GADIS TAKDIR

GADIS TAKDIR
156. Menyelamatkan Anak-anak


__ADS_3

Salah satu penyihir tak sengaja melirik kearah Odex yang terbaring setengah sadar. Ia tertegun melihat anak-anak muncul tiba-tiba dan ditangkap penyihir lain ( Rey ).


Ketika Martin Martin mengeluarkan 5 anak lagi, ia melesat dan berhasil menyambar 2. Rey terkejut karena tidak menduga. Ia berpikir para penyihir itu berebut iblis pemangsa. Martin sendiri keluar terakhir. Rey memasukkan 3 anak yang tersisa ke ruang dimensi. Ia juga memecahkan bola kaca Asgar untuk mengambil kelima anak di dalamnya.


Martin yang melihat penyihir itu menyambar 2 anak segera terbang mengejar penyihir itu. Rey berbalik tidak menemukan Martin. Ia yakin Martin pasti mengejar penyihir yang baru saja menculik 2 anak itu.


Rey segera menyusul. Ia merasakan pergerakan udara dan aura Martin, segera melakukan teleportasi. Benar saja, Martin sedang berhadapan dengan penyihir itu.


( " Dewi, biarkan aku ditangkap olehnya. Aku harus menolong 2 anak-anak itu " )


Rey mendesah.


( " Baiklah, aku akan bersembunyi dulu. Hati-hatilah " )


Lalu Rey masuk ke ruang dimensi. Dilihatnya anak-anak sedang berkumpul dibawah pohon apel. Mereka ada 12 anak. Rey mendekat dan melihat keadaan mereka baik-baik saja, hanya kurang makan dan minum.


" Kalian akan aman disini. Makanlah apel dan minumlah air danau. Aku akan menolong yang lain "


" Apa kau kakaknya Martin ? "


Rey hanya tersenyum mengangguk. Kemudian ia berubah menjadi burung sebelum keluar dari ruang dimensi.


Rey terbang menelusuri jejak aura penyihir yang terakhir berurusan dengan Martin. Ternyata ia menuju ke sebuah ceruk ( kumpulan air tempat jatuhnya air terjun, biasanya kedalaman 3 meter atau lebih ).


Rey hinggap di dahan pohon terdekat. Ia menghilangkan diri (menyatu dengan sekitar) dan kembali ke wujud asalnya. Ia tidak menghubungi Asgar karena ia tahu Asgar pasti sedang bertarung dengan iblis yang menculik seorang anak.


Penyihir itu memperhatikan sekeliling. Setelah dirasanya aman, ia mengeluarkan seorang anak ( laki-laki ). Anak laki-laki itu berontak, ia memukul dan menendang-nendang. Tapi itu tak berarti buat penyihir itu. Ia mengeluarkan belati kecil dan menyayat jari anak itu.


" Aaah, sakiiit..... huuu...huuuu.......... "


penyihir itu menghisap jari anak kecil itu dengan rakus.


Tiba-tiba puluhan pisau air menyerang penyihir itu.


" Aiiiissh..... ! "

__ADS_1


Penyihir itu melepaskan anak kecil itu untuk menghindar.


Martin keluar menggandeng anak kecil dan langsung berlari menarik anak yang satunya untuk menyingkir.


Penyihir itu menghalau serangan Rey dan melemparkan belatinya ke anak yang tadi sempat ia hisap darahnya.


" Aaaah..... " anak kecil itu jatuh tersungkur dengan belati menancap di punggungnya. Darah segera merembes di bajunya.



Rey muncul segera menyerang penyihir itu. Sementara Martin kebingungan karena tak tahu harus bagaimana menolongnya. Ia mencabut belati itu. Tampak darah yang keluar sedikit kehitaman.


" Be... belatinya beracun.... ! "


Martin dan anak satunya saling menatap.


Mereka hanya bisa menangis saat menatap wajah anak yang terluka itu tampak pucat.


( " Martin, bersembunyilah ! " )


Martin segera bangkit menarik anak yang selamat untuk bersembunyi di dalam semak-semak. Mereka diam meringkuk sambil sesekali mengintip keluar.


" Aaaah...... ! "


Titik-titik air itu melubangi jubah penyihir. Dengan marah ia mengirim asap beracun dan menyebarkannya ke udara.


Rey melindungi dirinya dengan perisai udara.


Namun tanaman di sekitar yang terkena menjadi layu mengering. Begitupun anak yang mati terbunuh, kulitnya seketika rusak membusuk. Rey teringat Martin.


( " Martin, buatlah perisai pelindung " )


Martin sedikit terlambat menyadari hal itu. Meski dia membuat perisai pelindung, kulit mereka berdua sempat terkena udara yang tercemar asap racun. Berwarna kemerahan dan gatal.


Kalung Martin segera bercahaya. Martin merasakan efek nyaman. Ia melihat anak disampingnya yang sibuk menggaruk sampai kulitnya luka-luka. Martin mencoba menahan kedua tangan anak itu sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Anak itu meringis, namun perlahan ia merasakan kenyamanan melalui tangan Martin. Ya, secara tak langsung Martin menyalurkan pengobatan yang diterima (diparalel) pada anak itu.


Karena tak ada keluhan dari Martin, Rey kembali fokus pada penyihir itu. Ia mengurung penyihir itu dengan bola udara. Kemudian ia menarik semua unsur udara di dalam bola untuk membentuk lapisan kedua.


Penyihir itu terkejut ketika tiba-tiba terkurung dalam bola kaca. Ia mencoba memecahkannya, tapi gagal. Ia ingat belatinya tadi dipakai untuk membunuh si anak kecil.


Dilihatnya belati itu tergeletak di dekat mayat anak kecil itu. Ia berkonsentrasi untuk menggerakkan belati itu dan mengarahkannya pada punggung Rey.


Rey yang sedang berkonsentrasi membentuk lapisan bola kedua tidak bisa mengetahui bahaya. Belati itu melesat cepat menusuk punggungnya.


" Aah.... ! "


Rey hanya menyeringai sedikit. Ia selesaikan lapisan kedua dalam bola kaca. Kalungnya bercahaya terang. Dirasakannya energi tubuhnya mengalir ke bagian punggungnya yang tertusuk.


" Ha..ha..ha..ha..... Kamu akan segera mati... ! Ha..ha..ha..ha..... " kata si penyihir tertawa keras.


Namun sejenak kemudian ia merasa dadanya sesak. Ia bernafas, namun seperti tak ada udara. Mulutnya megap-megap. Matanya melotot dan ia memukul-mukul bola kaca itu. Badannya mulai merosot kebawah. Ia menatap Rey heran mengapa gadis itu tidak mati. Apakah ia kebal racun ? Perlahan ia terbaring dengan mata sayu.


Martin dan salah satu anak yang hidup keluar dari persembunyian. Martin melihat belati yang tadi membunuh anak itu tertancap di punggungnya Dewinya. Matanya seketika berkaca-kaca takut Dewinya keracunan dan mati.


" Dewi.... ! " teriaknya.


Rey menoleh dan turun menghampirinya. Martin memeluknya sambil menangis.


" Dewi jangan mati.... huuu..... huuu..... "


" Martin, tenanglah...... Aku tidak akan mati..... Tolong cabut belatinya..... " kata Rey mengusap air mata Martin.


Rey berlutut agar Martin lebih mudah mengambilnya. Martin berdiri di belakang Rey dan menyingkirkan rambut Rey ke bahu. Lalu dengan rasa takut ia mencabut pelan belati itu dan memberikannya pada Rey.


Rey membakar bagian pisau belati itu selama 5 hitungan untuk menghilangkan racunnya. Lalu menyimpannya di cincin penyimpanan.


Sementara luka di punggungnya perlahan menutup. Hanya menyisakan bekas darah dan baju berlobang. Rey memeriksa anak yang selamat dan memasukkannya ke ruang dimensi. Lalu membakar mayat anak yang mati kena belati beracun.


Kemudian Rey menunjuk pada bola kaca di udara yang berisi penyihir mati.

__ADS_1


" Terbanglah kesana, tempelkan tanganmu di kaca. Pusatkan kekuatanmu untuk menguraikan mayat penyihir itu " perintah Rey. Martin gembira mendapatkan tugas itu.


Ia terbang perlahan mendekati bola kaca. Setelah mengamati penyihir yang sudah mati itu, Martin menempelkan kedua tangannya. Ia mencoba merasakan penyihir di dalam sana. Lalu memejamkan mata untuk memusatkan kekuatannya.


__ADS_2