
Jadi pertapa ini tak diketahui asalnya dari mana dan namanya siapa. Rey mengajak Asgar keluar.
" Asgar.... Apa kau pernah bertemu dengan Tetua Outter ? " tanya Rey.
" Belum Nona " jawab Asgar.
" Aku juga belum. Tapi aku khawatir ia mengenali kita nanti. Bukankah ia yang melapor pada Kendrick saat aku menghukum Raja Higo ? Pasti ia juga tahu kamu adalah Ksatria Asgar pada waktu itu " Rey menatap Asgar.
" Kalau begitu Nona menyamar jadi laki-laki dan aku menyamar jadi perempuan saja " saran Asgar.
" Baiklah "
Rey segera merubah penampilan mereka. Lalu Rey mampir ke beberapa toko untuk membeli keperluan dan mencari penginapan.
Mereka bertemu Teana lagi. Kali ini ia pergi tanpa ditemani dengan pelayannya. Teana tersenyum sinis menatap Axie, namun tersenyum malu-malu pada Roy (Rey).
" Tuan muda.... anda hendak kemana ? " tanyanya.
" Aku akan bersenang-senang, kau mau ikut ? " goda Roy.
" Jangan, ia hanya akan menggangu waktu kita berdua " ujar Axie.
Teana mendengus kesal.
" Baiklah aku ikut " katanya tersenyum tipis pada Axie. Ia mengira mereka akan berjalan-jalan.
Roy dan Axie berjalan bersama didepan, sedang Teana dibelakang sendirian. Tentu saja Teana cemberut.
Teana heran karena Roy menuju penginapan VIXOI. Roy memesan 2 kamar.
( " Axie, kita akan beristirahat dulu. Nanti setelah hari sore kita akan ke sana. Biarkan saja Teana menunggu angin lalu " ) telepati Roy sambil menyerahkan kunci kamar Axie.
Axie mengangguk dan menuju ke kamarnya. Kemudian Roy menyusul ke kamarnya sendiri.
Teana duduk menunggu, mengira mereka akan segera keluar. Waktu berlalu 30 hitungan. pengunjung penginapan sudah banyak berlalu-lalang. Kadang-kadang ada juga yang menggodanya. Teana mulai gelisah dan gusar.
Ia berdiri hendak menyusul ke kamar Roy tapi ia tidak tahu yang mana. Teana bertanya pada petugas meja penginapan, namun ia juga tidak tahu namanya. Tentu saja petugas penginapan menertawakannya. Teana bergegas pulang dengan hati kesal. Ia berpikir ini pasti gara-gara Axie. Jangan-jangan mereka tidur bersama hingga melupakannya.
__ADS_1
Saat sore, Axie keluar kamar dan duduk diruang tamu.
Seorang wanita mendekatinya.
" Nak.... apa kamu bukan warga sini ? "
" Bukan Bu "
" Katanya nanti malam ada pesta pemilihan gadis istimewa. Lebih baik kamu jangan ikut ya ? "
" Mengapa Bu ? "
" Aku merasa itu hanya tipuan penyihir. Tidak mungkin seorang pertapa mencari gadis istimewa tanpa ada maksudnya. Jangan-jangan gadis itu akan dikorbankan untuk kekuatan atau sesuatu. Bukankah kita mendengar yang pernah terjadi di ibukota, bayi-bayi dikorbankan untuk iblis penguasa... ? "
" Apa anda pernah melihat si pertapa ? "
Wanita itu menggeleng.
" Aku kesini dengan suami ada urusan dagang. Harusnya tadi siang kembali ke ibukota. Tapi suami ingin melihat acara nanti malam. Jadi kami kembali besok pagi saja "
Roy keluar dan mengajak Axie ke restoran. Wanita itu tersenyum melihat kedua pasangan itu berlalu.
Di restoran Roy dan Axie baru saja duduk saat seseorang datang.
" Ah, Tuan Ramos... aku sedang bersama kekasihku. Mau bergabung ? " Axie menawarkan duduk.
" Tidak. Dimana Nona Rey ? "
" Aku tidak tahu. Sepertinya dia marah karena anda mengantar nona Teana pulang tadi " cibir Axie.
" Oh tidak.... padahal aku hanya mengantar pulang saja. Tidak ada maksud lain "
" Apa maksudmu... ? Bukankah tadi kau bilang akan mengajakku jalan-jalan sore ini ? " terdengar suara perempuan bernada marah. Ramos menoleh dan meringis tak berdaya.
" Maaf Teana.... aku hanya basa-basi karena ada ayahmu. Sebenarnya itu kulakukan untuk menghiburmu. Kau bilang kau tak bisa datang ke pesta nanti malam karena kondisimu.... " ujar Ramos.
" Aku rasa kalian cocok karena sama-sama bermulut manis. Sungguh pasangan yang istimewa. Aku akan beritahu Nona Rey " Axie mencibir.
" Tidak, nona Axie. Jangan.... Ini hanya salah paham " Ramos gugup.
__ADS_1
" Apanya yang salah paham ? Ada hubungan apa kamu dengan nona Rey ? " Teana meradang.
" Teana, diamlah... ! Aku mengenal nona Rey lebih dulu daripada denganmu. Kau ingat waktu di toko pakaian, siapa yang selalu mencoba mengalihkan perhatianku dari nona Rey ? Itu kau... ! " tegur Ramos.
" Aku... ?! " Teana menolak.
" Ya..... ! " sahut Ramos dan Axie berbarengan.
Seketika semua orang menatap Teana seperti menghakimi. Muka Teana memerah. Ia menahan rasa malu dan marahnya.
" Hmmmph.... ! Aku akan katakan pada ayahku. Kau tunggu saja " kata Teana pada Ramos sebelum berbalik pergi.
Ramos tidak perduli. Ia mengatur nafasnya lalu menatap pada Axie.
" Pergilah cari sendiri. Jangan menggangguku " Axie berkata ketus sebelum Ramos bertanya.
Ramos tertegun, ia menatap sejenak pada kekasih Axie yang melotot marah padanya. Ramos menghela nafas dan keluar.
Roy dan Axie menahan tawa sambil menutup mulut mereka dengan tangan. Mereka lanjut makan dengan senang.
" Jadi bagaimana dengan pesta malam purnama nanti. Apa kita akan seperti ini terus ? " tanya Roy.
" Ya, saya akan mencoba ikut pemilihan. Nona, eh tuan... cukup mengawasi saja. Jika ada kejanggalan barulah bertindak sesuai keadaan " jawab Axie.
Rey mengangguk-angguk.
" Aku yakin sekarang sudah banyak orang di lapangan kota, ayo... ! " ajak Roy bangkit. Axie meletakkan beberapa koin di meja dan keluar mengikuti Roy.
Karena Roy berjalan bersama Axie, maka tak seorangpun berani mengganggunya. Orang-orang mengira mereka adalah sepasang kekasih.
Tampak di kejauhan Ramos dikelilingi beberapa gadis. Roy segera melihat sekeliling mencari Teana. Dimana gadis pencemburu itu ? Axie menyikut lengannya dan menunjuk ke suatu arah dengan dagunya. Tampak Teana berjalan terburu-buru didampingi seorang pria paruh baya dan seorang pelayan wanita menuju kerumunan.
Roy meringis kecil, sebentar lagi pasti ada keributan. Axie tersenyum miring. Roy membuat bangku dari tanah dan menarik Axie agar duduk. Mereka menonton dari jauh.
Benar saja.... Teana menarik salah satu gadis dan menamparnya. Lalu menarik lagi satu gadis dan menamparnya juga. Ia mencaci maki para gadis yang ada disitu. Namun gadis yang pertama ditampar, mendorong jatuh Teana dan mendudukinya sambil memukulinya. Gadis kedua ikut berjongkok menjambak Teana. Terdengar teriakan dan jeritan.
Pria paruh baya dan pelayan Teana berusaha menolong Teana. Namun gadis-gadis lain datang memukuli mereka. Ramos sendiri malah mundur menjauh.
Para pria yang berada di sekitar mereka mencoba memisahkan semuanya. Ada 7 orang gadis, 5 pelayan wanita dan 1 orang pria yang bersama Teana. Mereka masih saling berteriak dan mencoba membalas lagi.
__ADS_1
Roy dan Axie cekikikan melihat penampilan masing-masing. Rambut kusut tak karuan dan gaun robek sana sini. Padahal para gadis itu tadi sudah berdandan sangat lama. Gaun yang mereka pakai adalah gaun yang baru dan mahal.
Para pria itu saling menggelengkan kepala melihat kelakuan mereka semua. Sama sekali tak mencerminkan kebangsawanannya. Ayah Teana segera menyeret pulang Teana. Ia malu karena jadi bahan tontonan dan cibiran semua orang.