GADIS TAKDIR

GADIS TAKDIR
Masalah Mariana


__ADS_3

Menyadari tingkat kekuatan Ratu lebih tinggi darinya, Darkie berubah jadi asap dan pergi. Ratu hanya melirik sedikit.


Ia mendekati Axel dan memegang bahunya. Axel seketika menghilang ( Ratu mengirimnya kembali ke istana dengan cara teleportasi). Lalu Ratu menyentuh dinding perisai sambil membaca mantra penghilang. Kemudian memegang lengan Raja dan teleportasi ke istana.


Warga terkagum-kagum dengan perbuatan Ratu. Pantaslah ia menjadi Ratu Trexodia. Kebijaksanaan dan kekuatan sihirnya sungguh hebat. Zigaz dan Rey saling pandang.


" Pertunjukan sudah usai. Ayo kembali ke penginapan " Zigaz meraih bahu Rey dan mereka juga menghilang.


Di istana Raja dan Ratu muncul di kamar Axel. Ratu segera memeriksa keadaan Axel. Raja duduk di kursi. Ratu memaksa Axel agar membuka bajunya. Axel membukanya dengan enggan.


Tampak warna keunguan di beberapa tempat : bahu, dada, lengan dan punggung. Ia menyuruh Axel duduk bersila di lantai. Ratu juga duduk bersila di belakangnya, menempelkan kedua tangan di punggung Axel. Hingga satu putaran jam pasir, Ratu kelelahan. Ia mengatakan pengobatan akan dilanjutkan besok lagi.


Raja tidak berkata apa-apa pada Axel. Ia bangkit menggandeng Ratu untuk kembali ke kamar dan beristirahat.


Sementara Axel segera membersihkan badan sebelum beristirahat. Ia merasa tubuhnya sakit dan ngilu meski sudah diobati oleh Ratu. Matanya terpejam, namun alisnya mengernyit. Tak disangka Darkie ingin mengkhianati dirinya. Ternyata ia juga mengincar Rey.


Keesokan paginya di kediaman bangsawan Marco.


Beberapa pelayan muntah dan menolak melayani nona Mariana. Mereka lebih menerima diberhentikan daripada terus menerus dihukum karena menyinggung perasaan nona Mariana.


Kepala pelayan juga enggan melayaninya, itu sebabnya ia menyuruh pelayan lain yang masuk ke kamar Mariana. Pada akhirnya mereka semua berdiam di dapur saja, tapi ribut mengusulkan yang lain. Hingga akhirnya terdengar teriakan keras menggema.


" PELAYAAAAAAANNN............. !!! "


Seketika dapur menjadi sunyi. Para pengawal bergegas pergi ke halaman belakang, berpura-pura melakukan sesuatu atau memberi makan kuda.


" PELAYAAAAAAANNN............. ??? "


Ini teriakan Mariana yang kedua. Nyonya Marco bangun terkejut. Ia segera keluar ke arah dapur ( kamar Mariana di lantai 2 ).


" Mengapa kalian berdiam diri saja di sini ? Apa kalian tak mendengar teriakan Mariana ? " tegur nyonya Marco pada para pelayan.


Mereka semua segera berlutut memohon.


" Nyonya, kami mohon maaf tidak mengindahkan nona Mariana. Tapi kami sungguh-sungguh tak tahan dengan bau mulut nona. Kami bersedia di berhentikan atas masalah ini " kepala pelayan mewakili para pelayan berbicara. Ia juga berlutut menundukkan kepala.


Nyonya Marco menepuk dahinya. Ia juga lupa kalau anaknya terkena kutukan penyihir.

__ADS_1


" Haiiiiissshh............. jangan pergi. Biar aku dan suamiku yang pergi memohon bantuan pada Ratu Elena nanti. Untuk sementara, tutuplah hidung kalian dengan saputangan saat melayaninya. Bangunlah.... Siapkan keperluan Mariana dan sarapan pagi untuk kami di kamar " kata nyonya Marco melambaikan tangan. Para pelayan segera berdiri namun lesu.


" PELAYAAAAAAAAANNN............. !!! " kali ini teriakannya sungguh sangat keras. Tuan Marco merasa terganggu. Ia keluar sambil membanting pintu.


" Braakkk...... ! "


Nyonya Mariana segera datang menenangkannya. Ia mengatakan beberapa hal. Tuan Marco mengangguk setuju. Mereka segera kembali ke kamar untuk bersiap-siap. Pagi ini mereka akan makan pagi di kamar saja, sengaja menghindari Mariana.


Namun selesai makan pagi tuan Marco tidak bisa langsung pergi. Ia harus menangani hal-hal tentang usaha pertambangannya. Beberapa wakilnya ada yang bertugas di kota lain.


Ketika matahari sudah tinggi, nyonya Marco datang mengingatkannya. Ia datang bersama Mariana. Mariana menggunakan kain penutup mulut. Namun bau masih terasa ketika ia mengomel.


" Tccck....... berhentilah menggerutu, Mariana. Perutku jadi mual..... ! " tuan Marco menatap Mariana kesal. Ia juga menutup hidungnya dengan saputangan. Tapi bau busuk itu masih saja tercium.


Tuan Marco meminta disiapkan dua kereta kuda. Ia tidak mau satu kereta dengan Mariana. Mariana duduk di keretanya sendiri dengan muka masam , mulut cemberut. " Se-asam jerut purut "


Pengawal membawa mereka bertiga menghadap Raja. Sebenarnya hubungan bangsawan Marco dan Raja saling menguntungkan.


" Apa kabar Tuan Marco...... ? " sapa Raja. Mereka saling berjabat tangan. Raja mempersilahkan duduk.


" Ada apa Tuan Marco menyempatkan diri menemui saya. Apakah ada kesulitan dengan pertambangan anda ? " tanya Raja.


Raja menatap Mariana sejenak. Lalu kembali menatap Marco.


" Masalah apa yang menimpanya ? " tanya Raja ingin tahu.


Tuan Marco menghela nafas sebelum bercerita.


" Mariana tidak sengaja menyinggung seorang penyihir. Ia menantangnya dan berakhir di kutuk "


Raja menatap Mariana yang menunduk malu.


" Apa kutukannya ? " tanya Raja.


" M....... Mulutnya bau busuk " jawab Tuan Marco.


" Apa........ ?! Coba bicaralah...... " perintah Raja pada Mariana. Tuan Marco dan istrinya buru-buru menutup hidungnya dengan saputangan.

__ADS_1


" Saya..... eh, maaf........ hamba....... "


" Oh.... Astagaaa.......... ! " Raja mendesis pelan dan menutup hidungnya dengan tangan. Ia terbelalak menatap Mariana.


Mariana segera menutup mulutnya dengan kain. Ia menunduk begitu dalam karena amat malu. Lalu bangkit berdiri dan segera berlari ke luar ruangan. Diam-diam ia menangis diluar. Ibunya menatap ke arah pintu namun tidak mengejarnya karena tangannya ditahan oleh tuan Marco.


" Masalah penyihir, ku rasa kalian harus membicarakannya dengan Ratu Elena. Nyonya Marco...... bawalah putrimu menemui Ratu Elena " Raja memberi saran.


Nyonya Marco mengangguk dan segera beranjak keluar ruangan. Sementara Tuan Marco tetap bersama Raja untuk membicarakan hal lain-lain.


Nyonya Marco mengajak Mariana mencari Ratu Elena. Mereka bertanya pada pengawal atau pelayan yang kebetulan berpapasan dengan mereka.


" Biasanya, pada waktu segini Ratu berada di halaman belakang " jawab seorang pelayan.


Mereka berdua segera menuju ke taman belakang, tapi ternyata tidak ada. Nyonya Marco kembali bertanya-tanya pada setiap pelayan yang melintas di lorong istana.


" Oh.... Yang Mulia Ratu ada di kamar Pangeran Axel. Beliau sedang mengobati Pangeran Axel "


" A...apa yang terjadi pada Pangeran ? " tanya nyonya Marco ingin tahu. Mariana juga ingin bertanya, tapi nyonya Marco sudah melarangnya tutup mulut sedari awal masuk ke istana agar tidak menyebabkan kegemparan.


" Pangeran Marco tadi malam bertarung dengan penyihir hitam dan keracunan " jawab pelayan itu kemudian berlalu.


Nyonya Marco dan Mariana segera menuju ke kamar Pangeran Axel. Tetapi pengawal melarang mereka untuk masuk karena Pangeran tidak suka orang luar masuk ke kamarnya.


" Lebih baik anda berdua menunggu saja. Dulu pernah nona Thalia masuk mengunjungi Pangeran yang sedang sakit demam. Tapi Pangeran langsung melempar nona Thalia keluar lewat jendela " kata pengawal itu.


Nyonya Marco tercengang, mulutnya ternganga lebar. Mariana segera menyenggol ibunya sambil berbisik pelan.


" Ibu, tutup mulutmu "


Nyonya Marco segera menutup mulut dan hidungnya karena bau busuk mulut Mariana. Ia ganti melotot pada Mariana untuk mengingatkannya. Mariana pun menunduk.


Pengawal juga menutup hidungnya sambil menatap Mariana. Tak disangka gadis cantik ini mulutnya bau busuk.


" Nona..... Apa anda tidak menggosok gigi satu bulan ini ?! " tanyanya tanpa rasa bersalah.


" Kau..... ! " Mariana menuding pengawal itu hendak mengomel. Tapi nyonya Marco semakin besar melotot padanya. Seperti mata kodok.......

__ADS_1



__ADS_2