
Penyihir itu tak mengerti dengan hal yang dilakukan Odex. Ia menyangka Odex sedang mempersiapkan sebuah pukulan sehingga ia tetap menyerang dengan waspada.
" Sraaakkk..... ! "
" Sraaakkk..... ! "
" Sraaakkk..... ! "
Batu-batu kecil bercampur tanah berhamburan menerjang Odex. Selama 10 hitungan tangan Odex teracung ke atas. Selama itu juga ia mengelak ke sana-sini. Penyihir itu menyadari Odex tidak terpengaruh dengan racun akibat serangan cakar iblis.
Tentu saja.... Odex pernah dekat dengan Terra, penyihir seribu racun. Ia pasti mendapatkan ramuan kebal racun dari Terra. Namun luka yang mengakibatkan keluar darah tetap harus diobati. Jika tidak ia akan kehilangan banyak darah dan mati.
Iblis dalam tubuh penyihir itu menggeram. Ia berusaha mengendalikan sesuatu.
" Aaaarrrgh..... ! " Odex berteriak kesakitan karena tangan di punggungnya mengorek-ngorek seolah ingin masuk. Sakit tak terkira membuat ia terpaksa menggunakan kekuatan internal ( dari cincin ) ke dalam tubuhnya.
Segera tubuhnya tampak bercahaya agak jingga. Tangannya masih teracung ke atas untuk menyerap energi matahari. Ia hanya bisa menggeram dan tetap memusatkan kekuatan internalnya. Akhirnya tangan iblis itu lepas dalam keadaan setengah hancur.
" Pluukk.... ! "
Penyihir itu menatap terkejut. Potongan tangannya terlihat seperti hangus ( kehitaman ).
" Zaappp.... ! "
Tiba-tiba satu cahaya jingga melesat menembus dada si penyihir. Penyihir itu tercengang meraba bagian dadanya yang berlobang. Namun belum sempat berpikir, lagi-lagi cahaya jingga menembus bahu dan dahinya.
Tubuh penyihir itu ambruk ke belakang dengan pandangan mata kosong. Tampak iblis itu keluar dari tubuh penyihir dalam keadaan seperti terkoyak.
Odex kembali mengarahkan cincinnya ke arah iblis dengan gerakan zigzag. Wujud iblis itu terpotong-potong menjadi serpihan. Dan segera menjadi abu terkena sinar matahari.
Rey menatap semua itu dengan alis berkerut. Melihat cara bertarung Odex, Rey sadar Odex lawan yang tangguh dan licik. Tubuhnya juga kebal racun. Pada saatnya nanti pasti ia akan berhadapan langsung dengan Odex karena suatu hal yang tak bisa dihindari.
Rey melepaskan kendalinya pada kubah perisai. Lalu diam bersembunyi diantara dedaunan, mengamati Odex. Odex duduk bersila untuk menyembuhkan lukanya.
Satu putaran waktu kemudian Odex bangkit berdiri. Ia hanya tersenyum sinis melihat mayat penyihir itu. Lalu melangkah pergi dengan kedua tangan meraba ke depan. Ya, ia khawatir menabrak kubah perisai. Namun ternyata kubah itu sudah tidak ada. Jadi benar dugaannya bahwa kubah perisai itu buatan si penyihir yang otomatis menghilang karena kematiannya.
Rey menghela nafas melihat kepergian Odex. Ia melirik mayat penyihir yang tergeletak ditanah, namun tidak melakukan apa-apa.
__ADS_1
( " Nona...... " )
( " Jangan bergerak, tunggu sampai 500 langkah, ia masih mengintai lewat udara " )
( " Baik Nona " )
Setelah kepergian Odex melewati 500 langkah, Rey bergerak turun dari pohon. Ia menyentuh tanah sambil mengucap mantra. Perlahan tanah dibawah tubuh penyihir bergerak menyisih dan menutup terus menerus hingga mayat itu terkubur sedalam satu meter.
Tiba-tiba muncul seorang laki-laki muda tampan di depan Rey.
" Iiiikk....... ! Rey terkejut dan berlari naik pohon.
Asgar sendiri juga mengepakkan sayapnya karena terkejut. Rey dan Asgar sama-sama merasakan aura sihir yang amat besar dari laki-laki itu.
Laki-laki itu meraba tanah bekas kuburan penyihir dan menatap lekat ke arah tupai kecil ( Rey ). Rey terpana, tubuhnya terasa tegang melihat tatapan laki-laki itu. Ia merasa laki-laki ini bukan penyihir biasa.
Laki-laki itu mengacungkan jarinya ke arah Rey. Kilatan petir melesat ke arah Rey.
" Duaarrr..... ! "
" Kraaakk.............. bruuukkk.... ! "
Rey segera berlari secepat mungkin. Laki-laki itu kembali mengacungkan jarinya ke arah Rey.
" Zaappp..... ! "
" Hu...huuuuw...... ! "
Asgar berteriak dalam bahasa burung. Namun ia lega melihat tak ada tupai di tempat serangan petir. Itu berarti Nonanya selamat.
( " Asgar, lari.... ! " )
Asgar membentangkan sayapnya hendak terbang, namun sesuatu seperti menahan kakinya. Asgar melihat ke arah laki-laki itu. Terlihat ia tersenyum menyeringai.
( " Gawat.... ! " )
Asgar diam-diam membangun perisai tebal di sekelilingnya. Ia tahu kalah kuat dengan laki-laki ini jadi tidak ingin menyerang, tapi fokus bertahan atau menghindar.
__ADS_1
Tiba-tiba sesuatu terasa mencekik leher Asgar. Sayapnya dikepak-kepakkan mencoba lepas.
( " Katakan padaku, siapa yang baru saja bertarung disini ! " ) kata laki-laki itu dalam telepati kepada Asgar.
( " Ahk... Od... Odex... dan... penyihir ib...lis.... " ) Asgar tak ragu mengatakan jawabannya karena memang tak ada untungnya menyembunyikan informasi itu. Lalu ia merasa seluruh tubuhnya seperti terbakar dan remuk. Ia segera terjatuh ke tanah setelah laki-laki itu melepaskannya.
Sementara Rey bersembunyi ke ruang dimensi. Ia menahan nafas melihat apa yang dilakukan laki-laki itu pada Asgar ( lewat Cermin Pelihat ). Namun Rey tidak ingin gegabah. Ia menunggu saat yang tepat untuk menolong Asgar.
Setelah laki-laki itu menghilang. Rey cepat keluar dari dimensi dan membawa Asgar masuk. Di dalam ruang dimensi, Rey membawa Asgar masuk ke danau jiwa. Ia membaringkan Asgar di tempat tidur dari air. Rey sendiri duduk bersila di atas bangku air di samping Asgar.
Sebenarnya Rey tadi terkena serangan petir laki-laki itu. Namun itu bertepatan dengan ia masuk ke ruang dimensi sehingga teriakannya tidak terdengar oleh laki-laki itu maupun Asgar.
Rey segera mengeluarkan cermin pelihat untuk melihat laki-laki itu. Ternyata ia juga menyerang Asgar.
Rey fokus menyembuhkan luka di punggungnya. Ia menggunakan energi penyembuh dan air danau. Air danau itu terasa menyejukkan lukanya. Setelah 30 hitungan, luka Rey menghilang.
Rey menatap Asgar yang masih belum sadar. Asgar menderita luka bakar internal dan tulang remuk.
Rey termenung memikirkan laki-laki itu. Kekuatannya lebih besar dari dirinya. Tadi ia menggunakan elemen petir untuk menyerangnya. Kemudian membakar dan menghancurkan Asgar dari dalam. Siapa dia ? Apakah dia dari Negeri Cronos atau dari Negeri Astraco ?
Rey beranjak bangun dan melayang ke atas. Ia tidak berniat menemui wanita yang kehilangan anaknya. Bukan tidak perduli, namun ia sedang tidak ada waktu untuk menghiburnya. Jadi Rey langsung keluar dari dimensinya.
Ia memeriksa keadaan hutan yang sepi. Entah kemana si Odex dan laki-laki tadi. Rey memanggil Kendrick.
Butiran cahaya indah berputar dihadapan Rey. Setelah menghilang, tampak sosok Kendrick tersenyum menatapnya. Rey segera memeluknya. Kendrick membelai kepalanya.
" Kau baru saja terluka ? "
" Iya, Asgar juga. Aku membawanya ke danau jiwa. Mungkin agak lama penyembuhannya "
" Apa yang terjadi ? "
" Seorang pria seumuran denganmu menyerangku dan Asgar. Ia menggunakan elemen petir dan api. Sepertinya lebih kuat dari Odex "
Kendrick mengerutkan alisnya.
__ADS_1
" Ia bisa mengetahui penyamaranmu dan Asgar ? Apakah kau tak memeriksanya juga ? "
.