
" Baiklah...... kamu mengalami luka dalam, patah kaki dan lumpuh. Aku bisa menyembuhkan semuanya karena tidak ada pengaruh sihir saat Axel melakukannya. Tetapi ada syarat yang harus kamu penuhi " kata Ratu.
" Apa itu Yang Mulia ? " tanya Thalia sedikit heran.
Ratu menghela nafasnya.
" Jika sudah sembuh nanti, aku minta kamu melupakan dan menjauhi Axel. Ia selalu bersikap kasar padamu. Aku khawatir suatu saat kamu akan celaka tidak tertolong " kata Ratu. Tuan dan nyonya Carlos mengangguk-angguk. Sedang Thalia tertegun. Bagaimana bisa ia menghapus perasaannya terhadap Axel ?
" Thalia...... ? " tegur tuan Carlos.
Thalia menatap ayah dan ibunya dengan sedih. Lalu ia mengangguk pada Ratu Elena. Ratu Elena tahu Thalia akan menepatinya meskipun untuk saat ini masih tidak rela.
Lalu Ratu membaca mantra penyembuhan dan mantra pengingat agar Thalia tidak mendekati Axel. Mantra pengingat ini akan bekerja hanya jika Thalia melihat Axel. Bola cahaya kecil terbentuk di tangan Ratu. Ratu menyuruh Thalia membuka mulut dan menelannya. Rasa hangat menjalar di tenggorokannya, dadanya, perutnya, punggungnya agak lama kemudian terakhir di bagian kaki. Kemudian Thalia merasa kepalanya juga sedikit hangat untuk sejenak.
" Thalia....... ? " tanya ibunya yang melihat Thalia seperti orang linglung.
" Eh..... A...apa bu...... ? "
" Cobalah menggerakkan tangan dan kakimu " kata Ratu.
Thalia menggerakkan jari-jarinya perlahan, lalu mengangkat tangannya. Mulutnya tak sadar terbuka lebar karena rasa senang membuncah dari hatinya.
" Cobalah duduk.... " kata Ratu membantunya. Nyonya Carlos segera mendekat ikut membantu.
" I.... ibu...... Aku sembuh...... ! " mata Thalia berkaca-kaca menatap ibunya.
" Gerakkan kakimu dan turunlah " perintah Ratu. Thalia melakukan semuanya. Ia menatap kakinya agak lama.
" Ayo.... ! berjalanlah........ " tegur Ratu.
Thalia melangkah satu-satu. Ibunya menuntun ke arah ayahnya. Ayahnya langsung memeluknya ketika sudah sampai. Kemudian Thalia duduk beristirahat di ujung pembaringan.
" Yang Mulia Ratu, terima kasih sudah menolong hamba.... " kata Thalia.
" Untuk sementara, rahasiakan kesembuhanmu dari orang luar selama satu minggu dan jangan keluar. Katakan saja tabib sedang melakukan pengobatan "
__ADS_1
" Kami mengerti Ratu " jawab tuan Carlos.
" Aku minta maaf karena anakku bersalah padamu. Mengenai hukuman Axel, Raja sedang membicarakannya bersama penasehat Raja. Ingat...... JAUHI AXEL agar tidak celaka " pesan Ratu sebelum menghilang. Tuan Carlos menghela nafasnya.
Setelah Ratu pergi, Thalia menangis dalam diam. Ibunya membelai punggungnya untuk menenangkannya. Pengawal mengingatkan tuan Carlos akan urusannya yang tertunda. Tuan Carlos berpamitan pada istrinya sekali lagi. Ia sudah terlambat satu putaran jam waktu. Tapi kali ini ia berangkat dengan hati senang karena Thalia tidak jadi lumpuh. Ia berniat akan mencarikan pemuda sukses untuk Thalia setelah urusan usahanya selesai.
Di istana Raja dan penasehat memutuskan untuk menyegel kekuatan sihir Pangeran Axel dengan bantuan Ratu.
Penasehat Raja segera membuat surat pemanggilan untuk Pangeran Axel. Pengadilan akan dilaksanakan setelah makan siang dengan dihadiri oleh orang-orang yang berkaitan. Pengawal mengirimkan surat panggilan untuk Thalia, Ratu dan Pangeran Axel.
Saat makan siang, Raja berbincang dengan Ratu.
" Istriku..... tugasmu nanti adalah menyegel kekuatan sihir Axel untuk sementara " kata Raja.
" Hmm....... aku yakin Axel akan melawan. Apakah ada pilihan lain untuknya ? " tanya Ratu was-was.
Raja hanya menatap sendu tanpa menjawab.
Setelah makan siang, Raja dan Ratu melangkah bersama ke ruang pengadilan istana. Disana sudah ada Penasehat Raja, Menteri Hukum, Petugas Pencatat ( sekretaris ) , pelayan Thalia ( perwakilan Thalia ) dan 10 prajurit pengamanan. Hanya Pangeran Axel yang belum datang. Ratu mengirimkan bola cahaya untuk memanggil Axel.
Wajah Axel tampak jelek. Pada dasarnya ia tidak suka dibicarakan orang. Apalagi ini sebenarnya adalah masalah pribadi. Tapi kenyataannya memang dia bersalah telah memukul dan menendang Thalia. Axel saat itu sangat kesal sehingga menganggap itu pantas diterima Thalia. Selama ini ia sudah muak dengan Thalia yang selalu mengekor dan mengaku sebagai kekasihnya. Bahkan terang-terangan cemburu pada Rey, gadis dambaannya.
Satu bola cahaya kecil meluncur menghindari tabrakan dengan orang-orang. Bola itu terus bergerak hingga menabrak punggung seseorang yang dicarinya.
" Ah..... ! "
Axel tertegun ketika sesuatu menerkam punggungnya. Dalam sekejap ia sudah berpindah tempat ke ruang pengadilan istana. Wujudnya juga kembali menjadi dirinya sendiri. Ia mengerutkan kening menatap semua yang hadir di ruangan itu.
Raja memberi isyarat pada Petugas Pencatat. Petugas Pencatat segera membacakan acara.
" Hari ini, akan dilaksanakan peradilan atas masalah yang menimpa nona Thalia "
" Pelayan nona Thalia. Benarkah nona Thalia lumpuh karena mengalami pemukulan dan tendangan yang dilakukan oleh Pangeran Axel ? " tanya Mentri Hukum.
" Benar tuan. Saat ini nona sedang ditangani oleh tabib " jawab pelayan Thalia sesuai pesan tuan Carlos.
__ADS_1
" Pangeran Axel...... para warga menyaksikan anda memukul dan menendang nona Thalia. Apakah itu benar anda ? " Mentri Hukum bertanya untuk memastikan.
" Ya " Axel menjawab tanpa perasaan kasihan.
" Jika begitu, Pangeran dinyatakan bersalah karena telah melanggar hukum. Mengenai hukuman untuk Pangeran Axel, akan diputuskan oleh Raja "
Penasehat Raja maju sedikit ke depan dan membacakan surat keputusan pengadilan.
" Hukuman penyegelan kekuatan sihir akan diberlakukan pada Pangeran Axel selama satu bulan.
Jika dalam satu bulan ini Pangeran Axel kembali berulah, maka masa hukuman akan ditambah satu bulan lagi. Dan hukuman bisa berubah tergantung kesalahan yang diperbuat "
" Aku MENOLAK..... ! " Pangeran Axel setengah berteriak. Matanya menampakkan kemarahan.
" Jika Pangeran Axel menolak dihukum, maka Pangeran Axel tidak dianggap sebagai warga kerajaan Trexodia lagi " tegur penasehat Raja.
" Aku tidak perduli.... ! " jawab Axel berbalik pergi.
" AXEL........ ! berpikirlah lebih jernih ! " tegur Ratu. Tapi Pangeran Axel terus berjalan keluar ruangan.
Ratu sudah hampir bangkit mengejar Axel ketika Raja meraih pergelangan tangan Ratu dan memeluknya.
" Biarkan dia pergi. Ia sudah dewasa dan memilih jalannya sendiri "
Ratu menangis di pelukan Raja. Penasehat dan yang lain menundukkan kepalanya ikut kecewa. Bagaimana pun Pangeran Axel seharusnya bisa menjadi Putra Mahkota yang hebat. Sayang sekali......
Axel melesat ke bukit di belakang istana. Ia melampiaskan kekesalannya dengan memukul pohon-pohon hingga tumbang. Ada sekitar 30 pohon yang dirusak Axel. Tapi Axel masih belum puas. Ia membakar dan melemparkan satu-satu menabrak yang lain, menyebabkan kebakaran besar.
Hewan-hewan berkaki empat segera berlarian ke perkampungan, membuat kekacauan. Warga menjadi panik dan ada yang melapor ke istana.
Penasehat tergopoh-gopoh menemui Raja yang masih menghibur Ratu Elena.
" Mohon maaf Yang Mulia Raja, terjadi kebakaran di bukit belakang istana "
__ADS_1
" Astagaaa......... anak ini sungguh pembuat masalah...... " Raja memijit-mijit kepalanya sebentar. Ia yakin itu perbuatan Axel yang marah atas keputusan pengadilan barusan.