GADIS TAKDIR

GADIS TAKDIR
116. Kegagalan Roh Racun


__ADS_3

Merasa jengkel karena gagal, Roh Racun berenang lebih cepat.


( " Dasar binatang jelek, tak bertulang, tak berdaging. Awas jika tertangkap akan kutarik ekormu sampai keriting " )


Mulutnya mencaci-maki dengan ganas, namun yang keluar adalah cairan racun seribu berwarna ungu kemerahan.


Ho..Ho..Ho..Ho........


Zigaz dengan senang hati meliuk-liuk kesana-kemari, namun tetap ke arah yang menjauhi tengah danau. Roh Racun mengejarnya namun tetap kalah cepat. Akhirnya Roh Racun berhenti dan kembali ke tengah danau.


Tentu saja Zigaz tak membiarkannya kembali. Zigaz mengincar kaki Roh Racun. Tapi Roh Racun selalu tahu dan menembakkan racun sebelum Zigaz dapat menyengatnya.


Pada akhirnya Roh Racun dapat melihat sesuatu yang tergeletak di tengah danau. Seorang gadis cantik dengan gaun putih terbaring tenang. Ada berkas-berkas jejak racun yang keluar dari tubuhnya.


Roh Racun terpana melihat wajah gadis itu. Ada titik cahaya di dahinya. Ia mengulurkan jari tangannya ingin mengetahui cahaya apa itu, siapa tahu dapat mencuri sedikit kekuatan gadis yang sedang terbaring.


Tepat ketika jarinya hampir menyentuh, Roh Racun berteriak.


( " Aaaaaah...... ! " )


Belut listrik itu kembali menyengatnya, kali ini di punggungnya. Membuat ia terkejut karena mengira tersengat oleh gadis yang terbaring.


Roh Racun sekarang mengerti mengapa belut listrik itu berulang kali menyerangnya. Ternyata karena gadis ini ? Memangnya siapa dia ? Apa dia pemilik dunia jiwa ini ?


( " Baguslah...... Aku akan membunuhnya sehingga dunia jiwa ini menjadi milikku " katanya dalam hati )


Mulutnya tersenyum sangat lebar. Diulurkannya kedua tangannya, bermaksud mencekik Rey. Ia tak melihat Zigaz juga bersiap menyengat dari belakang.

__ADS_1


Tepat ketika tangannya menyentuh leher Rey, satu sengatan kuat menghamtam kepalanya.


" Zzzzttt........ ! "


( " Aaaaarrrggh ........... ! " )


Roh Racun berteriak keras dalam air, tak sengaja menyemburkan racun dari mulutnya. Kedua tangannya memegang kepalanya yang teramat sakit. Seperti disambar petir ! Ia terjatuh duduk di dasar danau. Matanya berkunang-kunang.


Zigaz sangat marah karena Roh Racun bertindak akan membunuh tuannya. Ia kembali datang menyengat di sana-sini. Membuat Roh Racun mengejang berkali-kali dan terus memuntahkan racunnya. Membuat sekeliling Roh Racun tercemar racun seribu.


Zigaz segera menyingkir agak jauh. Menunggu air danau menetralkan sekelilingnya. Setelah hitungan ke-10, air menjadi bersih lagi.


Tampak Roh Racun duduk bersandar pada sebelah tangannya. Memandang Zigaz penuh kemarahan dan benci. Ia sudah kehilangan banyak racun dari tubuhnya. Wajahnya tampak pucat. Roh Racun berpikir untuk mundur lebih dulu. Ia harus memakan tanaman beracun untuk memulihkan keadaannya. Juga mencari cara untuk menyingkirkan belut listrik ini.


Pelan-pelan ia beringsut dan berenang ke atas. Zigaz membiarkannya pergi karena ia juga harus memulihkan tenaganya. Segera ia berubah jadi keong dan beristirahat disamping bahu Rey.


" Dimana gajah bodoh itu ?! " tanyanya seorang diri.


Sebenarnya Roh Racun ingin meminta bantuan untuk mencari tanaman yang dibutuhkannya. Bukan menyuruhnya mencari, tapi dia sendiri yang akan mencarinya dengan naik ke punggung gajah. Dengan begitu ia tidak akan kecapekan berjalan.


Setelah 30 hitungan, akhirnya ia bangkit berdiri, berjalan perlahan ke arah barat sambil menengok kanan kiri. Berharap melihat gajah atau menemukan tanaman beracun.


Melewati beberapa pohon apel yang berbuah banyak dan ranum. Ia mengambil salah satu apel yang jatuh ke rumput. Digenggamnya erat sambil berkomat-kamit. Apel yang tadinya berwarna merah ranum perlahan berubah menjadi keunguan sebentar,lalu berubah seperti biasa lagi.



Roh Racun tersenyum miring. Apel itu terlihat menggoda seleranya. Tapi Roh racun tidak akan memakannya. Saat ini ia benar-benar ingin bertemu gajah. Ia akan memaksanya memakan apel ini. Dengan begitu gajah akan mati keracunan dan menjadi sumber makanan untuknya. (Roh Racun hanya makan apapun yang tercemar racun, tidak perduli buah atau hewan

__ADS_1


Jika itu manusia, maka darahnya adalah sumber makanan).


Di kejauhan, ia melihat 2 ekor kuda berwarna hitam dan putih. Oh.... Kebetulan sekali. Ia akan meracuni yang putih dan si hitam akan dijadikan tunggangannya. Segera ia mempercepat langkahnya menuju kuda-kuda itu.


" Hiiiieeeh...... " kuda hitam melirik kedatangan Roh Racun. Ia segera menyingkir agak jauh karena merasakan aura gelap pada wanita itu. Roh Racun tidak perduli. Sedari awal sasarannya adalah kuda putih.


Ia mendekati kuda putih. Dibelai-belainya surai kuda sambil mengulurkan apelnya. Kuda putih mengendus-endus apel itu. Lalu menoleh pada kuda hitam seolah meminta persetujuan. Kemudian kuda putih mengambil apel itu dengan mulutnya, namun tidak menggigitnya. Ia berlari menuju tepi danau dan melepaskan apel ke danau. Segera air disekitar apel berwarna keunguan.


" Hiiiieeeh...... "


Kuda putih bergeser sedikit dan meminum air danau yang tidak tercemar. Lalu berlari menyusul kuda hitam. Roh Racun mengepalkan tangannya kesal.


" Kuda busuk.... ! Kembali kesini.... ! " teriak Roh Racun mengejarnya. Namun kuda putih dan hitam terus berlari menjauh.


" Hhhh...... !! Sial..... ! " Roh Racun berhenti mengejar. Ia berusaha mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Gagal sudah mendapatkan makanan dan tunggangan.


Akhirnya ia berjalan kembali ke pohon apel. Diambilnya 3 apel di rerumputan. Satu persatu diracuninya dan dimakannya sambil bersandar pada batang pohon apel. Batang pohon apel perlahan mulai terlihat berwarna keunguan. Daunnya mulai layu. Setelah memakan 3 apel itu, Roh Racun memungut 2 apel lagi. Lalu memproses apel sambil berjalan ke arah kuda-kuda pergi. Ia ingin tahu apa saja yang ada di daerah barat dunia jiwa ini.


Keadaan Zigaz sudah pulih. Ia berenang keatas sambil memikirkan akan jadi apa nanti. Rasanya tak mungkin jadi gajah lagi sebab Roh Racun pasti akan menghalanginya menyirami tanaman yang layu.


Zigaz ingat pernah melihat burung berparuh besar yang makan ikan di rawa-rawa ( bangau ). Dia yakin paruh itu bisa menampung air walau sedikit.


Zigaz berubah menjadi burung berparuh besar. Diseroknya air sebelum terbang ke arah timur, menyelamatkan beberapa tanaman disana. Selang beberapa waktu 2 ekor kuda mendatanginya.


" Hiiiieeeh...... Hiiiieeeh...... "


Kuda hitam dan putih bercerita dalam bahasa binatang secara bergantian. Zigaz mengangguk-angguk. Ia menenangkan mereka bahwa Roh Racun bukan seorang petarung. Memang sesuai dengan namanya, ahli racun. Namun Zigaz tetap mengingatkan agar waspada dengan kelicikannya. Dan menyarankan agar kuda-kuda itu segera minum air danau jika merasa tidak sehat.

__ADS_1


Kedua kuda itu pergi mencari tempat yang aman. Sementara Zigaz terbang ke arah barat untuk memeriksa daerah itu. Tampak pohon apel yang batangnya keunguan dan layu daunnya. Ia juga memcuci semua apel direrumputan. Khawatir diracuni Roh Racun.


__ADS_2