GADIS TAKDIR

GADIS TAKDIR
119. Keluar Dari Ruang Dimensi


__ADS_3

" Itu tidak bisa terjadi. Tanda darah di dahimu akan menolaknya, secara otomatis kamu akan menjadi seekor naga cahaya yang akan memakannya tanpa kau sadari " jawab Rey.


" N...naga, Nona.... ? " Zigaz terkejut.


" Ya.... sejatinya Serigala CRONOS berdarah naga. Namun wujud itu hanya akan muncul jika keadaan terdesak, dikarenakan ukurannya yang terlalu besar dan bisa merusak sekelilingnya. Leluhur menyamarkan bentuk asli kalian agar tidak menyebabkan masalah, meminumkan darah serigala yang diberi mantra pada setiap naga yang lahir. " Rey tersenyum menatap Zigaz yang tercengang.


" Aku hanya memberimu tanda kepemilikan, bukan perjanjian hidup dan mati. Tanda itu sudah cukup untuk membuka segel kekuatanmu setara dengan 3/4 kekuatanku, namun tak bisa sepenuhnya tanpa ijinku. Kau hanya boleh mati setelah menunaikan tugas terakhir " lanjut Rey menjelaskan.


" Tugas terakhir, Nona ? "


" Ya, tugas itu biasanya diberikan ketika aku akan mati namun ada hal yang belum kuselesaikan " ujar Rey menatap langit.


Zigaz mengangguk-angguk.


" Sudah berapa lama kita ada disini ? " tanya Rey.


" Saya kurang tahu, Nona. Disini tidak ada siang atau malam " jawab Zigaz.


" Oh..... "


Bibir Rey membulat karena baru menyadari hal itu.


Rey menjentikkan jarinya, muncul cermin pelihat. Ia melihat tempat reruntuhan kuno tampak gelap, pertanda sedang malam. Kemudian Rey mengusap cermin dan melihat Asgar sedang tidur bersama banyak orang. Rey tenang karena ia baik-baik saja.


" Kita akan disini beberapa jam lagi. Diluar sedang malam. Pergilah memeriksa sekeliling. Aku akan memeriksa kuda-kuda "


Zigaz merubah diri menjadi burung elang dan terbang keliling. Rey menjentikkan jarinya 2 kali. Tak lama terdengar derap kuda berlari santai mendatangi Rey. Rey memeluk leher si putih sebentar dan memeriksanya badannya. Kemudian memeluk si hitam dan juga memeriksanya.


Rey berjalan ke pohon apel dan mengambil 2 buah apel di rumput. 1a memberikannya pada si putih dan si hitam. Lalu duduk bersandar di pohon apel sambil memakan apel. Kedua kuda berbaring di dekat Rey. Angin berhembus sepoi-sepoi, membuat Rey mengantuk. Rey menyandarkan badannya di badan si putih dan tertidur. Tubuhnya yang baru pulih dari seribu racun masih butuh istirahat.


Zigaz kembali dan melihat Nonanya tertidur. Ia memilih bertengger di atas pohon apel. Mengobrol dengan si hitam dalam bahasa binatang. Setelah beberapa waktu masing-masing tertidur dengan gayanya masing-masing.


Beberapa jam kemudian Rey terbangun. Ia melihat semuanya tertidur. Tangannya membelai-belai badan si putih. Si Putih bangun dan mencium kepala Rey yang masih rebah di dekat lehernya.

__ADS_1


Si hitam bangun dan ikut menciumi Rey hingga Rey tertawa geli. Zigaz bangun karena mendengar tawa Rey, ia turun mendekat.


" Diluar pasti sudah pagi, kita keluar sekarang... " kata Rey menatap Zigaz.


" Mari, Nona " Zigaz bersiap.


Rey menepuk kepala si putih dan si hitam lalu memegang lengan Zigaz. Mereka keluar dari dimensi. Ternyata hari sudah cukup terang.


Rey menatap reruntuhan itu. Ia membaca mantra dan menghentakkan kakinya ke tanah. Tanah bergetar dan tempat disekitar reruntuhan terbelah menelan bekas-bekas pemujaan. Kemudian rumput dan semak belukar tumbuh cepat menutup semuanya.


" Kita akan langsung berpamitan pada Elena, lalu kembali ke HIGRESIA. Atau kau ingin berjalan-jalan ? " tanya Rey


" Jika boleh.... saya ingin makan dulu Nona.... " jawab Zigaz.


" Ah ya.... Di ruang dimensi hanya ada pohon apel. Kau pasti bosan hanya makan apel saja. Apa kita harus menanam pohon roti atau ayam panggang disana ya ? " gumam Rey lucu. Zigaz meringis kecil.


Rey mengubah dirinya menjadi burung dan terbang perlahan meninggalkan hutan. Zigaz mengikutinya. Rey turun di pinggir kota Lorzon. Ia kembali menjadi dirinya sendiri.


Zigaz malah merubah dirinya menjadi pria berbadan besar dengan rambut keabuan. Rey melongo, tapi kemudian tersenyum sambil mengacungkan jempolnya.



Rey dan Zigaz masuk ke dalam restoran besar. Rey memilih meja dekat jendela. Seorang pelayan mendekati dan menawarkan beberapa masakan lezat. Rey dan Zigaz mengatakan pesanannya.


" Zigaz, aku mau mencuci muka dahulu. Jika makanan sudah datang, kau makanlah lebih dulu " ujar Rey berdiri.


" Baik Nona " Zigaz mengangguk.


Ternyata ada beberapa gadis dan wanita yang mengikuti mereka. Melihat Rey pergi ke belakang, satu-persatu mendatangi Zigaz dan mengajaknya berkenalan.


" Tuan.... saya Lunna. Siapa nama tuan ? "


" Perkenalkan saya Emily, tuan silahkan mampir ke rumah penuh bunga di samping toko obat saya, saya akan menjamu anda... "

__ADS_1


" Awas, minggir....! Kalian semua perempuan murahan. Tuan, ayahku Baron Terizo menawarkan kerjasama yang saling menguntungkan. Mari silahkan ikut saya... "


Begitulah beberapa tawaran manis semanis madu yang memuakkan Zigaz. Ada 5 gadis yang berani menggoda Zigaz. Zigaz bangkit berdiri mencari Rey karena para gadis itu menghalangi pandangan Zigaz. Ketika dilihatnya Rey sudah keluar dari kamar kecil, Zigaz segera menggandeng lengannya menuju meja mereka.


Para gadis itu seketika cemberut pada Rey dan menatap penuh dendam.


" Tuan... aku lebih cantik dari dia. Tubuhku juga lebih bagus. Mengapa tuan memilih dia ? " tanya seorang gadis dengan kesal.


" Dia sudah ada lebih dulu dari kamu. Dan ia seribu kali lebih mahal darimu " jawab Zigaz.


" Berapa harganya, ayahku punya banyak uang dan permata, ia bekerja di istana "


gadis itu tetap menginginkan Zigaz.


" Hhhhhh....... ! "


Zigaz kesal sekali. Ia tak tahu harus berkata apa lagi. Rey tersenyum. Ia membaca mantra dan meniupkannya pada gadis-gadis itu sehingga mereka hanya dapat berdiri diam seperti patung hidup di sekeliling Zigaz. Hanya matanya saja yang bergerak-gerak tak berdaya.


Para pelayan datang membawa makanan dan minuman. Mereka melirik diam-diam pada gadis-gadis yang berdiri seperti patung. Pengunjung restoran juga melihat itu. Mereka menjadi segan karena ternyata dua orang ini bukan orang biasa.


" Makanlah dengan tenang Zigaz. Mereka akan seperti itu sampai siang nanti " kata Rey.


" Terima kasih Nona, lain kali aku lebih baik jadi kakek-kakek saja " jawab Zigaz.


" Syukurlah jika kau sadar diri.... " Rey tersenyum mengejek.


" Bukan aku yang tidak sadar diri, Nona...... tapi mereka.... " Zigaz merajuk.


" Hmmmm........ "


Mereka makan dengan tenang. Sesekali Zigaz menggoda gadis-gadis itu. Menyodorkan makanan di depan hidungnya, lalu memakannya sendiri di depan wajahnya. Haiiissh...... Rey hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Rey terlalu lapar untuk memperdulikan kejahilan Zigaz.


Sebenarnya pengunjung laki-laki di restoran itu juga sebenarnya tertarik pada Rey. Namun mereka tidak seagresif gadis-gadis itu. Lagipula Rey datang bersama seorang laki-laki berbadan besar, siapa berani menantangnya ?

__ADS_1


Mereka ingin tahu siapa Rey sebenarnya. Selama ini mereka tak pernah melihat gadis cantik bergaun putih di kota Lorzon. Kebanyakan gadis-gadis disini memakai gaun dengan warna-warna terang atau mencolok. Jikapun warna putih, itu dikenakan oleh orang miskin dan warnanya agak kusam atau kotor. Sedangkan gaun yang dikenakan Rey berwarna putih bersih walaupun modelnya sederhana. Penampakannya seperti seorang Dewi.


__ADS_2