GADIS TAKDIR

GADIS TAKDIR
45. Kuda Gila


__ADS_3


Ketika didepan rumah makan. Rey menahan Asgar dan menariknya sedikit menunduk.


" Aku merasa ada penyihir di dalam " bisik Rey.


Asgar menatap Rey dan ganti menarik Rey pergi dari situ. Terdengar suara gaduh di sekitar situ. Asgar menoleh dan melihat kuda tadi masih berkeliaran sambil berlari cepat.


" Aiissh...... Si Kuda Gila "


Mereka segera menepi untuk menghindari terjangan kuda. Beberapa petugas keamanan mencoba menggiring kuda itu. Rey melihat seorang bertudung hitam keluar dari rumah makan. Tampak ia menyeringai menatapnya (di mata penyihir Rey terlihat " bersih " ) .


Asgar melihat kuda itu berlari ke arah mereka.


" Nona, minggirlah ..... ! "


Tapi kuda itu memang mengincar Rey.


Rey terpaksa menggerakkan tanah untuk membelenggu kaki kuda. Kuda itu meringkik keras dan berusaha menggerakkan agar terlepas. Asgar mengeluarkan senjata api.

__ADS_1


" Tidak Asgar, lihat kesana .... ! "


Rey menunjuk seseorang yang bertudung. Asgar mengerti. Rey tak tahu harus bagaimana mengatasi kuda itu. Ia nekat mendekat dan menampar kepala kuda itu. Seketika asap hitam keluar dari lobang hidung, mulut dan telinganya. Asap itu bergerak cepat ke arah si penyihir yang menadahkan tangannya. Penyihir itu tertawa.


Kemudian dia melemparkan bola asap ke arah Asgar. Asgar menangkis sambil bergulingan. Ia cepat bangkit berdiri. Penyihir itu mengerakkan angin dan tanah. Batu-batu turut beterbangan. Rey membuat bola pelindung untuk Asgar.


Rey segera mengumpulkan energi cahaya. Ia mengurung penyihir itu dalam bola cahaya yang besar. Penyihir itu terkejut. Batu-batu dan tanah yang ikut terkurung bertabrakan mengenai tubuhnya.


" Arrrrrggghh......! Ia berteriak marah . Tangannya mengeluarkan cakar hitam yang panjang, mencakar-mencakar bola cahaya. Namun kukunya seketika terbakar saat menyentuh bola kaca.


Rey sedikit terengah, ia gugup. Bola cahaya itu membutuhkan banyak energi, berbeda dengan bola kaca (dari air yang dikeraskan) . Ia mengembangkan kedua tangannya, menarik paksa energi sebanyak-banyaknya. Kalung bunga dilehernya berpendar terang.


" Tidaaaaaakkkk....... "


Tangan penyihir mencoba menahan bola cahaya agar jangan mengecil. Tentu saja tangannya mulai terbakar, ia menyembunyikan tangannya dan meringkuk dibawah . Rey terus mengecilkan bola cahaya hingga membakar habis penyihir itu.


Rey terduduk lemas di tanah. Ia menarik nafas berulang kali. Asgar masih terkurung dalam bola kaca. Ia menggelindingkan bolanya mendekati Rey.


Rey menoleh dan tersenyum kecil. Ia mengulurkan tangannya menyentuh bola kaca yang seketika menguap hilang.

__ADS_1


Asgar segera membantu Rey bangkit dan memapahnya berjalan. Tak lupa dipungutnya belanjaan Rey. Mereka beristirahat di rumah makan terdekat.


Baru saja Rey menenggak habis minumannya, seorang Bapak tua berdiri disamping meja.


" Nona..... maaf mengganggumu makan. Tapi tolonglah anak saya. Ada roh jahat yang menguasainya " tangannya didepan dada memohon dengan sangat.


Rey tersenyum lelah.


" Pak Tua.... jangan khawatir. Aku akan menolongmu nanti. Tapi ijinkanlah aku makan dahulu. Bertarung dengan sihir membuatku sangat lapar "


" Ah..... terima kasih Nona, saya akan menunggu di luar "


" Tidak .... ! duduklah disini makan bersama kami "


" Tidak Nona, saya tidak pantas duduk bersama anda berdua, saya hanya orang rendahan "


" Tidak apa-apa, duduklah ..... "


Rey menahan tangan Bapak tua itu. Asgar menariknya duduk disampingnya. Bapak tua itu merasa canggung, tapi Rey dan Asgar tak peduli. Mereka segera makan.

__ADS_1


__ADS_2