
Keluar dari Blazein ternyata jalan berbelok ke kanan, memasuki keramaian kota.
" Apa nama kota ini, Asgar ? " tanya Rey.
" Sepertinya ini kota Malto, Nona. Kita pernah melewati kota ini dari jalan lain " jawab Asgar.
" Malto.... ? Mmm..... Sepertinya kota ini belum bersih. Ada beberapa iblis yang berkeliaran tak terlihat " Rey memejamkan matanya.
Asgar diam ikut merasakan pergerakan udara di sekitarnya. Tak sadar ia mengangguk setuju.
" Lebih baik kita mencari penginapan lebih dulu. Kita akan menyamar sebagai kakek nenek saja " kata Rey.
" Baik Nona "
Mereka masuk ke Penginapan COMEIN. Penerima tamu menawarkan makan siang bersama. Rey mengangguk. Mereka segera bergabung di meja makan. Ada beberapa orang sambil mengobrol.
" Apa kau sudah dengar kejadian tadi malam ? "
" Apa.... ? "
" Istri seorang kaya menyerang pelayannya saat tengah malam. Tapi untunglah ada penjaga kuda yang menolong pelayan itu. Ia memukul kepala wanita itu dengan kayu bakar. Tapi akibatnya sekarang istri tuannya itu sekarat... "
" Lalu... ? "
" Ya dia terpaksa dilaporkan pada petugas keamanan "
" Tapi, apa alasan istrinya menyerang pelayan ? "
" Katanya haus, tapi ia tidak sabaran menunggu. Lalu menggigit tangan si pelayan dan mengisap darahnya. Untungnya penjaga kuda lewat pintu dapur hendak mengambil ember. Ia langsung mengambil kayu bakar dan memukul kepala si penyerang. Sebenarnya ia tidak mengenalinya karena dapur hanya diterangi 1 lilin saja "
" Lalu bagaimana keadaan istri si orang kaya ? "
" Tabib tidak bisa menolong, kepalanya retak katanya. Orang kaya itu sekarang sedang pergi mencari pertapa di kota Blazein "
" Uhuk...uhuk...uhuk.... " Asgar segera menepuk-nepuk punggung Rey.
Orang-orang memperhatikannya.
" Ada apa denganmu nek.... apa makanannya kurang enak ? "
" Bukan... Bukan.... aku hanya... tersedak sayur " jawab Rey. Ia terkejut mendengar orang kaya itu pergi mencari si pertapa palsu. Asgar tersenyum maklum.
Mereka melanjutkan makan. Satu persatu menyelesaikan makan dan beranjak pergi. Rey dan Asgar keluar.
__ADS_1
" Apa Nona ingin menjenguknya ? " tanya Asgar.
" Bagaimana kau tahu aku ingin menjenguknya, kek.. ? " jawab Rey.
" Oh ya nek, maaf aku lupa kita sudah tua. He..he..he..he... " Asgar menggaruk kepalanya.
" Aku curiga istrinya dirasuki iblis. Bagaimana cara kita masuk ke rumahnya ? " tanya Rey.
" Bilang saja kita keluarga dari pihak istrinya "
Dari jauh tampak orang-orang berlarian kesana-kemari. Terdengar teriakan-teriakan.
" Itu ada keributan apa ? " tanya Rey ingin tahu.
" Awaass...... cepat lari..... "
" Ada apa ? " tanya Asgar berteriak.
" Ada yang kerasukan iblis... ! "
" Ia bawa pisau... ! "
Rey dan Asgar diam mengamati. Sebuah kereta kuda berhenti dan turun seorang pria berpakaian mahal dengan seorang tua berjenggot panjang.
" Istriku..... sadarlah... ! ini aku Richard, suamimu... " katanya di depan seorang wanita yang memegang pisau. Penampakannya berantakan, matanya melotot. Ada rembesan darah di samping kepala sampai ke bahu.
Pertapa tua itu mengacungkan jarinya pada wanita itu. Ada secercah sinar putih melesat. Wanita itu terpaku diam, hanya bola matanya yang melirik tak tentu arah.
" Cepat ambil pisaunya "
Richard segera mengambil pisau dari tangan istrinya.
Pertapa itu memeriksa rembesan darah di samping kepalanya.
" Ini retak, bekas dipukul... " ia memutuskan salah satu tali pinggang gaun istri Richard dan mengikat kepala wanita itu sambil membaca mantra. Tampak istri Richard meringis menahan sakit.
Pertapa itu menempelkan tangannya di bagian kepala yang sakit sambil bergumam. Lalu menekan syaraf di punggung sehingga istri Richard jatuh lemas. Richard buru-buru menahan dan menggendongnya pulang. Pertapa tua itu mengikutinya.
Rey dan Asgar saling menatap dan mengangkat bahu.
" Mari kita ke toko baju. Kita akan menginap beberapa hari di sini untuk melihat pekerjaannya " kata Rey sedikit aneh. Mereka menyeberang jalan masuk ke toko baju.
Selama 30 hitungan mereka memilih baju dan keluar setelah membayarnya. Rey dan Asgar berjalan santai tanpa tujuan. Seekor anjing biasa datang menghadang Rey. Ia menggonggong dan meraung. Rey dan Asgar tahu anjing itu membutuhkan pertolongan.
__ADS_1
" Ada apa mahkluk berbulu.... ? " Rey bertanya lembut.
Anjing itu melambai-lambaikan tangan depannya. Rey mengangguk dan mengikutinya. Mereka masuk ke lorong-lorong rumah kumuh sampai anjing itu berhenti di depan sebuah rumah kecil.
Terdengar suara tangisan anak kecil. Rey dan Asgar segera masuk. Mereka melihat seorang laki-laki terbaring lemah di kasur lantai. Rey menenangkan anak itu.
Asgar duduk bersimpuh disamping laki-laki itu. Ia melepaskan kalungnya dan menggenggamkan di tangan laki-laki itu. 10 hitungan kemudian laki-laki itu membuka matanya. Tapi ia belum bisa berkata-kata, hanya memandang Asgar penuh tanya.
" Saya Asgar, dan ini saudara saya, Rey. Kami hanya kebetulan lewat untuk menolong " kata Asgar tersenyum lalu mengambil kalungnya kembali.
Rey memberi 5 keping perak pada anak kecil itu " Pergilah beli makanan untukmu dan ayahmu ".
Setelah anak itu pergi, Rey mengambil kaleng kecil yang ada dimeja. Ia memantrainya sebelum memberikan pada laki-laki itu.
" Jika kau membutuhkan sesuatu, berdoa dan katakan apa yang kau butuhkan. Jika yang berkuasa mengijinkan, maka apa yang kau butuhkan akan terpenuhi di sini. Jangan disalahgunakan dan tolonglah juga yang kesusahan " kata Rey.
Laki-laki itu mengucapkan terima kasih sambil menangis.
Putranya datang dan memeluknya " Ayah kenapa menangis... ? apakah masih terasa sakit ? "
" Ayah.. tidak apa-apa, nak... " jawabnya agak tersendat dan kembali menangis.
Rey menyentuh lengan Asgar dan mereka menghilang.
Keluar dari lorong terlihat banyak orang sedang memperhatikan sesuatu. Di tengah-tengah jalan terlihat pertapa tua itu sedang menghadapi seorang wanita bergaun putih ternoda bercak darah. Tangannya memegang pisau, tampak ada bekas darahnya.
" Bukankah itu istri tuan Richard yang tadi dibawa pulang ? " tanya Asgar.
" Hmmm.... Wanita itu sudah sekarat dari kemarin. Tubuhnya sudah dikuasai iblis. Jadi ia membutuhkan darah segar untuk mempertahankan hidupnya. Aku ingin lihat apakah pertapa tua itu mampu menanganinya " sahut Rey tersenyum miring. Asgar ikut tersenyum miring.
Pertapa tua itu komat kamit membaca mantra dan mengacungkan jarinya ke arah wanita itu. Satu cahaya melesat keluar.
" Zaapp.... ! "
Wanita itu hanya tersentak sedikit. Ia menggeram dan maju menyabetkan pisaunya.
Tentu saja pertapa itu menghindar lalu menendang tangan si wanita. Tapi ternyata pegangannya kuat sekali, pisau itu tidak terlepas. Ia terus menyerang. Wanita itu semakin marah saat pertapa itu memukul kepalanya.
Ia meraung dan menerjang si pertapa, menusuk-nusuk bahu dan punggung. Orang-orang yang melihat itu menjerit ngeri. Pertapa itu menghempaskannya segera. Tapi wanita itu kembali menerjang bahkan juga menggigit.
Pertapa itu dengan kesal memukul dada wanita itu. Darah muncrat dari mulutnya.
Pisaunya dilemparkannya mengenai bahu si pertapa. Sekali lagi orang-orang berteriak kaget.
__ADS_1