GADIS TAKDIR

GADIS TAKDIR
166. Kunang-Kunang


__ADS_3

" Ah..... Aku tak ingat.... " Rey meringis kecil.


" Hiiissh........ Kau ini.... " Kendrick menangkup wajah Rey dan ******* bibirnya. Rey tak menolak karena ia sendiri merasa rindu pada Kendrick. Mereka berciuman cukup lama.


" Bagaimana kabar Martin ? "


" Aku melatihnya sendiri sebelum tidur. Ia diam-diam menjadi tangan kananku. Pekerjaannya setiap hari melaporkan apa saja yang ia dengar "


Rey tersenyum.


" Apakah ada hal lain kau memanggilku ? " tanya Kendrick serius.


" Ya, aku membutuhkan Zigaz "


" Hmmm...... "


Kendrick melepaskan pelukannya dan menjentikkan jari.


Sekali lagi butiran cahaya berputar di dekat Rey. Zigaz muncul dan langsung membungkuk hormat.


" My Lord, Tuan Putri... "


" Zigaz, jaga dia "


" Tentu, My Lord "


Lalu Kendrick mencium dahi Rey sebelum menghilang.


" Bagaimana kabarmu Zigaz ? "


" Saya baik-baik saja, Nona. Apakah anda baru saja terluka ? "


" Bagaimana kau tahu ? "


" Beberapa waktu lalu punggung saya sangat sakit. Saya tahu sesuatu telah terjadi pada anda "


" Inilah yang aku tidak inginkan terjadi padamu Zigaz. Jika kau merasakan sakit apapun yang kualami, maka kau tidak akan dapat menolongku saat itu. Aku akan mencabut tanda kepemilikanku padamu "


" Tidak..... ! Jangan Nona ! Saya bersumpah akan menjaga Nona dengan nyawa saya. Walaupun harus menanggung seribu rasa sakit "


" Dengar Zigaz...... Aku membutuhkanmu untuk melindungi dan menolongku. Jika kamu ikut sakit atau terluka, maka kita akan mati sia-sia. Jadi akan lebih baik jika kita bisa saling menolong agar tidak mati, begitu..... "


" Ooo...... saya mengerti, Nona "


" Aku akan mengambil darahmu sedikit sebagai tanda masuk ke ruang dimensi. Jadi kau tetap bisa terhubung denganku ( dunia jiwa ), hanya tidak akan merasakan sakit secara fisik. Dengan begitu kau tetap bisa menolongku ketika aku terluka. Seperti saat aku terkena Racun Seribu milik Terra. Kau bisa masuk keluar masuk ruang dimensiku meskipun aku sedang pingsan atau sekarat "


" Oh................. maksud Nona, aku bisa membawa Nona masuk ke danau jiwa jika Nona terluka ? " tanya Zigaz ragu.


" Ya.... "


" Ah.... Aku mau Nona. Lakukanlah "

__ADS_1


" Baiklah, tapi ini agak sakit sedikit saat mencabut tanda kepemilikanku padamu. Sebaiknya kita lakukan di ruang dimensi saja "


" Baik Nona "


Lalu Rey memegang lengan Zigaz masuk ke ruang dimensi.


Mereka masuk ke dasar danau jiwa. Zigaz melihat Asgar terbaring diatas tempat tidur kaca ( dari air yang dipadatkan ).


( " Asgar.... ! " ) Zigaz mendekati Asgar dan menyentuh bahunya.


( " Apa yang terjadi padanya, Nona ? " )


( " Ada penyihir kuat yang menyerang kami. Waktu itu ia menyerang kami dengan elemen petir dan api. Ia seumuran dengan Kendrick. Asgar mengalami luka bakar internal dan hancur tulang sebagian. Penyihir itu sepertinya sengaja tidak membunuh Asgar saat itu " )


( " Berapa lama Asgar akan sembuh, Nona " )


( " Untuk luka bakar, mungkin satu minggu. Tapi untuk pemulihan tulang agak lama " )


Zigaz mengangguk-angguk. Lalu menghampiri Rey dan setengah berlutut.


( " Silahkan Nona lakukan " )


Rey mengambil nafas. Lalu ujung jarinya menyentuh dahi Zigaz.


( " Bertahanlah.... " )


Rey mengucap mantra dan menarik tanda kepemilikannya.


Zigaz berteriak kesakitan, gelombang suaranya menyebabkan air danau tergoncang sedikit. Rey tetap fokus sampai hitungan kelima. Setelahnya ia memegang kepala Zigaz untuk melupakan rasa sakitnya.


Zigaz menatap sekelilingnya seperti lupa apa yang terjadi. Rey menarik Zigaz keluar dari danau mendekati bola jiwa diatas. Ia meminta Zigaz menorehkan darahnya sedikit ke bola jiwa. Zigaz melakukan yang diperintahkan Rey. Bola jiwa itu terlihat berpendar lebih terang sedikit.


Rey dan Zigaz tersenyum. Lalu mereka melayang ke daratan. Seekor tupai kecil mendekati Rey dan mencericit kecil. Rey berjongkok menepuk kepalanya.


" Bagus..... tetaplah hibur dia sampai hatinya bisa menerima kematian anaknya. Aku akan membebaskanmu jika dia sembuh "


Tupai itu berlari pergi ke arah timur. Rey menengok ke arah Zigaz. Ia menggandeng lengan Zigaz.


" Cobalah keluar ke hutan tadi "


" Caranya bagaimana Nona ? "


" Pikirkan tempat yang akan kamu tuju "


Zigaz memejamkan mata sambil memikirkan hutan tadi. Dalam hatinya ia mengucap " keluar "


Setelah membuka mata, ia melihat sekelilingnya adalah hutan dimana ia tadi dibawa Lord Kendrick.


" Aaah ...... ! saya berhasil , Nona...... "


Zigaz melompat-lompat kegirangan. Untung Rey sempat melepaskan pegangannya hingga tidak ikut melompat-lompat. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Zigaz.

__ADS_1


Rey merasakan udara sekitar. Tidak ada pergerakan yang mencurigakan hingga jarak 1000 langkah.


" Zigaz...... aku ingin makan daging buruan apa saja. Jangan lebih dari 1000 langkah dariku ya.... ? "


" Baik Nona "


Zigaz segera berubah jadi serigala dan melesat berburu. Setelah kembali, ia mengeluarkan 2 ekor kelinci dari kalung CRONOS-nya di hadapan Rey.


" Oh..... kalungmu sekarang bisa untuk menyimpan ? "


" Lord Kendrick yang merubahnya, Nona "


" Ah, tentu saja...... "


Rey mengambil satu kelinci dan membakarnya sampai matang. Zigaz juga melakukan hal yang sama. Mereka duduk menikmati hingga tak terasa hari sudah sore.


" Sebentar lagi langit gelap. Kita akan berubah jadi .......... apa ya ? "


" Bagaimana kalau kunang-kunang Nona ? Itu tidak membutuhkan kekuatan yang banyak. Dan tidak terlalu menarik perhatian. Lagipula, cuaca juga tidak berangin. Kita bisa terbang santai "


" Baiklah.... "



Mereka terbang lebih dalam ke hutan Mazox. Rey merasakan Zigaz lebih kuat dari yang dulu. Ia menduga pasti karena Kendrick.


" Nona, sepertinya malam ini bulan purnama. Biasanya penyihir atau iblis akan melakukan suatu ritual sesuai yang dibutuhkan menjelang tengah malam "


" Oh..... berarti akan ada tontonan yang menarik di sekitar hutan ini "


Tak berapa lama terasa ada pergerakan di udara. Tampaknya itu aura penyihir tingkat tinggi. Rey dan Zigaz bergerak mendekati mereka.


Para penyihir itu hanya ada 3 orang. Mereka terbang terus melintasi pohon-pohon hingga sampai ke pinggir tebing. Mereka hanya berdiri diam seolah menunggu, entah menunggu seseorang atau menunggu waktu.


Rey dan Zigaz hinggap di salah satu ranting pohon. Tak lama terasa aura besar yang mendekat. Rey langsung membawa Zigaz masuk ke ruang dimensi.


" A.... ada apa Nona ? "


Rey tidak menjawab. Ia hanya duduk di rumput sambil mengeluarkan Cermin Pelihat. Zigaz ikut duduk bersila disamping Rey untuk melihat juga.


Setelah Rey mengusap sambil mengucap mantra, terlihat kedatangan penyihir berjubah hitam menemui para penyihir tingkat tinggi tadi.


" Apa kalian sudah menemukannya ? "


" Belum Yang Mulia. Beberapa dari kami bertarung dengan Odex dan lainnya dengan penyihir tua "


Penyihir berjubah hitam itu hanya mendengus.


" Ini adalah malam purnama. Seharusnya ia keluar untuk menerima kekuatan cahayanya. Kalian berpencar di setiap hutan besar. Aku akan mencarinya di daerahku. Jika melihatnya, jangan mengganggu prosesnya, panggil saja aku. Biar aku sendiri yang akan mengambil alih kekuatannya "


Rey dan Zigaz saling pandang. Mereka tak mengerti dengan pembicaraan itu. Ketika mereka melihat cermin lagi, para penyihir itu sudah pergi.

__ADS_1


__ADS_2