GADIS TAKDIR

GADIS TAKDIR
137. Kegagalan Pertapa Tua


__ADS_3

Rey menghela nafasnya. Rey bingung apakah akan meneruskan pertarungan atau menunda untuk mencari tahu tentang mahkota waktu itu. Sepertinya Kendrick pernah mengatakan tentang mahkotanya dulu, tapi ia lupa.


" Hei nona... ? Kau sedang memikirkan apa ? " tanya pertapa tua itu.


" Pak tua, menurutku benda-benda yang berkaitan dengan Gadis Takdir ada banyak. Bisa jadi cincin, kalung atau hiasan rambut. Bukan hanya gelang atau mahkota " kata Rey.


" Terserah jika kau tidak percaya "


" Jika pun kau bisa mendapatkannya, tetap saja tidak dapat kau pakai bukan ? " ejek Rey.


" Setidaknya aku bisa mencobanya meneteskan darahku sendiri untuk membuktikannya "


Rey tersenyum kecil. Ia menarik lengan bajunya. Tampak gelang giok putih kebiruan yang bercahaya. Pertapa tua itu terbelalak melihat benda itu. Ia mengenalinya sebagai gelang milik Ratu Cronos. Rey melepaskan dan melemparkannya pada pertapa itu.


" Cobalah.... "


Pertapa itu menangkapnya. Ia menyeringai senang membelai gelang itu. Digigitnya ujung jarinya hingga meneteskan darah pada gelang Cronos. Tapi darah itu tidak meresap, hanya merembes dan menetes ke tanah. Pertapa itu heran. Ia mencoba sekali lagi dan hasilnya tetap sama.


" Mengapa tidak terserap ? " tanyanya.


" Mungkin kau harus memakainya " kata Rey.


Pertapa tua itu ragu-ragu memakainya di tangan kiri. Tampak lucu sebenarnya. Gelang itu bercahaya semakin terang. Pertapa tua itu gembira. Ia menjulurkan tangannya ke atas.


Pertapa tua itu menatap ke arah langit lalu mengucap mantra sambil menyentuh gelang Cronos. Bulan masih penuh walaupun sudah lewat larut malam. Lima hitungan berlalu dan tidak ada sesuatu terjadi. Pertapa tua itu menatapnya. Rey hanya angkat bahu.


Pertapa tua itu mengulang mantra dan menyentuh gelang Cronos. Rey tersenyum diam-diam. Gelang Cronos itu bercahaya terang dan semakin terang. Bahkan berubah warna.


Namun pertapa tua itu mengerutkan alisnya. Pergelangan tangan di sekitar gelang itu terasa panas dan menyengat. Ia menggerak-gerakkan tangannya. Tetap saja terasa panas dan seperti mengigit. Ia mulai memperhatikan gelang itu, sepertinya mengecil ?


Pertapa itu melotot. Ia memastikan dengan mencoba mengeluarkan gelang. Ternyata benar, gelang itu mengecil dan tidak bisa dikeluarkan. Ia mulai panik. Gelang itu terasa semakin panas dan menyengat. Warnanya jingga kemerahan.


Rey terus memperhatikan pertapa dan gelang itu. Diam-diam ia menyerap kekuatan pertapa itu melalui gelangnya. Gelang itu berwarna seperti api membara.


" Ssssshhh...... " pertapa tua mulai mengeluh. Ia mencoba melepaskannya meski tangannya mulai melepuh. Ia berlari ke sebuah batu besar dan memukul-mukulkan gelang itu disana.


" Ting.... Ting.... Ting..... " tak ada gunanya. Gelang itu ternyata bukan terbuat dari giok biasa. Tapi ada percikan jiwa-jiwa para leluhur Cronos.


" Bagaimana pak tua, katamu bisa melintasi ruang dan waktu. Apa yang kau lakukan... ? " tanya Rey.


" Aaaah...... ini panas sekali. Toloong..... Bantu aku melepaskan gelang ini..... " akhirnya ia meminta pertolongan pada Rey.

__ADS_1


Rey menghela nafas dan mendekat. Ia hampir menyentuh namun tidak jadi.


" Ini panas sekali..... apa yang terjadi ? Mungkinkah mantramu salah ? " tanya Rey pura-pura ngeri.


" Aaah.... aku tak tahu...... ssshhh...... " pertapa tua mendesis dan mengeluh tak berdaya.


" Mantra apa yang kau ucapkan tadi ? " tanya Rey sengaja mengulur waktu. Gelang Cronos masih menyerap kekuatan pertapa itu.


" Mantra.... pelintas waktu...... uuuuuhhh...... " jawabnya.


" Coba ucapkan terbalik dari belakang " ujar Rey. Sebenarnya Rey tak tahu itu terbukti atau tidak, toh bukan dia yang menanggung resikonya. ( He..he..he... )


Pertapa tua itu tersendat-sendat membalikkan mantranya. Rey diam-diam menghentikan aksinya pada gelang itu.


Tampak gelang itu segera berubah menjadi putih kebiruan dan keluar sendiri dari tangan pertapa tua. Rey mengulurkan tangannya untuk membiarkan gelang itu masuk ke pergelangan tangannya.


Pertapa itu jatuh terduduk lemas. Pergelangan tangan kirinya melepuh agak gosong. Rey meringis menatap kondisinya.


" Mengapa tanganmu tidak mengalami sepertiku ? " tanyanya ingin tahu.


" Aku memperlakukannya sebagai gelang biasa yang berfungsi sebagai cahaya saat gelap " jawab Rey tersenyum polos ( pura-pura ).


Pertapa itu menatap Rey dan gelang itu dengan perasaan kecewa dan kesal.


" Maaf, aku harus pergi. Sampai jumpa lagi " kata Rey sebelum menghilang. Ia masuk ke dalam ruang dimensinya. Kali ini ia terpaksa melepaskan pertapa tua itu sementara. Rey ingin tahu apa yang akan dilakukan pertapa tua itu setelah ini. Untuk saat ini pertapa tua itu tidak akan bisa pulih sempurna sampai besok siang. Gelang Jiwa dari Cronos ini menyerap cukup banyak kekuatan si pertapa.


(" Xenia, bagaimana keadaan kalian semua ? " ) tanya Rey.


(" Jangan khawatir, Putri. Kami bisa mengatasinya ") jawab Xenia.


(" Baiklah, aku akan mengantar para gadis ini pulang ") kata Rey.


Rey muncul di atas danau jiwa miliknya. Ia melayang ke arah para gadis yang sedang duduk di bawah pohon apel.


" Apa kalian baik-baik saja ? " tanya Rey.


Para gadis itu segera bangkit.


" Ya, kami baik-baik saja. Kau siapa ? " tanya salah satu gadis.


" Kalian saling bergandengan tangan, aku akan membawa kalian keluar dari sini " kata Rey tak menjawab pertanyaan gadis itu. Mereka saling berpegangan dan Rey menyentuh bahu gadis yang paling kanan.

__ADS_1


Sekedip mata mereka sudah muncul di lapangan. Terdengar teriakan dan panggilan dari keluarga masing-masing.


" Ingat, jangan tergiur lagi dengan hal-hal bodoh yang bermaksud tipuan " kata Rey sebelum mereka kembali. Satu persatu berpamitan padanya.


" Terima kasih, nona ? "


" Hmmm.... "


Rey segera menghilang dan muncul di tempat teman-temannya bertarung. Ia duduk di kursi tanah mengamati satu persatu. Hanya Xibo yang sedikit kurang...


Dikeluarkannya kipas peraknya dan dilemparkan pada Xibo. Xibo menangkapnya dan langsung menggebrak lawannya. Mereka terpental dan kembali menyerang dengan asap racun. Xibo menghalaunya kemudian melesat dan mengeluarkan api besar dari mulutnya.


" Blaaazzz......... "


" Aaaaaah........ " api itu membakarnya hidup-hidup.


Penyihir satunya ingin melarikan diri, namun Xibo mengejarnya dan memukul punggungnya dengan kipas Rey.


" Aaarrgh..... "


Xibo memukul dimana-mana dan membakarnya habis. Setelah selesai, ia mendatangi Rey.


" Tuan Putri, terima kasih sudah meminjamkan kipasnya " Xibo mengulurkan kipas Rey.


" Apakah Xenia tidak memberimu senjata ? " tanya Rey. Xibo tersenyum menggeleng.


" Kau ingin senjata seperti apa ? " tanya Rey.


Xibo berpikir sambil mengetuk-ngetuk dagunya sendiri.


" Apakah aku boleh meminta pedang yang bisa dilapisi api ? " tanya Xibo.


" Aaah.... tentu saja. Kau sama dengan Xenia, berelemen api. Berikan aku sedikit apimu " Rey menadahkan tangan kirinya


Xibo membuka mulutnya mengeluarkan sedikit api. Rey mengambil segumpal bahan pedang ( besi, baja, perak ) dari cincin penyimpanan dengan tangan kanannya.


Lalu membaca mantra sambil menangkup kedua bahan itu dalam telapak tangan tertutup. Setelah hitungan ketiga, tangannya terbuka menampakkan kalung dengan liontin seperti pedang tapi tepiannya seperti bentuk lidah api.



" Ketika kamu bertarung, cukup kamu sentuh liontin ini. Kamu bisa menyalurkan api padanya. Kamu juga bisa menggunakannya tanpa api seperti pedang biasa. Ingat, jangan disalahgunakan " pesan Rey.

__ADS_1


" Terima kasih " Xibo tertawa senang.


__ADS_2