GADIS TAKDIR

GADIS TAKDIR
30. Berhadapan Dengan Raja Higo


__ADS_3

Asgar berjalan menuju rumah makan yang dimaksud Rey. Ia merasa ada seseorang yang mengikutinya. Ia mengambil duduk dekat pintu masuk karena menunggu Rey. Tak lama Rey masuk dan menuju meja di pinggir jendela. Asgar segera pindah kesana.


" Nona .... Tadi sepertinya ada yang mengikutiku "


Rey mengerutkan alisnya.


" Biarkan dulu, kita tak tahu apa yang diinginkannya, waspadalah "


" Baik, Nona "


Mereka segera makan pagi dan menuju kerajaan Higresia. Saat sampai di gerbang istana, penjaga mengenali dan mempersilahkan Ksatria Asgar. Tapi Asgar tidak langsung menuju ke ruang kerja Raja Higo. Ia menyuruh pengawal menyampaikan pesannya pada Raja Higo.


Pengawal mengetuk pintu kerja Raja Higo lalu masuk.


" Baginda , Ksatria Asgar ingin menemui anda di Balairung Istana "


" Hmmm......... ? "


Baginda segera merapikan kertas-kertas dimejanya dan segera menuju Balairung. Penasihat Bidoff mengikutinya.


Setelah duduk di singgasananya pengawal mempersilahkan Ksatria Asgar dan Reyna untuk masuk.

__ADS_1


Sampai di dalam Ksatria Asgar berlutut dengan sebelah kaki. Sementara Rey tetap berdiri dibelakangnya tak bersuara.


" Hamba datang membawa Gadis Takdir. Hamba sudah menyelesaikan tugas yang Baginda perintahkan kepada saya. Dengan ini hamba mengundurkan diri dan melepaskan status hamba sebagai Ksatria "


" Apa ....... ?! " seketika Raja bangkit tak percaya dengan ucapan Asgar. Penasihat Bidoff berusaha menenangkan Raja. Raja kembali duduk dengan kesal.


" Apa alasanmu mengundurkan diri ? "


" Gadis Takdir adalah milik Penguasa Abadi. Kekuatan dan kekuasaannya jauh melebihi Baginda Raja. Hamba tidak berani mengusiknya "


Mendengar itu Raja Higo menatap gadis bertudung putih itu. Dilihatnya gadis itu masih diam tertunduk. Baginda baru sadar, sedari tadi gadis itu bahkan tidak berlutut memberi hormat, hanya Asgar sendiri.


Raja Higo melangkah turun dari singgasana. Ia berhenti kira-kira 5 langkah dari Asgar. Penasihat Bidoff berada satu langkah disamping belakang Raja Higo. Ia penasaran dengan wajah Gadis Takdir.


Perlahan Rey mengangkat wajahnya. Tampak kilauan cahaya di sekeliling wajah Rey perlahan menghilang.



Raja dan Penasihat Bidoff ternganga melihatnya. Wajah gadis itu bukan hanya cantik, tapi sungguh indah dipandang. Seketika hasrat Raja Higo bangkit. Pikirannya sudah membayangkan yang bukan-bukan.


" Aku menginginkannya, minggirlah Asgar ... ! "

__ADS_1


Asgar segera bangkit dan menepi. Ia tak mengkhawatirkan Rey karena Rey mampu menangani Raja Higo.


Raja mendekati Rey . Ia tersenyum dan mengulurkan tangannya ke arah dagu Rey.


" Siapa namamu, Nona ? "


" Aku adalah Gadis Takdir. Kau tak berhak menyentuhku .... ! "


Raja terkejut ketika tangannya terhempas oleh sesuatu yang tak terlihat. Ia mengerutkan alisnya heran. Kembali ia mencoba meraih Rey.


" Kemarilah .... "


Tapi suatu kekuatan mendorong tubuhnya mundur menabrak Penasihat Bidoff. Bidoff berusaha menahan tubuh Raja agar tidak jatuh. Raja mulai marah.


" Baginda...... anda tidak apa-apa ? " tanya Bidoff.


" Apa kau ingin bermain-main denganku , Nona ?! "


Raja Higo mencoba menahan kemarahannya , ia tidak ingin kehilangan mangsanya. Rey hanya tersenyum sedikit. Ia menyipitkan sedikit matanya. Terdengar suaranya merdu.


" Aku belum melakukan apapun padamu, Raja. Jika kau tidak dapat menyentuhku, bagaimana mungkin kau layak untukku ? Orang sepertimu tidak pantas menjadi Raja. Tanganmu bahkan penuh bekas darah. Pikiranmu juga dipenuhi hal kotor. Apa kau lupa siapa " Penguasa di atas gunung " yang mampu meluluhlantakkan kerajaanmu ? "

__ADS_1


Raja Higo tersinggung mendengar perkataan Rey seolah meremehkan kerajaannya. Dicabutnya pedang dipinggangnya sambil menatap garang pada Rey berharap Rey takut dan menyerah.


__ADS_2