
" Enak saja.... ! "
" Tccck..... ! DIAAMM...... ! " Axel melotot marah pada Thalia. Namun Thalia tidak takut. Ia hanya cemberut saja.
" Lebih baik pulanglah..... ! " usir Axel.
" Aku tidak mau.... ! " Thalia menatap kesal pada Axel dan Rey.
" Baiklah jika kau tidak mau pulang, maka aku yang pulang " kata Rey bangkit berdiri menggamit lengan Zigaz. Zigaz segera beranjak.
" Tidak, Rey..... Tunggu...... ! Ada yang ingin kubicarakan denganmu...... Rey..... ! " Axel ikut berdiri mencoba menghentikan Rey. Tapi Thalia meraih lengannya dan menahannya kuat-kuat.
" Axel.... ! apa kau buta ?! Tidakkah kau lihat ia begitu mesra dengan pria itu ? "
" Masa bodoh..... Aku tidak perduli. Minggir..... ! " Axel mengibaskan lengannya dan mendorong Thalia hingga kembali terduduk di kursi. Ia berlari ke depan dan menengok ke kanan ke kiri. Tapi Rey tak ada lagi.
" Hhhhhh............... ! Selalu saja begini.... ! Ini semua gara-gara Thalia..... ! " Axel berbalik menatap ke belakang.
Kebetulan Thalia datang menyusulnya. Axel melampiaskan amarahnya dengan melepaskan pukulan ke dada Thalia.
" Buukkk...... ! Aaahhkk...... ! " Thalia terhempas. Mulutnya memuntahkan darah. Axel datang menendang kakinya, perutnya dan punggungnya.
" Duukkk..... ! Aow...... ! "
" Duukkk..... ! Aaahhkk...... ! " Thalia muntah darah.
" Duukkk..... ! Aaaaaaaaarrgh......... ! " Thalia mengerang panjang punggungnya kena tendang Pangeran Axel.
Para wanita yang melihat menjerit ngeri. Sedang para pria mencoba menahan Axel. Axel memberontak dan melayang pergi.
Beberapa orang segera menolong Thalia. Mereka membawa Thalia ke tepi. Tapi kondisi Thalia sepertinya parah. Begitu kerasnya Axel menendang kaki dan punggung Thalia hingga patah. Thalia hanya bisa mengerang dan menangis kesakitan. Akhirnya orang-orang membawa Thalia pulang ke rumahnya.
__ADS_1
Kejadian ini jadi pembicaraan ketiga dalam minggu ini. Pertama adalah pertandingan Rey dengan Mariana. Kedua Pertarungan penyihir hitam ( Darkie ) dan penyihir putih ( Axel menyamar ). Sedang hari ini, pemuda penyihir menyerang seorang gadis ( warga tidak mengenali wajah Axel karena tidak pernah bergaul ).
Tuan Carlos mendengarkan penjelasan warga tentang kejadian yang menimpa Thalia. Ia memanggil tabib untuk memeriksa Thalia. Ternyata ia nenek Wilma. Dan jawaban nenek Wilma itu sungguh mengejutkan tuan Carlos, Thalia lumpuh karena tulang punggungnya cedera. Nenek Wilma hanya bisa menolong kakinya yang patah dan memberi ramuan penyembuh. Tapi untuk hal kelumpuhan ia tidak bisa.
Nyonya Carlos menangis sedih. Ini sudah yang ke berapa kalinya Thalia berurusan dengan Pangeran Axel. Terakhir kemarin rambutnya dibakar Axel. Dan Ratu menolak menolongnya. Sekarang lumpuh..... ?
" Suamiku...... Kau harus menemui Raja. Bagaimana pun Thalia lumpuh karena Pangeran Axel " nyonya Carlos memohon.
Tuan Carlos memegang kepalanya sambil menatap istrinya.
" Jika pun aku memohon pada Raja, bisakah Ratu menyembuhkan Thalia ? Bukankah selama ini Ratu tidak bisa menyembuhkan orang sakit ? "
" ............ setidaknya Raja akan menghukum Pangeran Axel atas perbuatannya. Bukankah Raja selalu adil ? "
" Tapi Thalia......... ? " Bagaimana pun Thalia mencintai Pangeran Axel sejak Axel menjadi hakim agung. Ia pasti tidak akan rela jika Pangeran Axel dihukum. Tuan Carlos menatap Thalia yang sudah tertidur setelah minum ramuan penyembuh. Ia mengajak istrinya keluar agar tidak menggangu Thalia istirahat.
Tuan Carlos memanggil Renzo. Renzo adalah orang kepercayaan keluarga Carlos. Ia sudah mengabdi pada ayah tuan Carlos sejak muda. Tuan Carlos mengatakan tentang keadaan Thalia.
" Tuan, jika benar nona Thalia lumpuh karena Pangeran Axel. Anda tidak perlu datang ke istana. Saya akan memastikan banyak orang membicarakan tentang Pangeran Axel yang menendang nona Thalia. Hal ini pasti akan terdengar oleh pihak istana. Jadi anda tinggal menunggu panggilan dari Raja "
Sepanjang siang hingga sore banyak warga yang membicarakan tentang Pangeran Axel yang menendang Thalia hingga lumpuh. Mereka menghujat kelakuan Pangeran Axel yang tidak selaras dengan julukannya sebagai Hakim Agung.
Keesokan harinya, para pelayan istana yang pergi ke pasar mendengar pembicaraan banyak orang. Kepala pelayan tidak berani menyampaikan hal ini langsung kepada Raja. Jadi ia menemui penasehat Raja. Penasehat segera pergi menemui Raja.
Tentu saja Raja terkejut mendengar berita itu. Ia seketika kecewa dan malu karena Pangeran Axel melakukan kesalahan disaksikan warga. Jika sudah seperti ini, Raja tidak bisa menutupinya. Ia menyuruh pengawal memanggil Ratu.
Tak lama Ratu datang memberi hormat dan segera duduk. Mereka bertiga ada di ruang kerja Raja sehingga tertutup.
" Yang Mulia Raja, ada apa memanggil saya ? " tanya Ratu polos. Tampaknya ia memang belum mendengar kabar buruk dari para pelayan pribadinya.
" Ini tentang anakmu, Axel..... Ia memukul dan menendang Thalia di depan umum "
__ADS_1
" Tccck........ mengapa Thalia selalu ingin dekat dengan Axel, sudah tahu Axel tidak menginginkannya. Bagaimana keadaannya sekarang ? " tanya Ratu.
" Thalia lumpuh..... "
" Apaaaaa........ ?! Ya ampuuun.......... Axeeeeellll............... " Ratu memejamkan mata menahan emosinya. Kali ini Axel sudah keterlaluan.
" Ratu....... bisakah anda menyembuhkannya ? " tanya Raja berharap.
" Jika itu tidak disertai kutukan, aku bisa menyembuhkannya. Tapi Axel harus tetap dihukum supaya tidak melakukan hal seperti ini lagi pada yang lain. Dan satu lagi, aku tidak ingin Axel tahu tentang pengobatan Thalia " Ratu menatap pada Raja dan penasehat Raja.
" Baik...... sekarang kita pikirkan, hukuman apa yang pantas bagi Pangeran Axel. Jangan sampai Putri Rey lebih dulu menghukumnya " kata Raja was-was.
" Maaf Yang Mulia, siapa Putri Rey ? " tanya penasehat Raja.
" Putri Rey adalah Gadis Takdir, calon Ratu Astraco "
Penasehat manggut-manggut...
Ratu pamit akan pergi ke rumah tuan Carlos. Sementara Raja dan penasehat akan membicarakan hukuman bagi Pangeran Axel
Tuan Carlos sudah akan pergi naik kereta kuda untuk mengurus usahanya di kota lain ketika Ratu muncul.
" Yang Mulia Ratu...... " tuan Carlos dan pengawalnya memberi hormat.
" Aku datang untuk menengok Thalia " ucap Ratu.
" Mari..... silahkan masuk Ratu " tuan Carlos terpaksa menunda kepergiannya. Ia langsung membawa Ratu Elena menuju kamar Thalia. Nyonya Carlos terkejut melihat kedatangan Ratu Elena. Ia segera memberi hormat.
" Yang Mulia Ratu..... "
Ratu hanya mengangguk. Ia mendekati Thalia dan memeriksa dengan bola cahaya. Lalu mengucap mantra sebelum menyentuh dahi Thalia. Perlahan Thalia membuka matanya. Ia melihat ada Ratu Elena dan berusaha bangkit untuk memberi hormat. Tapi itu sia-sia karena ia sedang lumpuh. Thalia menatap Ratu seolah minta maaf.
__ADS_1
" Tidak apa-apa........ Ceritakan padaku dari awal " perintah Ratu. Nyonya Carlos menarik kursi untuk Ratu Elena. Sedang tuan dan nyonya Carlos berdiri di ujung ranjang Thalia. Mereka mendengarkan cerita Thalia sampai akhir ( tidak ada kebohongan karena Ratu sudah memberi mantra kejujuran ). Mereka semua mengetahui bahwa Thalia memang sedikit posesif sehingga Axel kehilangan kesabaran terhadap Thalia.