GADIS TAKDIR

GADIS TAKDIR
36. Malam Mencekam


__ADS_3



Ini kejadian di malam yang sama saat para penyihir mendatangi bola sihir berisi Raja Higo. Mereka tak berhasil mendeteksi jejak aura dari bola sihir itu. Sehingga menyelusuri ibukota mencari-cari.


Rey duduk di ranjang dengan wajah tegang. Ini masih belum terlalu malam. Terdengar anjing menggonggong dan teriakan seseorang. Rey waspada. Ia ingin tahu tapi ingat pesan Kendrick untuk tidak keluar atau melakukan tindakan sihir apapun.

__ADS_1


Ia berdiri menempelkan telinganya ke dinding kamar yang bersebelahan dengan kamar nenek Angel. Tapi tidak terdengar suara apapun dari sana. Itu berarti mereka baik-baik saja. Rey tidak tahu bagaimana dengan Asgar. Kamarnya terpisah jauh. Semoga saja tidak terjadi apapun.


Sementara Kamar Asgar berada di ujung lorong. Ia juga mendengar suara teriakan itu. Lalu ada suara orang berlari. Dan teriakan menyayat. Sepertinya berasal dari halaman samping penginapan. Ia berdiri bingung. Ia ingin melihat ada apa diluar. Tapi ia teringat larangan Lord Kendrick. Akhirnya Asgar duduk sambil mengetuk-ngetukkan kakinya pelan untuk mengurangi kecemasan.


Keadaan diluar sangat menegangkan. Terlihat ada sosok hitam yang menyerang seorang laki-laki. Tapi teriakan orang itu mengundang kehadiran penjaga penginapan. Penjaga itu berusaha menebas sosok hitam dengan pedang berlapis perak. Penyihir itu terkena bagian tangannya dan menjerit panjang saat tangannya berasap. Penjaga itu kembali menebas-nebaskan pedangnya secara acak. Akhirnya sosok itu hilang berasap. Sementara orang yang terluka sudah merangkak pergi diam-diam. Kakinya gemetaran dan nafasnya putus-putus.


Penjaga itu lalu berlari masuk penginapan dan segera mengunci pintunya. Tampak wajahnya pucat ketakutan. Ia tak menyangka akan bertemu dengan penyihir malam ini. Baru saja ia akan beranjak dari pintu, kembali terdengar teriakan seseorang di kejauhan. Penjaga penginapan merangkak ketakutan. Kali ini ia tak ingin keluar menolong. Ia bersembunyi dibawah meja penerima tamu. Ditutupnya telinganya agar tak mendengar jeritan kesakitan atau ketakutan di luar sana .

__ADS_1


Rey melotot ngeri mendengar suara-suara itu. Ia meremas gaunnya karena tak berani keluar. Ia merasa yakin ada banyak penyihir yang berkeliaran di luar. Mereka datang silih berganti. Rey tahu itu dari desauan angin dan lolongan anjing.


Menjelang tengah malam, udara terasa dingin mencekam. Suatu aura gelap yang berlebihan melanda sekitar. Rey cepat-cepat masuk ke dalam selimut dan menutup sampai kepala. Ia menggigit bibirnya agar tak bersuara. Dipejamkannya matanya rapat-rapat. Ia tahu itu aura penyihir level tinggi. Di kamar lain, Angel dan nenek berpelukan erat. Angel menangis dalam diam. Nenek mengelus punggungnya dengan tangan gemetar.


Asgar pun merasa gentar namun tetap waspada. Ia menggenggam erat tangannya. Berjaga-jaga jika ada sesuatu muncul dikamarnya. Matanya mengawasi sekeliling kamarnya. Asgar bernafas perlahan.


Di luar, tampak kabut hitam melayang rendah. Kabut itu menyelusuri bekas kejadian tadi. Lalu bergerak menyelimuti penginapan, seolah mengintip penghuninya satu-persatu. Membuat suasana terasa mencekam selama beberapa waktu. Kemudian perlahan pergi.

__ADS_1


Rey membuka selimut yang menutupi kepalanya. Ia menarik nafas sebanyak-banyaknya. Hatinya lega karena tak terjadi apapun di dalam penginapan. Akhirnya Rey tertidur menjelang pagi.


__ADS_2