluar dapur.
" Eeeh... tunggu... tunggu..... ! kau mengambilnya untuk siapa ? itu bukan untuk laki-laki ! " Alice mencegahnya.
" Bukan nona, ini untuk istriku " jelas Jezko.
" Ooooooh.......... " Alice mengangguk-angguk. Ia kembali ke dekat tungku. Tapi alis Alice berkerut, bukankah semua anggota markas ini laki-laki, bagaimana mungkin laki-laki tadi bilang untuk istrinya ?
Jezko segera pergi ke halaman belakang dan memberikan teh itu pada Cleo. Ia meniupnya sebelum meminum. Tidak terlalu panas. Sebentar kemudian tehnya sudah habis.
" Ini enak sekali, harumnya sungguh menenangkan. Siapa yang membuatnya ? " tanya Cleo.
" Nona cerewet di dapur ! " jawab Jezko.
" Hah.....! siapa....? " tanya Cleo.
" Aku tak tahu siapa namanya. Ia latah dan cerewet seperti nenek-nenek kehilangan gigi " kata Jezko sedikit bersungut.
Cleo tersenyum menatapnya. Jezko terpana, Cleo sangat manissss......
__ADS_1
" Hmmm..... hmmmm........... " suara seseorang.
Jezko menoleh ke belakang.
" Dasar si abu kopet.... ! Lap dulu air liurmu itu, menjijikkan ....! tegur Alice.
Jezko tersadar dan mengelap mulutnya dengan lengan bajunya. Ternyata Cleo tersenyum bukan untuk Jezko, melainkan pada Alice yang berdiri dibelakang Jezko sambil berkacak pinggang.
" Eee.....he..he..he..he........ ma..af, nona....... " kata Jezko sambil meremas tangannya sendiri.
Alice melewatinya. Ia duduk di samping Cleo. Diambilnya cangkir Cleo dan diberikan pada Jezko.
" Ambilkan lagi untuk istrimu "
" A... i.... iya.... " Jezko bergegas ke dapur.
Di aula beberapa orang sudah mulai bangun. Ada yang duduk, ada yang hanya bergulingan enggan untuk bangkit. Asgar juga duduk bersila sambil menguap. Pada akhirnya ia kembali tumbang menimpa temannya yang belum bangun. Beberapa yang lain terkekeh....
Zacko yang melihat itu segera bangun menuju tempat Asgar. Dan..... ia sengaja menjatuhkan diri menimpa Asgar.
" Bruukk..... ! "
" Aaah..... "
" He..he..he..he..... "
Akhirnya semua ikut jahil dan saling menindih yang belum bangun. Oh...man......
Rey bangun dan segera mandi. Lalu bergabung dengan Alice dan Cleo. Jezko sudah bergabung dengan para pria di aula.
Di ibukota suasana terlihat ramai. Tampak para warga saling sapa dan tersenyum. Tadi malam mereka tidur nyenyak. Para pria saling bergerombol membicarakan keadaan istana yang hancur. Beberapa orang yang dulunya bekerja di istana saling bertanya tentang masa depan.
" Bagaimana keadaan negara sekarang. Kita tidak punya pemimpin "
" Haiiish...... jangan pikirkan itu dulu. Kita bahkan belum berterima kasih pada mereka yang telah berjuang membunuh iblis-iblis itu "
" Bukan membunuh.... tapi membakar "
" Ya, mereka pemberani. Haruskah kita memberi hadiah atau sesuatu ? "
" Kau benar, harusnya kita menemui mereka "
" Bagaimana jika kita mengangkat pemimpinnya sebagai Raja baru ? "
__ADS_1
" Itu bagus.... tapi...... apakah warga lainnya setuju ? "
" Aku dengar pemilik toko senjata mengenal mereka, coba kita tanyakan padanya "
" Ya, kita tanyakan saja biar lebih jelas "
Akhirnya mereka berbondong-bondong ke toko senjata.
Kebetulan si tua Brandon sedang mengobrol dengan pemilik toko diluar. Mereka heran melihat banyak orang datang ke arah mereka.
" Ada apa ini ? "
" Maaf tuan, kami mau bertanya tentang orang-orang yang membakar istana kemarin. Kami ingin menemui mereka, siapa pemimpinnya "
" Haa........ Apakah ada maksud lain ? "
" Ya kami ingin bicara tentang kelanjutan negara ini, tidak ada istana, tidak ada Raja.... "
" Mmmm...... aku tidak berhak memberitahu tentang siapa mereka sebenarnya. Tapi lebih baik kalian menemui mereka langsung saja. Mereka tinggal di markas Ksatria Asgar "
" Ksatria Asgar ?! "
" Ya, ia memang dulunya Ksatria Raja Higo. Namun sekarang ia bekerja pada Ga.... eh, seorang nona bangsawan hebat. Kalian temui saja disana "
" Baiklah tuan, kami kesana sekarang "
Lalu orang-orang itu beramai-ramai menuju markas Asgar. Banyak orang bertanya dan ikut bersama. Mereka juga ingin tahu kejelasannya.
Sementara penghuni markas setelah makan pagi, masih duduk bersama mengobrol di aula. Tiba-tiba penjaga gerbang masuk dan menemui Asgar.
" Tuan.... diluar ada banyak warga kota, mereka ingin bicara dengan tuan "
Asgar terkejut, ia bergegas keluar diikuti Zacko dan beberapa lainnya.
" Ada apa ini ? " tanya Asgar Zacko berdiri disampingnya.
" Tuan kami semua mau berterima kasih sudah memusnahkan penyihir dan iblis dari istana. Mmm..... kami ingin bertanya tentang masa depan negara ini... maksudnya tentang istana dan pemimpin baru.... "
" Oh, itu..... " Asgar menoleh pada Zacko. Zacko mengangkat alisnya dan bahunya, tak tahu harus bagaimana...
" Begini saja, keadaan istana kan sudah hancur..... Lebih baik kita bereskan dulu dan bangun lagi. Baru setelah itu kita memilih seorang pemimpin "
Orang-orang mengangguk setuju. Zacko berteriak memanggil anak buahnya. Mereka bersama-sama warga kota menuju reruntuhan istana.
__ADS_1
Kabar akan dibangun istana baru membuat banyak warga datang saling membantu. Wanita-wanita segera bekerjasama menyediakan makanan dan minuman. Mereka semua berharap kerajaan baru nanti jauh lebih baik dari yang lalu.