GADIS TAKDIR

GADIS TAKDIR
Efek Pemancing Kemarahan


__ADS_3

Ia memanggil istrinya.


" Denma......... Denmaaa........... ! "


Denma muncul dari dapur.


" Ada apa ? " sahutnya kesal.


" Yang kena racun hanya Cretta, bukan ketua "


Denma terpaku. Ia menatap wajah suaminya dengan mata kosong. Wajahnya segera pucat. Jika hanya Cretta yang mati, maka dapat dipastikan ketua akan marah besar. Ia pasti akan menyelidiki itu dengan mudah dan akan menemukan jejaknya. Bukan tak mungkin ia akan disiksa tapi tidak dibiarkan mati.


Denma mulai gemetar. Broma menahan tubuhnya dan mendudukkannya di kursi bambu. Mereka bertiga saling menatap dengan rasa takut dan cemas. Akhirnya lelaki yang melapor pamit pulang dengan lesu. Sedang Broma memeluk Denma tanpa kata. Malam ini mereka tak akan bisa tidur dengan tenang.


Sementara Rey bertiga sedang bersiap-siap membuat kubah. Mereka bertiga berubah menjadi kelelawar dan naik ke atas atap gubuk ( jika menjadi manusia, maka tubuh mereka akan terlalu berat di atas atap ).


" Dengarkan. Aku akan mengambil sinar bulan dan menyalurkannya pada kalian berdua. Tunggulah hingga penuh dan pakailah itu untuk membuat kubah perisai melingkupi seluruh desa. Mulailah bersama dari sisi Utara hingga selatan. Pada bagian bawah hingga setinggi 6 kaki, buatlah lebih tebal supaya tidak dapat dipecahkan oleh senjata " kata Rey.


" Baik Nona " jawab Asgar dan Zigaz.


Rey mengucapkan mantra agar mereka tak terlihat siapapun. Bagaimana pun, akan sangat aneh jika ada 3 kelelawar di atas atap gubuk.


Rey meletakkan tangannya di punggung Asgar dan Zigaz, sementara wajahnya menatap bulan. Sebentar kemudian rasa hangat mengalir lewat telapak tangannya ke punggung mereka berdua.


Asgar dan Zigaz menunggu hingga seluruh tubuh terasa penuh dengan aliran hangat. Lalu mereka mulai membangun perisai tebal bagian bawah terlebih dahulu. Setelah itu baru menutup bagian atas.


Kemudian Rey mengajak Asgar dan Zigaz ke tepi kubah utara. Disana Rey kembali menyalurkan kekuatan pada mereka untuk melapisi kubah dengan elemen petir. Pekerjaan itu selesai saat dini hari. Rey membawa mereka masuk ke ruang dimensi untuk beristirahat di danau jiwa.


Setelah satu putaran waktu, mereka keluar. Zigaz segera menyalakan perapian untuk memanggang daun pemancing kemarahan. Lalu mereka semua berubah menjadi tawon kayu dan dilindungi bola pelindung masing-masing sehingga bebas terbang kemana-mana tanpa resiko menghisap bau tanaman pemancing kemarahan. Namun saat ini mereka tetap diam di bagian atap karena langit masih gelap.


Ketika pagi tiba, bau itu sudah menyebar di udara terbuka. Hanya saja para warga masih aman di dalam karena pintunya tertutup. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi nanti.



Sementara Broma dan Denma tidak bisa tidur semalaman. Sehingga Denma memutuskan akan meninggalkan desa ini. Broma setuju, ia segera berkemas dan bersiap pergi saat dini hari.

__ADS_1


Ketika waktunya tiba, dua orang itu keluar lewat pintu belakang dan menggunakan penutup wajah dari bulu binatang seperti masker. Mereka berjalan mengendap-endap terus menuju ke sisi selatan ( arah hutan ).


Namun mereka terjengkang saat menabrak sesuatu.


" Duukkk..... ! "


" Bruuukk..... ! "


Broma dan Denma mengeluh kesakitan karena kepalanya terbentur lebih dulu. Tentu saja bagian kepala di depan ketika posisi setengah membungkuk. Broma segera menyeret Denma untuk bersembunyi di dalam semak-semak. Mereka sama-sama membelai dahi masing-masing sambil meringis.


" Apa itu tadi ? Aku tak melihat apapun, tapi sesuatu membentur kepalaku........ " kata Denma.


Broma ke sana untuk memeriksa dan ia mendapati ada dinding tak terlihat disepanjang ia meraba. Ia kembali dengan wajah ditekuk dan alis berkerut.


" Ada dinding tak terlihat di sana. Mungkin itu pembatas yang dipasang oleh ketua agar binatang buas tak masuk desa. Bukankah saat siang tak pernah ada "


" Jadi ketua memasangnya hanya saat malam. Kalau begitu kita tunggu siang saja " kata Denma gembira.


" Mana mungkin...... nanti kita keburu terlihat....... "


Broma ikut berlari sambil merunduk dengan tangan terus meraba sisi dinding yang tak terlihat.


Waktu terus berlalu. Matahari mulai muncul. Beberapa orang sudah mulai membuka pintu. Broma dan Denma sudah sampai di sisi Utara desa dekat tebing. Karena lelah Denma duduk beristirahat tertutup semak-semak. Broma berjongkok di sebelahnya.


" Sepertinya dinding pembatas ini tidak ada celahnya. Kita tidak bisa melewatinya selain menunggu ketua bangun " Broma bergumam sambil menggeleng-gelengkan kepalanya putus asa.


" Tidaaaak........... Kita akan disiksa jika dia tahu kita akan kabur....... " jawab istrinya lemah ketakutan.


" Lalu kita harus bagaimana ? " tanya Broma bingung.


" Coba pukul dengan batu " Denma mencoba mengangkat batu agak besar.


" Kau gila..... ! bunyinya pasti terdengar semua orang....... Dan mereka semua akan mengejar kita " bentak Broma.


" Jadi bagaimana ? "

__ADS_1


" Lebih baik kita kembali saja ke gubuk kita, pura-pura sakit........ " usul Broma.


" Kau benar....... ! kita tak usah keluar selama dua-tiga hari. Lagipula kita punya persediaan daging buruan untuk 3 hari " Denma menatapnya dengan mata berbinar.


" Baiklah........ Ayo kembali lewat belakang. Cepat...... ! "


Mereka kembali mengendap-endap lewat semak-semak hingga mencapai pintu belakang gubuk mereka. Selama ini mereka belum terpengaruh asap pemancing kemarahan karena memakai penutup muka dari bulu binatang.


Seorang wanita yang mengambil air dari sumur untuk dibawa ke dapur mulai mengomel. Ia sudah terpengaruh asap pemancing kemarahan saat berada di sumur.


" Gareeet........ ! Bisakah kau bantu aku menimba air ? pinggangku sakit.... ! "


" Pergilah ke tempat nenek Wilma. Ia pasti akan memberimu ramuan penyembuh " sahut suaminya dari tempat tidur setengah berteriak. Ia kesal karena tidurnya terganggu.


" Aku akan menemuinya nanti. Tapi sekarang bantulah dulu. Aku butuh untuk memasak "


Garet tidak perduli. Ia tetap berada di balik selimut. Dengan kesal istrinya membanting wadah dari perunggu.


" Klontang..... ! " bunyinya begitu nyaring hingga mata Garet terbelalak lebar karena terkejut. Ia mengira istrinya mungkin jatuh saat membawa sesuatu.


Disibakkannya selimut lalu bergegas ke dapur. Sampai di sana ia melihat istrinya sedang berkacak-pinggang dan menatap marah padanya.


" Ada apa denganmu ? "


" Ada apa, ada apa..... ! aku menyuruhmu ambilkan air karena aku mau masak sekarang. Apa kau tak butuh makan pagi ? "


" Biasanya kau tidak serewel ini ?! "


" Pinggangku sakit..... ! Kalau tidak aku takkan menyuruhmu "


" Perempuan pemalas, ada saja alasanmu. Apa kau mau menggantikan aku berburu jika aku sedang terluka ?! "


" Bukankah aku selalu merawatmu sampai sembuh jika terluka. Tapi saat aku yang sakit, kau tidak peduli padaku, malah marah-marah padaku ?! " istri Garet mengacungkan pisau dapur dengan nafas terengah-engah menahan rasa marah.


" Hei.... ! Kau berani mengacungkan pisau padaku, apa kau ingin mati ?! " tegur Garet.

__ADS_1


Mendengar teguran itu istri Garet semakin marah. Ia maju menyerang Garet dengan pisau dapur. Garet mengelak dan berusaha merebut pisau itu. Mereka bergelut dengan emosi berlebihan.....


__ADS_2