GADIS TAKDIR

GADIS TAKDIR
172. Masalah Tetua Outter


__ADS_3

Rey mencelupkan kakinya ke dalam kolam ikan.


" Ehm...... Kendrick..... maaf jika aku lancang. Apa kau mengenal penyihir muda itu ? "


Kendrick menghela nafas berat.


" Ya.... Aku tahu siapa dia. Tapi aku benar-benar tidak menyangka itu dia. Mungkin keluarganya juga akan sangat kecewa jika mengetahui hal ini. Aku sendiri tak yakin apa kau tega melakukannya jika berhadapan dengannya "


" Bukankah aku bisa melumpuhkanya tanpa harus membunuh ? "


Kendrick menggeleng.


" Ia bukan orang yang bisa menerima kekalahan, atau berdamai dengan siapapun . Ia akan lebih memilih mati ( bunuh diri ) atau membalas dendam terhadap siapapun yang terkait denganmu, dengan cara apapun. Bagi dia tidak ada kata maaf "


" Apakah...... keluarganya sangat mencintainya atau sebaliknya ? "


" Keluarganya mencintai dia sewajarnya. Tapi memang selama ini aku tak pernah mendengar dia membela saudaranya atau ayahnya jika ada masalah. Ibunya adalah seorang wanita yang bijaksana "


Rey menatap Kendrick sendu.


" Ketika saatnya kau berhadapan dengannya, jangan ragu. Tugasmu adalah melindungi kehidupan banyak orang. Bahkan seharusnya, jiwa seperti itu tidak diijinkan terlahir kembali "


Rey diam termenung. Secara tegas Penguasa Astraco sudah memutuskan kematiannya. Bahkan harus memusnahkan jiwanya demi keselamatan banyak orang. Rey memejamkan matanya, ia tahu ini berat. Kendrick menggenggam tangannya untuk menenangkan hati.


" Baiklah..... aku harus kembali bertugas " Rey tersenyum menatap Kendrick. Kendrick mencium bibir Rey sekilas, membuat pipi Rey merona.


" Hati-hati selalu dan ingat pesanku....... " kata Kendrick.


Kebetulan Zigaz dan Martin sudah kembali. Rey memeluk Martin sebentar.


" Nah, penyihir kecil..... aku harus kembali bertugas. Sampai jumpa "


" Sampai jumpa Dewi, sampai jumpa Tuan Zigaz...... "


Lalu Rey memegang lengan Zigaz dan mulai menghilang ( dengan berkas cahaya warna-warni ).


Setelah mereka menghilang Kendrick menggandeng Martin kembali ke ruang kerjanya. Namun di tengah perjalanan mereka bertemu dengan kepala pelayan. Ada sesuatu yang ingin dibicarakannya dengan Kendrick. Martin segera undur diri untuk berlatih bersama petarung. Kendrick dan kepala pelayan menuju ruang kerja.


Setelah menutup pintu dan melapisi ruangan dengan perisai kedap suara, kepala pelayan menceritakan semua tentang Tetua Outter.


" Menurut hamba ini aneh, Yang Mulia. Seolah Tetua Outter bukan warga Kerajaan Astraco "


Kendrick tersenyum lebar.


" Memang dia bukan warga Kerajaan Astraco "


" Haahhh.... ! ma... maksud Yang Mulia ?! "


" Dia adalah seseorang yang menyamar menjadi Tetua Outter. Entah apa tujuannya atau apa yang dicarinya, aku sedang mengawasinya. Mungkin butuh beberapa hari disini. Tetaplah bersikap tidak tahu supaya ia tidak mencelakaimu. Jika terjadi apa-apa, katakan padaku. Jaga dirimu baik-baik "

__ADS_1


" Hamba mengerti yang mulia "


Kepala pelayan menunduk hormat sebelum undur diri. Tepat saat ia mencapai pintu berpapasan dengan Tetua Outter. Ia mengangguk hormat. Tetua Outter hanya melirik sekilas.


" My Lord..... , ehm..... Hamba membutuhkan surat kuasa untuk masuk ke perpustakaan. Tadi petugas perpustakaan menolak hamba karena tidak memenuhi syarat. Jadi terpaksa hamba kesini untuk meminta bantuan My Lord "


Kendrick tersenyum. Sebenarnya perpustakaan dilapisi perisai pelindung petir , yang berarti seseorang dengan aura hitam atau niat tidak baik tidak akan bisa masuk tanpa ijin atau pengawasan. Secara otomatis akan tersengat petir yang melapisi perisai pelindung.


" Tetua..... setiap ruang tertentu di Astraco ada aturannya sendiri. Anda bisa menanyakannya kepada petugas itu tentang syarat apa yang tidak terpenuhi Tetua "


" Oh.... Itu.... Anu...... Aku lupa menanyakannya tadi " jawabnya sedikit gugup dan cepat-cepat keluar. Ia melewati lorong namun tidak menuju perpustakaan. Ia sudah tahu syarat apa yang dimaksud petugas perpustakaan.


Ia berhenti di perempatan lorong. Bingung tak tahu harus kemana. Ia melihat seorang petarung laki-laki hendak ke arah perpustakaan.


" Hei tunggu.... Apa kau hendak ke perpustakaan ? "


" Benar Tetua "


Tetua Outter menjajari langkah petarung itu. Mereka masuk bersama ke ruang perpustakaan.


" Tuan, saya diperintahkan ketua regu untuk meminjam buku penggunaan elemen tanah "


" Siapa namamu dan regu berapa ? " tanya petugas perpustakaan.


" Saya Rocky, regu 5C "


" Tunggu sebentar "


" Baik, silahkan masuk "


Tetua Outter melihat petarung itu masuk portal penghubung.


" Tetua...... ? "


" Eh... Oh... Saya..... ingin mencari buku tentang.... sejarah kerajaan "


" Apakah anda sudah meminta surat kuasa dari Yang Mulia ? "


" Dia bilang langsung saja "


" .......... ? Baiklah, silahkan masuk "


Tetua Outter bergegas menuju portal masuk.


" Aaaaaaah.......... ! "


Ia terpental dan jatuh berselimutkan kilatan petir. Petugas menunggu balutan petir itu menghilang sebelum membantu Tetua Outter duduk. Tampak wajahnya meringis kesakitan.


" Tetua, sebaiknya anda ke ruang kesehatan dulu . Mungkin ada sesuatu yang tidak beres dengan tubuh anda. Bukankah anda biasanya bertugas di dunia luar ? Seharusnya...... seharusnya anda membersihkan diri lebih dulu sebelum memasuki ruang-ruang tertentu "

__ADS_1


Tetua Outter menatapnya dengan wajah merah dan kesal.


" Hmmmph..... ! "


Ia bangkit dan berjalan keluar sambil memegangi pinggang belakangnya. Mulutnya terus menggerutu.


" Sial...... Sial...... Sial...... ! "


Ia melewati lorong sepi dan melihat tulisan " Ruang Artefak " . Dengan semangat ia masuk dan menutup pintu. Ia terbelalak senang melihat benda-benda sihir peninggalan leluhur berjajar di atas meja kaca panjang.


Ada Pedang Cahaya, Perisai Perak, Panah Api, Rantai petir, dan benda-benda lain. Semua berelemen cahaya, petir, api atau perak. Ia mengamati satu persatu. Mulutnya menyeringai saat melihat cincin berelemen petir. Ia berniat mengambilnya


" Auchh.... ! "


Ia terkejut saat memegang cincin itu serasa tersengat petir. Ia menggelengkan kepalanya dan melihat benda lainnya.


Semua benda-benda itu berkekuatan sesuai elemen pembuatannya. Ia tak berani lagi menyentuh sembarangan. Perhatiannya tertarik pada gelang perak berbentuk hewan mitos, naga.



Ia menyentuhnya sedikit dengan ujung jarinya. Karena tidak ada sengatan atau hal yang membahayakannya, ia lalu memakainya. Dengan tertawa senang ia keluar dari ruang artefak.


Tapi baru 3 langkah tiba-tiba langit menggelap, suasana terasa mencekam. Tetua Outter melangkah cepat-cepat ke arah halaman belakang. Entah kenapa ia merasa jantungnya berdebar-debar.


Ia tak menyadari gelang ditangannya terlepas dan membesar jadi naga sungguhan yang semakin membesar.


" Rooaaarrr.......... ! "


Tetua Outter terpelanting terkena sabetan ekor naga dari belakang. Ia jatuh tertelungkup. Mulutnya tercengang saat ia membalikkan badan untuk melihat siapa yang menyerangnya.


" Rooaaarrr.......... ! "


Naga itu meraung keras dan menyerang Tetua Outter. Ia jumpalitan menghindari terkaman si naga dan membalas menyerang. Tapi naga itu amat gesit meliuk dan menerkam. Bagian bawah jubahnya robek tercabik.


" Wreeekkk....... ! "


Naga itu membuang sobekan jubah Tetua Outter.


" Kau, naga sialan ! "


Tetua Outter melempar bola racun ke arah naga.


Naga itu membuka mulutnya lebar-lebar dan menelan bola racun. Lalu diam.


" Matilah kau..... ! " maki Tetua Outter sambil menyeringai lebar.


" Hhhaakkk..... ! "


Naga itu memuntahkan bola racun ke arah Tetua Outter.

__ADS_1


" Blaaasst....... ! "


" Aaaah, apa yang kau lakukan ?! Dasar naga bodoh ! "


__ADS_2