
Pelayan menyiapkan busur dan papan sasaran. Mariana sudah akan bersiap-siap ketika seorang tua menahannya.
" Tunggu....... apa hukumannya bagi yang kalah ? "
" Aku ingin dia merangkak dari sini sampai istana " kata Mariana menatap sinis pada Rey.
Orang tua itu menatap Rey " Nona, apa hukuman yang akan anda berikan ? "
" Sama saja " jawab Rey santai. Terdengar banyak bisik-bisik dan komentar.
" Baik..... kedua belah pihak sama-sama setuju memberikan hukuman merangkak sampai istana. Kita semua sebagai saksinya " teriak orang tua itu.
" Pertandingan pertama ; MEMANAH "
Mariana berdiri mengambil tempat. Papan sasaran sejauh 30 langkah. Ia memicingkan mata sambil menarik panahnya. Satu, dua, tiga.....
" Zuutt...... Jlebb.... ! "
Seketika orang-orang bertepuk tangan sambil berkomentar.
" Hebat..... ! "
" Itulah sebabnya dia sombong.... "
Mariana memberikan busurnya pada pelayan, dan pelayan memberikannya pada Rey beserta anak panah yang baru. Rey melangkah pelan seolah ragu. Ia berdiri di tempat memanah. Ia memandang papan sasaran lalu mulai mengangkat busur dan panahnya. Alisnya berkerut selama beberapa hitungan sebelum ia melepaskan panahnya.
" Zuutt...... Srett jleb.... !! "
" Astaga..... ! " Orang-orang tercengang. Mereka buru-buru mendekat untuk memastikan. Panah Rey membelah panah Mariana dan menusuk di tempat yang sama.
" Wooaaah......... "
" Dia lebih hebat dari nona Mariana "
Mariana tidak suka mendengar orang-orang memuji Rey.
" Aku rasa itu hanya sebuah kebetulan..... " ia mencibirkan bibirnya. Tapi orang-orang tak perduli dan tetap kagum.
" Pertandingan pertama, hasilnya ; SAMA ! " teriak orang tua itu agar terdengar semua orang.
Pertandingan kedua ; BERTARUNG ! "
__ADS_1
Segera pelayannya memberikan pedang pendek ke tangan Mariana dan Rey.
" Kali ini, aku akan memberimu tanda tangan ( membuat terluka ) " Mariana mendesis pelan.
Rey menatap pedang ditangannya. Ia tersenyum kecewa mengetahui kualitasnya yang tidak sebagus milik Mariana. Sudah jelas mereka melakukan kecurangan. Rey mengangkat kedua alisnya. Tak masalah..... Jika mereka melakukan kecurangan dengan memberikan pedang yang buruk, maka iapun akan melakukan kecurangan dengan melapisi sihir.
Orang tua itu menggambar garis lingkaran besar untuk tempat bertarung. Orang-orang segera mundur untuk memberi ruang. Aturannya, jika salah satu sampai terjatuh atau keluar garis, maka dinyatakan kalah. Rey dan Mariana segera masuk ke dalam lingkaran sambil memegang pedang.
" Siap..... ? mulai.... ! "
Mariana maju mengangkat pedangnya, ia bermaksud menebas bahu Rey.
" Traaang...... ! "
Rey menangkis sambil mendorong mundur. Lalu kakinya menendang perut Mariana.
" Buukkk, Aaah....... ! Bruuukk....... ! " Mariana terjengkang, namun tak sampai keluar garis. Rey memberinya waktu untuk bangkit.
Mariana merasa malu dan marah. Ia cepat-cepat bangun dan maju menusuk perut Rey. Namun Rey mengelak ke samping dan memukul pergelangan tangan Mariana hingga pedangnya terlepas.
" Aaarrgh........ ! " Mariana membelai pergelangan tangannya yang terasa nyeri. Ia terpaksa menggigit bibirnya agar orang-orang tak mengetahuinya.
Rey mundur tiga langkah sebelum cepat bergeser kesamping. Mariana yang menebas angin jadi kehilangan keseimbangan. Ia terhuyung-huyung ke depan melewati garis batas.
" Nona Mariana kalah.... ! " teriak si orang tua. Segera terdengar bisikan dan komentar.
" Bodohnya...... "
" Ia keluar garis..... "
" Hhhhhhhhhh........... ! " Mariana menghentakkan kaki dan menggeram kesal. Mariana berbicara sesuatu pada salah satu pengwal Marco.
Lalu pengawal dibantu orang-orang memasang tiga rintangan dengan jarak setiap rintangan adalah 15 langkah. Sebenarnya itu terlalu dekat, tapi Mariana sengaja agar kuda yang ditunggangi Rey kesulitan. Ukuran lapangan kota adalah 100 x 100 langkah.
Setelah siap, orang tua itu berteriak lagi.
" Pertandingan ketiga ; BERKUDA. Masing-masing akan berkuda dan melompati tiga rintangan. Harap penonton minggir "
Orang-orang cepat berbaris sepanjang jalan yang akan dilalui kedua kuda tanding. Dua kuda sudah disiapkan di garis awal.
Mariana langsung melompat dan memegang kendali dengan yakin. Gaunnya yang mewah tidak menghalangi gerakannya yang lincah. Sementara Rey mengeluarkan satu wortel dan memberikannya pada kuda yang akan ditungganginya. Kuda itu lansung menyukai Rey dan mengunyah dengan senang. Rey memeluk kuda itu dan menepuk-nepuk punggungnya, lalu naik. Mariana hanya mendengus dan mencibir tindakan Rey. Bagaimanapun, kuda yang ditunggangi Rey hanyalah kuda penarik kereta, bukan kuda pacuan. Ia yakin akan memenangkan pertandingan berkuda.
__ADS_1
" Siaaapp...... ? satu.... dua.... tiga ! "
Kuda Mariana melesat lebih cepat. Pada rintangan pertama kuda melompat indah. Mariana memukul punggung kuda agar berlari dan melompat lagi. Namun karena terlalu cepat, kuda itu tak sempat melompati rintangan ketiga dan menabraknya. Akibatnya Mariana terjungkal ke tanah. Pelayan segera berlari menolongnya.
Sementara kuda Rey berlari biasa dan melompat tenang. Rey menahan kudanya agar mundur dan melaju lagi untuk melompati rintangan kedua. Begitu juga dengan rintangan terakhir, Rey melakukan hal yang sama. Orang-orang bersorak. Meskipun cara Rey tidak biasa, namun ia tidak menyalahi aturan.
Sekarang orang-orang itu berpihak pada Rey. Mereka menyesalkan Marina yang sengaja memperpendek jarak rintangan, membuat kudanya sendiri gagal melompati rintangan ketiga.
" Nona Mariana dan kudanya, KALAH ! " teriak orang tua begitu keras.
Orang-orang bergumam sambil menatap Mariana yang mengalami luka tergores di wajah dan tangannya. Bahunya juga sakit karena terbentur saat jatuh.
" Apakah nona Mariana akan menyerah, atau melanjutkan pertandingan berikutnya.... ? " tanya orang tua itu.
Suasana menjadi hening. Mereka tahu Mariana akan terpaksa melanjutkan pertandingan jika tidak ingin merangkak sampai istana.
" Sebaiknya pertandingan dilanjutkan besok saja. Nona Mariana baru saja terjatuh, mohon pengengertiannya " kata salah satu pengawal Marco.
" Mana bisa begitu ?! jika yang mengalami kesialan adalah nona ini, apa mungkin nona sombong Mariana melepaskannya begitu saja ? Lagipula pertandingan terakhir hanya bermain suling. Tidak ada alasan untuk menghindar. Lanjutkan pertandingan.... ! " teriak seorang pria. ( Ternyata ia adalah ayah dari anak kecil yang ditampar Mariana. Ia hanyalah warga biasa, mana berani menuntun putri bangsawan. Itulah sebabnya ia mendukung Rey )
" Ya..... lanjutkan saja "
" Bukankah bermain suling sangat mudah ? "
" Selesaikan sekarang juga "
Orang-orang mulai menuntut. Pengawal Marco menatap Mariana tanpa daya. Ia sudah berusaha menolong nonanya, tapi warga tak melepaskannya.
" Bagaimana nona, apakah anda akan melanjutkan pertandingan, atau menundanya ? " orang tua itu sengaja bertanya pada Rey agar tidak disalahkan keluarga Marco.
Rey menatap sekeliling seolah menanyakan pendapat orang-orang. Mereka semua kebanyakan berbisik " LANJUTKAN " . Rey tersenyum menatap Mariana ( Mariana juga tersenyum mengira Rey akan melepaskannya ). Lalu Rey menoleh ke arah orang tua itu dan menjawab yakin
" LANJUTKAN...... "
Orang-orang seketika bersorak. Mariana terperangah tak percaya. Ia hampir limbung jika saja pelayan tak sedang memeganginya.
" Baik..... mari kita lanjutkan. Pertandingan terakhir ; BERMAIN SULING . Tidak ada ketentuan apapun, yang penting mempesona telinga. Kemenangan ditentukan oleh semua penonton yang hadir " jelas si orang tua.
" Setujuuuu......... " sahut orang-orang bersama.
__ADS_1